Kepincut Cinta Dokter

Kepincut Cinta Dokter
Drama Persalinan


__ADS_3

...Selamat Membaca...


“Masuk pembukaan tiga,” ucap seorang perawat, yang saat ini membantu mendampingi pasangan suami-istri bersalin.


Senyum cerah terbit di bibir Abhi yang saat ini sedang duduk di samping ranjang Naura. Sejak pukul 11 malam, Naura mengatakan jika ia merasakan mulas yang lebih intens dari hari itu. Tapi sayangnya, Abhi tidak percaya. Pria itu khawatir kena prank lagi oleh calon anaknya. Dan pagi tadi, saat Naura berkata ada bercak darah yang keluar dari intinya, Abhi langsung panik, dan membawa Naura ke rumah sakit.


Kali ini Abhi justru lupa untuk mengabari kedua mertuanya, dan ponsel pintar milik keduanya tergeletak manis di ranjang, tidak sempat dimasukan ke dalam tas.


“Yeee … bentar lagi ketemu!” ujarnya bertepuk tangan kecil, tanpa suara, berusaha menghibur diri sekaligus memberi motivasi pada sang istri.


Naura tertawa lirih, lalu mengusap wajah Abhi dengan telapak tangannya. Bermain lembut di jambang nya yang lupa dicukur, demi meredakan rasa panik yang suaminya saat ini rasakan, dia bisa membaca dengan jelas kecemasan Abhi saat ini.


“Kalau masih kuat, Bapak bisa ajak ibu untuk jalan-jalan dulu, Pak!” saran perawat yang akan membantu proses persalinan Naura. Jadwal praktek dokter Lusy belum selesai, jadilah mereka berdua dibantu oleh perawat.


“Tidak!” sahut Abhi, tanpa menatap wajah sang perawat. Ia khawatir jika Naura banyak bergerak justru rasa sakit yang akan wanita itu dapatkan. Dia tidak ingin itu terjadi, sudah cukup semalaman mendengarkan rintihannya.


Tiga jam kemudian.


“Mau minum teh? Atau mau aku ambilkan telur rebus, sari kurma saja biar punya kekuatan nanti saat dedek mau keluar. Atau aku carikan jus dulu ke kantin?” tawar Abhi tak henti berbicara saat gelombang cinta itu mulai merayapi punggung bagian bawah istrinya.


Naura menatap marah ke arah suaminya. “Ngoceh saja terus! Aku yang kesakitan kamu yang ngoceh nggak jelas!” protesnya. “Cukup bantu ngusap saja, aku tidak apa-apa! Jangan Panik!”


Wajah Abhi berubah pucat. Ia jadi serba salah, bingung harus berbuat apa, di saat melihat istrinya kesakitan seperti ini. “Apa aku keluar saja?” tawar Abhi, dia tidak tega melihat wajah Naura mulai memerah. Keberanian yang sudah ia susun selama 8 bulan runtuh seketika, saat tangan Naura mencengkram erat kausnya. Rasanya semakin erat, ada dorongan dari telapak tangan istrinya, hingga ujung kuku-kuku itu hampir melukai punggungnya.


Naura masih duduk bersila di atas ranjang, memejamkan matanya, tidak terlalu rapat. Menahan napas, berusaha menikmati setiap detiknya kontraksi yang menyerangnya saat ini, setelah itu membuangnya pelan lewat mulut. Saat kontraksi mulai menyerang.


Saat perawat mengatakan sudah mencapai pembukaan enam. Naura melakukan hal yang sama, menahan napas sambil menggigit bibir bawahnya, untuk menikmati rasa sakit saat putranya itu mencoba mencari jalan lahir. Sudut matanya berair, wajahnya kini sudah merah padam, saat gelombang cinta itu kembali menyerangnya.


Dia bisa sedikit tenang, saat kontraksi itu memberinya jeda bernapas. Namun, jarak kontraksi satu ke kontraksi lainnya semakin dekat. Waktu istirahatnya pun terpotong, diafragma-nya sudah sudah tidak bisa bekerja secara normal. Lebih pendek dari saat pembukaan tiga.

