Kepincut Cinta Dokter

Kepincut Cinta Dokter
Permintaan Maaf


__ADS_3

Lanjut ya... jangan salah paham dulu kita baca yuk!!!😁😁😁😁


Jangan lupa vote dan likenya ya...!😁😁😁


.


.


.


.


.


Matanya membulat saat melihat darah dan tubuh terlentang seseorang yang sangat dia kenali, tiba-tiba tubuhnya lemas karena mencium aroma darah yang menyeruak di hidungnya, dia memegang kepalanya karena terasa sedikit pusing sambil memejamkan matanya karena tidak kuat melihat banyaknya darah yang keluar.


“Sayang...! Sudah Mas bilang suruh duduk di sana! Kenapa membantah? Mas khawatir saat melihatmu tidak berada di kursi, Mas pikir yang tertabrak kamu!” ucap Erik yang langsung memeluk Ella. Es cream yang tadi dia beli reflek dia buang, karena mendengar suara tabrakan dari arah jalan. Pikirannya langsung tertuju pada istrinya, apalagi setelah melihat kursi tunggu Ella yang kosong, dia sangat panik, tapi beruntungnya Ella dalam kondisi baik-baik saja.


“Mas! Tolongin dia Mas! Kasihan belum ada yang berani mendekat, bisa jadi nyawanya nggak akan tertolong.” Erik yang mendengar itu langsung melepas pelukan Ella, lalu melihat siapa korban yang tertabrak. Setelah mengetahui, dia kembali ke arah Ella dan menggandeng tangan istrinya.


“Mas tolongin dia! Nyawanya bisa melayang!” teriak Ella pada suaminya.


“Nggak perlu. Di sana sudah banyak orang yang akan menolongnya, kamu tenanglah!”


“Mereka belum ada yang berani mendekat Mas! Tolonglah kamu kan seorang dokter harusnya kamu paham dong arti sebuah nyawa!” teriak Ella lagi.


“Bagaimana jika aku di posisinya, hanya menjadi tontonan saat aku kecelakaan, apa Mas juga tega.”


“Nggak! Kamu nggak akan seperti itu, karena aku akan menjagamu dengan baik!” sahut Erik.


“Demi aku, tolonglah dia Mas!” ucap Ella lagi meminta tolong kepada suaminya. Erik hanya bisa membuang nafas kasar, lalu memanggil taksi untuk membawa wanita itu ke rumah sakit.


“Sial! Kenapa harus bertemu wanita ini lagi sih!” umpat Erik saat sudah meletakkan tubuh wanita itu ke dalam mobil.


“Mas nggak boleh seperti itu, Mas lihat tubuhnya lebih kurus dari yang terakhir aku lihat, mungkin Allah sudah memberikan balasan atas apa yang telah dia lakukan.”


Erik yang duduk di kursi depan pun, hanya bisa menggelengkan kepalanya. Padahal wanita ini dulu berjanji nggak akan pernah muncul lagi di hadapannya, kenapa dia tiba-tiba muncul di depannya, Ella yang memangku kepala wanita itu pun merasa iba saat melihat tubuh kurus dan banyaknya luka lebam di lengan wanita itu, bahkan bibirnya terlihat pecah-pecah dan tidak terawat.


Setelah perjalanan 15 menit mereka tiba di rumah sakit. Erik segera mengangkat tubuh kurus itu ke UGD, lalu meninggalkan wanita itu di sana.

__ADS_1


“Ayo kita pulang.”


“Tunggu Mas! Kita lihat dulu bagaimana kondisinya, atau aku benar-benar tidak akan bisa tidur karena memikirkannya,” ucap Ella menahan tangan Erik yang sudah akan mengajaknya keluar rumah sakit.


Tiba-tiba pintu ruangan terbuka, terlihat dokter mencari orang yang membawa Riza ke sana, Ella yang melihat itu segera mendekat ke arah dokter.


