
Happy reading, alhamdulillah bisa update lagi, terima kasih ya, yang sudah memberikan vote koin, poin dan likenya🙏
.
.
.
Sampai di rumah sakit, Erik masih terdiam di kursi kemudi, dia mencengkram erat setir di depannya, rasa trauma saat memasuki rumah sakit masih dapat dia rasakan sampai saat ini, bayangan dia gagal menyelamatkan Ella waktu melahirkan selalu terbayang saat menatap rumah sakit di depannya, Dia lalu menoleh ke arah Bella yang tengah berada di kursi samping kemudi, dia melihat Bella yang menggigil sambil bergumam yang tidak jelas.
“Kamu sakau?” tanya Erik sambil memperhatikan wajah Bella yang mulai pucat, Erik memukul stirnya saat melihat kondisi Bella yang seperti orang kecanduan.
“Aaaahhhh...” teriak Erik sambil mengeratkan tangan di rambutnya, dia ingin meredam rasa traumanya lebih dulu, baru akan menggendong Bella masuk ke dalam, suara rintihan Bella mengingatkan kejadian lima tahun yang lalu, bahkan suara kesakitan Ella saat itu masih selalu tergiang di telinganya, Dia memejamkan mata saat mendengar suara Bella yang semakin jelas di telinganya.
Erik yang tidak bisa lagi menahan rasa khawatirkannya pada Bella, mencoba menguatkan niatnya untuk segera membawa masuk ke ruang UGD rumah sakit miliknya.
Erik menggendong tubuh Bella, dan segera membawanya masuk ke rumah sakit, perawat yang dia lewati tertegun, ketika melihat Erik menggendong wanita yang sangat mirip dengan istrinya. Erik meletakkan Bella di brankar ruang UGD, dia yang langsung duduk di kursi samping brankar, karena mulai pusing.
“Panggilkan Dokter Fera!” teriak Erik saat melihat perawat yang berdiri di belakangnya.
“Dokter Fera sudah pulang Dok!” jawab perawat wanita di belakangnya. Erik menoleh ke arah perawat wanita yang sudah mulai ketakutan, dia lalu menarik dan mencengkram kedua lengan perawat di depannya.
“Kau tahu aku siapa! Tidak ada yang bisa menolak permintaanku!” teriak Erik, memaki perawat yang sudah ketakutan karena mendengar caciannya Erik.
“Hey..., ada apa ini Rik?” tanya Rendi yang baru masuk ke ruang UGD, dia menatap wanita yang berada di brankar, matanya membulat sempurna saat melihat Bella yang tengah sakau di sana.
“Berikan obatnya!” perintah Rendi pada perawat.
“Apa yang kamu lakukan!”
“Sudah jelas dia kecanduan, kita harus menenangkannya dulu,” jelas Rendi yang mengerti kondisi Bella.
“Apa kamu mau menyuntikannya sendiri!” tawar Rendi pada Erik yang masih menatapnya tajam.
__ADS_1
“Tidak!” jawab Erik singkat karena merasa tidak sanggup untuk menyentuh jarum suntik. Rendi yang mendengar jawaban Erik hanya terkekeh menatap rekannya, dia lalu segera menyuntikkan obat untuk Bella.
“Siapa dia? Kenapa dia mirip dengan istrimu?” tanya Rendi setelah selesai menyuntikkan obat ke tubuh Bella.
“Ambil darahnya, dan aku ingin segera mengetahui hasilnya!” perintah Erik pada perawat yang masih terdiam di sampingnya.
“Dan beri dia keamanan khusus! Aku tidak ingin kejadian yang hampir lima tahun dulu itu, terulang lagi!” peringat Erik pada perawat.
“Hey...apa yang terjadi?” tanya Rendi yang kebingungan, dia ingin segera tahu jawabannya dari Erik, tapi Erik masih diam menatap Bella yang sudah tertidur di brankar ruang UGD.
“Diamlah! Pulang sana! Jangan mengangguku!” usir Erik pada sahabatnya, dia tidak ingin waktu istirahat Bella terganggu karena celotehan Rendi.
“Apa kamu sudah sembuh dari rasa traumamu? Tumben mau masuk ke rumah sakit!” tanya Rendi yang sebenarnya sudah akan meninggalkan Erik.
“Sudahlah pergi sana! Sementara, aku bisa mengontrol rasa trauma itu,” jelas Erik yang tidak ingin melihat ke arah Rendi. Sedangkan Rendi hanya menekuk wajahnya karena tidak puas dengan jawaban yang diberikan Erik, Rendi akhirnya pergi meninggalkan ruang UGD dengan banyak pertanyaan di kepalanya.
