
Happy reading maaf telat update jangan lupa untuk like ya. Votenya dipakai untuk hari senin saja, ok.👍😁🙏
.
.
.
Keesokkan harinya, Erik dan Ella yang masih tertidur, di kagetkan dengan suara teriakkan dari Kalun dan Riella, mereka datang bersama pasukkan keluarga Damar, Ella yang terlihat masih mengantuk hanya berpura-pura tertidur dan memeluk erat suaminya, dia baru mulai tidur saat mendengar suara azan berkumandang, karena Erik terus mengajaknya bercerita dia hanya menjadi pendengar saat Erik menceritakan tumbuh kembang anaknya selama dia pergi.
“Papa sudah bangun!” kaget Riella saat mengetahui Erik membuka matanya, dia berlari menghampiri ranjang tidur Erik.
“Mama ..., minggir dulu! Riella kangen Papa, Riella mau main sama Papa,” usir Riella pada Ella yang masih tertidur di dada bidang Erik. Ella yang masih memejamkan matanya, segera menarik selimut dan membawanya ke sofa, matanya belum sempurna terbuka, membuat jalannya sedikit sempoyongan. Dia lalu merebahkan tubuhnya kembali di sofa, tanpa melihat Damar dan keluarganya yang juga duduk di sana.
“Tante Lala, banguuunnn ...,” teriak Ghea yang melihat Ella kembali tertidur.
“Sebentar Sayang, tante ngantuk, Om Erik semalam nggak ngebolehin tante buat tidur,” ucap Ella yang masih memejamkan mata.
“Memang masih kuat Erik buat main?” tanya Damar tanpa melihat anaknya yang tengah memperhatikan ucapannya.
“Main apa Pa? Apa om Erik punya mainan baru?” tanya Ghea yang penasaran.
“Hahaha ..., iya Om Erik punya mainan baru, sana minta sana!” perintah damar pada anaknya yang paling cantik. Ghea langsung meninggalkan posisinya, dia berlari merengek meminta mainan pada Erik. Sashi hanya bisa menatap marah Damar karena berbicara sembarangan.
“Kalian kenapa sih pagi-pagi sudah datang?” tanya Ella yang masih berada di bawah selimut.
“Apanya yang pagi La ..., ini sudah jam 10, buruan mandi sana!” perintah Sashi sambil memperlihatkan jam di ponselnya.
“Harusnya kalian ke sininya sorean, biar aku bisa menikmati waktu istirahatku dulu,” ucap Ella yang sudah duduk sambil merapikan rambutnya.
“La ..., Kakak punya hadiah buat kamu, ini tiket bulan madu ke Paris, untuk kamu sama Erik, biarkan anakmu Kakak yang menjaganya, dijamin aman.” Damar melemparkan amplop bewarna putih di atas meja.
__ADS_1
“Wah asyik nih dapat gratisan, tapi aku nggak mau, aku maunya nanti-nanti saja, setelah rasa rinduku pada anak-anak hilang,” jelas Ella, saat menolak tiket bulan madu pemberian dari Damar.
“Gampang! itu juga bisa dijadwalkan ulang,” ucap damar sambil menatap wajah Ella, “Sudah banyak masalah yang kalian lalui, bersenang-senanglah, nikmatilah waktu berdua dengan Erik, untuk mengganti waktu yang kemarin telah hilang, aku ikhlas untuk menjaga anakmu,” ucap Damar yang menatap Erik.
“Tapi jangan lupa! Adik buat Riella, keburu Erik 50 tahun,” ucap Damar sambil melirik ke arah Erik yang sedang bercanda dengan kedua anaknya. Ella hanya menggelengkan kepalanya, tidak ingin menuruti ucapan Damar.
“Papa nggak papa kan?” tanya Kalun yang khawatir dengan kondisi Erik.
“Nggak papa kok, Papa sudah sehat, bahkan sudah bisa jalan-jalan dengan Kalun dan Riella,” jelasnya yang memeluk Kalun.
“Kalun takut Pa, tapi sekarang Kalun nggak takut lagi, Kalun sudah aman kata Paman Damar.” Kalun berkata sambil mengeratkan pelukkannya ke leher Erik.
“Iya, jagoan Papa harus berani dong, biar nanti bisa jagain adik Riella,” ucap Erik sambil mengusap pipi Riella yang duduk di pankuannya.
“Pa ..., Riella kangen sama Papa, ayo kita pulang!” ajak Riella menatap wajah Erik yang masih terdapat lebam.
