Kepincut Cinta Dokter

Kepincut Cinta Dokter
Extra Part : Masih Seperti Dulu


__ADS_3

Sequelnya di novel Mistake ( A Mistake Can Bring Love )




LANJUT CERITA ERIK & ELLA


Semua akan baik-baik saja jika kita terus bersama, saling percaya, saling menjaga, saling terbuka. Jangan menyembunyikan hal sekecil apapun dariku. Kata-kata Erik ketika berlibur di Yogyakarta tergiang selalu di telinga Ella. Sudah empat bulan mereka lewati, saat ini bukan hanya menjadi orang tua dari anak kandungnya saja, tetapi mereka sudah menjadi mertua dari Aluna.


Ella yakin jika menantunya itu tidak baik-baik saja. Hubungannya dengan anak lelakinya tidak seperti pasangan pada umumnya.


"Ma. Ngapain? Kok di situ?" panggil Erik mengubah nama panggilannya ketika di depan anak-anak.


Ella hanya menoleh ke arah Erik sambil tersenyum tipis, "Nggak papa, cuma kepikiran kamu saja." Ella berjalan menghampiri sofa yang ada di ruang keluarga.


"Yakin hanya itu?" tanya Erik sambil menyipitkan kedua matanya, dia menoleh ke arah kedatangan Ella.


"He'em. Mau apa lagi coba?" tanyanya penuh ambigu.


"Minum kopi sepertinya enak deh. Bikinkan ya!" rayu Erik sambil mendekatkan punggung tangan Ella ke bibirnya, dia mengecupi tangan Ella yang setiap hari ia pakai untuk selalu membuatkan minuman untuknya, menyiapkan segala kebutuhannya hingga saat ini.


"Nggak mau!" tolak Ella sambil mencoba menurunkan tangannya.


"Yah, aku ngantuk Sayang." Erik berkata lirih supaya anak-anaknya tidak mendengar panggilan sayang untuk Ella. Dari nada bicaranya sudah dipastikan dia tengah kecewa dengan penolakan Ella.


"Kalau ngantuk ya tidur ke atas sana!" ucap Ella sambil melepaskan tangannya.


"Nggak mau, kalau lihat ranjang bawaannya pengen meluk kamu terus." Erik berbisik di samping telinga Ella setelah melihat kedua anaknya tidak memperhatikannya.

__ADS_1


"Dasar sudah tua juga masih otak ranjang!" maki Ella yang beranjak meninggalkan Erik dia berjalan ke arah dapur untuk membuat kopi hitam untuk suaminya.


Malam semakin larut. Kedua anaknya sudah masuk ke dalam kamar masing-masing. Tidak dengan mereka berdua yang masih berada di ruang keluarga, dengan Erik yang meletakkan kepalanya di pangkuan Ella. Menganggu Ella yang tengah menonton drama kesukaanya, dia terus menatap Ella sambil memainkan ujung rambut yang sudah terlihat banyak yang bewarna putih.


"La." Panggil Erik.


Ella melirik sebentar ke arah Erik, mencoba memahami panggilan suaminya, yang terasa asing.


"Kenapa?" tanya Ella sambil mengusap lembut rambut Erik, membawanya kebelakang, hingga tampak dahinya yang semakin lebar, karena rambutnya yang mulai menipis.


Erik membuang nafasnya. Tangannya beralih memainkan dagu Ella memijat-mijat lembut di sana.


"Mas, jangan ganggu dong! Ini baru akan klimak filmnya!" maki Ella sambil meraih tangan Erik, dan menjauhkan dari wajahnya.


"Hei nggak perlu kamu melihat drama tidak bermutu itu! Kita bisa membuatnya sendiri Sayang." Erik mendudukan setengah badannya sambil menghalangi pandangan Ella.


"Ini di mana! Jangan berbuat lebih!" peringat Ella membuat dengusan keluar dari bibir Erik. Lelaki itu kini sudah duduk di samping Ella. Tidak lagi melakukan kontak fisik dengan istrinya.


"Sayang, mau kemana? Kamu nggak ngajakin aku ke kamar?" teriak Erik sambil menatap kepergian Ella. Setelah tidak mendapat jawaban dia segera beranjak dari duduknya, ia menyusul Ella masuk ke dalam kamar utama rumahnya. Melihat Ella masuk ke dalam kamar mandi, sambil menenteng pakaian ganti di tangannya.


