Kepincut Cinta Dokter

Kepincut Cinta Dokter
Apartemen Bag. II


__ADS_3

Happy reading jangan lupa untuk tekan like dan voters ya.🙏👍


Ella pov.


Aku segera memarkirkan mobilku saat sudah tiba di bandara, aku sengaja datang lebih awal, untuk menjemput Mas Erik. Aku duduk di cafe di dalam bandara, sambil menatap benda pipih di tanganku siapa tau dokter tampan itu menghubungiku. Menatap lagi orang yang berlalu lalang, terlihat orang- orang sedang melepas kerinduan terhadap keluarga maupun pasangannya, aku jadi bingung sikap apa yang akan aku pakai saat bertemu Mas Erik nanti, mengingat kita tidak memiliki status hubungan apapun. Jujur aku merindukannya, bahkan sangat rindu tak lama ponselku berdering panggilan suara dari Mas Erik.


" Hallo.. Mas dimana? " tanyaku.


" Mas di dekat pintu arrival. " ucapnya


Aku segera berjalan meninggalkan cafe itu menuju di mana Mas Erik menunggu, kulihat Mas Erik dari kejauhan dia memang lelaki tampan, walau saat ini berusia 37 tahun, tapi dia bisa terlihat sepuluh tahun lebih muda dari usianya.


" Mas, " ucapku saat sudah berdiri di belakangnya, dia membalik badannya ke arahku dan memelukku erat, sejenak kubiarkan dia memelukku dan kubalas pelukkannya, kuhirup aroma parfum di tubuhnya, yang seminggu ini kurindukan.


" I miss you," ucapnya padaku, lalu menempelkan dahinya ke dahiku, matanya menatapku, ntah aku juga tidak paham akan arti tatapan itu.


" I miss you too, " balasku, lalu segera melepaskan pelukkannya dan mengajakny keluar dari bandara, karena malu mengingat ini adalah tempat umum.


" Kita ke apartemen Mas dulu ya, Mas pengen melepas rindu, " ucapnya yang kubalas dengan anggukan.


" Rindu Mas belum terobati, jika hanya bertemu sebentar, " ucapnya lagi.


Aku duduk di samping kemudi, mendengarkan dia yang bercerita kesana- kemari, sesekali ku tanggapi dengan tertawa jika memang ceritanya lucu.


" Ayo turun, " lanjutnya setelah berhenti di tempat parkir apartemennya.


Aku segera mengikutinya dari belakang, kemudian dia mensejajarkan langkahnya di sampingku,


" kalau jalannya depan belakang, kaya bos dan assistannya, kalau seperti ini kita kaya sepasang suami istri, " canda Mas Erik.


" Masuklah, " ucapnya saat dia sudah membuka pintu.


" Masih sama, " ucapku saat melihat letak barang- barang didalam apartemen Mas Erik yang tidak berubah sama sekali.


" Mas memang sengaja nggak mengubah apapun yang ada di sini, biar Mas bisa selalu mengingat saat kamu makan di meja, masak di dapur, saat kita berciuman di depan tv, "

__ADS_1


" Mas! " teriakku memotong ucapannya, dia pun terkekeh sambil menatapku.


" Sepertinya otak mesum kamu levelnya meningkat ya, " ucapku.


" Mungkin gara- gara bertemu bule yang hanya memakai bikini di sana, " ucapnya yang semakin menggodaku, aku hanya menghela nafas panjang.


" Mas Lala lapar, " keluhku karena memang aku belum makan dari tadi siang.


" Sebentar Mas masakin, " ucapnya sambil melepas jaket yang ia kenakan.


" Mas nggak capek? " tanyaku.


" Sebenarnya capek, tapi demi Lala Mas akan buatin Lala makanan, "


" Ayo biar Lala bantu, " ucapku menawarkan bantuan dan segera berjalan didapur.


" Nggak takut berantakan seperti enam tahun yang lalu, " ucapnya. akupun terdiam mengingat kejadian enam tahun yang lalu, aku pun tersenyum kearahnya.


