Kepincut Cinta Dokter

Kepincut Cinta Dokter
S2 Nadia Ternoda


__ADS_3

Happy reading, jangan lupa untuk berikan like dan vote hari ini, dan jangan lupa untuk mampir ke cerita saya satunya 'Cinderella Gendut' 👍🙏😊


.


.


.


.


Satu bulan kemudian.


Sejak makan malam bersama Nadia di rumah kedua orangtuanya, kini Erik jarang berkunjung ke rumah Jihan, Riella dan Kalun selalu diantar dan dijemput oleh sopirnya. Erik tidak ingin membahas pernikahan yang direncanakan oleh Jihan, karena dia tidak berminat untuk segera menikah.


Saat ini dia sedang berada di dalam mobil, hendak bertemu dan makan siang dengan Nadia, karena ada banyak masalah yang harus mereka selesaikan. Erik yang sudah tiba di apartemen Nadia segera menekan bel pintu apartemen Nadia. Tidak butuh waktu lama Nadia sudah membukakan pintu untuknya, terlihat dengan jelas wajah kesal Nadia pada Erik.


“Kenapa?” tanya Erik yang berjalan memasuki apartemen.


“Mamamu terus menghubungiku, memintaku segera mengurus masalah pernikahan kita,” jelas Nadia pada Erik.


“Biarkan saja, jangan kamu balas!” ucap Erik yang membuka lemari pendingin dapur Nadia.


Dia menatap cake yang ada di sana, lalu memotong cake yang ada di lemari pendingin, setelah memasukkan ke dalam mulutnya Erik kembali memgambil cake itu untuk dibawa ke meja makan.


“Jangan dihabiskan itu cheeze cake kesukaanku,” ucap Nadia saat Erik mulai memakan lagi cake di depannya.


“Enak kamu beli di mana?” tanya Erik penasaran, sambil menatap cake di tangannya.


“Toko roti baru di Jl. Thamrin, nanti untuk ulang tahun Riella kita pesan di sana saja,” jelas Nadia, Erik terdiam mengingat seolah tidak asing dengan rasa cake yang dia makan.


“Kenapa?” tanya Nadia yang melihat ekspresi Erik.


“Sudah lama aku tidak makan cheeze cake, rasanya seperti buatan istriku, atau mungkin aku terlalu rindu dengan cake buatannya,” jelas Erik.


“Hah! Kamu ini, selalu begitu, pasti masakanku ini kamu akan menilai sama dengan masakkan istrimu, iya kan?”


“Lebih enak masakan istriku, bahkan aku merindukan tempe mendoan buatannya,” ucap Erik sambil menatap kosong ke arah depan.


“Makanlah dulu! Asam lambungmu bisa kambuh jika kamu selalu telat makan,” tegur Nadia ketika Erik belum menyentuh makanan yang dia masak.


“Lalu bagaimana, jika Mamamu tetap kekeh melanjutkan rencananya?”


“Tinggal kamu tolak saja, gitu saja repot,” ucap Erik yang memang lebih santai dari pada Nadia.


“Rik..., kamu tahu sifat Mamamu seperti apa!”


“Bilang saja kamu balikkan sama mantan suamimu, gampang kan!” jawab Erik yang mencoba mencari alasan lain. Membuat Nadia sedih karena teringat mantan suaminya.

__ADS_1


“Kenapa kamu? Ada masalah?” tanya Erik yang melihat ekspresi Nadia berubah menjadi sedih.


“Nggak papa, sudahlah jangan mengingatkanku dengan dirinya, kemarin aku sempat bertemu dia di rumah sakit,” jelas Nadia.


“Istrinya hamil?” Nadia menggeleng sebagai jawaban.


“Lalu apa yang membuatmu sedih?”


“Dia menciumku, dan membawaku ke ruangan, di- dia melakukannya di sana,” jelas Nadia yang malu juga sebenarnya mengatakan hal privasi dengan Erik.


“Hahaha, Nadia ternodai mantan suaminya,” canda Erik pada kawannya. Nadia semakin cemberut saat mendengar tawa hinaan Erik.


“Dia kasar saat melakukannya?” tanya Erik.


“Nggak! Bahkan sangat lembut, dan aku bisa merasakannya, jika dia masih mencintaiku,” jelas Nadia.


“Kamu bisa menerima perlakuannya, dan kamu juga masih mencintainya, kenapa kamu tidak ingin balikkan dengannya?” tanya Erik.


“Kamu tahu masalahku, tidak usah bertanya lagi,” jelas Nadia.


“Hahaha, aku akan membantumu, sebagai pendonor sp*rma,” ucap Erik yang langsung mendapat lemparan buku ke arahnya.


“Nggak sudi ya, dapat bibit darimu,” tolak Nadia yang tidak terima dengan candaan Erik.


“Nggak tahu saja kamu, hebatnya otakku!”


“Dia pakai pengaman?” tanya Erik.


“Nggak! Kita nikah sudah hampir 20 tahun tapi tidak diberi keturunan, nggak mungkin juga langsung jadi dalam sekali tembakan,” jelas Nadia dengan nada marah.


“Perlu kamu ingat, kesuburan wanita meningkat menjelang menopouse,” peringat Erik pada Nadia. Membuat wanita itu terdiam, tidak mungkin juga Erik ngomong asal-asalan karena dia spesialis kandungan yang cukup tersohor di Jakarta, tapi dulu.


