Kepincut Cinta Dokter

Kepincut Cinta Dokter
Jangan Bohong!


__ADS_3

...Selamat Membaca...


Memandang mu …


Walau selalu …


Tak akan pernah beri, jemu di hatiku.


Alunan merdu itu keluar dari bibir Abhi, saat ini ia tengah mematutkan diri di depan layar kaca, yang ada di ruang ganti sudut kamar Naura. Matanya menatap bayangan wanita yang ia cintai yang saat ini berdiri di balik punggungnya … siapa lagi, kalau bukan Naura. Wanita yang kini tengah hamil calon anaknya. Sedangkan kedua tangan Abhi sibuk mengancingkan kemeja putih yang disiapkan wanita itu.


Dua hati satu tujuan …


Melangkah bersama …


Cinta hadir bawa diriku …


Menyentuh indahnya …


Seolah tadi menikmati suara instrumen, Abhi terus melanjutkan bernyanyinya. Menghibur wanita yang saat ini tengah bermuram durja. Berharap ia bisa melihat senyum istrinya pagi ini.


Dengan bibir yang mengerucut, mata yang terlihat sendu meski sekuat apapun ia menutupinya. Hatinya tetap saja bergetar, sesak, saat menyiapkan pakaian untuk Abhi. Tidak rela, tapi dia juga tidak akan menghalangi Abhi untuk pergi menunjukan pada orang-orang kalau dia difitnah.


“Jangan cemberut gitu! Jelek sekali!” cibir Abhi menarik pelan hidung Naura. Lalu berlalu meninggalkan ruang ganti yang tidak begitu luas.


Naura lekas mengekor ke mana Abhi melangkah. Saat pria di depannya hendak berjongkok mengenakan sepatu, dengan segera ia memeluk pinggang suaminya. Tidak peduli dengan gerakan Abhi yang akan membahayakan jika pantatnya menyenggol perutnya


“Kamu akan pulang kan, Bhi?” lirihnya.


“Pulang, dong! Memangnya mau ke mana? Aku punya rumah, punya istri yang menanti aku pulang?” kata Abhi sambil memutar tubuhnya, demi bisa melihat wajah Naura.

__ADS_1


“Jangan bohong, Bhi!” Naura yang lebih pendek dari Abhi semakin memeluk erat pinggangnya, tetes demi tetes air matanya pun mulai membasahi kemeja yang baru saja dikenakan suaminya.


“Kalau nanti malam aku tidak pulang … bisa jadi besok. Atau bisa jadi minggu depan … atau bisa juga bulan depan, jika kita diuji lebih lama … mungkin tahun berikutnya, kita baru bisa bertemu!” lirih Abhi.


Naura memaksakan pelukannya terlepas dari suaminya. Ia memilih memuaskan diri untuk menatap suaminya.


“Atau mungkin Allah ingin aku menjadi lebih baik dari sebelumnya. Kamu tahukan betapa buruknya aku? Bahkan kita pernah berdebat demi membela klien. Padahal aku tahu dulu Ken salah, Farah juga salah. Tapi aku tetap mati-matian membelanya. Meski akhirnya kebenaranlah yang menang!” Abhi menarik sudut bibirnya sambil menatap kedua bola mata Naura yang sudah basah karena tersirami air mata. “Tunggu aku di rumah, ya? Kalau aku tidak pulang, anggap saja aku sedang menerima hukumanku, atau kamu bisa anggap aku sedang belajar,” bisiknya. “Sudah waktunya aku berangkat. Ayo!” ajaknya kini kedua tangannya sibuk mengusap air mata Naura.


“Kita sarapan bersama. Kasihan tau, anakku nggak kamu kasih nutrisi, justru kamu kasih alunan tangisan!” Abhi masih menggoda Naura. Berusaha membuat istrinya tidak terlalu panik dengan masalah yang kini ia alami. Hanya itu yang bisa dia lakukan.


Tiba di meja makan, seluruh anggota keluarga sudah menunggu kedatangan mereka berdua. Hanya Alby tidak menginap di rumah Erik karena pria itu harus ke Bandung karena Enji sedang sakit.


Erik yang melihat kedatangan Abhi menepuk kursi yang paling dekat dengannya. “Ada banyak hal yang ingin aku tanyakan padamu!” ujarnya. Dan Abhi langsung mendekati kursi yang ditempati mertuanya.


“Kamu benar terlibat dengan kasus suap itu?”


