Kepincut Cinta Dokter

Kepincut Cinta Dokter
Makan Bakso


__ADS_3

Happy reading... jangan lupa untuk vote.😁👍🙏


.


.


.


Pagi harinya, Erik masih setia memeluk tubuh istrinya itu, menggesekkan hidungnya di pundak Ella. Erik yang semakin nyaman, enggan untuk beranjak dari tidurnya, padahal matahari sudah masuk melalui celah jendela kamar. Erik melepaskan pelukan yang menempel di perut Ella, saat mendengar dering suara ponselnya.


“Kenapa?” tanya Erik saat menjawab panggilan teleponnya.


“Bapak jadi ke kantor?” tanya Yohan di seberang telepon.


“Jam berapa rapatnya?”


“Jam 10 pagi Pak.” Erik melirik jam di dinding masih punya waktu 2 jam lagi untuk persiapan.


“Iya, tunggulah di sana aku akan segera tiba,” ucap Erik singkat sambil melirik Ella yang masih terlelap. Erik segera menutup ponselnya dan beranjak dari ranjangnya.


Setelah selesai bersiap, dia kembali mendekati istrinya, melihat Ella yang masih belum bergerak dari tidurnya.


“Secapek itukah? Sampai belum bergerak juga dari tadi,” ucapnya lirih sambil mengecup singkat dahi istrinya.


“Mas ke kantor dulu ya,” bisiknya, lalu meninggalkan kamar apartemennya, memberi pesan pada pelayan yang sudah datang dari tadi.


***


Pukul 11 siang Ella baru terbangun dari tidurnya, Ella melirik jam di dinding, dia hanya menggelengkan kepala, kanapa juga Erik tidak membangunkan dirinya. Dia menatap samping ranjangnya yang sudah kosong, melirik tubuhnya yang hanya tertutup selimut tanpa memakai pakaian sehelai pun, bayangannya masih teringat tentang kejadian semalam, dia yang terlena dengan sentuhan Erik, akhirnya hanya bisa pasrah melayani suaminya.


Ella lalu beranjak dari ranjang menuju kamar mandi, menatap pantulan dirinya di kaca, merasa dirinya sudah tidak sexy lagi karena lemak mulai bersarang di mana-mana. Tidak ingin berlama-lama di kamar mandi Ella lalu menyalakan air shower untuk membersihkan tubuhnya.


Setelah selesai memakai baju, dia segera keluar dari kamarnya. Pelayan yang melihat Ella keluar kamar, segera beranjak dari posisi tidurnya, takut jika Ella akan mengomel.


“Mas Erik kemana ya Bu?” tanya Ella yang tak menemukan suaminya di ruang kerjanya.

__ADS_1


“Bapak tadi bilang katanya mau ke kantor sebentar,” jawab pelayan yang hampir 50 tahun itu.


“Ke kantor?!” kaget Ella karena semalam Erik tidak berbicara jika akan pergi ke kantor. Ella lalu merngambil ponsel yang ada di kamarnya. Mencoba menghubungi Erik tapi yang ada Erik tak kunjung mengangkatnya, karena masih rapat dengan anggota dewan direksinya.


Ella lalu berencana untuk menyusul Erik ke kantor, karena dia juga merasa bosan di apartemen. Dia segera memesan taksi online untuk mengantarnya ke perusahaan Erik.


Setelah 40 menit perjalanan Ella sudah tiba di depan gedung perusahaan suaminya yang dari dulu tidak pernah dia datangi.


“Permisi..., selamat siang. Apa Pak Erik masih ada di kantor?” tanya Ella pada wanita yang tengah duduk di belakang meja.


“Masih Bu. Pak Erik sedang rapat di ruang meeting.” Ella hanya menatap ke arah wanita di depannya itu.


“Apa boleh saya menunggu di ruangan Pak Erik?” tanya Ella karyawan itu pun terdiam sambil menelisik penampilan Ella. Ella yang paham menatap balik wanita itu.


“Saya istrinya. Apa bisa Anda mengantarkan saya,” ucap Ella yang merasa lelah karena dibiarkan berdiri terlalu lama di sana.


“Oh..., maaf Bu. Mari saya antar,” ucap wanita itu yang sudah berdiri akan mengantarkan Ella. Sampai di ruangan suaminya Ella masih harus menunggu suaminya rapat. Hingga pukul 2 siang Erik baru masuk ke ruangannya. Ella yang melihat suaminya masuk langsung memeluk tubuh Erik, bergelayut manja di lengan Erik.


“Kok nggak ngasih kabar kalau mau ke sini?” Ella cemberut saat mendengar ucapan Erik.


