
Happy reading jangan lupa untuk tekan like dan voters ya.ππ
Ella pov
Dua minggu sebelum acara akad, aku pulang ke Indonesia dengan ayah dan bu Lusi, pak Iwan masih berada disana untuk mengurusi barang- barangku, dan Zie masih harus mengurus proses pengunduran dirinya dari rumah sakit di Sydny. Hari ini Zie mengantarkan aku ke bandara, sebenarnya kami sudah berencana pulang ke Indonesia bersama dan akan singgah ke Banjarmasin dulu, namun urusan Zie belum selesai, jadi harus tinggal dulu disini. Dia akan pulang lima hari lagi dan akan ke Banjarmasin dulu untuk menjemput keluarganya.
" Hati- hati ya Zie, jaga kesehatan dan jangan telat makan, " ucapku saat berpisah dengannya.
" Iya, kamu juga jaga diri, nggak usah diet. Aku suka kamu seperti ini, " pesannya padaku. Aku hanya terkekeh mendengar pesan darinya.
" Okey assalamu'alaikum, " ucapku
" Wa' alaikumsalam, " balasnya sambil melambaikan tangan ke arahku yang menjauh darinya.
Aku pun segera menyusul ayah yang sudah berdiri tak jauh dariku. Kami pun segera memasuki ruang tunggu bandara, aku jadi teringat saat dulu pertama kali datang ke sini, sekarang membayangkan saja aku tak mau. Aku tak mau mengingat hari - hari sedihku saat dulu datang kesini, benar kata ayah waktu itu " Allah telah menyediakan jodoh terbaik untukku, " dan sekarang aku sudah menemukannya.
" Ayo pulang nggak? " ajak ayah saat melihatku masih termenung. Aku pun berdiri dan mengikuti ayah dari belakang.
" Terima kasih Sydny, sudah memberikanku pengalaman yang berharga, dan menyembuhkan luka di hatiku. Aku janji tidak akan melupakan kota ini, " ucapku dalam hati.
Setelah perjalanan kurang lebih tujuh jam akhirnya pesawat pun mendarat dengan baik di ibu kota Jakarta. Kota yang penuh dengan kemacetan, tapi inilah kota kelahiranku kota yang aku cintai. Saat aku keluar dari pintu kedatangan kulihat kak Damar yang sedang menggendong gadis kecil dan Sashi yang berdiri disampingnya. Aku pun segera menghampiri mereka.
" Assalamu'alaikum, " ucapku yang mengagetkan mereka.
" Wa'alaikumsalam, Lala.. " ucap Sashi, sambil melompat ke arahku karena sudah terlewat rindu karena tiga tahun tidak bertemu, tak lama terdengar ocehan dari kak Damar yang memarahi Sashi karena melupakan bayi yang ada diperutnya.
" Iya, maaf Mas, habisnya aku sudah kelewat kangen sama Lala, " ucap Sashi yang masih memelukku erat.
" Selamat datang kembali dokter cantik Dr. Rehuella Sp.A. " ucap Sashi meledekku, aku pun memukul ringan lengannya.
" Hallo Ghea, kok cantiknya kaya aunty nggak seperti mommymu," ucapku lalu menggendong Ghea, tak lama Ghea menangis karena takut denganku.
" Ayo beli es krim, " bujukku padanya agar mau diam, namun tetap saja menangis.
" Nggak bakat loe jadi dokter anak, " cibir Sashi. Aku memanyunkan bibirku, melihat Ghea yang tidak mau denganku, karena sudah diambil alih oleh ayah.
Kak Damar segera melajukan mobilnya saat kami sudah berada dimobil, di perjalanan Sashi masih saja mengintrogasiku mengenai pernikahanku dengan Zie. Bertanya macam-macam yang sebenarnya tidak penting. Tak lama mobil pun sampai dirumah, aku langsung masuk ke kamar karena ingin beristirahat. Saat masuk kedalam kamar masih terlihat banyak foto yang dipajang di dinding kamarku, foto yang dulu sempat kucetak saat aku sedang bersama Mas Erik.
" Bu Nani... " teriakku dari depan kamarku.
bu Nani yang saat itu sedang di dapur segera mendekat ke arahku.
" Bu tolong nanti beresin semua foto- foto ini ya! " perintahku saat bu Nani masuk ke kamarku.
" Kenapa non dengan fotonya? " tanya bu Nani.
__ADS_1
" Apa ibu tidak tau kalau sebentar lagi saya akan menikah? " ucapku
" Jelas tau dong non, nikahnya kan sama Mas Erik, kenapa harus dibuang? " tanya bu Nani.
" Bu jangan nglantur ya, Ella nggak nikah sama Mas Erik, " jawabku sedikit emosi.
" Lhah... kok bisa! kenapa? non selingkuh ya? kasian Mas Eriknya sudah lama nunggu non, tapi malah non Ella menikah dengan lelaki lain, " ucap bu Nani.
" Bu Nani apa sih, sudah sana kerjain! Ella mau istirahat, awas ya nanti kalau Ella bangun belum diberesin, nanti Ella bilang ke kak Damar suruh potong gaji bu Nani, " ancam ku padanya.
