Kepincut Cinta Dokter

Kepincut Cinta Dokter
Extra Part : Kisah Cinta Naura


__ADS_3

Keputusan Abhi membawa Naura pulang ke Jakarta sepertinya keputusan yang tepat. Urusannya sudah selesai. Mereka, yang lebih tepatnya berperan sebagai mediator sudah menjalankan tugasnya dengan baik. Tinggal menunggu telepon dari Martinus beberapa hari mendatang, untuk menggugurkan surat pengajuan perceraiannya


Setelah menyelesaikan sarapan Abhi dan Naura berpamitan dengan Susan. Naura sebenarnya penasaran ingin berkenalan langsung dengan mantan calonnya Abhi, tapi sepertinya gadis itu bersembunyi entah di mana. Ia hanya menitipkan salam kenal saja untuk Olivia.


"Hati-hati, Bhi, kalau sudah tiba di Jakarta kabari Ibu." suara Susan terdengar tulus, seperti seorang ibu menasehati anaknya. "Meski kamu tidak jadi menikahi Oliv sering-seringlah mengunjungi Ibu! Kadang ibu merindukanmu." tambahnya seraya memasukan beberapa barang untuk mereka bawa pulang.


"Insya Allah, Bu." Abhi menjawab singkat, lalu mencium tangan Susan, disusul Naura melakukan hal yang sama, seperti Abhi. Gadis berjalan dengan langkah tertatih, dipapah oleh Abhi menuju mobil. Setelah mereka siap, perlahan mobil Mercedes milik Abhi meninggalkan pekarangan rumah Susan.


Seperti kemarin Naura kembali menurunkan jendela mobil, menikmati sejuknya udara pagi. Tersenyum tipis saat angin berhasil membuat rambutnya berantakan.


"Kamu yakin nggak mau ke rumah sakit dulu?" tanya Abhi, saat menatap ke arah bawah, mendapati kaki Naura yang terlihat memar.


Naura menoleh ke arah Abhi, sambil membenarkan rambutnya yang berkibar terkena angin. Dan Abhi tampak menikmati pemandangan itu. Wajah Naura terlihat memesona meski tanpa polesan make up, bibirnya merah alami efek makan cabai saat tadi menyantap sarapan.


"Nggak perlu. Di rumah banyak dokter nanti biar diurus mama atau papa."


"Baiklah, tidurlah aku akan membangunkan mu setiba di Jakarta."


"Hemm ...." Naura menaikan kaca jendela, membenarkan posisinya senyaman mungkin, lalu mulai memejamkan mata.


Berpuluh kilometer selanjutnya hanya diisi seperti ini. Abhi fokus mengemudi dan Naura terlelap di sampingnya. Sesekali Abhi memperhatikan wajah Naura, siapa tahu ada air liur keluar dari bibirnya, itu kesempatan langka dan dia siap membidik momen itu, ponselnya sudah ia stand by-kan di atas dashboard. Tapi zonk, Naura tidur manis saat perjalanan.


Tiba di daerah Jakarta, Abhi menghentikan mobilnya untuk membangunkan Naura. "Kamu mau pulang ke mana?" tanyanya sambil menepuk lengan Naura.


Naura mengerjap, lalu meregangkan tubuhnya. Abhi yang tidak segera mendapat jawaban mengulangi pertanyaannya.

__ADS_1


"Ke rumah papa, daerah Jakarta Pusat."


Abhi menatap Naura, dengan dahi yang berlipat, "nggak ke apartemen?"


"Nggak. Siapa yang mau mengurusku?"


"Aku. Aku bisa mengurusmu, di sana juga masih ada mama dan adikku."


"Emang kamu mau mandiin aku?" Naura menghentikan ucapannya, lalu tertawa kecil, "Kalaupun kamu mau tetap saja itu tidak boleh!" disusul tawa menggelegar, yang membuat Abhi memberikan sentilan di hidungnya. Merasa sudah salah, ia menutup mulutnya dengan tangan kanan. Mengucapkan kata maaf dengan suara lirih.


"Tunjukan di mana alamatnya!" perintah Abhi.


