Kepincut Cinta Dokter

Kepincut Cinta Dokter
Extra Part : Kisah Cinta Naura


__ADS_3

Selamat Membaca!



NAURA terkesiap, saat menyadari sesuatu. Ia teringat ucapan Rani sebelum ia berselimut mimpi, tanpa pikir panjang lagi, ia segera berlari ke arah kamar mandi untuk bersiap.


Semalam. Rani memberitahunya, jika ada klien aneh bin ajib, memintanya datang tepat pukul 9 pagi. Sayangnya, klienya itu meminta ia sendiri yang datang tak boleh diwakilkan. Dan terpaksa, Naura menuruti keinginan pria tua tersebut. Berharap tidak akan terjadi hal buruk padanya.


Selesai mandi, Naura segera mengenakan blouse peach berbahan sutra, dipadukan dengan rok pensil warna hitam yang mencetak jelas lekuk pinggangnya yang ramping. Tangannya dengan cekatan mengikat rambutnya asal. Kemudian, mengaplikasikan bedak merk ternama di wajah, setelah siap ia meraih tas kerja dan bergegas keluar dari apartemen, berjalan cepat menuju lift.


Saat melihat pintu lift akan tertutup ia berlari kecil, menahan pintu itu dengan tanganya. Ia menghela nafas lelah saat mendapati pria itu di depannya. Hari nya akan buruk hari ini, ia yakin. Gumamnya, tapi mau tidak mau ia harus ikut masuk.


Tanpa menyapa pria itu, ia mengeluarkan lipstik dan kaca kecil dari dalam tas, mengenakan benda warna merah kalem itu ke bibirnya yang tipis. Menganggap pria di belakangnya ini zombie berwajah dingin yang tak mampu memangsanya.


Pria itu berdehem. Dengan tangan yang terkepal erat. "Bagaimana lelaki tidak tergoda, jika ada pantat wanita di depannya seperti ini," ucapnya saat paginya disuguhi pemandangan luar biasa. "Dan ini, nih! salah satu penyebab meningkatnya angka perceraian. Karena tanpa mereka sadari, justru wanita itu lebih dulu menggoda sang pria."


Naura menutup lipstiknya, memutar badan menghadap Abhi. Mengusir pujian 'tampan' dari otaknya. "Jadi ... kamu tergoda?!" Naura menonjolkan bibirnya yang sudah semerah cherry.


"Najis!" cetus Abhi bergedik geli.


"Saya bisa menggoda Pak Abhi kalau mau?" Naura mengulangi lagi tindakannya. Setelah puas ia kembali membalikan tubuhnya menghadap pintu lift. Tertawa dalam hati saat melihat gelagat Abhi yang tampak aneh. Namun, tiba-tiba ia merasakan tangan kekar Abhi mencengkram lengannya erat. Bukan hanya kulitnya yang terasa hangat, tapi juga membuat hatinya berdesir ringan.


Pria itu menggeser tubuhnya untuk menghadap dinding lift. "Lihatlah, sudah perawan tua jangan suka menggoda pria beristri di luar sana! Lebih baik cari pria single! Kamu lihat!" Abhi menunjuk pelipis Naura. "Usia di atas 30 tahun, kerutan di wajah akan semakin jelas! Sampai kapan kamu akan jadi perawan tua? Dan ingat usia produktif wanita itu antara 25-45 tahun. Hitunglah, berapa lama lagi ke suburanmu akan menghilang!" sarkasnya, tanpa memudarkan ekpresi wajah dingin.


Sedangkan wajah Naura sudah tidak bisa dikondisikan, ia marah akan penghinaan Abhi, yang memang benar adanya. Dia membalikan kasar tubuhnya menghadap Abhi. Lalu tertawa senang, demi menutupi rasa kesalnya. "Pak Abhi, tolong sadar diri dong! Usia Anda juga sudah tidak muda lagi! Anda juga masih single! Owh, tunggu ... bolehkah saya menghitung uban Anda?" ucapnya seraya menekuk kedua tangan di depan dada. Memutus pandangan Abhi yang entah kenapa ia merasa pria itu tengah menikmati asetnya.


"Nggak kasihan tu, sama burung camar nggak pernah dikeluarkan! Biasanya pria se-usia Anda, sudah banyak tu yang gendong anak, dua, tiga, atau bahkan empat."


"Kakak saya saja-


Ting!

__ADS_1


Ucapan Naura terpotong, saat pintu lift terbuka lebar. Ia tidak mau melanjutkan perdebatannya, lantaran sudah banyak orang yang hendak masuk ke lift.


"Aku belum selesai, berhubung aku buru-buru. Kita selesaikan nanti!" bisiknya sambil berjalan mundur, menunjuk dada Abhi dengan jari telunjuk, tanpa ada sentuhan sedikitpun. "Gue perawan terhormat! Ingat itu!" peringatnya lagi, lalu meninggalkan Abhi yang masih berwajah datar tanpa ekpresi.


Huft!


Naura membuang nafas kasar setelah berhasil keluar dari ruang sempit menyeramkan itu. "Nggak tahu saja dia, siapa gue!" Gumamnya, berjalan menuju basement mencari keberadaan mobilnya.


