Kepincut Cinta Dokter

Kepincut Cinta Dokter
Nyonya Damanik


__ADS_3

...Selamat Membaca...


“Kau mau papa memindahkan kamarmu, Na?” tanya Erik saat melihat Naura menapakkan kakinya untuk naik ke lantai dua, di mana kamar Naura berada saat ini.


“Tidak perlu!” Naura membalikan kembali tubuhnya menghadap Erik, “katanya kan kalau hamil tua harus banyak-banyak bergerak.” Senyum mekar di bibir Naura, berusaha mengikis rasa khawatir yang sepertinya mulai menyerang orang tuanya.


“Ck, tapi kehamilan mu masih menginjak tiga bulan, Na.” Erik protes, yang membuat Naura menggedikan bahunya. Wanita itu acuh, ia berbalik mengabaikan ucapan Erik, kembali berjalan menaiki anak tangga menuju kamarnya.


“Biarkan saja, yang penting mereka nyaman!” Ella yang mendengar perbincangan singkat mereka mulai protes dengan sikap suaminya. Ia khawatir hal itu justru membuat Abhi dan Naura tidak betah saat tinggal di rumah mereka.


Sejak kejadian penculikan dua bulan yang lalu, Naura dan Abhi tinggal bersama di rumah Erik. Mereka melakukan itu demi mengendalikan kekhawatiran kedua orang tuanya yang takut kejadian itu akan terulang kembali. Selama mereka berdua tinggal di sana semua masih aman terkendali, Abhi tidak pernah protes dan Naura juga nyaman berada di tengah orang-orang yang ia sayangi.


Naura berjalan ke arah ruang kerja, saat tidak mendapati Abhi di dalam kamar. Benar saja, terlihat pria itu tengah memikirkan sesuatu sambil menatap file yang ada di atas meja. Sepertinya itu berkas penting mengenai kasus pak Bahtiar, yang sampai sekarang belum terselesaikan.


Dengan gerakan pelan dan tanpa suara Naura mengalungkan lengannya ke arah leher Abhi, lalu duduk di tangan kursi yang Abhi tempati saat ini.


“Kamu belum tidur?” tanya Abhi yang sedikit terkejut saat merasakan kehadiran istrinya. Apalagi saat melihat jam di atas meja sudah menunjukan pukul 10 malam, itu berarti jam tidur istrinya mundur satu jam dari hari biasanya.


“Belum, aku tidak bisa tidur,” jawab Naura, kini mulai menempelkan pipinya ke pipi Abhi, dengan lengan masih bergelayut manja, sambil mencuri baca apa yang sedang dipelajari suaminya kaki ini. Tapi hanya sekejap karena Abhi memindahkan posisinya duduk ke pangkuannya.


“Apa perlu aku membuatmu lelah dulu supaya kamu bisa terlelap?” bisik Abhi di depan wajah Naura, yang langsung membuat Naura memaksa bebas dari pelukannya.


Melihat raut wajah Naura yang penuh waspada, Abhi menutup mulutnya dengan tangan kanan, menyembunyikan senyuman dibalik telapak tangan tersebut.


“Apa kamu sudah minum susu, aku buatin ya?” tanya Abhi, saat Naura sudah berpindah ke kursi yang ada di depannya.


“Aku sudah minum susu, baru saja—tadi di bawah dibikinin sama papa.”

__ADS_1


“Kok nggak minta sama aku?” protes Abhi.


“Enak buatan papa, kamu kadang kebanyakan coklat, kadang kebanyakan vanila nya. Kalau papa kan takarannya pas.” Naura menjelaskan, dengan wajah berbinar, seolah susu buatan papanya paling enak.


“Puji aja terus!” cetus Abhi.


Giliran Naura yang terkekeh saat melihat raut cemburu yang dikeluarkan suaminya. Abhi kemudian menutup file yang tadi ia letakan di atas meja. Dia tidak ingin Naura ikut memikirkan kasus pak Bahtiar yang masih dalam proses persidangan akhir.


“Tadi dokter bilang apa?” tanya Abhi, yang begitu penasaran akan kondisi calon anaknya.


