
Happy reading jangan lupa untuk tekan like dan voters ya.🙏👍
POV ELLA
Seminggu telah berlalu setelah aku selesai wisuda dan sekarang aku sudah resmi menjadi lulusan kedokteran UI. Gelar mahasiswi terbaik pun aku dapatkan, inilah pencapaianku selama kurang lebih empat tahun. Dan aku dengar kabar dari kak Damar bahwa mas Erik dan Riza akan melangsungkan pernikahannya satu minggu lagi, tepatnya nanti hari jum'at, aku memang harus ikhlas melepaskan mas Erik setidaknya untuk bayi yang ada di perut Riza, dan aku sendiri akan pergi dari Indonesia melanjutkan kuliahku di Western University, Sydney, Australia.
Jurusan sudah aku putuskan, dan aku akan mengambil spesialis anak, aku tidak mau mengambil spesialis kandungan, aku takut bayang- bayang mas Erik akan selalu ada diingatanku. Mungkin ini jalan yang harus ku tempuh, mimpiku menjadi spesialis kandungan harus kupupus. Aku sakit hati, pengen marah, tapi percuma semua sudah terjadi, cinta suci yang aku impikan kini musnah bersama sakitnya hati ini,
" Hufff....ternyata tiga tahun njagain jodoh orang, " desahku saat memasukkan baju ke dalam koper, besuk adalah hari keberangkatanku ke Sydney, ayah mempercayakan sepasang suami istri untuk menjaga diriku di sana. Dan kak Damar sudah menyiapkan semuanya, termasuk rumah yang akan aku tempati. Dia tidak akan mengantar aku ke sana, karena aku melarangnya mengingat ini adalah hari- hari menunggu kelahiran anak pertamanya.
" La, bolehkah aku masuk? " ucap Sashi dari depan pintu.
" Masuklah, sejak kapan kau minta izin untuk masuk ke kamarku, hum? " ucapku menggodanya.
" Benarkah kau akan meninggalkanku La, aku tak percaya ini, apa kau tak ingin melihat keponakanmu ini lahir dulu, " ucap Sashi duduk di ranjang tempat tidurku.
" Jangan buat aku berubah pikiran Shi, " ucapku memperingatinya, dia hanya tersenyum tipis
" Sayang, bilang ke mommy mu biarkan aunty mu ini pergi, " ucapku berjongkok di depan Sashi sambil mengelus perut Sashi yang terlihat buncit.
" La, aku khawatir kamu akan disakiti lagi di sana, " ucapnya.
" Ceh ! siapa yang mau menyakiti aku, niat gue untuk kuliah dan melupakan kenangan pahit ini, bukan untuk mencari jodoh, " ucapku menjelaskan pada Sashi, agar dia tidak mengkhawatirkan aku.
" Siapa tau nanti bertemu dengan jodohmu di sana " ucap Sashi, " kalau dapat yang bule kan lumayan bisa memperbaiki keturunan, " lanjutnya menggodaku.
" Kamu ini ya,,, sudah pergilah dari kamarku, aku mau melanjutkan pekerjaanku dulu, " ucapku mengusir Sashi.
" Pengen peluk tapi nggak bisa, " ucapnya.
" Sini, " aku pun merentangkan tanganku memeluknya dari samping, tak lama kak Damar masuk ke dalam kamarku, menganggu obrolanku dengan Sashi.
" Apa kamu memberitahu Erik kalau kamu ke Australia La? " tanya kak Damar yang sudah duduk di samping Sashi.
" Untuk apa aku memberi tahunya Kak, kita sudah tidak ada urusan lagi Kak, " ucapku menjelaskan pada kak Damar, dia hanya mengangguk mengerti.
" Semua sudah disiapkan oleh assisten Kakak, nanti kamu tinggal atur ulang saja jika tidak menyukainya, " ucap kak Damar memberitahuku
" Ingat ya, jaga dirimu di sana jangan sampai terjerumus ke dunia malam, " ucap pesan kak Damar panjang kali lebar ke padaku.
" Iya Kak , " jawabku singkat.