Erik masih berdiri di posisinya, dia hanya menatap wajah pucat wanita di depannya, perlahan kakinya mendekat ke arah brankar Bella, dia meraih tangan Bella dan mengusap punggung telapak Bella dengan jempol, bibirnya tersenyum bahagia. Kerena istrinya sekarang benar-benar berada di sampingnya.
Erik menajamkan matanya saat membaca hasil tes darah Bella. Dari hasil tes darah, Bella positif mengosumsi obat-obatan terlarang. Dia meremas hasil tes darah Bella, matanya sudah memerah karena memendam amarahnya, dia membenci orang yang sudah membuat istrinya seperti ini.
Erik segera menghubungi perawat untuk segera mendatangkan dokter Fera ke ruangan Bella, dia harus segera memulihkan ingatan Bella sebelum kedua orang di sana melancarkan aksinya.
“Istirahatlah sekarang, pasti kamu lelah karena merindukanku, kamu harus segera pulih! Apa kamu tidak ingin hidup bahagia bersamaku, hum? Anak kita juga sudah besar, dia butuh kamu,” lirih Erik, dia sudah tidur di samping Bella, dia mencoba melingkarkan tangannya di perut Bella, beruntungnya Bella tidak menolak pelukkan Erik karena dia sudah tertidur nyenyak.
“Bolehkah aku menciummu lagi, aku sungguh merindukan bibir manismu, jangan bangun ya..., tidurlah yang nyenyak!” bisiknya di samping telinga Bella. Erik mendekatkan wajahnya di depan wajah Bella, mengecup singkat bibir Bella. Dia lalu tersenyum senang saat melihat tidak ada pergerakkan dari Bella.
“Aku sudah tidak sabar untuk memilikimu lagi,” ucapnya yang masih tersenyum.
Karena lelah Erik akhirnya meletakkan kepalanya di bahu Bella, dengan tangan yang masih melingkar di perut Bella, dia bisa tertidur nyenyak malam ini, tidur di samping orang yang dia pikir sudah meninggalkannya.
***
Pagi harinya Bella yang sudah terbagun, langsung mengarahkan pandangannya ke arah samping, dia kaget karena Erik tidur di pundaknya. Dia mendorong Erik hingga lelaki itu jatuh ke lantai.
__ADS_1
Pak tua ini, kenapa bisa di sini! Batin Bella.
“Awww...,” rintih Erik sambil mengusap lengan kananya. Dia masih mencoba berusaha untuk duduk, dari posisi jatuhnya.
“Kenapa sih Yang!” keluh Erik yang tidak sadar dengan sebutannya untuk Bella.
“Aku bukan pacarmu ya!” Erik tersenyum smrik.
“Kamu memang bukan pacarku, tapi kau ini istriku, aku janji kita akan menikah ulang nantinya.”
“Sudah tua, mesum, gila lagi!” maki Bella yang hendak beranjak dari tempat tidurnya.
“Kenapa aku bisa di sini?”
“Kamu tidak ingat? Aku yang sudah mengantarkanmu kemari,” ucap Erik.
“Di mana ponselku!?” tanya Bella pada lelaki di depannya. Erik hanya menggelengkan kepalanya.
“Kamu bawa ke mana tasku? Aku harus segera menghubungi tunanganku,” maki Bella.
“Tunangan?” kaget Erik saat mendengar ucapan Bella.
“Ya! aku akan menyuruhnya datang, supaya aku terhindar dari pria mesum sepertimu, aku sungguh muak dengan kelakuanmu, yang selalu berbuat mesum padaku,” maki Bella yang menatap tajam ke arah Erik.
“Siapa tunanganmu! Apa dia...,”
“Nggak perlu kamu tahu siapa dia, sekarang di mana ponselku!”
ucap Bella yang sudah menurunkan kakinya.
“Tunggu Yang... Biar aku ambilkan, kamu tidurlah di sana!” ucap Erik, dia berjalan mengambil ponsel yang berada di tas Bella yang tadi malam diantarkan Yohan.
Erik lalu menyerahkan tas Bella. Mendengarkan Bella yang tengah berbicara dengan tunangannya, dia yang penasaran hanya bisa menatap Bella, mencoba menajamkan indra pendengarannya, dia penasaran apa yang mereka berdua ucapkan, dia cemburu karena melihat tawa bahagia Bella saat menelepon tunangannya, dia ingin sekali membuang jauh-juah ponsel di tangan Bella, tapi kenyataanya dia hanya bisa diam, tidak ingin membuat dirinya lebih buruk lagi di hadapan Bella.
__ADS_1