“Iya. Benar!”


Abhi meraih telapak Naura, lalu menatap sejenak ke arah istrinya. “Aku butuh bantuan papa untuk menjaga Nana, selama Abhi tidak pulang ke rumah.”


“Baiklah mari kita sarapan dulu! Jika kamu memang butuh bantuan jangan sungkan untuk meminta tolong!”


Pagi itu suasana sarapan tidak seperti biasanya. Meski masih terdengar suara anak-anak tapi tidak dengan para orang dewasa, mereka menikmati sarapan dalam mode hening.


Usai sarapan, Naura mengantar suaminya ke arah mobil putih yang sudah terparkir di depan teras rumah. Seperti biasanya, sebelum berangkat pria itu memberikan kecupan di kening istrinya. Lalu Naura mengakhirinya dengan mencium punggung tangan Abhi. Melambaikan tangan sampai mobil suaminya sudah tak terlihat lagi dari pandanganya.


Naura lekas masuk kembali ke kamarnya. ia mengganti pakaian berniat untuk datang ke kantornya. Dia tidak bisa berdiam diri di rumah sedangkan suaminya kini sedang mencari bukti kalau dia tidak bersalah.


“Mau ke mana?” tanya Erik saat Naura berjalan cepat ke arah mobilnya.

__ADS_1


“Ke kantor. Aku punya bukti kalau Abhi hanya dijebak!”


“Terserah!” kata Erik, tampak acuh membiarkan Naura pergi begitu saja.


Tiba di gedung kantornya Naura berjalan ke arah ruang cctv yang ada di dekat pos securiti. “Nyalakan rekaman di ruang tamu kemarin jam 9 pagi!” perintahnya pada petugas cctv.


“Ruang tamu?” pria itu mengernyit karena merasa ada yang aneh dengan permintaan bos nya.


Naura mengangguk.


“Bukannya sudah satu minggu yang lalu kami mengajukan proposal penggantian kamera cctv ya, Bu. Karena kamera cctv di sana rusak.” Pria itu justru mengingatkan.


Naura memejamkan matanya, ia lupa akan hal itu. Jadi, bukti jika Martinus mendatangi dan mengancamnya pun tidak ada.


“Kamera cctv lainnya apa masih ada?” tanya Naura.


“Tinggal yang ada di pintu masuk saja, Bu. Sama di dekat ruangan Ibu!”


Naura menyisir rambutnya dengan jemari, lalu menariknya kuat-kuat, meluapkan rasa kesal pada dirinya sendiri. Merasa tidak ada guna lagi ia berada di sana. Naura meninggalkan ruangan tersebut, memasuki gedung kantornya.


Ia mengangkat tangan kanannya saat Clara hendak mengatakan sesuatu padanya.


“Serahkan pada senior! Aku tidak bisa menangani masalah untuk saat ini,” ujarnya lalu masuk ke ruang kerja. Tubuh Naura kini terasa lemas setelah tidak mendapatkan apa yang tadi ia inginkan. Ia mengambil ponselnya, menilik apa ada pesan dari Abhi. Tapi, nihil tidak apapun yang bisa dia lihat. Hanya pesan dari Alea, yang tidak ingin ia buka.


Dengan gerakan malas ia menekan repot layar televisi di depannya. Masih ada tayangan tentang kasus penyuapan yang melibatkan Hakim Agung bernama Brata Susena. Sidang perkara tentang penangkapan bandar narkoba bernama Jordan pun tertunda. Padahal pria itu sudah berhasil dibekuk polisi sebulan yang lalu. Tapi saat ini justru Hakim Agung terkena kasus penyuapan. Entah benar atau salah waktu akan menjawab semuanya.


Telinga Naura terasa panas saat mendengar berita di televisi. Saat ia hendak mematikan layar LED, reporter mengatakan jika suaminya sudah tiba di gedung KPK, memenuhi panggilan penyidik.


Naura bisa melihat jika langkah suaminya kini dihadang oleh beberapa wartawan yang tengah mencari kabar berita tentang kasus yang melibatkan orang penting itu.

__ADS_1


Tapi Abhi tidak mengeluarkan satu kata pun, dia berlenggang masuk dan meminta security untuk melindunginya. Dan Naura langsung mematikan televisi di depannya. Saat tak lagi melihat wajah suaminya.


...-------- BERSAMBUNG --------...


__ADS_2