
Ella menatap punggung Erik yang keluar dari kamar utama. Dia tidak diperbolehkan ikut suaminya ke rumah sakit, karena Erik memikirkan kondisi Ella yang mudah sekali mengeluh capek.
Ella menikmati masa tenangnya, sudah seminggu dia selalu mendengar Erik berceramah, sekarang dia sedikit lega juga karena suaminya pergi.
Namun, belum lama Erik keluar dari kamar, pintu kamar kembali terbuka, Erik masuk dengan wajah yang berbeda ketika dia keluar dari kamar tadi.
“Ada apa, kok balik lagi? Apa ada yang tertinggal?” tanya Ella yang berjalan mendekat ke arah Erik.
“Kepalaku tiba-tiba pusing lagi, sepertinya aku belum bisa keluar rumah,” jelas Erik sambil memegang kepalanya. Terlihat Ella tengah menahan senyumnya, setelah mendengar ucapan Erik. Tangannya terulur untuk memapah Erik supaya dia tidur di ranjang.
“Tolong ambilkan ponselku! Aku akan meminta Yohan untuk mengantarnya!” perintah Erik yang sudah setengah duduk menyandarkan tubuhnya di sandaran ranjang.
Ella segera mengambilkan ponsel Erik, dia melihat banyak panggilan dari Yohan terlihat di layar ponsel Erik. Sepertinya ada hal penting hingga Yohan meneleponnya sebanyak itu.
Erik segera meletakkan ponselnya di telinga, menunggu Yohan untuk mengangkat panggilannya.
“Hallo ... kirim alat usg ke rumah, sekarang!” perintah Erik saat Yohan sudah mengangkat ponselnya. Dia melihat ke arah Ella yang duduk di tepi ranjang.
“Tapi Pak ... kata Pak Reyhan ...”
“Bos mu aku bukan Reyhan!” sahut Erik yang sudah menaikkan nada bicaranya. Dia lalu segera menutup panggilannya, supaya Yohan segera melaksanakan perintahnya.
Lelaki itu dari dulu memang selalu menuruti apa yang di perintahkan Erik, sekalipun harus mempermalukan dirinya.
Erik yang merasa terlalu lama menunggu alat usg itu datang, merasa kesal dia terus mengumpat saat berada di atas kasur empuknya, beruntung kedua anaknya sedang tidur siang di kamarnya. Sedangkan Ella hanya mengusap dadanya saat mendengar Erik yang semakin mudah mengeluarkan emosinya.
Yohan yang baru tiba, segera meminta pelayan untuk meletakkan alat usg itu ke kamar kosong di lantai bawah. Yohan belum memberitahu Erik saat dia sudah tiba di rumahnya. Dia memerintahkan pelayan untuk membersihkan ruangan yang biasanya dipakai untuk kamar tamu tersebut. Setelah 1 jam, semua sudah siap, alat usg dan monitor sudah dinyalakan oleh Yohan. Dia lalu berjalan ke arah kamar utama, dia ingin melaporkan bahwa tugasnya sudah selesai dan alat usg sudah siap untuk digunakan. Yohan mengetuk pintu kamar Erik, menunggu sepasang suami istri itu untuk keluar dari kamar.
“Pak Yohan. ada apa?” tanya Ella saat pintu terbuka.
“Alat usg sudah siap Bu, sudah saya siapkan di kamar tamu,” jelas Yohan sambil menatap ke arah Erik yang sudah terlelap di ranjang empuknya.
__ADS_1
“Iya, terima kasih, sekarang pulanglah tugasmu sudah selesai!” ucap Ella sambil menatap Yohan yang terlihat lelah.
“Apa Bapak baik-baik saja, Bu? Sudah beberapa hari beliau tidak ke kantor, badannya juga terlihat kurus,” tanya Yohan yang tengah memperhatikan kondisi Erik.
“Dia baik-baik saja Pak, hanya sindrom simpatik saja, sebentar lagi juga akan hilang.” Ella berucap sambil tersenyum tipis mengingat kondisi Erik.
“Kalau begitu saya permisi dulu, misalkan ada yang penting, telepon saya saja,” pesan Yohan sebelum meniggalkan kamar Ella.
“Iya, maaf juga sudah terlalu sering memintamu untuk kesana-kemari,” ucap Ella yang sebenarnya kasihan pada Yohan.
