
Happy reading jangan lupa untuk tekan like dan votes ya.🙏👍
.
.
.
.
Malam harinya, hujan turun sangat deras disertai angin kencang, memberikan sentuhan dingin di tubuh Ella yang sedang menatap ke arah luar jendela. Seolah alam turut mengucapkan duka padanya.
Sudah berkali-kali Erik mengajaknya untuk duduk diranjang, tapi sedari tadi juga Ella menolaknya.
Pandangannya masih menatap kosong hamparan tanah yang disiram air hujan itu, ingatannya kembali pada masa kecilnya, dia selalu duduk berdua dengan ayahnya di kursi taman itu, setiap pagi ayahnya selalu menyuapi bubur ayam di sana. Kursi besi tua yang dulu bewarna putih sekarang berubah menjadi warna hitam.
Ella masih asyik dengan dunianya, seolah dia sedang berimajinasi dengan pikirannya sendiri, sedangkan Erik dari tadi sudah khawatir dengan kondisi Ella, karena suhu tubuhnya yang semakin panas.
“Sayang ... Ayo kita duduk, kamu butuh istirahat tubuhmu hampir 40 derajat,” ucap Erik dengan lembut, tapi Ella tidak menjawab ucapan suaminya, Ella hanya diam masih menatap kosong hamparan taman itu.
Erik menyerah untuk mengajak Ella kembali ke ranjang, dia berjalan hendak keluar kamar untuk mengambil obat, tapi suara tubuh Ella yang terjatuh menghentikan langkahnya, Erik langsung menghampiri Ella dan mengangkat tubuh lemah itu ke ranjang. Setelah di cek demam Ella mencapai 39,8 derajat, membuat Ella kehilangan kesadarannya.
Sudah 3 jam lebih Ella terbaring lemah di ranjang miliknya, Erik yang berada di sampingnya, terus menggenggam jamari istrinya, menyalurkan kekuatan pada Ella, suara isakkan kecil dan gumaman berkali-kali keluar dari bibir istrinya, Erik yang mendengar istrinya seperti itu merasa sedih, hatinya seperti terkena pisau belati tepat ditengahnya, dia terus menjaga Ella, mengganti handuk kecil yang menempel di dahinya saat handuk itu kembali dingin.
“Sayang...” Erik membelai lembut kepala Ella saat mendengar Ella kembali mengeluarkan isakkannya, bibir Ella bergumam tidak jelas, memanggil-manggil nama ayah. Erik menatap wajah pucat pasi itu, bingung mau pakai cara apalagi agar Ella bisa tenang.
“Sayang kamu harus kuat, tidak peduli apapun yang terjadi padamu, ingatlah Mas akan selalu berada disampingmu, kamu boleh bersedih saat ini, tapi ingatlah Mas juga tidak bisa melihatmu seperti ini,” ucapnya lirih yang tidak bisa didengar oleh Ella, karena dia belum sadarkan diri.
Erik tidak melanjutkan ucapannya, ketika mendengar langkah kaki mendekat ke arahnya.
“Kau harus lebih kuat dari Ella, jika kamu lemah seperti ini, siapa yang akan menguatkan hatinya,” Erik menoleh ke sumber suara, menatap laki-laki yang matanya masih terlihat merah itu.
“Iya kamu benar,” ucapnya pelan.
__ADS_1
“Tapi aku juga lemah melihatnya seperti ini, kekuatanku ada pada senyumnya, jika dia menangis hatiku yang akan lemah,” Damar yang mendengar Erik langsung berdecih pelan, memang terlihat lebay ucapan yang keluar dari bibir Erik.
"Separuh nyawa kita akan ikut terbawa pasangan kita, kemana pun dia akan pergi," ucapnya lagi.
“Kau istirahatlah! jangan terus mengoceh tidak jelas, Biarkan aku yang menjaga adikku,” perintah Damar.
“Dia istriku! Aku tidak akan jauh darinya saat dia sakit,” Erik berucap sambil mengeluarkan senyum khasnya.
“Tapi kamu baru sampai dari Australia, bisa jadi saat Lala tersadar, kamu justru yang akan berbaring di brankar rumah sakit."
“Tenanglah! Walau begini aku masih sehat dan aku tidak punya riwayat penyakit apapun, bahkan jetleg pun menjauh dariku, karena kamu tau apa?” tanyanya ambigu pada Damar.
“Karena aku seorang dokter, sudah diberi imun lebih oleh Allah,” jelasnya pada Damar yang diam menatapnya.
“Terserahlah apa katamu, tapi pesanku, jika kamu lelah segera pergilah beristirahat, biar aku yang menjaga Lala,” pesan Damar.