Erik merebahkan tubuhnya lebih dulu di ranjang, sambil menunggu Ella selesai berganti baju. Tangannya meraih ponselnya karena beberapa kali terdengar suara getaran dari ponsel yang ada di meja. Laporan-laporan ia terima tentang Kakun yang pergi ke London untuk menemui Kayra.


Pintu kamar mandi terdengar terbuka, ia langsung menatap Ella yang sudah rapi dengan pakain tidurnya, dan bersiap untuk tidur.


Erik menepuk bahunya, meminta Ella merebahlan kepalanya di sana.


"Aku lelah hari ini, kita tidak akan melakukannya," terang Ella yang sudah merebahkan tubuhnya di bahu Erik.


"Ya, aku terima. Kita hanya akan saling memberikan kehangatan." Erik mendekap erat tubuh Ella, sambil menciumi rambut Ella.

__ADS_1


Cukup lama mereka menikmati aroma tubuh satu sama lain, Erik masih diam, takut mengganggu waktu tidur istrinya. Dia hanya mengusap lembut rambut Ella, mencoba menidurkan Ella lewat usapannya.


"Jangan tanyakan hal itu lagi, kamu tahu bagaimana aku mencintaimu. Hampir seluruh usiaku aku gunakan untuk mencintaimu. Kenapa kamu masih ragu dengan perasaanku?"


Erik yang mengetahui Ella belum terlelap hanya bisa mendengarkan perkataan Ella.


"Aku hanya takut, jika istriku ini bosan dengan apa yang aku berikan! Hari-harimu kamu lewati hanya untuk melayani aku dan anak-anakku."


"Bodoh! Memangnya kamu melahirkan mereka? Dia juga anakku!" bentak Ella sambil menjauhkan tubuhnya dari Erik.


Mereka berdua tidak lagi berbicara, membiarkan matanya yang menyampaikan apa yang menjadi isi hatinya.


"Aku tidak pernah bosan dengan semua ini! Ada banyak pahala yang bisa aku dapatkan untuk mengurusmu dan anak-anak," terang Ella sambil kembali memeluk tubuh Erik.


"Aku mencintaimu, masih sama seperti dulu. Tidak berkurang sama sekali, aku tidak merasa bosan dengan kehidupanku, karena aku menjalaninya bersamamu, kamu yang membuat hidupku terombang-ambing seperti menaiki kapal, kadang bahagia, kadang sedih, tapi kamu mampu membuatku mengerti, itu tidak akan mudah, jika aku melewatinya sendiri."


Tanpa terasa, mata Erik terlihat berair. Dia tidak mampu kenahan air matanya, dia terharu mendengar ucapan Ella.


"Terima kasih atas cintamu. Sejak boneka hitam putih itu aku berikan kepadamu. Aku bertekad menjadikanmu wanita pertama dan terakhirku. Dan bersyukurnya Allah mengabulkan semuanya. Semoga saja jika aku lebih dulu dipanggil oleh Allah, kamu juga akan segera menyusulku. Supaya kita tidak berpisah terlalu lama." Erik menghapus air matanya, karena malu dengan Ella yang terus mengawasinya.


"Kenapa menangis! Lelaki cengeng!"


"Aku akan selalu menangis jika itu menyangkut tentangmu! Doakan aku biar aku menjadi lelaki yang tangguh!" kata Erik sambil memperlihatkan otot lengannya yang sudah mengendor. Membuat Ella tertawa lirih karena melihat Erik yang sudah terlihat semakin tua.


"Jadi ingat puluhan tahun yang lalu, kamu adalah lelaki kuat yang aku miliki."


"Sekarang juga masih kuat," ucap Erik dengan lirih, sambil mengecup bibir Ella.


Kecupan lembut itu menjadi pembuka kegiatannya malam itu. Tidak ada lagi air mata di sana, keduanya menikmati malam yang sudah mereka jadwalkan. Erik paham dengan kondisi istrinya, meski dia kuat dan masih sehat. Tapi jika dia melakukannya setiap hari, akan berakibat buruk dengan kondisi Ella, dia tidak ingin Ella kurang istirahat, dan menganggu waktu istirahat istrinya.

__ADS_1


💞


Votenya buat Aa Kalun saja ya, tapi berikan likenya.👍😂


__ADS_2