
Sebelumnya saya mau ngasih tahu dulu ya, yang nanya kapan update cerita ini. Ini ceritanya sudah end ya, tapi kadang saya masih up untuk melengkapi kisah anaknya. Yang belum tahu cerita anaknya bisa klik profil saya. Judulnya Mistake ( A Mistake Can Bring Love )
Surakarta.
Malam sudah larut ketika keluarga Erik tiba di Solo. Mereka semua langsung dijemput oleh petugas hotel yang sudah disiapkan Yohan.
Tiba di hotel Erik meminta Ella untuk segera beristirahat, di kamar hotel. Ella langsung merebahkan tubuhnya tanpa mengganti pakaiannya lebih dulu, membuat Erik menggelengkan kepalanya.
Erik berjalan mendekati Ella, melepaskan alas kaki yang Ella kenakan, kakinya masih menggantung di tepi ranjang membuat posisi tidurnya tidak nyaman.
“Kamu capek?” tanya Erik sambil memijat lembut kaki Ella.
“Lumayan, sedikit pusing saja. Mungkin karena baru turun dari pesawat,” jelas Ella sambil memijat pangkal hidungnya.
“Mas, apa Kalun akan bahagia? Sepertinya dia tidak benar-benar mencintai Luna!” kata Ella yang meluapkan rasa khawatirnya. “Aku tidak bisa melihat cinta di matanya, saat dia menatap Luna,” lanjut Ella sambil membenamkan wajah di dada Erik yang kini sudah ada di sampingnya.
“Mereka akan bahagia seperti kita, punya anak yang lucu dan cantik-cantik, seperti Omanya ini,” kata Erik sambil mencubit gemas pipi Ella.
“Ya, semoga saja, dan tampan seperti Opanya ini, tapi doaku jangan menuruni sifat mesumnya ini,” ledek Ella, melakukan hal yang sama dengan Erik yang dilakukan padanya.
“Tidurlah, besok kita akan menghadiri acara terpenting anak kita!” perintah Erik sambil memindahkan kepala Ella ke bantal, menatap wajah cantik Ella dari samping.
Tidak lama kemudian terdengar suara panggilan telepon dari ponsel Erik. Erik menatap sejenak ke layar ponsel yang kini sudah di tangannya. Panggilan dari Kalun yang memintanya untuk menemui calon besannya.
“Aku turun dulu ya, sepertinya ada hal penting yang akan mereka bicarakan,” pamit Erik sambil mengancingkan kembali kemejanya yang sudah terlepas.
“Aku ikut!” minta Ella yang sudah mendudukkan tubuhnya.
“Nggak perlu Yang, biar aku sendiri saja yang menemuinya, ini sudah larut, nggak baik untuk kesehatanmu,” terang Erik sambil beranjak dari ranjang besar milik hotel.
Ella lalu berdiri dari kasurnya, mengambil jaket kulit yang ada di dalam koper.
“Pakai ini, kamu juga nggak boleh sakit, biar bisa selalu menjagaku,” ucap Ella sambil berjalan mendekat ke arah Erik. Ella lalu membantu Erik mengenakan jaket tersebut.
“Ya. Aku akan menjagamu, di sisa usiaku ini, terima kasih.” Erik mengecup bibir Ella setelah Ella selesai membantu mengenakan jaket kulit tersebut.
“Jangan lama-lama aku menunggumu!” peringat Ella.
“Aku nggak mau melakukannya, aku tidak ingin membuatmu lelah, jangan memaksaku!” ucap Erik sambil menampilkan senyum mesum.
“Bukan menunggu untuk itu, dasar TTM,” cerca Ella sambil mendorong tubuh Erik menjauh darinya.
“Mesum sama istri sendiri nggak dosa kok,” kilahnya sambil beranjak dari pandangan Ella.
“Hati-hati!” teriak Ella saat melihat suaminya menutup pintunya.