__ADS_1


Abhi yang berada di sampingnya, benar-benar mengunci mulutnya. Sudah tak terhitung berapa kali ia mengusap air matanya yang keluar tanpa mengucapkan permisi.


“Sambil tiduran nggak papa kok, Bu!” perawat yang sedari tadi mondar-mandir untuk melihat kondisi Naura, mulai memberi arahan. Dia meminta Naura tidur miring menghadap suaminya. “Coba kakinya ditekuk satu, Pak!” perintahnya pada Abhi, meminta pria itu untuk membantu.


Abhi melakukan hal yang diperintahkan perawat, dia lalu mengusap perut istrinya. Mencoba mengajak komunikasi dengan calon anaknya.


"Hai, Sayang ... bantu Bunda ya ...." Abhi sampai tak berani untuk menyentuh perut Naura yang semakin turun ke bawah menuju jalan lahir. Suara denyut jantung dari fetal doppler masih menjadi instrumen yang mengisi ruangan. Abhi termenung menatap iba wajah istrinya.


“Kenapa kau diam saja!” kali ini Naura protes, sebelum akhirnya kontraksi itu datang lagi dan lebih menyakitkan dari awal mereka datang. Kali ini disertai rasa menyengat yang semakin mendekat ke intinya. Naura mengeluh, merintih, hanya itu yang bisa ia lakukan saat ini.


Kepingan-kepingan perlakuan Naura pada mamanya pun terlintas begitu saja. Saat ia tidak menuruti saran mamanya yang menginginkan dia kuliah di dalam negeri. Saat wajahnya cemberut, ketika Ella menentangnya, apalagi saat melihat mamanya mengeluarkan air matanya hanya karena dia menolak menikah, rasa bersalah semakin memeluk jiwanya saat ini.


“Aku mau mama, Bhi!” tangisnya pecah, di tengah rasa sakit yang ia rasakan saat ini, tubuhnya bergetar hebat tak mampu dikendalikan.


“Aku keluar ya? Aku akan cari mama Ella dulu!”


Naura menahan lengan Abhi, ia menggeleng cepat. “Aku pesen sama kamu saja. Sampaikan maaf ku pada mama kalau aku tidak kembali.” Tubuh Naura kembali terguncang saat ia menyebut nama mamanya.


Air mata Naura semakin deras mengalir, ia sudah pasrah dengan rasa sakit yang menyerangnya saat ini. “Tapi ini sakit, Bhi!” ucapnya dengan setengah suara, napasnya sudah tidak beraturan lagi.


“Aku panggil, Dokter, ya? Kita bisa jalani proses persalinan dengan cara lain.” saran Abhi.


Kali ini tangis Naura tidak bersuara, ia menahannya dengan menggigit bibir bawahnya. Ada rasa penyesalan saat suaminya mengatakan hal itu padanya. “Maafkan aku, Bhi! Maaf … maaf … aku belum bisa jadi istri yang baik untukmu …. Aku gagal melahirkan anakmu.”


Abhi tidak menjawab ucapan Naura, ia hanya mengusap dengan lembut kening istrinya, menyibakan rambut yang mengotori wajah Naura. “kamu terbaik untuk aku! Kamu tidak salah. Aku keluar dulu ya. Aku akan menandatangani surat persetujuan operasi dulu, supaya dokter bisa melakukan operasi seccar.”


Naura mengangguk lemah. Namun belum juga pria itu keluar ruangan. Naura kembali merintih kesakitan, lebih hebat dari dari awal tadi, ia menggenggam tangan Abhi yang hendak keluar, menahannya untuk jangan pergi. Perawat yang mendengar teriakan Naura lekas mendekat, untuk mengecek apa yang sudah terjadi.