__ADS_1
" Mas, boleh nggak aku tidur sama Lala malam ini, " ucap Sashi berbicara pada kak Damar,
" Heh, siapa yang akan memeluk Mas nanti kalau Mas kedinginan, " ucap kak Damar.
" Kamu tau sendiri baby G ini nggak mau diam kalau nggak dielus papanya, kasian kamu nanti, " lanjutnya sambil mengelus perut Sashi.
" Sayang itu ada Anna dan Panji di bawah, " potong ayah saat masuk ke dalam kamarku.
" Benarkah Yah, baiklah aku akan segera turun ke bawah, " aku pun segera menuju ruang tamu menemui mereka, meninggalkan kak Damar dan Sashi yang masih berada di kamarku, seketika aku melihat anak perempuan berumur sekitar dua tahunan.
" Hallo Joy, " ucapku pada anak Anna dan Panji lalu segera memeluk dan menggendongnya.
" Kenapa di sini, kita duduk di ruang tv yuk, itu ada aunty Sashi sama uncle Damar, " ucapku pada Joy yang begitu menggemaskan dengan ikat rambut di kepalanya.
Aku segera mengajak Anna dan Panji duduk di depan ruang tv, duduk di bawah dengan alas karpet bulu, kecuali Sashi yang duduk di sofa karena merasa kesulitan jika duduk di bawah, sejenak aku bisa melupakan kesedihanku saat sedang bersama mereka, kami seperti teman rasa saudara, saling menghibur dan mengingatkan, canda dan tawa dari kedua pasang keluarga ini selalu bisa membuatku tertawa.
IRI. Tentunya pasti iri melihat mereka bahagia, tapi aku meyakinkan hatiku, bahwa tidak akan lama lagi, aku pasti juga akan merasakannya.
Setelah jam sepuluh malam Anna dan Panji ijin untuk pulang karena anaknya sudah rewel mau tidur.
Aku segera masuk ke dalam kamar melanjutkan pekerjaanku yang belum selesai, karena terhenti saat kedatangan Sashi tadi, sampai pukul dua belas malam aku baru menyelesaikan semuanya, malam ini adalah malam terakhir aku bermalam di sini, aku berjalan keluar kamar menuju lantai satu, lalu menghampiri pintu kamar yang tepat di samping tangga, mengetuk pintu kamar ayah.
" Yah, bolehkah aku tidur di sini? " tanyaku setelah pintu terbuka.
" Yah, bisakah Ayah menceritakan tentang pertemuan ayah dengan Bunda sampai akhirnya Ayah menikah dengan Bunda, " ucapku pada ayah.
" Hehehe... katanya mau tidur? kenapa juga harus cerita tentang Bunda, " ucapnya bertanya padaku, yang membuat aku bingung ingin menjawab apa, aku terdiam membisu sampai ayah mulai berbicara.
" Cerita Ayah dan Bunda begitu indah, saking indah nya Ayah sampai lupa, hehehe, " lanjut ayah sambil terkekeh.
" Tidurlah, kamu harus menyiapkan tenaga buat perjalanan mu besok. " lanjut ayah, tak lama akupun tidur di samping ayah dengan memeluk guling.
Pagi pun datang, aku terbangun dari tidur panjangku, kuraba sampingku, ternyata ayah sudah tidak ada di sisi kananku, segera aku keluar dari kamar ayah dan masuk ke dalam kamarku untuk segera mandi, karena ayah akan mengajakku untuk mengunjungi makam bunda.
" Sayang, ayo sarapan dulu, Ayah bakal kangen suasana pagi seperti ini, " ucap ayah saat melihatku menuruni anak tangga, aku pun duduk bersama di kursi meja makan, menikmati sarapan pagi dengan mereka untuk terakhir kalinya.
Setelah selesai sarapan aku dan ayah segera pergi menuju ke makam bunda, sampai di makam aku mendoakan bunda, air mata sudah turun membasahi pipiku, lalu aku menyuruh ayah untuk menungguku di mobil, ayah menurut dan meninggalkanku sendirian di simi, aku mengelus nisan yang bertuliskan safira, mungkin sudah tidak terlihat jelas ukirannya karena dimakan usia.