“Siap-siap saja hamil anak kembar, hahaha.” Erik tertawa senang saat melihat ekspresi ketakutan rekannya.


“Kamu sih asal terima saja, coba kamu bisa berontak sedikit,” ucap Erik yang mencoba menasehati Nadia.


“Aku juga merindukkannya,” jelas Nadia.


“Apa kamu lupa jika dia sudah menjadi milik wanita lain? Apa kabar nanti jika istrinya tau jika kamu sampai hamil anaknya?”


“Aaahhhh... Erik! Jangan buat aku bingung, sudah cukup kejadian kemarin menyiksaku, kamu jangan membuatku semakin merasa bersalah,” ucap Nadia sambil menutup wajahnya dengan tangan. Erik yang sudah menyelesaikan makannya, segera mengambil rokok yang ada di kantong jas yang dia pakai.


“Jangan merokok di sini!” peringat Nadia.


“Satu batang saja, janji!” ucap Erik sambil menunjuk rokok di tangannya, dia segera menghisap batangan rokok yang sudah dia nyalakan, sambil menatap licik ke arah Nadia yang sedang pusing memikirkan kejadian yang kemarin dia alami.


“Bagaimana jika aku hamil, Rik?”

__ADS_1


“Apa maumu?” Nadia diam tidak menjawab petanyaan Erik yang baru saja keluar.


“Minta tanggung jawab, dia sudah menantikan buah hati, pasti dia akan senang saat mendengar dirimu hamil,” jelas Erik.


“Bagaimana dengan istrinya, sekarang?” ucap Nadia.


“Terserah mereka, siapa tahu wanitanya mau di ajak poligami, hahaha,” jawab Erik.


“Aku tidak membenci poligami, karena itu diizinkan oleh agamaku, tapi aku tidak bisa menjalaninya, jika benar terjadi aku lebih memilih menjadi single parent sepertimu saja,” jelas Nadia.


“Yakin? Sulit loh, banyak godaanya!” ucap Erik memperingatkan Nadia. Saat akan mendengarkan jawaban Nadia ponsel Erik tiba-tiba berbunyi, sangat keras hingga membuat Nadia kaget.


Erik segera menggeser tombol hijau layar ponselnya, saat mengetahui telepon dari Yohan, biasanya jika Jihan yang menelepon dia hanya membiarkan dering suara itu hingga habis.


“Kenapa Yoh?” tanya Erik sambil membuang asap rokok dari mulutnya.


“Ini masalah cincin Pak, orang yang bertugas di rumah sakit saat itu, tidak memandikan Bu Ella, beliau dimandikan oleh Bu Lasmi dan rekannya,” jelas Yohan.


“Tanyakan pada Bu Lasmi, di mana dia menyimpan cincin istriku?” perintah Erik.


“Itu masalahnya Pak! Bu Lasmi sudah mengundurkan diri sejak sehari kematian Ibu Ella,” jelas Yohan. Erik hanya memijit pelipisnya, karena mulai pusing dengan penjelasan Yohan yang belum bisa menemukan cincin Ella.


“Terus cari Bu Lasmi dan segera temukan cincinnya!” perintah Erik lalu segera menutup ponselnya, Erik diam sambil menundukkan kepalanya.


“Ada apa?” tanya Nadia.


“Aku baru sadar, jika selama ini cincin yang istriku pakai tidak ada di tanganku, masak iya ikut terkubur? Harusnya pihak yang memandikan jenazah mengambilnya, dan menyerahkannya kepadaku,” jelas Erik pada Nadia.


“Mungkin mereka lupa memberikannya padamu, karena setelah itu kan kamu kecelakaan,” jelas Nadia mengingatkan Erik.


“Ntahlah! Apa perlu aku buat cincin yang mirip dengan cincin nikahku?”


“Gila! Untuk apa juga? Hah?” ledek Nadia.


“Biar nanti aku bisa memakaikannya lagi saat pertemuanku dengannya,” jelas Erik.


“Memang harus di alam sana memakaikan cincin?” Erik langsung cemberut saat mendengar ucapan Nadia.


“Bagaimana jika di jari istrimu sudah tersemat cincin orang lain saat kamu tiba di sana? Dengan siapa itu, mantan calon suaminya yang batal nikah?” ledek Nadia pada Erik, supaya lelaki di depannya ini gantian mengeluarkan ekspresi marah.


“Kenzie maksudmu?”


“Nah itu. Kenzie! pasti istrimu sedang bersamanya, dia kan, sealam dengannya, mungkin sekarang sedang berpacaran atau mungkin juga sedang bercinta, hahaha,” canda Nadia sambil melihat wajah Erik yang mulai memerah.


“Nggak! Istriku hanya mencintaiku!” sahut Erik yang mulai cemburu ketika mendengar candaan Nadia. Nadia tertawa renyah saat melihat ekspresi Erik yang cemburu, semakin tampan, tapi Nadia tidak bisa mencintai duda beranak dua di depannya itu, karena hatinya sudah terisi nama Nugie.


Mereka mengobrol lama, hingga Erik melupakan janjinya pada kedua anaknya, yang minta dijemput karena mereka tengah berada di rumah Damar.

__ADS_1


__ADS_2