“Maaf sebelumnya, pasien terlalu banyak mengeluarkan darah, dan golongan darah pasien saat ini tidak ada di persediaan rumah sakit ini, bisakah Bapak mencarikan pendonor darah untuk wanita yang berada di dalam?”


“Apa golongan darahnya Dok?” tanya Ella yang ikut panik saat mendengar keadaan Riza yang sedang mempertaruhkan nyawanya.


“AB” jawab dokter singkat. Ella langsung menoleh ke arah suaminya, meminta dengan isyarat agar suaminya itu segera bertindak. Namun, yang ada Erik hanya menggelengkan kepalanya.


“Mas please! Tolong Riza, dia butuh darahmu.” Erik yang mendengar itu langsung berjalan ke arah luar rumah sakit. Dia masih membenci wanita yang sempat menghancurkan hubungannya dengan Ella dulu. Andai saja dulu dia tidak merusak hubungannya dengan Ella mungkin sekarang mereka sudah mempunyai lima orang anak.


“Mas!” teriak Ella memanggil suaminya. Erik tak ingin menoleh ke arah Ella yang terus memanggil namanya.


“Saya akan berusaha mencarikan donor darah untuk teman saya Dok, tolong lakukan yang terbaik untuknya,” ucap Ella sambil meninggalkan ruang UGD itu. Percuma dia meminta suaminya yang keras kepala itu, lebih baik dia mencarikan pendonor lain, siapa tau ada yang bersedia.


“Mau kemana kamu?” ucap Erik yang melihat Ella melewatinya.


“Apa lagi? Ya nyari pendonorlah!” Erik diam sejenak sambil mengikuti langkah Ella di belakangnya.


“Berhentilah lihatlah bagaimana kondisimu, kamu sedang membawa anakku!” peringat Erik saat melihat langkah cepat Ella. Ella lalu menghentikan langkahnya.


“Oke baiklah, Mas akan menolongnya, tapi kamu duduklah dulu jangan berjalan cepat seperti tadi.” Ella yang merasa menang langsung duduk di kursi kosong yang berada di sampingnya.


“Cepat sana temui dokternya!” teriak Ella saat Erik tak kunjung berjalan ke arah UGD. Erik yang mendengar teriakkan Ella langsung menutup telinga dan pergi ke arah UGD untuk diambil darahnya.


***


Setelah selesai mendonorkan darahnya, Erik berniat ingin membawa istrinya untuk pulang, dia tidak mau lebih lama lagi menatap Riza. Tapi yang ada Ella justru ingin menunggu Riza sadar, dia belum puas jika belum mendengar suara Riza, dia harus memastikan dulu bahwa Riza baik-baik saja. Erik yang semakin pusing atas kelakuan istrinya itu hanya bisa memijit pelan kepalanya. Ella nggak pernah merasakan bgaimana dirinya dulu sakit hati karena ulah Riza.


Setelah menunggu 2 jam akhirnya Riza yang tadi pinsan pun sudah sadar kembali. Ella yang melihat Riza menangis langsung berjalan masuk ke ruang UGD.


“Mbak Ella!” Kaget Riza saat melihat siapa yang datang, dia menatap Ella ketakutan. Ella masih terus berjalan ke arah Riza sedangkan Erik sedang menunggunya di luar sambil menonton kartun Tom & Jerry yang sedang di putar di layar rumah sakit tersebut.


“Hai Riz. Jangan takut seperti itu, tenanglah kamu baru saja sadar.” Riza lalu menyembunyikan wajahnya di bawah selimut, saat mendengar ucapan Ella. Dia takut jika Ella akan menggamparnya atau bahkan akan melaporkanya ke polisi.


“Bukalah selimutmu ada yang ingin aku tanyakkan,” ucap Ella sambil berusaha membuka selimut rumah sakit yang Riza kenakan. Riza lalu perlahan membuka selimutnya, dia malu pada wanita yang dulu pernah dia sakiti itu.