“Baiklah kakak ipar, kamu memang pengertian,” Damar yang mendengar itu segera menatap ke arah Erik.
“Tidak salah aku merestuimu untuk menjadi adik iparku,” ucapnya sambil menepuk keras pundak Erik.
“Jangan panggil aku dengan sebutan itu, ingatlah usiaku lebih tua darimu 3 bulan,” Damar menoleh ke arah Erik, tersenyum tipis kenarah adik iparnya itu.
“Tua-tua keladi,” cibirnya lalu segera meninggalkan Erik di kamar adiknya.
Erik tidak menanggapi ucapan dari Damar. Dia menatap wajah istrinya yang belum sadarkan diri itu, padahal jam di dinding sudah menunjukkan pukul 11 malam, Erik lalu berjalan di samping sisi kanan Ella, merebahkan tubuhnya disana. Dia menghadap samping ke arah Ella.
“Tiga hari tidak melihat senyumanmu,” ucapnya lirih sambil menciumi pipi Ella.
“Berjanjilah! Besok kamu akan menyambut Mas dengan senyuman,” lanjutnya berbisik di telinga Ella.
Erik meraih ponselnya, menyalakan musik penghantar tidur, supaya matanya segera terpejam, tapi sudah 30 menit musik itu menyala, matanya tidak kunjung tertutup, dia lalu menoleh lagi ke arah Ella.
“Mas nggak bisa tidur tanpa pelukkanmu, semerdu apapun musik itu, tapi tetap saja Mas tidak bisa tidur, bisakah kau memelukku?” ucapnya mengajak bicara pada Ella yang masih memejamkan matanya. Erik meletakkan kepala Ella di lengannya dan melingkarkan tangan Ella diperutnya.
__ADS_1
“Seperti ini lebih baik,” ucapnya sambil menarik selimut, lalu memejamkan matanya diiringi musik dan pelukan hangat dari Ella.
*****
Pagi harinya Erik terbangun saat suara alarm ponselnya berdering, dia meraba ranjang sampingnya, Ella sudah tidak ada disampingnya, dia segera melihat ke arah jendela, bahkan sinar matahari belum terlihat, kemana istrinya itu pergi?
“Yang...” panggilnya siapa tau dia berada di kamar mandi.
Setelah menunggu beberapa menit Ella tidak kunjung datang, dia segera menyadarkan dirinya dari tidur, mengecek ke kamar mandi, tapi ternyata istrinya tidak sedang berada di sana. Dia segera mengenakan celana panjangnya dan segera berjalan keluar mencari Ella.
Jam masih pukul 5 pagi, tidak mungkin juga dia berada di makam, Erik bertanya pada pelayan yang terlihat di meja makan, mereka juga tidak melihat Ella keluar rumah, pandangan Erik tertuju pada pintu coklat sebelah kirinya, perlahan dia melangkahkan kakinya ke arah kamar ayah Danu.
“Yang ...” panggil Erik saat sampai di depan pintu kamar, namun tidak ada sahutan dari dalam kamar, karena rasa khawatirnya Erik pelan -pelan membuka pintu kamar itu.
Terlihat Ella sedang duduk di atas sofa di ruangan itu, tertawa menatap album foto yang ada di tangannya. Ella yang menyadari ada orang yang masuk segera menutup album itu.
“Hay Mas...” sapanya dengan nada yang berbeda dari biasanya.
“Duduk sini deh Mas!” Perintahnya sambil menepuk kursi kosong sofa yang ada di sampingnya. Erik mendekat ke arah Ella.
“Mas mencariku ya? Maaf aku tadi melihat Mas tidur sangat nyenyak jadi aku menyelimuti Mas lagi,” ucapnya, ntah kenapa Erik melihat istrinya bukan seperti Ella yang selalu ada bersamanya.
“Sayang...” Erik mendekat dan duduk di samping Ella, merangkul pinggangnya yang membuat Ella memukul lengan Erik karena merasa tidak nyaman.
Erik memutar pelan kepala istrinya agar Ella menghadap ke arahnya.
“Ada apa denganmu?” Tanya Erik yang melihat Ella seperti kebingungan.
“Aaaaa.....” Ella seperti baru saja tersadar dari lamunanya.
“Ada apa denganmu?” Ulang Erik bertanya pada Ella.
“A-aku tidak apa-apa, aku hanya melihat foto ini,” ucap Ella yang seperti orang kebingungan.
__ADS_1
Erik menghela nafas panjangnya, menatap wajah Ella, lalu segera keluar meninggalkan Ella sendiri di kamar ayah Danu.
Terimakasih sudah membaca, semoga suka cerita kisah lika-liku Erik dan Ella. Saya berharap readers mau memberikan dukungan like dan votes untuk saya .🙏👍