Kepincut Cinta Dokter

Kepincut Cinta Dokter
Malam Bergairah


__ADS_3

...“Itu Maura sama Nuel,” ujarnya menjelaskan....


...“Nuel?”...


...Selamat Membaca...


“Iya, namanya Immanuel, mereka putus karena menyadari bahwa cinta mereka nggak mungkin bisa bersatu.” Naura menjelaskan singkat siapa yang berdiri di sebelah saudara kembarnya itu.


“Owh, beda keyakinan?” simpul Abhi.


Naura mengangguk, “dan saat lagi patah hati, Rara bertemu Alby. Saat itu kak Alby masih punya kekasih, dan kekasihnya mantannya kak Kenzo,” jelas Naura.


“Jadi pelakor dong!” selidik Abhi, yang langsung dihadiahi cubitan oleh Naura.


"Mantannya bunuh diri!" jelas Naura, berteriak sambil menatap suaminya kesal.


“Coba ngasihnya ciuman, bukan cubitan, Yang!” Abhi mengusap tangannya yang terasa panas karena cubitan dari Naura.


“Habisnya kamu ngatain saudaraku sembarangan! Aku nggak terima.” Naura berdiri, lalu berjalan ke arah rak yang menempel di dinding tak jauh dari posisinya semula. Ia berjinjit untuk mengambil salah satu album foto yang ada di sana.


“Hati-hati, Sayang!” tegur Abhi sambil berjalan mendekati Naura. Kemudian mengambilkan album foto yang dimaksud Naura.


“Ini kan?” tanya Abhi lalu membawa album foto itu ke meja kerjanya.


“Terima kasih, Suamiku—yang pengertian,” puji Naura, mengekori langkah Abhi yang kembali duduk di meja kerjanya.


“Ini semua foto-foto perjuangan kisah cinta Rara.” Naura membuka sampul hard cover album foto tersebut.


“Lebay, ih,” sahut Abhi.


Naura tidak peduli dengan cibiran suaminya. Dia menunjuk satu persatu foto yang ada di album tersebut. Ada foto dirinya juga, tapi dalam itu lebih didominasi foto Alby dan Maura. Dia hanya sebagai pemanis saja.


“Setelah putus dari Nuel. Beberapa hari setelahnya kita pergi ke Banjarmasin. Tempat kak Riella dan kakak ipar tinggal. Dan di sanalah pertemuan pertama kali Rara dan Alby ... dari pertemuan awal itu kita berhubungan dengan baik. Saling bertukar nomor telepon, saling memberi kabar, balas-balasan status WA. Awalnya sih, Rara memang belum ada rasa sama kak Alby. Gadis itu aneh ... meski sering gonta-ganti pacar, tapi yang paling serius cuma sama Nuel. Rara juga sebenarnya sulit membuka hati. Entah apa yang ia sembunyikan, kadang aku perlu memahaminya lebih teliti lagi." Naura menjelaskan sedikit tentang sifat saudaranya, tidak menjelek-jelekan, tapi dia ingin suaminya paham.


"Selang beberapa bulan, kami mendapat kabar jika kekasih Alby meninggal karena bunuh diri—


“Waow, menarik sepertinya!” Abhi menampilkan wajah terkejut saat mendengar penjelasan istrinya.


“Jangan dipotong dulu! Dan ini wajah gadis itu! Namanya Reva!” telunjuk Naura menunjuk foto bersama yang di ambil di depan tenda. Foto itu diambil saat mereka datang ke Banjarmasin.


“Cantik!” celetuk Abhi.


“Cantik mana sama istrimu?” tanya Naura dengan tatapan marah. Jelas saja cemburu, suaminya itu memuji wanita lain di depan matanya.


“Berhubung kamu istriku yang halal untuk aku nikmati, ya jelas cantikan kamu lah!” jawab Abhi lalu mengecup punggung tangan istrinya. “diginiin kan, halal!” ujarnya sambil mengecup berulangkali tangan Naura.


“Dasar!” cibirnya sambil memukul pelan lengan Abhi.

__ADS_1


Pria itu meringis, memperlihatkan giginya yang rapi, lalu meminta Naura untuk melanjutkan ceritanya yang seperti sangat menarik untuk ia dengarkan, dan dia tidak boleh melewatkan itu.


