
Sudah up! jangan lupa vote dan like ya.👍🙏
.
.
.
Dua bulan kemudian...
Pagi ini Ella sedang bersiap untuk ke rumah sakit, setelah satu bulan cuti tidak mengambil jadwal praktik, dan sebulan yang lalu Ella merasa sudah siap untuk bekerja kembali menjadi dokter anak.
Usia kandungan Ella kini sudah mencapai 16 minggu, dia sudah bisa merasakan tendangan-tendangan kecil dari calon anak yang ada di perutnya. Dia sering mengajak bicara dengan calon anaknya, berkata bahwa papanya akan segera pulang. Sejak kepergian suaminya dua bulan yang lalu, Ella meyakinkan diri bahwa Erik akan pulang secepatnya.
“Kita apakan nanti ya kalau Papamu pulang.” Ella menatap cermin sambil mengusap perutnya, dia sudah bisa tersenyum ceria saat ini, dia merasa terhibur saat mendapat respon dari bayi yang sekarang tumbuh di perutnya.
Ella lalu mengambil tas dan segera berangkat ke rumah sakit. Memulai lagi aktivitasnya tanpa suami, awalnya berat tapi lama-lama dia sudah terbisa. Dia masih sering pergi ke ruangan suaminya walau hanya sekedar mengobati rasa rindunya.
Hari ini pasien tidak terlalu banyak, hanya ada 10 pasien jadi Ella masih punya waktu untuk ngobrol dengan Hanin Setelah pekerjaanya selesai, Hanin yang kehamilannya sudah memasuki bulan kelahirannya itu duduk di depan Ella dengan makanan di tangannya, dia masih asyik mengunyah tanpa peduli bosnya dari tadi sudah menatap ke arahnya.
“Nin. Kamu nggak tahu ya suamiku kemana? Kamu kan juga lagi hamil, harusnya kamu lebih paham kan perasaan ibu hamil itu seperti apa?” tanya Ella. Hanin langsung menghentikan acara makannya saat mendengar ucapan Ella, matanya melihat ke arah lain agar dia tidak bertatapan dengan Ella.
Ella lalu meraih tangan Hanin, memegang tangan itu erat.
“Nin.. Aku tau pasti mengetahuinya kan, katakan saja aku akan melindungimu jika ada apa-apa denganmu,” Ella mencoba meraih wajah Hanin agar menghadap ke arahnya.
“Dok... Saya tidak bisa mengatakannya, maafkan saya!” Ella yang mendengar itu hanya bisa menyandarkan kepalanya di kursi, dia menarik nafasnya pelan mencoba menenangkan hatinya yang sedikit kecewa dengan ucapan Hanin.
“Aku iri sama kamu Nin! Dari awal hamil kamu di temani suamimu, diperhatikan, dimanja, pasti setiap malam suamimu selalu mengusap perutmu mengajak bicara dengan bayimu,” ucap Ella sambil tersenyum tipis ke arah Hanin.
“Bu akan ada waktunya Ibu akan berkumpul dengan Dokter Erik.”
“Tapi kapan Nin, sudah dua bulan lebih aku menunggunya, setiap malam bahkan aku tidak bisa absen sekalipun untuk tidak menangisinya,” ucap Ella sambil menundukkan kepala, lalu menyandarkan kepalanya di meja.
“Bu dokter harus kuat,” ucap Hanin sambil menepuk lembut punggung Ella.
__ADS_1
“Katakan Nin di mana suamiku, setidaknya aku akan lebih tenang, jika sudah mengetahui keberadaanya!” perintah Ella dengan suara lembut, airmatanya sudah mulai turun.
“Baiklah saya akan mengatakannya,” ucap Hanin yang merasa iba. Dia sejenak menghentikan ucapannya. Dia menatap ke arah Ella, menatap wajah cantik bos nya itu.
“Pak Erik dulu dibawa ...
“Bu apa sudah selesai? Mari saya antarkan pulang!” potong Yohan yang baru saja datang dari arah luar ruangan. Dia menatap tajam ke arah Hanin yang duduk di depan bosnya itu.
“Iya Pak...,tunggulah di luar saya minta waktunya sebentar,” ucap Ella yang juga menatap Yohan dengan tatapan tajam, dia jengkel dengan lelaki di depannya itu, karena tidak pernah bercerita atau memberitahu di mana keberadaan suaminya.
“Tidak bisa Bu, saya akan menunggu Ibu di sini.” Ella yang mendengar itu segera mengambil tasnya lalu berjalan mendahului Yohan, tanpa berkata sepatah katapun padanya.
Saat perjalanan ke apartemen Ella masih menatap wajah Yohan dari pantulan kaca, Yohan ini terlalu patuh dengan suaminya, hingga tidak mau memberitahukan apa yang sebenarnya terjadi.