Setelah kepergian Erik, Ella duduk di sofa yang berada di dekat jendela, menatap pemandangan kota Solo malam jari, hanya lampu warna-warni yang terlihat, serta cahaya lampu mobil yang melintas di bawah gedung. Sekalian menunggu suaminya kembali, bayangan masa kecil Kalun menemaninya malam ini. Kalun yang berlarian menghampirinya, meminta izin untuk bermain dengan Kayra, mereka sulit dipisahkan, hingga Ella berpikir jika Allah menakdirkan Kayra untuk Kalun. Kalun yang sulit dibawa pulang ketika bermain di rumah Rendi, hingga dia merengek menangis meminta untuk tidur di rumah Rendi. Dia paham anak lelakinya itu masih mencintai Kayra, tapi dia benar-benar tidak tahu apa yang menimpa anak lelakinya tersebut.
Ella segera beranjak dari sofa, setelah pintu kamar terbuka, dia melihat Erik memasuki kamar sambil melepas jaketnya. Dia lalu mendekat ke Erik yang meminta petunjuk dari suaminya.
__ADS_1
“Bagaimana?”
“Apanya?” jawab Erik yang membalas dengan pertanyaan.
“Kalun, bagaimana dengan mertuanya, apa dia baik?” tanya Ella dengan sedikit emosi.
“Tenanglah, semua akan baik-baik saja, kamu tidak harus mengkhawatirkan masalah Kalun, dia akan hidup bahagia seperti kita,” jelas Erik sambil memeluk Ella.
“Kita lanjutkan saja yang tertunda tadi!” ucap Erik sambil kembali merebahkan tubuh Ella.
“Mas, kamu bilang nggak mau menyentuhku! Katanya takut aku kelelahan!” peringat Ella sambil menahan dada suaminya, yang sudah menindihnya. Erik tersenyum smirk saat mendengar ucapan Ella.
“Angin malam membuatku ingin mencari kehangatan, dan itu hanya bisa kudapatkan darimu,” jelas Erik yang menahan kedua tangan Ella, di atas kepala istrinya.
Erik memulai kegiatannya dengan lembut, hingga akhir pelepasannya. Ella yang terlihat kelelahan, dibawanya ke dalam pelukkannya, mengusap punggungnya lembut hingga terdengar nafas teratur dari Ella, Erik menatap wajah istrinya yang terlelap dipelukannya, masih betah berlama-lama menatap wajah yang meneduhkan itu.
“Aku lebih memilih Kalun dengan Luna, asal kamu tahu Yang, Kayra tidak seperti yang kamu pikirkan, dia tidak pantas berada di samping Kalun,” gumam Erik sambil mengusap lembut rambut Ella.
Hingga pagi menyapa, keduanya dibangunkan dari suara ketukan pintu, anak kembarnya membangunkan mereka dari tidur lelapnya, beruntungnya baju Ella semalam tidak dibuang terlalu jauh oleh Erik. Ella segera mengenakan pakaiannya, dan membuka pintu kamar.
“Ma, itu Kak kalun sulit dibangunkan!” gerutu Maura ketika memasuki kamar.
“Biarkan saja! Ini juga masih jam 6 pagi,” jawab Ella mengikuti langkah anaknya yang menghampiri Erik.
Melihat kedua gadisnya itu bermajaan dengan suaminya, membuat Ella menggelengkan kepalanya. Kedua anak kembarnya itu meminta jalan-jalan ke Yogjakarta setelah acara kalun selesai, dan Erik menyanggupi tanpa meminta pendapat dari istrinya.
“Nggak papa Yang sekalian kita bulan madu untuk kesekian kalinya,” ucap Erik saat melihat wajah masam Ella. tapi kalian jangan ganggu papa dan mama ya!” pesan Erik pada Si kembar.
“Tapi Kak Riella nggak mau ikut, katanya sudah buat janji dengan kak Emil,” ucap Naura yang masih bermanja ria di lengan Erik.
“Baiklah, kita pergi berempat, kita jelajahi kota gudeg itu!” terang Erik sambil menyibakkan selimutnya, hendak berjalan ke kamar mandi.
“Kalian keluar dulu! Biarkan mama mandi nanti kita bertemu di bawah!” usir Erik pada si kembar.
“Papa ini, Mama juga mandinya di kamar mandi, nggak di tempat tidur, ngapain juga harus ngusir kita!” gerutu Maura ketika meninggalkan kamar Erik.