Naura lekas beranjak dari tempat duduknya, berjalan menuju kamar, mendekat ke arah meja di mana tadi ia meletakan tas nya. Lalu mengambil selembar foto hitam putih dari dalam tas.


Abhi memang tidak bisa mengantar Naura ke dokter kandungan sore hari tadi. Karena tiba-tiba pak Bahtiar meminta bertemu dengannya. Dan akhirnya, Naura yang sudah siap berangkat, terpaksa diantar oleh Erik dan Ella ke spesialis kandungan.


“Nih, calon anak kita sudah 12 minggu!” Naura menyerahkan foto itu pada suaminya. Dan pria itu segera meraih foto hitam putih calon anaknya, mencoba membaca apa yang bisa ia baca di sana.


“Semua sehat. Perkembangan juga normal.”


“Alhamdulillah, terus ini di mana letak tangan dan kakinya?” Abhi kembali menunduk, meneliti foto USG di tangannya. Tapi yang terlihat hanya tengkorak kepala dan tubuhnya yang kecil.


“Tangannya masih kecil, Sayang ..., tadi gerak-gerak sama kedua kakinya juga!" Naura tersenyum lebar, saat mengingat ucapan dokter spesialis-nya. "Dokter sampai bilang gini, ‘wah ini dedek utun lagi main bola’. Papa sudah senang bukan main!” Naura melaporkan apa yang tadi dokter wanita itu ucapkan. Ekpresinya terlihat jelas jika wanita itu kini tengah bahagia. “ini kan gambar! Jadi, nggak bisa gerak-gerak, kalau gerak kamu takut nanti,” sambungnya sambil menunjuk foto di tangan Abhi.


“Aku nggak sabar, nunggu bulan depan kata dokter mungkin kita sudah bisa melihat jenis kelaminnya.” Naura menggunakan satu tangannya untuk menahan dagu, mengamati wajah bahagia suaminya dari arah dekat.


“Dokter nggak bilang—kalau kita boleh melakukannya setiap hari?” selidik Abhi.


“Nggak!” sambar Naura. Menepuk punggung telapak tangan Abhi. “masih seperti bulan lalu. Nggak boleh sering-sering!”

__ADS_1


Abhi mengangguk paham akan penjelasan istrinya. Semua demi calon anaknya apapun akan ia lakukan.


“Bhi, kalau kamu pengen lihat langsung besok boleh datang lagi kok!” ucap Naura saat melihat wajah Abhi yang tampak sendu, seolah mengatakan jika dia menyesal karena tidak bisa mengantar Naura ke dokter kandungan.


Pria itu menggeleng cepat, “Nggak perlu, kasihan dedek nya, aku masih sabar kok nunggu bulan depan! Buat lihat calon anak kita.” Abhi kemudian memasukan foto itu ke dalam dompet kulit lembu yang selalu menemaninya setiap hari.


“Kok di simpan di situ?”


“Nggak papa! Buat nanti kalau aku kangen sama kamu!”


“Kangen sama aku kok lihatnya foto USG!” sungut Naura.


“Nggak ada undang-undang yang melarang kali, Yang?”


“Aneh, sih, tapi begitulah kamu!”


“Ada yang mau aku tanyakan sama kamu deh, Yang.” Abhi mencari foto yang tadi sempat ia temukan. Setelah ketemu ia menunjukan pada Naura. “Ini kamu atau Maura?” Abhi menyodorkan selembar foto, dengan gambar seorang gadis yang membawa buket bunga di tangan. Di sampingnya ada seorang cowok mengenakan kaus warna hitam, keduanya tampak tersenyum cerah, seperti sedang menikmati kebahagiaan.


“Tebak saja!”


“Maura, kan? Nggak mungkin istriku punya cowok seganteng ini yang paling ganteng kan suaminya, doang!”


Mendengar itu Naura langsung mengusap wajah Abhi dengan tangan. “pedemu kelewatan!”


“Itu Maura sama Nuel,” ujarnya menjelaskan.


“Nuel?”

__ADS_1


...-------- BERSAMBUNG --------...


__ADS_2