Naura memberi petunjuk, ke mana mobil harus berjalan, dan berhenti. Saat tiba di sana Abhi terdiam, ia masih tak percaya. Jika yang ia datangi adalah rumah salah satu pengusaha ternama di Jakarta. Ia mematikan mesin mobilnya bersiap untuk turun.


"Ayo, aku akan menjelaskan pada papamu!" Abhi dengan gesit melepas seatbelt-nya.


Abhi tersenyum kecut, ia segera turun dan berjalan ke arah pintu utama yang terbuka lebar. Ucapan salamnya langsung dijawab oleh penghuni rumah. Seorang pria beruban keluar menemuinya.


"Itu ada Naura, Om!" ucapnya sedikit takut Erik akan marah setelah melihat kondisi putrinya.


"Nana? Di mana dia?" Erik mencaritahu tapi tidak menemukan keberadaan putrinya di belakang Abhi.


"Dia ada di mobil saya. Kakinya sepertinya terkilir." Saat Abhi menjelaskan, Erik sudah lebih dulu mendekat ke arah mobil Abhi. Ia membuka pintu mobil tersebut, disambut cengiran khas dari bibir Naura.


"Sudah sakit. Jadi, jangan dimarahi lagi, ya ...." Naura membujuk saat mengerti tatapan Erik yang tampak marah.

__ADS_1


"Tolong bawa anak saya masuk ke kamar! Saya sudah tidak bisa lagi mengangkat tubuhnya. Dokter bilang tulang ini mulai rapuh. Gejala osteoporosis." Erik memerintah sekaligus menjabarkan alasannya tidak berani menggendong Naura.


Dengan senang hari Abhi kembali mengangkat tubuh Naura. Tanpa ancaman seperti tadi pagi, Naura langsung merengkuh leher Abhi. Dan Abhi berjalan masuk ke rumah Erik. Membuka telinganya lebar, mendengar instruksi dari Erik yang menunjukan di mana kamar Naura berada.


Saat kamar terbuka, Abhi bisa melihat betapa rapinya kamar gadis tersebut. Warna-warna pastel yang elegant menghiasi sudut dinding kamar Naura. Aroma apel yang baru disemprotkan mesin parfum elektrik menyambut kedatangan mereka berdua, sedikit menenangkan pikiran Abhi yang mulai kacau. Ia lalu merebahkan tubuh Naura di ranjang.


Saat Abhi hendak menarik tangan yang ada di punggung Naura, kecelakaan kecil terjadi di sana. Abhi tidak menyadari, jika wajah Naura teramat dekat dengannya. Ia langsung menoleh kasar ke arah samping, dan membuat kedua hidung panjang mereka bersentuhan. Bukan hanya itu, kedua mata mereka saling mengunci dengan jarak yang sangat dekat. Saling berbagi nafas, menyalurkan kehangatan di pipi mereka.


Merasa waktu seolah berhenti, Naura mendorong pelan lengan Abhi supaya menjauh darinya. Ia khawatir Abhi bisa mendengar irama dari jantungnya yang saat ini tengah melompat-lompat riang.


"Jangan salah paham!" ucap Naura saat melihat Abhi mengusap wajahnya kasar. Pria itu tersenyum tipis. Lalu mengangguk.


"Silakan keluar! Terima kasih." Naura menarik selimut lalu merebahkan tubuhny. Mengamati punggung Abhi yang perlahan menghilang di balik pintu.


Saat Abhi hendak berpamitan pulang, Erik menahannya. Pria itu meminta Abhi untuk duduk di meja tamu lebih dulu.


"Saya akan melakukan sesi wawancara denganmu!"


Abhi mengerutkan kening saat mendengar ucapan Erik.


"Yang, jaga putrimu di kamar. Jangan biarkan dia turun sebelum pria ini pulang!"


"Baik, Tuan Erik!" goda Ella sambil mengedipkan satu matanya, kemudian menaiki anak tangga, menuju kamar putrinya, menjalankan perintah dari Erik.


...Bersambung .......

__ADS_1


...----------------...


NOTE : Ella sudah rajin, semoga ada yg berkenan ngasih hadiah, vote, dan komentar.


__ADS_2