“Kak Alby terpukul sekali saat kak Reva meninggal. Rara yang kasihan mencoba menguatkan kak Alby. Setiap hari ia mengirimkan kata-kata penyemangat untuk pria itu. Sampai akhirnya Rara benar-benar jatuh cinta sama kak Alby, sweet, kan?” Naura mengambil nafas lalu bersiap lagi menceritakan tentang masa bahagia saudara kembarnya.


“Tepat saat liburan musim dingin selesai dan waktunya kita kembali ke Paris untuk kuliah. Kak Alby datang, ikut mengantar kita ke bandara, mengatakan pada Rara kalau dia mencintainya. Konyol sekali hari itu!” Naura menggeleng, sambil tersenyum tipis, mengingat kebodohan Alby.


“Kamu juga melihatnya?” tanya Abhi, yang masih serius mendengar setiap kata yang keluar dari bibir istrinya.


“Ya, aku melihat semua perjuangan cinta Rara.”


“Mereka jadian? Akhirnya resmi pacaran, begitu?” tanya Abhi, yang penasaran dengan status keduanya.


Naura mengangguk, “Dan hampir setiap bulan kak Alby datang menemui Rara. Sampai waktu kita hampir wisuda, pria itu sulit untuk dihubungi.”


“Apa mereka sempat melakukan hubungan badan gitu?” Abhi mencoba menebak, bagaimana cara mereka berhubungan.


“Kepo, deh?”


“Iyalah, kalau sempat kan rugi Maura. Ayolah kamu ceritanya jangan setengah-setengah, aku kan penasaran, Sayang.” Abhi berusaha membujuk.


“Itu masalah mereka, aku tak mau ikut campur. Tapi kalau melihat mereka berdua melakukan ciuman, sudah tidak bisa dihitung dengan jari.” Naura tersenyum saat melihat bibir Abhi, yang seolah melambai meminta untuk dikecup.


“Terus kenapa Alby pergi tanpa kabar?” selidik Abhi setelah cukup lama hening.


Naura mengambil napas dalam, wajahnya muram saat teringat Maura yang begitu terpukul atas kabar yang ia terima. “Alby menghamili wanita lain,” lirihnya.


“Rara kalut saat itu! Beberapa event yang seharusnya diikuti ia relakan begitu saja. Dia seolah tak lagi kenal lagi dunia design. Padahal kalau dia ikut, mungkin saat ini sudah terkenal ajang Internasional.”


“Belum rezeki, Sayang!” sahut Abhi.


“Iya, mungkin itu! Semua sudah diatur oleh Allah!”


“Terus gimana ceritanya Maura bisa percaya lagi sama Alby?” tanya Abhi yang masih penasaran dengan kisah selanjutnya tentang Maura.


“Ih, kepo deh! Dah ayo tidur sudah malam!” Naura menepuk tangan suaminya, mengisyaratkan pada Abhi untuk menyudahi obrolannya malam ini.


Abhi menatap ke arah jam dinding yang hampir menunjukan angka 11 malam. Ia beranjak dari tempat duduknya, berjalan mendekat ke arah kursi Naura. Dengan gerakan pelan, seolah takut tergores, ia mengangkat Naura ke gendongannya.


Naura memberikan senyuman malu-malunya ke arah Abhi. Ia ingin berkata, inilah yang sedari tadi dia tunggu.


“Hari ini jadwal kita kan?” bisik Abhi di depan wajah Naura, sambil berjalan menuju kamar, di mana ranjang queen size itu siap untuk ring pertarungan.


“Em, jadwal? Jadwal apa?” goda Naura dengan suara kecil, matanya memicing ke arah Abhi. Sedangkan tangannya kini berhasil melingkar di tengkuk suaminya. Setelah itu ia memperlihat senyum cerah, memperlihatkan barisan giginya.


“Pura-pura lupa! Padahal sedari tadi aku tahu kamu menungguku. Untuk—


“Sttt … tenang, aku tidak suka berisik," potong Naura.

__ADS_1


Abhi kemudian meletakkan tubuh Naura ke ranjang, sama seperti tadi, gerakannya begitu lembut. “Tapi yang berisik itu semakin nikmat!” bisiknya di samping telinga Naura.