“Udahlah kita keluar saja, tidak perlu juga mengganggu pasangan lansia itu Ra!” ajak Naura menarik tangan Maura.
“Mereka tidak paham ritual pagi kita, aku tidak akan bersih mandinya tanpa bantuan tanganmu!” kata Erik sambil mengangkat tubuh Ella ke kamar mandi, setelah kedua anaknya sudah meninggalkan kamar.
“Kapan mesummu ini berakhir? Hum!”
“Sampai aku menutup mata,” sahut Erik.
“Dasar! Cepat lakukan atau kita akan ketinggalan acara Kalun nanti!”
“Lakukan apa?”
“Ritual pagi! Kamu nggak mau melakukannya!”
__ADS_1
“Nggak, aku hanya ingin mandi saja denganmu, sepertinya otakmu juga sudah terserang virus kemesuman,” goda Erik sambil menyalakan air shower.
Keduanya terkekeh di bawah guyuran air shower yang menyapu kulit mereka. Wajah yang basah itu saling bersentuhan, membuat keduanya tenggelam dalam pikiran masing-masing. Tubuh Ella yang belum terlepas dari bajunya, tercetak jelas apa warna dalamannya yang ia kenakan.
“Hijau!”
“Tebakkan yang benar!” kekeh Ella sambil melepaskan bajunya. Rambutnya yang basah, membuat Erik semakin tergoda dengannya.
“Yang, aku rasa setiap hari 109 kali mengucapkan kata terima kasih tidak cukup untuk membayar semua kebaikanmu.”
“Mulai dech gombalnya kambuh!”
Erik tertawa lepas memenuhi ruang kamar mandi tersebut.
“Aku mencintaimu!”
“Sudah tahu.”
“Hahaha ... bahkan melebihi dalamnya samudera.”
“Lebih luas dari daratan!” sahut Ella.
“Hahaha ...” tawa Erik lagi.
“Sudah hapal aku Sayang,” ucap Ella sambil mengusap rambutnya yang tersiram air hangat.
“Ya sudah tidak terukur, seperti itulah cintaku untukmu,” jelas Erik.
“Ah, sudahlah! Kita sudah tua tidak perlu kata-kata romantis seperti itu!”
“Aku hanya ingin menunjukkan cintaku padamu! Memberitahumu jika rasa itu masih sama seperti dulu, tidak berubah meski rambutmu terlihat putih, wajahmu tersirat kerutan halus, mungkin hingga gigimu tersisa dua lagi,” jelas Erik.
Ella menatap ke wajah Erik yang menatapnya, dia mencium lembut bibir suaminya, cukup lama, hingga air yang mengguyur tubuhnya bisa masuk melewati celah bibirnya.
“Hanya satu yang kuinginkan saat ini, semoga Allah memanggilku lebih dulu, dan aku akan meminta pada-Nya untuk segera mengirimu untukku,” lirih Ella setelah melepas ciumannya.
“Aku juga mencintaimu, terima kasih sudah membimbingku hingga aku menjadi seperti ini, aku tidak ingin kehilangan kamu lagi,” ucap Ella sambil memeluk tubuh Erik, tanpa dia sadari air matanya keluar diiringi air yang terus mengalir dari shower. Erik pun membalas pelukkan Ella sama eratnya. Hingga melupakan waktu yang hampir pukul 7 pagi.
“Kamu menangis?”
“Aku menangis bahagia, sebentar lagi keinginanku akan terwujud, kita akan punya cucu sebelum aku pergi!” jelas Ella.
“Jangan bicara perpisahan, aku tidak bisa membayangkan hidupku tanpa kamu,” ucap Erik sambil menangkup wajah Ella menghadapnya.
“Tapi kita tidak bisa menghindarinya, kita harus siap kapan kita akan dipisahkan!”
“Aku akan melindungimu dengan baik, hingga penyakit itu tidak mampu menyerangmu! Kita berjuang bersama, kamu pasti sembuh, ok!” jelas Erik sambil mencium seluruh wajah Ella, lalu mengambil handuk yang ada di sampingnya. Mengakhiri ritual paginya hari ini.
👣
__ADS_1
Happy weekend😍😍