Tiba di dalam mobil ia manarik ikatan rambutnya, menyisir sebentar, memberi beberapa semprotan vitamin rambut, lalu mengamati penampilan wajahnya di depan kaca kecil mobiknya, menelisik pelipisnya, apakah benar ucapan pria tersebut? Bibirnya mengerucut kesal, ia segera mencari ponselnya di dalam tas.


Setelah panggilan tersambung, "Ran, jadwalkan aku untuk datang ke Skin care ya, hari ini juga!" mintanya tegas. "O, ya reservasi atas nama orang lain, jenis perawatan anti-aging! Bila sudah dikonfirmasi, segera hubungi aku!" titahnya tanpa henti.


"Tapi, Bu! Ada pertemuan dengan pak Martinus."


"Iya, maksudku setelah pertemuanku dengan beliau!" Naura menjawab tegas, setengah memaki wanita di ujung telepon.


"Baik, Bu." Setelah Rani menyetujui permintaannya, ia pun mematikan panggilan tersebut. Dan segera fokus untuk mengemudi.


Saat Naura tiba di sana, pintu gerbang sudah terbuka lebar. Ia berhenti sebentar saat seorang satpam melambaikan tangan ke arahnya.


"Saya advokat yang diundang pak Martin," kata Naura sambil menyodorkan kartu nama. Satpam berbadan tambun itu mengerutkan dahi.


Barusan juga ada yang mengaku advokat datang menemui majikannya, lantas mana yang benar? pikirnya dalam hati.


"Bisa tunggu sebentar! Saya akan konfirmasi orang dalam lebih dulu." Naura mengangguk, ia memilih menunggu di dalam mobil. Sambil memperbaiki make up nya.


Pak Martinus, adalah pria berusia 86 tahun. Dia termasuk pengusaha tersohor di Jakarta. Pria yang sukses dalam bisnis transportasi penerbangan. Tapi, Naura tidak paham, di usia yang segitu matangnya (ralat, segitu tua) masih berniat menceraikan sang istri. Dan sekarang ia berusaha mencaritahu masalah yang sebenarnya.


"Silakan masuk, Bu!" perintah satpam berseragam gelap, membuka pintu mobil Naura. Dan meminta Naura keluar dari mobil."Tadi, sudah ada pengacara yang datang. Tapi, tidak tahu kenapa Bapak menyuruh Anda masuk, juga." Satpam itu menunjukan rumah utama di mana majikanya tengah menunggu.


Naura menyesali kenapa tidak membawa mobilnya mendekat ke arah pintu masuk saja. Dia lelah, karena harus berjalan sekitar 60 meter. Apalagi dengan perutnya yang belum terisi apapun. Ia tersiksa, karena terakhir kali ia hanya memakan lontong sayur buatan mamanya Abhi.

__ADS_1


"Bik, tolong antar Ibu nya ini ke ruangan Bapak, ya!" Satpam itu berbicara pada seorang wanita paruh baya.


"Mari, Bu!" ujarnya meminta Naura untuk mengikuti langkahnya.


Dari tadi perasaan dipanggil, Bu! Setua itukah, aku! Gerutunya dalam hati, sambil berjalan mengikuti wanita paruh baya di depannya.


Lagi, lagi ia harus berjalan lebih lama, kakinya sudah pegal, apalagi dengan high heels setinggi 4 cm, ini terlalu menyiksa. Rumah Martinus begitu mewah, bangunan khas Turki dengan beberapa pilar yang menjulang tinggi, didominasi warna emas di mana-mana, karpet-karpet lembut yang rela dilewati beberapa hewan peliharaan. Ia tidak kagum, hanya sedikit menggeleng kepala karena melihat kemewahan yang disuguhkan.


"Silakan, Bu!" Wanita itu mendorong pintu, dan memintanya untuk masuk. Naura mengangguk, dan mengucapkan terima kasih pada wanita paruh baya itu. Lalu mendongak, mencari pemilik rumah. Tapi, yang ia dapati justru pria yang sudah membuat mood-nya hancur pagi ini.


Pria itu tengah tersenyum bangga, menatap lekat ke arahnya. Entah apa yang sedang pria itu rasakan. Tapi, sepertinya ia tengah memenangkan perlombaan balapan naik kuda.


"Selamat pagi, Pak Abhi," sapanya sopan, berusaha keras menghilangkan rasa kesalnya pada Abhi.


"Assalamu'alaikum, pe-" Abhi tersenyum, "Ibu Naura."


"Wa'alaikumsalam, jangan mulai!" peringatnya sambil menghempaskan kasar bokongnya di kursi kosong yang berseberangan dengan Abhi. Cukup lama mereka diam, saling mencuri tatap, hingga kecanggungan tercipta di antara keduanya. Sampai akhirnya ....


"Wah ... sudah datang, rupanya!?" Suara bariton itu mengisi ruangan yang sedari tadi hening. Keduanya kompak menoleh ke sumber suara.


Abhi segera berdiri, berjalan mendekati Martinus yang masih berada di ambang pintu. Lalu menyalami pria berambut putih tersebut. Pria itu membalas dengan menepuk punggung Abhi.


"Duduk-duduk!" perintah Martinus. Meminta Abhi untuk kembali ke kursi semula.


...----------------...


... Jangan lupa like....


...Jangan lupa Gift....


...Jangan lupa Komentar apapun itu, yang bikin moodku naik!😥...

__ADS_1


__ADS_2