“Benarkah?” Erik lalu meraih ponselnya yang ada di kantong jasnya, lalu tersenyum ke arah Ella.


“Sudah kangen ya? Sampai segitunya pengen ketemu Mas,” tanya Erik yang sudah mendudukkan Ella di pangkuannya.


“Bukan aku yang kangen, tapi anakmu.” Erik hanya terkekeh mendengar jawaban istrinya.


“Kasihan kamu Nak, selalu jadi alasan bundamu untuk bertemu dengan ayah,” ucap sambil meraba perut Ella.


“Mas..., aku pengen makan bakso.”


“Makan di sini saja ya, biar di pesankan Yohan,” jawab Erik yang masih ingin menikmati pelukan istrinya.


“Nggak aku pengenya makan di tempat.”


“Nggak ada ya makanan selain bakso yang kamu inginkan?” tanya Erik yang sebenarnya palin tidak suka dengan bakso. Ella hanya menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


“Boleh sih, tapi kasih ciuman dulu,” ucap Erik yang akhirnya akan menuruti keinginan istrinya.


Cup. Cium Ella di kedua pipi suaminya.


“Sini belum,” ucap Erik sambil menunjuk bibir merahnya. Ella hanya melirik pintu ruangan itu, lalu mengecup sebentar bibir suaminya. Namun, Erik justru menahan tengkuk Ella agar lebih dalam lagi ciumannya, Ella yang tadi berusaha melepaskan pun hanya bisa pasrah karena Erik tidak mengizinkan. Ella yang tadi duduk menyamping di pangkuan Erik, sekarang sudah berganti posisi tidur menghadap Erik, dengan ciuman yang belum terlepas. Hingga terdengar suara pintu terbuka Ella reflek mendorong tubuh Erik, hingga dia terjatuh ke bawah.


BRUK...


“Awww...,” rintih Erik saat dirinya terjatuh. Yohan yang melihat bosnya itu hanya bisa meringis merasa kasian karena posisi jatuhnya cukup keras, dan Ella yang tengah mengancingkan bajunya merasa malu sekali dengan Yohan yang tiba-tiba nylonong masuk.


“Bisa nggak sih kalau masuk itu ketok pintu dulu,” maki Erik pada Yohan sambil memegangi pinggangnya. Dia lalu berdiri dengan sempoyongan, karena merasa nyeri di pinggangnya.


“Perlu minyak gosok Pak?” Erik yang mendengar tawaran Yohan hanya bisa mengangguk karena memang membutuhkan.


“Sakit banget ya, maaf ya sini coba biar aku yang mijit,” tawar Ella sambil menyuruh Erik duduk di sampingnya.


“Untung cinta,” cibir Erik sambil membuka ikat pinggangnya, “Biar besok sofanya diganti yang lebih besar, sepertinya terlalu sempit untuk tiduran berdua,” lanjut Erik yang membuat Ella menggelengkan kepalanya.


“Masih saja mikirin kaya gitu, itu gimana nasib pinggang Mas, nggak jadi deh makan baksonya,” ucap Ella yang kecewa.


“Salah sendiri siapa suruh dorong Mas, harusnya tadi kamu meluk Mas, biar nggak kelihatan Yohan. Sini pijitin!” perintah Erik sambil menunjuk pinggangnya yang terasa nyeri.


Setelah beberepa menit Yohan datang dengan membawa minyak gosok, dia menyerahkan minyak itu pada Ella. Ella lalu menggosokan ke pinggang suaminya agar bisa meringankan rasa nyeri yang diderita suaminya.


“Genap 20 menit, Mas nggak akan kuat untuk menahannya,” ucap Erik saat Yohan tidak berada di ruangan itu.


“Iya biar cepat sembuh dan pergi beli bakso.”


“Bukan itu Yang. Mas nggak akan bisa menahan untuk tidak menyerangmu.” Ella yang mendengar itu langsung mencubit pinggang Erik.


“Bisa nggak sih, sehari saja nggak mikirin ke arah sana!” maki Ella yang merasa jengkel dengan suaminya, Erik hanya terkekeh saat mendengar ucapan dan wajah istrinya yang malu-malu itu.


“Nggak nyadar ya semalam yang minta nambah siapa? perasaan Mas sudah bilang stop!” goda Erik yang mengingatkan Ella sambil tertawa mengingat kejadian semalam.


“Sudah nggak sakitkan? ayo beli bakso!” ajak Ella yang membuat Erik terdiam, mau tidak mau dia memang tidak ada pilihan lagi untuk menolak keinginan istrinya, dia pun segera memakai kembali celana panjannya yang tadi dia lepas, setelah rapi barulah dia mengantar Ella untuk membeli bakso ke inginanya.

__ADS_1


__ADS_2