" Hahaha iya non, ibu beresin sekarang juga, apa mau dibuatkan jus apel non? " tawarnya padaku.
" Boleh bu, nggak pakai gula, aku lagi diet, " ucapku.
" Apa maksudnya bi Nani tadi, apa dia nggak tau kalau Mas Erik sudah menikah karena menghamili anak orang, " batinku. karena lelah aku pun terlelap dalam tidurku.
____________________________________________________
Waktu pun terus berlalu, persiapan pernikahan pun sudah mulai terlihat undangan juga sudah di bagikan, tinggal satu yang belum kuberikan satu undangan untuk mantan tunanganku, aku akan memberikan padanya nanti kalau Zie sudah disini, aku akan mengajaknya bertemu dengan Mas Erik. Mama Jihan juga sudah kuberi tahu tapi entah kenapa dia tidak menjawab pesan dariku.
" Bu bikinin Ella gado- gado ya, " ucapku pada bu Lusi yang tengah berada di dapur.
" Baik non, " ucapnya.
Tak lama kudengar ayah membuka pintu karena ada tamu, aku tak mempedulikan siapa tamunya, namun saat ayah menyebutkan nama " Kenzie " aku langsung berlari ke pintu utama.
" Hay, " ucapnya pertama kali saat melihatku, aku pun tersenyum manis kearahnya, diam sejenak menatap wajahnya, lalu segera memeluknya.
" Kejutan apa ini? " tanyaku yang masih memeluknya, ayah pun meninggalkan kami berdua untuk melepas rindu.
" Aku merindukanmu jadi aku langsung ke Jakarta! " ucapnya.
" Lalu ayah dan bunda bagaimana? "
" Mereka juga sudah disini, " jawabnya
" Ayo masuk, kamu baru datangkan pasti lapar, nanti aku kenalin sama sahabat aku yang jadi kakak iparku, " ucapku yang menuntunnya masuk kedalam meja makan.
" Bu Lusi gado- gadonya sudah jadi? " kataku pada bu Lusi.
" Sudah non, " ucapnya lalu segera menyiapakannya dimeja.
" Kita makan gado- gado ya biar berat badan kita nggak terlihat gendut saat berfoto nanti, " ucapku padanya.
" Nggak nurut ya, dibilangin nggak boleh diet malah nekat! " ucapnya.
__ADS_1
" Udah ayo makan, " ucapku lalu mengambilkan makanan ke piring Zie.
" Ow, jadi ini ya non, saya kirain non dapat bule? " ucap bu Nani saat melewati meja makan.
" Bu...! " tegurku lalu menyuruhnya pergi dengan delikkan mata.
" Hehehe ....iya non, tapi masnya ganteng juga kok 11 12 sama Mas Erik, " ucap bu Nani, kulihat Zie tak ada perubahan dengan raut wajahnya.
" O ya Zie besuk aku ngajak kamu ketemuan sama Mas Erik ya, aku mau ngasih undangan pernikahan ke dia, " ucapku.
" Boleh, nanti kabari saja, "
" Iya, aku juga belum hubungi dia soalanya, "
Kami segera melanjutkan makan siang kami. setelah selesai aku mengajaknya duduk di depan tv.
" Wah... maaf ganggu ada orang pacaran ternyata, " ucap Sashi yang baru turun dari lantai atas. Saat dia melihatku memeluk Zie dari arah samping dengan Zie yang sedang memainkan dan menciumi rambutku.
" Apaan sih Shi... o. ya kenalin ini Kenzie, " ucapku melepaskan pelukanku dan memperkenalkan Zie padanya.
" Pantes berpaling, Ken saja bening begini, " ucal Sashi.
" Bisa ya loe muji laki orang ntar kalau kak Damar tau bisa dikurung loe dalam kamar, " ucapku pada Sashi.
" Hahaha peace... " ucap Sashi mengangkat jarinya membentuk huruf V.
" Ghea mana? " tanyaku basa- basi
" Tidur siang, gue pergilah takut ganggu, "
" Ya sana, jauh- jauh " ucapku mengusir Sashi. Sashi segera meninggalkan aku dan Kenzie.
" Kamu kangen banget ya sama aku, sampai ngusir - ngusir kaya gitu? " ledek Zie padaku.
" Hmmm ...nggak juga, " jawabku cepat. Zie pun langsung menoleh ke arahku, " kenapa? " lanjutku dengan tertawa kearahnya.
" Nggak papa cuma pengen liat saja, " ucapnya.
" Jangan diliatin ntar cantiknya luntur, " ucapku sambil tertawa.
" Nggak papa asal jangan hatinya yang luntur, " ucapnya.
" Baru nggak ketemu seminggu sudah pandai ngegombal ya, belajar dari mana? " dia pun hanya tertawa menanggapi ocehanku.
Siang itu kami pun melepas rindu yang kami kami tahan selama tujuh hari. Aku selalu berharap dia tidak akan mengkhianatiku, aku nggak tau apa jadinya diriku kalau harus merasakan luka hati untuk ke dua kalinya.
__ADS_1
Terimakasih sudah mampir, dukung karya saya terus ya... jangan lupa klik like, vote, dan comentππ