“Air ketubannya sudah pecah, bentar lagi ya, Bu! Belum lengkap soalnya, kepala bayinya masih jauh, nanti kalau ibu mengejan sekarang, ibu bisa kehabisan tenaga." pesan perawat itu. "Bapak dampingi ibu, yang sabar jangan pakai emosi. Ini terbilang cepat loh, tanpa obat perangsang. Berjuanglah, Bu! sedikit lagi, kok!” perawat yang baik hati itu menyalurkan energi positif untuk Naura.

__ADS_1


Kamar bersalin itu memang sengaja disiapkan untuk Naura, mengingat mereka adalah anak dari pentolan rumah sakit yang saat ini mereka tempati. Perawat yang mengetahui Naura hendak bersalin, segera mengabari Erik.


Pasangan lansia itu tampak panik saat mendengar kabar Naura hendak melahirkan. Mereka langsung menuju ke rumah sakit di antar pak Ridwan.


Pintu ruang bersalin terbuka dari arah luar, wanita yang tadi dicari Naura, langsung berlari kecil ke arah brankar, meraih tangan putrinya yang saat ini gemetar. Ia memeluk tubuh lemah putrinya, berusaha menyalurkan kekuatan, memberi motivasi Naura, supaya mau berjuang sedikit lagi.


“Hei … hei … kok nangis?” Ella berusaha menggoda, ingin menghibur putrinya yang tiba-tiba saja meledakkan suara tangis di pelukannya.


“Nana pikir, ak—ku nggak bisa ketemu, Mama lagi!” ucap Naura di tengah isakkannya. “Maafin Nana, Ma. Nana banyak salah sama Mama, ampun Ma!” Naura mengatur napasnya.


“Iya, sudah-sudah. Nggak malu sama Abhi?” Ella terus menggoda, dia juga sedang mencari penghiburan saat ini.


Abhi yang melihat Ella datang, sedikit bernapas lega. Ia melirik ke arah pria yang saat ini tengah bersandar di tembok samping pintu, mengawasi interaksi keduanya.


“Sakit, Ma … rasanya sakith!” suara keluhan Naura kembali terdengar, lebih memilukan dari sebelumnya. Perawat dan dokter Lusy yang bru saja tiba lekas mengecek ulang seberapa centimeter pembukaan yang sudah terbuka.


“Kita siap-siap ya, Bu, sudah dekat kok, kepala bayi sudah siap keluar!” perawat dan dokter Lusy mendatangi brankar Naura untuk membantu proses persalinan.


“Biar mama yang di sini, Bhi. Kamu keluar saja sama papa!” usir Erik.


“Biar Abhi di sini, Ma! Abhi ingin menemaninya berjuang.” Abhi menolak, ia berharap akan kuat saat berada di dalam ruangan ini.


Naura tidak menanggapi obrolan mereka, dia fokus merasakan sakit yang begitu hebat menyerang seluruh tubuhnya. Napasnya mulai tak terkontrol, ia menjerit sekuat tenaga untuk bisa terbebas dari rasa saat itu. Tapi, ternyata tidak, hanya rasa panas dan nyeri yang bisa ia rasakan saat ini.


“Ibu Naura bukan gitu ngejannya! Udah diajari tekniknya kan? Kita praktekan ya … Bapak, bantu juga ya.” Lusy berusaha mengingatkan.


“Bhi, mama keluar ya! Kamu di sini jagain Nana!” minta Ella. Hati dan jiwanya tidak kuat melihat putrinya kesakitan seperti itu. Abhi mengangguk cepat, di saat ia sedang memberikan motivasi untuk istrinya.


“Saya ngapain, Dok, sekarang?” tanya Abhi, ia bingung harus melakukan apa. Nyaris frustasi dan menghantam tembok dinding saat melihat kepala bayi itu kembali masuk ke jalan lahir. Namun, saat proses mengejan yang ke lima, diiringi luka gores di lengannya ia bisa mendengar suara paling merdu pertama dari putranya.

__ADS_1


..."**Rainer Abiyasa Damanik"...


...---------The End** -------...


__ADS_2