Kepincut Cinta Dokter

Kepincut Cinta Dokter
Extra Part : Bayi Besar


__ADS_3

Masa liburan berakhir, pagi ini keempat anak Erik mulai hari pertama sekolah, Ella terlihat bangun pagi-pagi menyiapkan sarapan untuk keempat anak dan suaminya.


Tepat pukul 6 pagi Ella sudah berteriak sambil menggedor-gedorkan pintu kamar Kalun, dia meminta anak lelakinya itu untuk segera bangun, karena dia selalu betah ketika berada di kamar mandi. Berbeda dengan Riella paling lama hanya 20 menit.


“Kalun, cepat bangun, Nak! Apa kamu mau Papa yang membangunkanmu?” ucap Ella yang sudah menepuk pipi Kalun. Dia menarik tubuh remaja yang hampir 12 tahun itu. Ella lalu melepas t-shirt bergambar kartun yang Kalun kenakan supaya dia segera bangun.


“Iya, Ma selamat pagi,” ucap Kalun yang menyapa Ella dengam mata yang masih terpejam. Ella lalu memukulkan baju Kalun ke pantatnya ketika halun berjalan ke kamar mandi. Saat melihat Kalun sudah masuk kamar mandi, Ella segera berjalan ke kamar si kembar.


“Adik, ayo bangun Sayang, kalian akan masuk ke sekolah baru, jadi nggak boleh terlambat,” ucap Ella sambil berjalan masuk ke kamar si kembar, Ella tersenyum senang ketika melihat si kembar sudah siap dengan seragam barunya.


“Terima kasih Sayang,” ucap Ella sambil mencium pipi anaknya satu persatu.


“Sama-sama Mama,” jawab Nara yang memang sedikit cerewet dari pada Rara.


Ella menuju kamar terakhir, yaitu kamar Riella, dia kesusahan saat membangunkan Riella, karena dia anak manjanya Erik. Jadi apa-apa maunya sama Erik, terkadang Ella sering merasa cemburu dengan gadis 11 tahun itu lantaran terus menempel dengan suaminya.


“Sayang bangun, ayo sekolah, ini sudah siang loh!” perintah Ella sambil menarik selimut yang Riella kenakan, lalu melipatnya dengan rapi.


“Papa mana, Ma?”


“Papa masih bobo, ayo bangun!” perintah Ella. Riella yang mendengar ucapan mamanya langsung berlari keluar kamar menuju kamar Ella.


“Pa, Papa ...” panggil Riella ketika memasuki kamar Ella. Dia langsung menaiki punggung Erik, karena papanya itu tengah tidur tengkurap.


“Sana sekolah dulu Sayang, nanti kalau dapat juara Papa ajak jalan-jalan lagi!” perintah Erik saat melihat Riella yang belum mengenakan pakaian seragamnya. Ella yang berada di ambang pintu hanya bisa menggelengkan kepalanya.


“Urusi anakmu satu itu!” perintah Ella sambil berjalan menuruni anak tangga, untuk meletakkan masakannya tadi ke meja makan.


Keempat anak itu segera menikmati sarapan yang disiapkan Ella. Seperti anak kecil lainnya mereka selalu memperebutkan perihal makanan, membuat suasana meja makan itu gaduh layaknya pasar yang pindah ke rumah Erik.


Kegaduhan itu tidak akan berhenti, jika Erik tidak menghentikannya, sayangnya kepala keluarga itu tengah menikmati tidurnya, karena dia baru mulai tidur jam 2 pagi, banyak pekerjaan yang harus dia selesaikan karena dia sudah cuti terlali lama, bahkan nanti malam dia akan bertolak ke Bandung untuk menemui rekan bisnisnya.


Jam sudah menunjukkan pukul tujuh, semua anaknya sudah mulai mengambil tas mereka masing-masing.


Ella mengantarkan kepergian anaknya, sampai teras rumahnya.


“Belajar yang rajin ya Sayangnya Mama, biar jadi orang sukses,” celoteh Ella ketika anaknya memyalami dan mencium pipinya. Ella hanya mendapat jawaban singkat dan cengiran dari anaknya. Ella melambaikan tangannya, mengiringi kepergian anaknya, yang diantar oleh pak Roni.

__ADS_1


Ella tersenyum indah ketika mobil itu tidak terlihat, dia menatap langit yang terlihat menyejukkan hatinya. Dia sangat bersyukur diberi anak yang nurut dan suami yang sangat menyayanginya


“Giliran ngurus bayi besar nih,” ucapnya lirih sambil membalikkan badan untuk masuk ke dalam rumah. Dia berjalan menuju kamar utama, kamar yang sengaja dibuat kedap suara, dan di desain sesuai selera Ella.


“Sayang, bangun yuk! Ke kantor nggak?” ucap Ella yang sudah berada di atas kasur miliknya.


“Sebentar lagi,” sahut Erik sambil mencoba meraih tubuh Ella.


“Mendekatlah!” perintah Erik saat tidak kunjung mendapatkan tubuh Ella. Matanya masih terpejam tapi sesuatu yang di dalamnya sudah merasakan ketegangan.


