
...Selamat Membaca ...
Home dress warna baby blue dengan motif bunga aster membalut tubuh Naura malam ini. Bu Zainab sengaja memilihkan lengan panjang, mengingat cuaca hari ini terasa lebih dingin dari biasanya, kabut tebal sudah tampak jika ia keluar rumah. Naura berhenti sejenak, mengamati pantulan dirinya di depan kaca. Ia merasa semakin cantik dengan warna tersebut.
Merasa sudah puas, ia segera keluar dari kamar mandi yang ada di dalam kamar. Langkahnya terhenti ketika melihat Abhi menguasai daerah kekuasaanya. Pria itu tengah tidur tengkurap di ranjang yang sudah disediakan bu Zainab.
Naura melangkah mendekati Abhi, “Ngapain kamu tidur di situ, Chan?” tanya Naura dengan nada setengah membentak, berusaha mengejutkan pria yang kini sudah memejamkan mata.
Abhi tidak merespon tingkah Naura, dia memilih diam meski sebenarnya ia tidak benar-benar tidur.
“Abhi! Abhicandra, pergi, kamu!” teriak Naura, lagi. Kini tangannya bergerak kuat menarik ujung celana yang dikenakan Abhi.
Abhi belum bergerak, dia hanya menyembunyikan tawanya dari Naura. Berulangkali Naura menarik ujung celananya tapi ia masih enggan untuk beranjak. “Sudah tidurlah, di sini! Aku lelah, biarkan aku beristirahat sebentar saja.” Abhi membuka sedikit ekor matanya. “Tenang saja, kamu aman denganku, aku janji nggak akan menyentuhmu barang sesenti pun!” Abhi menggeser tubuhnya memberi tempat untuk Naura. Tapi, gadis itu justru semakin kuat menarik celananya. Naura masih berusaha keras mengusir Abhi dari ranjang.
__ADS_1
“Awas nanti celanaku terlepas!” Abhi memperingati, saat karet celana trainingnya semakin turun. Reflek Naura melepas tangannya dari celana Abhi. Ia membalikan tubuhnya, takut jika Abhi justru melepasnya.
“Atau kamu mau melihatnya?” goda Abhi dengan seringai liciknya.
“Ih, dasar! Sana pergi, Abhi! Kita tidak boleh satu kamar, atau mau papaku nanti menikahkan kita!” kini Naura meraih tangan Abhi, supaya pergi dari ranjang. Dengan mata yang setengah terbuka, Abhi kemudian berdiri, keluar dari kamar. Ia tidak mau mengambil risiko yang akan membawanya dalam masalah.
Sebelum ia benar-benar meninggalkan kamar ia berpesan pada Naura, “Kalau kamu butuh kehangatan, aku bisa meminjamkan dadaku untukmu. Free, service tambahan juga boleh!” ujarnya tanpa dosa. Lalu benar-benar meninggalkan kamar.
Naura yang mendengar pun langsung menutup pintu dengan kasar. Berusaha mengontrol degup jantungnya yang sedang berpacu cepat. Ia sampai harus mengusap dadanya berulangkali, demi bisa meredakannya.
Jam bergerak cepat ke angka 10 malam, suara rintik hujan masih terdengar jelas, menetes di samping jendela. Meski tidak sederas sore tadi, tapi udara di kamar semakin terasa dingin. Mata Naura sulit terpejam, meski ia tahu tubuhnya terasa lelah. Entah kenapa, pikirannya justru tentang Abhi yang tidur di sofa depan televisi. Pria itu keluar tanpa membawa selimut apalagi bantal. Pasti ia tengah menggigil karena kedinginan.
Berulangkali ia mengusir perasaan khawatirnya, sampai tanpa ia sadari matanya mulai tertutup rapat. Tapi, hanya sebentar. Tubuhnya tiba-tiba terhenyak, ia terbangun seperti dikagetkan dengan suara orang yang membangunkannya.
__ADS_1
Naura beranjak dari ranjang. Mengambil selimut tebal yang tadi menutupi tubuhnya. Dengan gerakan pelan, Naura membuka pintu kamar. Nalurinya mengatakan, ia harus menyelimuti tubuh Abhi, takut terjadi hal buruk dengan Abhi, dan ia juga yang repot.
Ia membuka sedikit pintu kamar, khawatir jika tindakannya akan ketahuan oleh Abhi. Tapi, saat baru satu langkah meninggalkan kamar, ia bisa melihat dengan jelas seorang wanita sedang menyelimuti tubuh Abhi dengan selimut tebal.
Wanita itu membelai pipi Abhi dengan lembut, lalu mendaratkan kecupan di bibir Abhi. Naura tersenyum kecut, ia segera kembali masuk kamar, sebelum wanita itu menyadari kehadirannya.
Tiba di kamar, ia menertawakan dirinya sendiri, menghempaskan dengan kasar tubuhnya ke ranjang. Berusaha menghilangkan rasa khawatir yang tadi mengusik hatinya. Perlahan, rasa kantuk menyerang bagitu kuat, ia sudah tidak bisa lagi menahannya, Naura terlelap malam itu hingga pagi menyapa.
Menyadari ia sedang berada di rumah orang, Naura segera beranjak dari tempat tidur. Membersihkan diri lalu menyisir rambutnya yang panjang. Ia berniat keluar kamar bergabung dengan beberapa wanita yang sedang mengobrol di dapur.
Saat tiba di sana, ia bisa melihat seorang wanita seumuran mamanya tengah sibuk menyiapkan sarapan.
“Selamat pagi,” sapa Naura pada wanita yang sedang sibuk memotong wortel.
__ADS_1
... 50 comentar lagi ya, baru aku up.
...