" Bunda terima kasih sudah mengantarkan Lala ke dunia ini, dunia yang penuh warna, walau aku tak sempat mengelus wajah Bunda. Aku malu padamu bun, malu karena tidak bisa meneruskan keinginanmu, aku terpaksa menghapus keinginanmu agar aku bisa terus berjalan ke depan, " air mataku pun sudah jatuh tak tertahankan.
" Bunda andai Allah dulu mengizinkan kita untuk bertemu, mungkin aku tak akan selemah ini, " ucapku lirih dengan masih sesenggukan.
__ADS_1
" Maafkan aku Bunda mungkin beberapa tahun ke depan aku akan jarang berkunjung ke sini, aku ingin kuliah di Sydney Bun, aku ingin menjadi dokter spesialis anak, aku harap bunda merestuiku, " ucapku pada makam bunda seolah bunda benar-benar mendengar ucapanku.
" Aku pamit ya Bun, Lala harap bunda juga bahagia di sana, " ucapku lalu berdiri melihat makam bunda, dan meninggalkannya.
Setelah dari makam bunda aku pun segera bersiap mengingat jadwal penerbanganku nanti pukul satu siang.
Ayah, kak Damar, Sashi, Anna, Panji, Joy ikut mengantarkanku ke bandara, sebenarnya aku tak ingin diantar oleh mereka, aku tak ingin melihat drama tangisan di bandara nanti dan benar saja baru aku akan berdiri menyalami mereka, Sashi dan Anna pun sudah banjir air mata,
" Haduch.... kalau kalian seperti ini bagaimana aku bisa pergi, " ucapku sambil memeluk mereka berdua.
" Aku pergi hanya tiga tahun, setelah itu aku akan menjadi dokter untuk anak-anak kalian, " ucapku sengaja membubuhi dengan candaan, aku pun tak dapat menahan derai air mataku,
" Sudah ya, biarkan aku pergi jangan menangisi kepergianku seperti ini, " ucapku.
" Hallo Joy, aunty pergi dulu ya, jaga mommy mu," ucapku pada anak yang digendong panji,
" Gue pamit ya Nji, jaga Anna dan keponakkan gue, gue doakan kalian bahagia selalu, " ucapku sambil memukul pelan lengannya.
" Baiklah, carikan uncle untuk Joy di sana ya, " canda Panji, aku pun memukul keras lengannya.
" Kak Damar, Lala berangkat ya, jaga ayah ya kak, selalu kabari Lala, bila ada sesuatu terjadi pada ayah, " ucapku lirih memeluk kak Damar, lalu melepaskan pelukanku dan berganti memeluk ayah.
" Ayah..." ucapku yang tidak bisa menahan tangisku.
" Maafin Lala yang selalu membuat Ayah khawatir, Lala janji ini yang terakhir Lala pergi jauh dari Ayah, setelah ini Lala akan berada di sisi Ayah, " ucapku yang menangis di pelukkan ayah.
" Lala pergi ya Yah, doakan Lala, agar Lala cepat lulus, " aku melepas pelukkanku pada lelaki yang barambut putih itu. tak lama ayah menyeka air mataku.
" Jaga dirimu di sana, ayah yakin kamu akan segera mendapatkan kebahagiaanmu, " aku pun tak bisa lagi menjawab ucapan ayah, aku segera memeluknya lagi.
" Ayah akan selalu berdoa untuk itu, " lanjutnya. aku pun melepaskan pelukkanku.
" Oke bye,,,bye,,, semuanya assalamu'alaikum, " ucapku sambil berjalan pelan meninggalkan mereka.
" Wa'alaikumsalam, " ucap mereka lirih.
" Bentar ada yang lupa, " ucapku kembali berbalik dan menghampiri sashi,lalu berjongkok mensejajarkan perutnya.
" Baby G aunty pergi ya, tunggu aunty tiga tahun lagi, aunty yakin kamu cantik seperti mommy mu dan pasti cerewet seperti papimu. " ucapku lalu mengelus dan mencium perut Sashi, lalu berdiri dan berjalan meninggalkan mereka belum sampai sepuluh langkah aku berjalan, seseorang menghentikanku,
" Ella, " ucapnya.
__ADS_1
Terimakasih atas dukungannya jangan lupa like, vote, dan coment ya🙏😊