" Nggak, "


" Sudah Lala duduk saja, Mas cuma bikin spagetti kok, " aku pun mengalah dan duduk di minibar depan dapur sambil melihat Mas Erik memasak. Kutatap lelaki di depanku ini, setelah kuamati dengan teliti ternyata dia tampil beda dengan gaya rambut barunya. senyumku semakin lebar saat melihat Mas Erik yang memakai apron bewarna pink.


" Iya, seperti daddy sedang memasakkan anaknya, " ucapku sambil tertawa manis menyemangatinya.


" Apa Mas terlihat setua itu, " ucapnya sambil cemberut. Kujawab dengan anggukan.


" Baiklah kalau begitu, makanlah sugar baby. makanan sudah siap, " ucapnya menggodaku sambil menyiapkan spagetti dimeja.


" Sepertinya enak, tapi minumanya mana? " tanyaku. Tak lama dia datang membawa satu botol air mineral dingin.


" Sini, kita makan berdua, " ucapku menawarinya duduk disebelahku.


" Enak ya dadd masakkanmu, " ucapku memuji masakannya. Dia hanya mendengus kesal mendengar panggilanku, aku tertawa melihat ekpresi wajahnya.


" Mas lebih suka kamu memanggil Mas dengan kata sayang, " ucapnya. Aku hanya menatapnya sambil menyuapi spagetti kedalam mulutnya.

__ADS_1


" Tunggu waktu yang tepat, aku akan memanggil Mas seperti itu, " dia lalu cemberut menatapku, segera aku menyuapinya kembali untuk meredakan kekecewaannya.


" Jelek kalau cemberut, tampannya hilang, " ucapku.


" Kamu tau La, kemaren Mas ketemu sama Jingga waktu di Bali, " ucapnya memberitahuku.


" Jingga mantan pacar Mas yang selingkuh itu? " tanyaku.


" Iya, sekarang dia menjadi wanita simpanan kliennya Mas di Bali, " jelasnya


" Kok bisa? terus suami dan anaknya kemana? " tanyaku.


" Joseph menceraikannya setelah dia tau kalau yang dilahirkan ternyata bukan anaknya, " jelas Mas Erik.


" Hah. Terus anak siapa, apa mungkin dia anakmu Mas? " godaku pada Mas Erik.


" Kamu itu kalau ngomong memang nggak pernah di filter ya, Mas kan sudah bilang belum pernah menyentuh wanita manapun kecuali kamu, " jelasnya.


" BOHONG !! " ucapku Mas Erik langsung menatap tajam kearahku." Terus kalau bantuin orang melahirkan memang tidak menyentuhnya, " lanjutku.


" Huft... itu beda La, kalau yang seperti itu juga megang setiap hari, " ucapnya.


" Hah... beneran? berarti sudah nggak suci donk mata Mas Erik, " ucapku.


" Iya, sudah ternoda, " ucapnya mendengus kesal, akupun tertawa.


" Rugi donk nikah sama Mas, " sindirku sambil baralih menyatap lagi spagetti di depanku.


" Hahaha... tapi bagian dalam hanya untuk istri Mas nanti, " ucapnya meyakinkan.


" Yakin? trus yang dulu bercumbu sama Riza itu siapa? " ucapku mengingatkan sambil tersenyum jahil kearahnya.


" Itu karena Mas di racun aja sama dia, " ucapnya jengkel mengingat kejadian waktu itu.


" Sini makan lagi, " ucapku sambil menyuapinya. Karena aku nggak mau dia teringat hal itu.

__ADS_1


Kami bersendau gurau sambil menikmati makanan buatan Mas Erik, melepas kerinduan yang tertahan selama satu minggu. Jujur aku akui, aku memang merindukannya, tapi aku belum bisa menjawab apakah aku kembali mencintainya atau tidak, yang jelas aku merindukannya saat dia berada jauh dariku.


Terimakasih sudah mendukung karya saya, mulai besuk sampai 2 hari kedepan mungkin up nya cma bisa 1part ya. Mau ngedit dulu biar lulus kontrak. Dukung terus karya saya, jangan lupa vote, like dan coment.👍🙏


__ADS_2