__ADS_1


“Mbak Ella maafin Riza, dulu Riza pernah merusak hubungan Kak Erik dengan Mbak Ella, Maafiin Riza, Mbak!” ucap Riza tulus, matanya sudah mengeluarkan airmata, tangannya sudah meraih tangan Ella agar dia bisa memaafkannya.


“Lepaskan tanganmu!” ucap Erik yang baru saja berdiri di samping Ella.


“Yang!” teriak Ella menatap ke arah Erik.


“Saya cuma mau menjelaskan apa yang ingin saya katakan dengan Mbak Ella Kak, please saya minta waktunya sebentar,” ucap Riza memohon pada Erik. Erik melirik ke arah Ella yang menyuruhnya pergi dari ruangan itu, karena merasa terganggu dengan kedatangan Erik.


“10 menit, kalau kamu belum keluar Mas akan menghukummu!” peringat Erik pada Ella. Ella hanya tersenyum tipis dan menganggukan kepalanya ke arah Erik.


Setelah kepergian Erik, Riza menceritakan kejadian penjebakkan yang dulu dia perbuat, dia berulang kali meminta maaf, karena telah membawa Erik ke dalam hidupnya, hingga akhirnya dia merusak cinta suci yang Ella dan Erik ciptakan.


“Lalu kenapa kamu bisa di sini? Bukannya kamu di Lombok ya?” tanya Ella yang penasaran.


“Iya. Saya akan di jual pada orang asing oleh bos saya, makanya tadi saya melarikan diri, dan hingga akhirnya saya tertabrak mobil,” jelas Riza yang membuat Ella kaget.


“Di jual? Kok bisa? Lalu di mana anakmu?”


“Iya ceritanya panjang Mbak, nggak akan bisa aku ceritakan karena ini masalah pribadiku, dan anakku meninggal saat aku melahirkannya,” ucap Riza yang sudah menangis. Ella yang melihat itu hanya bisa memberikan pelukkan hangat untuk Riza, mencoba menenangkan Riza wanita yang dulu pernah menghancurkan kisah cintanya tapi sekarang dia justru menenangkan wanita itu.


“ Benar-benar ya! Kamu nggak tau dia siapa!” bentak Erik yang sudah masuk ke dalam ruangan Riza, dia tidak sabar lagi menunggu istrinya, Ella yang mendengar itu langsung melepaskan pelukkannya, sekilas dia melihat ke arah jam di dinding yang ternyata batas waktu yang Erik berikan sudah terlewat.


“Besok aku akan menjengukmu lagi,” ucap Ella saat akan meninggalkan Riza. Lalu dia berjalan ke arah Erik, meraih lengan suaminya yang dari tadi sudah berwajah muram itu.


“Aku siap menerima hukumanmu,” bisik Ella di telinga Erik sambil berjalan keluar rumah sakit.


“Baiklah, bersiaplah karena Mas nggak akan membuatmu tertidur nyenyak! mungkin kamu akan terjaga hingga pagi,” ucap Erik dengan jelas dan lantang, membuat Ella menutup mulut Erik karena takut jika ada yang mendengarnya.


Mereka lalu berjalan berdua sambil mengalungkan tangannya satu sama lain, berharap tidak ada yang menganggu kemesraan mereka. Namun, harapan itu musnah saat terdengar bunyi klakson mobil yang mengagetkan mereka berdua.


“Brengsekk! minta dipotong gaji sepertinya anak ini!” ucap Erik saat melihat siapa yang tengah berada di balik kemudi, lalu bersiap memaki orang yang tengah membuka pintu untuknya. Sedangkan Ella hanya menggelengkan kepala dan mengelus perutnya.


“Jangan diikuti kelakuan Papamu ya, Nak.”


.


.


.

__ADS_1


.


Terimakasih jangan lupa untuk like dan votenya ya👍🙏


__ADS_2