“Sebenarnya apa yang membuat Pak Yohan merahasiakan ini semua Pak?” tanya Ella yang duduk dibalik kursi kemudi.
“Semua atas perintah Pak Erik Bu,” jawabnya singkat.
“Apa suamiku ingin melihat aku mati perlahan-lahan, kalau benar seperti itu selamat menyaksikan!”
“Bukan begitu maksud Bapak. Bu!” ucap Yohan tegas.
“Terserah! Tapi aku menganggap seperti itu, dia tidak tau betapa tersiksanya aku di sini! Aku kecewa kenapa dia tidak jujur padaku, merahasiakan semuanya yang dia alami,” ucapnya sambil membuka pintu mobil, lalu menutupnya dengan kasar.
Saat tiba di apartemen, Ella merebahkan tubuhnya di sofa, dia lalu memejamkan matanya, merasa putus asa karena tidak bisa menemukan suaminya.
“Kamu jahat Mas!” ucapnya sambil menangis karena tidak bisa menahan dadanya yang terasa sesak.
“Kamu biarkan aku melewati semua ini sendiri!” teriak Ella meluapkan rasa sesaknya.
“Aku tidak mau memaafkanmu jika kamu kembali, aku benci Mas seperti ini,” ucapnya lagi sambil meleparkan semua bantalnya.
Ella lalu meninggalkan ruang tv menuju kamar, dia berniat ingin membersihkan dirinya supaya emosinya sedikit menurun, Ella berjalan ke arah kamar mandi, dia berdiri di bawah guyuran air, membuang airmatanya bersama air yang tengah membasahi wajahnya. Hanya anak yang ada di perutnya yang selama ini menguatkannya, dia selalu teringat anaknya saat mengingat kepergian suaminya itu. Setelah merasa puas Ella segera mengeringkan tubuhnya dengan handuk, dia lalu berjalan ke arah kamar meraih ponselnya untuk menghubungi seseorang.
“Kak... Nanti malam temani aku makan hot pot, aku ingin sekali makan itu,” ucap Ella saat sambungannya terhubung.
__ADS_1
“Pergilah sendiri, kakak sibuk La,” jawab Damar.
“Kak! Kalau nggak sama Kakak, harus dengan siapa lagi aku akan pergi!” tanya Ella yang sudah emosi, hari ini dia pengen sekali makan makanan ala China tersebut, sepertinya anaknya yang menginginkannya.
“Baiklah Kakak akan menemanimu, jam 7 malam Kakak akan menjemput kamu di apartemen,” ucap Damar membuat Ella tersenyum senang karena keinginanya terpenuhi.
***
Malam ini Damar menepati janjinya untuk menemani Ella makan hot pot, dia terus menatap adiknya yang dengan lahapnya menikmati hidangan di depannya itu. Damar bahkan tidak memesan makanan itu, dia hanya menikmati wajah adiknya yang terlihat begitu senang.
“Enak?” tanya Damar yang di angguki oleh Ella.
“Kakak nggak mau nyobain?” tanya Ella yang melihat Damar tidak menyentuh makanan itu.
“Nggak, habiskanlah!”
Setelah selesai memakan makanan keinginannya, Damar mengajak Ella pulang ke rumah, membiarkan Ella tidur di rumahnya. Setidaknya dia bisa bermain dengan Ghea dan Gheo, mengingat besok juga weekend, jadi dia bisa terjaga hingga malam hari.
Damar pergi ke ruang kerjanya untuk menghubungi seseorang, dia tadi sebenarnya sudah akan terbang ke Bali untuk menemui Erik, tapi keinginan adiknya lebih utama, dari pada pergi bersama Yohan.
“Kamu tau istrimu memintaku menemani makan hot pot, dan aku tidak akan menuntut bayaran kali ini,” ucap Damar becanda pada lelaki di ujung telepon.
“Terimakasih Kakak ipar, kau memang saudaraku yang paling mengerti.”
“Kapan kamu akan di bebaskan?” tanya Damar.
“Sebentar lagi, Yohan sudah di sini, semoga dia bisa secepatnya menyelesaikannya.”
“Baiklah! Semoga kamu segera keluar dari sana, dan menemui istrimu! Kau tau dia selalu menampilkan senyum palsunya,” jelas Damar.
“Kak!” Damar segara menutup teleponnya saat mendengar panggilan Ella yang mengagetkannya. Dan Ella yang dari tadi berdiri di sana sudah menatap tajam ke arah kakaknya.
TBC
Terimakasih yang sudah like, vote, dan komentar. Semoga sehat selalu, dan maaf jika ceritanya tidak sesui dengan keinginan readers.👍👍😊🙏
__ADS_1