“Nggak!”


“Sekali saja!” pinta Erik yang hanya dijawab kekehan oleh Ella.


“Dasar opa Erik,” cibir Ella yang berusaha menghindar dari Erik. Tapi terlambat karena tangan Erik kini sudah melingkar di pinggang Ella. Ella hanya bisa menjerit kecil ketika Erik mulai menggigit gemas pinggangnya.


“Sayang, sudah dong!” peringat Ella yang dihiraukan suaminya. Tubuhnya kini sudah tumbang di atas kasur empuk, tepatnya berada di atas tubuh Erik, dengan Erik yang memeluknya.


“Mumpung tidak ada yang menganggu kita,” ucap Erik sambil membuka kancing baju yang Ella kenakan.


“Kenapa nggak gosok gigi dulu sih!”


“Sudah kok.” Erik menjawab singkat.


“Iya, pasti semalam!” ucap Ella menatap tajam ke arah Erik. Erik lalu tersenyum tipis ke arah Ella, dia meniupkan nafasnya ke depan wajah Ella.


“Masih wangi kan? Kan pakai closeup bebas bau nafas 12 jam.” Ucap Erik sambil mengulangi tindakannya yang absurd itu.


“Nggak boleh cium, jorok!” peringat Ella sambil berusaha menutup mulutnya sendiri.


“Emuuaahh ...” goda Erik sambil memainkan bibirnya seperti orang berciuman ke punggung tangan Ella yang menutupi mulutnya.


Erik yang lebih kuat dari Ella, langsung membalikkan tubuh Ella, kini Ella berada di bawah kukungannya, dia tersenyum saat melihat istrinya yang tidak berdaya, karena tangan Erik kini menahan kedua tangan Ella.


“Nggak bisa gerakkan?” ucap Erik singkat Erik, lalu segera menyantap sarapan paginya.


Tubuh istrinya yang masih terlihat kencang itu, semakin membuatnya tergila-gila, tidak cukup untuk sekali menikmatinya.

__ADS_1


Dia seperti memasukkan tubuhnya kedalam madu, terasa manis, dan tidak akan pernah berhenti menikmatinya sebelum madu itu habis, dan Erik tidak ingin kehilangan setiap momen yang dilewatinya dengan Ella.


“Kenapa masih begini? Padahal aku sudah menikmatinya setiap hari,” ucap Erik di tengah kegiatannya.


“Karena istrimu pintar merawatnya,” jawab Ella sambil berusaha menahan desahannya.


Hatinya merasa bahagia saat mendapat pujian dari suaminya.


“Ahh, ternyata aku tidak salah memilih dirimu, selain cantik, pintar kamu masih punya kelebihan lainnya, semoga jadi anak kita yang kelima,” ucap Erik selepas menyemburkan benihnya di rahim Ella. Dia berhenti sejenak sambil meletakkan kepalanya di dada Ella.


Setelah sedikit tenang Erik lalu mengangkat tubuh Ella dan membawanya menuju kamar mandi, untuk segera membersihkan tubuhnya.


“Selalu seperti ini, padahal kan, aku masih ingin di elus-elus,” ucap Ella sambil mengalungkan tangannya ke leher Erik.


“Kita harus segera mencucinya, takutnya benihku akan tumbuh lagi di rahimmu,” ucap Erik sambil menurunkan tubuh Ella di bawah air shower.


“Biar saja, siapa tahu kita dapat teman untuk Kalun,” jelas Ella sambil menggoda lagi ke arah Erik. Kini dia sudah menggoyangkan tubuhnya, seperti wanita yang tengah berdansa, tangannya yang tadi di dada Erik, kini mulai meraba ke atas pundak Erik, lalu mengalungkan di leher suaminya.


Erik hanya terkekeh, sambil membalas perlakuan istrinya.


“Nakal kamu tahu nggak Yang, sudah tua juga!” peringat Erik sambil mencolek hidung istrinya.


Mereka pun memulai lagi, sarapan keduanya, hingga pukul 9 pagi, Erik baru menyelesaikan kegiatannya. Setelahnya mereka berendam berdua di bathup. Menikmati momen yang akan selalu menjadi kenangannya.


Saat ini Ella tengah berada di depan cermin ruang gantinya, Ella hanya mengenakan pakaian dalamnya.


Ella meraba bekas operasi seccar yang dia lakukan 6 tahun yang lalu, dia merasa geli sendiri dengan bekas itu, karena luka jahitan yang sangat jelas terlihat.


“Apa Mas tidak merasa jijik dengan ini?” tanya Ella pada Erik yang berada di sampingnya.


“Semua yang ada di tubuhmu itu indah, tidak ada yang buruk, jadi aku tidak akan pernah jijik Sayang, jangan khawatir.” Erik berucap sambil membawa Ella ke dalam pelukkannya.


“Apa kamu masih mau nambah lagi, nanti malam aku akan berangkat ke Bandung loh!”


Ella langsung menajamkan matanya menatap Erik.


“Lelah! Aku mau sarapan nasi, setelah itu istirahat.”

__ADS_1


__ADS_2