“Papa pasti pulang, tunggu luka Papa kering dulu, ok!” ucap Erik sambil memeluk Riella. Dia lalu menatap istrinya yang tengah berbicara dengan Damar. Dia ingat jika Ella belum sarapan pagi ini.
“Yang, aku mau makan dong,” ucap Erik yang berteriak agar istrinya itu mendengar ucapannya. Ella hanya menoleh ke arah makanan yang sudah diantarkan oleh perawat, mereka memberi makanan khusus untuk Erik, mengingat Erik adalah pemilik rumah sakit.
“Iya, itu karena Papa sayang sama Mama,” jelasnya sambil mencubit pelan pipi Riella.
Riella memang lebih cerewet dari Kalun ketika sedang bersama Erik. Kalun hanya bisa mengucapkan satu atau dua patah saja jika ditanya, dari kemarin dia seperti itu, membuat Damar memikirkan jika sesuatu telah terjadi dengan Kalun.
“Sama Riella nggak sayang? Kok nggak panggil yang?” tanya Riella yang semakin membuat Erik bingung untuk menjawab.
“Sayang juga dong, sudah sana! Papa mau makan dulu, Papa sudah lapar, nanti kita main lagi,” ucap Erik yang mengusap perutnya.
Kedua anaknya sudah pergi mendekat ke arah Damar, diganti dengan Ella yang membawa nampan makanan untuknya.
“Kamu saja yang makan, aku sudah makan lewat cairan ini,” ucap Erik saat Ella mengangkat sendok ke arah mulutnya.
__ADS_1
“Kok gitu tadi katanya mau makan!”
“Sudah sana makan, atau mau Mas suap?” tawar Erik yang sudah akan mengambil piring di tangan Ella.
“Nyebelin ih ...,” gerutu Ella.
“Bukan nyebelin tapi aku perhatian sama kamu, dari kemarin kamu belum makan, kan?” ucap Erik memperingatkan istrinya, dia menatap mata Ella yang seperti panda, lalu berpindah ke arah bibir Ella yang merah, jika Damar tidak di sana, mungkin Erik akan segera mengecup bibir istrinya.
Ella lalu memakan makanan di tangannya, sambil sesekali menyuapkan ke mulut Erik.
“Ih ...! Papa suap-suapan sama Mama,” ledek Riella yang melihat kelakuan Erik dan Ella.
“Persis kamu waktu kecil,” bisiknya di depan wajah Ella.
“Nggak papa dia anakku, bahkan wajahnya juga seperti aku,” ucap Ella sambil melihat Riella yang berlompat-lompat di sofa ruangannya.
“Hey ... Jatuh Riella!” peringat Erik, “Riella ...,” panggilnya lagi ketika anaknya tidak mau berhenti. Ella lalu mendekat ke arah Riella. Mengendong dan membawanya ke pangkuan Erik.
Kalun masih terdiam di sofa hanya menatap kedua orangtua dan adiknya, bahkan Damar yang mengajak ngobrol Kalun, tidak mendapatkan jawaban darinya.
“La ..., coba bawa Kalun ke psikiater, sepertinya dia butuh perawatan,” lirih Damar yang sudah berada di samping Ella. Ella segera menoleh ke arah anak lelakinya, lalu mencoba memberikan senyuman ke arah Kalun, tapi yang ada Kalun hanya diam tidak membalas senyuman yang diberikan Ella.
Dia lalu memikirkan waktu yang tepat untuk membawa Kalun untuk bertemu Rendi, untuk menyembuhkan rasa trauma memang tidak cepat, apalagi Kalun dalam usia tumbuh kembang, takutnya trauma itu akan berlanjut hingga dewasa.
“Kalun ...,” panggil Ella sambil melambaikan tangan ke depan wajah anaknya.
“Kalun sakit?” Kalun hanya menggelengkan kepalanya, dia hanya menatap wajah Ella, lalu mengalungkan tangannya ke perut Ella. Dia menangis keras dan menenggelamkan wajahnya di perut Ella.
“Ma ..., Kalun takut Ma, bilang sama Paman Bima jangan datang lagi, Kalun janji, Kalun nggak akan nakal lagi,” jelas Kalun di tengah tangisnya. Ella yang mendengar ucapan Kalun, langsung menggendong anak lelakinya itu, mengajak anaknya untuk keluar ruangan sebentar, sebenarnya Ella mengajak Kalun ke ruangan Rendi, dia ingin segera menyembuhkan Kalun dari rasa trauma yang di alaminya, dia tidak bisa membiarkan anaknya mengalami seperti ini setiap hari.
.
__ADS_1
.
TBC