“Jangan sungkan begitu, saya ikhlas kok membantu Ibu dan Bapak,” ucap Yohan lalu menundukkan kepalanya untuk berpamitan, dan berlalu dari kamar utama.
Ella menatap ke arah jam di dinding, yang masih menunjukkan pukul 3 siang.
“Pa ... bangun. Mandi dulu sana!” perintah Ella sambil mengoyangkan tubuh Erik.
“Emmm ... nanti dulu,” jawabnya sambil menarik kembali selimut tebal yang tadi disibakkan Ella.
“Katanya mau lihat anak kita,” ucap Ella sambil mendudukkan tubuhnya di tepi ranjang.
“Iya sudah, bahkan dia sudah pulang.” Ella berucap sambil mengambil selimut yang Erik kenakan untuk dilipat.
“Brengsek sekali tu anak! sudah membuatku menunggu sampai aku ketiduran,” ucap Erik, dia lalu beranjak dari ranjang, dia menggandeng tangan Ella menuju kamar tamu, sesuai pesan smsnya yang tadi dia perintahkan pada Yohan.
“Mas mandi dulu sana!”
“Lebih penting ketemu anakku dulu dari pada harus mandi, karena Mas sudah tampan,” ucap Erik sambil berjalan keluar kamar, tanganny masih terpaut di tangan Ella.
“Jadi orang narsis banget sih!” cibir Ella menatap ke arah wajah Erik.
“Iyalah, emang kamu tahu? Siapa yang lebih tampan dariku? Nggak ada, kan?” tanya Erik membalas tatapan Ella. Dia sudah menghentikan langkahnya, menyandarkan Ella di dinding tembok depan kamarnya, kedua tangannya sudah berada di sisi lengan Ella.
__ADS_1
“Ada!”
“Siapa?”
“Kalun, dia akan lebih tampan darimu saat dia tumbuh dewasa,” ucap Ella sambil terkekeh.
“Apa kamu lupa, bibit siapa yang dipakai untuk menghasilkannya,” ucap Erik yang sudah mendekatkan wajahnya mendekat ke wajah Ella.
Pipi Ella terasa panas karena embusan dari nafas Erik, membuat pipinya merona, karena ada perasaan yang berbeda dari dalam tubuhnya, hormon kehamilan ini memang menyusahkannya, dia sering menginginkan suaminya itu, tapi sebisa mungkin dia tahan, karena merasa kasihan pada suaminya, apalagi kemarin Erik berkata untuk tidak menggodanya, jadi sebisa mungkin dia menahan hasratnya. Ella sudah memejamkan mata, biarlah dia berciuman disini, toh nggak ada yang akan melihat, karena kedua anaknya masih terlelap di kamarnya.
Cup
Kecup singkat Erik di pipi Ella. Membuat Ella membuka mata dan menatap Erik heran, karena biasanya dia akan mencium bibirnya yang manis itu.
“Ayo, kita akan mengetahui kondisi anak kita.” Erik menggandeng kembali tangan Ella, untuk menuruni tangga menuju lantai satu.
Mereka berdua memasuki kamar tamu, yang tadi sudah dibersihkan pelayan. Erik yang sudah tidak merasa pusing, membantu Ella untuk tidur di bed yang tadi dibawa Yohan.
“Sudah siap?” tanya Erik setelah merebahkan tubuh Ella.
“Mas masih ingat?” tanya Ella penuh selidik, takutnya Erik lupa dengan ilmu tentang kedokteran.
“Mas hanya bertambah usia, tapi bukan berarti pikun!” terang Erik sambil menuangkan gel di perut Ella. Istrinya itu hanya tersenyum tipis sambil menganggukan kepalanya.
“Tunggu deh Yang!” ucap Erik sambil menghitung jari tangannya, “Kemungkinan 8 minggu,” lanjutnya lalu meletakkan alat usg itu di perut Ella.
Erik memainkan alat usg, untuk mencari keberadaan anaknya, bibir Erik tertarik ke atas saat melihat layar monitor di depannya. Dia menekan lebih kuat lagi ke arah perut Ella untuk memastikan lagi hasil pengamatannya.
“Sakit, jangan terlalu kuat Pap!” peringat Ella.
“Tahanlah sedikit, aku sedang memastikan keberadaan mereka,” jelas Erik.
__ADS_1
“Apa maksudmu, mereka?” tanya Ella penuh selidik sambil memperhatikan wajah Erik.
TBC