Abhi yang sudah terjaga dari perasaan gairah, segera meng-klaim bibir merah Naura, mengobati rasa lapar setelah beberapa hari berpuasa, ia selalu teringat ucapan dokter untuk tidak terlalu sering melakukannya.


“Aku akan selalu mencintaimu.” Abhi mendaratkan kecupan di kening istrinya, cukup lama hingga seulas senyuman terbit di bibir Naura. Meluapkan ledakan hatinya yang ikut berbunga- bunga.


Bisikan-bisikan cinta dari Abhi, membuat Naura membenamkan diri di kehangatan malam yang sudah pria itu ciptakan. Tidak ada lagi yang bisa Naura ucapkan selain membalas ucapan Abhi, “Aku lebih mencintaimu, Sayang,” balasnya dengan setengah suara.


Bulan yang mengintip di ventilasi udara turut menatap bagaimana cara mereka menyampaikan perasaan cinta yang mereka rasakan saat ini. Malam yang semakin dingin, tak mampu menghentikan kegiatan mereka. Bahkan pendingin udara yang biasanya mati, kini mulai dinyalakan Abhi. Pria itu tidak tega melihat peluh membasahi tubuh istrinya.


Gairah memuncak di antara mereka, hasrat keduanya makin meningkat. Kenikmatan memenuhi keduanya, mata mereka buta, seolah tak pernah menganggap ada janin yang sedang tumbuh di rahim Naura.


Di penghujung gairah yang mereka rasakan, Abhi mendekap tubuh istrinya dengan erat. Saling mendengarkan napas mereka yang masih terdengar cepat. “Terima kasih, kamu sungguh nikmat sekali,” bisiknya yang membuat Naura tersenyum tipis sambil menganggukan kepala.


"Sayang ... kalau aku tahu—menikah akan se-menyenangkan ini. Kenapa aku tidak mencarimu dari dulu, ya?" ucap Abhi, meletakan dagunya di pundak Naura, menikmati aroma tubuh istrinya.


"Salah sendiri!" cibir Naura.


"Lalu, kenapa kamu tidak menikah di usia muda? kamu menikah hampir 33 tahun, loh?" Abhi mencoba mencari tahu, kenapa Naura tidak ingin menikah muda seperti wanita lainnya.


"Aku takut gagal, Bhi ... bukannya aku pernah bilang ke kamu ya?" dengan mata mengantuk hebat, Naura menjawab pertanyaan suaminya. "Kamu jangan pernah berpikir untuk meninggalkan aku, seperti kak Alby dulu!" mata Naura terpejam. "Kalau kamu melakukan hal itu padaku, kamu akan menerima rasa sakit yang bahkan belum pernah kamu bayangkan sakitnya seperti apa. Cukup Hanif yang terlambat mencintaiku! Kamu jangan menyia-nyiakan aku!"


"Wiiihhh ... ngancam!" cibir Abhi mengecup pundak Naura.


"Mau nyoba?" tanya Naura, matanya kembali terbuka lebar.


"Ampun, Nyai!" goda Abhi, yang membuat wajah Naura masam. Dia tidak suka suaminya itu memanggilnya dengan nama itu.


"Aku bukan pria seperti itu! Kenalilah aku dengan baik, Sayang," ucap Abhi.


"Kan, siapa tahu, kamu dapat ancaman dari orang untuk ninggalin aku!" Naura mulai berpikiran tak wajar.


"Kamu sinetron banget! Tapi jika itu benar terjadi aku memilih mati," balas Abhi suaranya terdengar serius.


"Kalau kamu mati, aku sama siapa? Siapa yang akan memberi nafkah anak kita, Bhi?" Naura terkekeh, kemudian mengalihkan kepala Abhi ke bantal. Dia berbalik, tidur miring.


Abhi yang melihat tingkah Naura lekas menutupi tubuh istrinya, ia khawatir bukan hanya wanita cantik itu yang masuk angin. Tapi dia juga.


"Tidurlah, Sayang! Jangan begadang terus!" peringat Abhi


"Kan kamu yang buat aku begadang!"


Abhi tersenyum, saat melihat ke arah jam dinding yang sudah menunjukan angka satu dini hari.


"Selamat malam, selamat tidur, Sayang ...."


...-------- BERSAMBUNG --------...

__ADS_1


Aku masih volos, maap keun kalau feel nya nggak ngena 😏😏


__ADS_2