
Happy reading jangan lupa untuk tekan like dan voters ya.🙏👍
POV ELLA
Setahun telah berlalu, aku pun semakin bersemangat karena tak lama lagi aku akan segera selesai kuliah, ini tahun ajaran terakhir aku belajar disini. hubunganku dengan Zie semakin dekat, aku sering pulang dan pergi kekampus bersama. Bu Lusi juga tau jika Zie mencintaiku dia bahkan mendukungnya untuk mendapatkan hatiku. Dan aku sudah bisa mencintainya walau masih belum yakin sepenuhnya, tapi dia telah berhasil mencuri hatiku dengan caranya sendiri, aku merasa hampa saat sehari saja tak kulihat wajahnya, dia memang bukan tipe pria romantis seperti mantanku sebelumnya, dia selalu apa adanya dan itulah yang aku suka darinya.
Siang ini aku berjanji pada Zie akan datang ke apartemennya. Aku ingat hari ini adalah hari ulang tahunnya, jadi sebelum kesana aku berniat membelikan dia hadiah kecil untuknya.
Setelah pulang kuliah aku mampir ke salah satu mall di sydney, setelah melihat- lihat dan mencari barang apa yang akan aku berikan akhirnya aku memilih jam tangan Rolex bewarna hitam, mengingat dia tidak pernah menggunakan jam tangan. aku yakin sebenarnya dia mampu membeli itu, karena dia diam- diam menginvestasikan sebagian gajinya untuk investasi bisnis properti di Jakarta, memang sangat jauh dari materi yang dia pelajari, tapi ntah kenapa dia tertarik dengan bisnis yang ditawarkan sahabatnya.
" Nggak mau yang model cewek sekalian mbak? ini ada couplenya hlo..." tawar pelayan yang ada di toko itu.
" Boleh lihat dulu kak, " ucapku. tak lama pelayan itu menyerahkan jam tangan Rolex dengan warna dan model yang sama dengan yang aku pilih tadi.
" Nggak buruk juga kalau aku dan Zie yang pakai, " ucapku dalam hati.
" Baiklah, aku ambil sepasang ya mbk. " ucapku dan pelayan itu segera membungkusnya.
Aku pun segera meninggalkan mall itu setelah membayar, dan segera melajukan mobilku ke arah apartemen Zie. Hanya chezee cake dan beberapa makanan yang bisa ku buat jadi aku hanya membawa itu, itupun resepnya aku dapat setelah melihat tayangan Youtube.
" Semoga hasilnya tidak mengecewakan. " ucapku sambil mengemudikan mobil.
Aku segera menekan bel pintu apartemen Zie bernomer 315 itu. tak lama pintupun terbuka,
" Selamat siang, assalamu'alaikum, " ucapku saat melihat wajahnya di depanku.
" Wa'alaikumsalam, ayo masuk, " ucap Zie lalu segera menutup pintunya kembali setelah aku masuk kedalam rumah.
" Sudah makan siang? " tanyaku. aku pun segera menuju dapurnya karena ingin menyiapkan cake dan makan siang.
" Belum, " jawab Zie lalu duduk di sofa depan tv.
Aku segera menyiapkan cake yang kuberi lilin 24th. setelah kunyalakan lilinya segera ku panggil Zie.
" Ayo makan, sudah aku siapkan di meja, " ucapku sambil menghampirinya yang sedang melihat siaran tv.
" Kamu kok repot- repot bawa makan siang sich, " ucap Zie saat berjalan menuju meja makan.
" Iya dong ini kan hari spesial buat kamu, " ucapku.
Tak lama Zie pun kaget saat melihat cake yang ada dimeja makan dan tersenyum kearahku.
" kamu? " aku pun mengangguk
" Selamat ulang tahun Zie, semoga sehat selalu, tiup lilinya " ucapku sambil menyerahkan cake didepan wajahnya.
" Cuma berdua saja ini? nggak ngundang tetangga biar bantuin makan, " ucapnya dengan candaan mengingat Nindi yang hobbi makan namun badanya tetap kecil.
" Nggak perlu sepertinya, " ucapnya sambil tersenyum, lalu Zie segera meniup lilin di depannya.
" Kok bisa tahu hari ulang tahunku? "
__ADS_1
" Aku sudah dua tahun lebih mengenalmu, dan kamu satu-satunya pria yang dekat denganku, mana mungkin hari ulang tahunmu saja aku tidak tau, " ucapku.
" Baiklah. Potongan cake pertama harusnya untuk bundaku, berhubung dia tidak ada jadi aku berikan ke calon istriku saja, " ucap Zie yang ku tanggapi dengan senyuman.
" Yakin banget kalau aku akan mau jadi calon istrimu, " godaku pada Zie.
" Iya dong, kalau kita yakin pasti allah mengabulkannya, nih makan sendiri, " ucapnya.
" Ih... nggak romantis banget, " makiku padanya
" Hahahah ....apa kau ingin aku berubah menjadi pria romantis, " tanya Zie
" Aku suka kamu apa adanya, " sahutku padanya.
" Benarkah kau menyukaiku? " ucap Zie sambil menatap mataku
" Belum sepenuhnya, " jawabku cepat sambil tertawa mengalihkan topik pembicaraan.
Tak lama kudengar suara ponsel Zie berdering, dia pun segera mengambil dan mengangkatnya.
" Assalamu'alaikum nak, " kudengar bunda Zie mengucapkan salam
" Wa'alaikumsalam bun, "
" Selamat tambah usia nak, semakin dewasa, semakin didekatkan dengan jodohnya, dan cepat jadi dokter bedah terbaik ya, " ucap bunda Zie yang mendoakan anaknya.
" Amin terima kasih bunda, tapi bunda orang ke dua yang mengucapkan selamat padaku! " ucap Zie
" Benarkah, siapa yang pertama? " tanya bunda Zie, lalu Zie menyuruhku mendekat kearahnya namun aku hanya menggeleng, akhirnya dia yang berpindah kekursi sebelahku.
" Apa bunda mau berkenalan dengannya?" tawar Zie.
" Kalau dia mau, bunda akan senang sekali sayang, " Zie pun menyerahkan ponselnya padaku. mau tak mau aku harus berbicara dengan bunda Zie.
" Assalamu'alaikum tante? " ucapku saat pertama kali melihat bunda Zie.
" Wa'alaikumsalam nak, Masya Allah cantiknya, benarkah kamu orang yang selalu dipuji- puji Ken? " tanya bundanya Zie. Aku pun hanya mengernyit bingung dengan ucapan bundanya Zie lalu menatap Zie tak mengerti.
" Terimakasih tante, tante juga sangat cantik, " ucapku memuji bunda Zie yang memang cantik.
" Siapa namamu nak? " tanya bunda Zie
" Rehuella tant, biasanya dipanggil Ella, hanya Zie sendiri saja yang panggil saya Rere. " jelasku pada bunda Zie. bunda Zie pun tersenyum ke arahku.
" Pantas, Ken mencintaimu. Kamu sangat cantik dan mudah bergaul ternyata, " aku pun tersenyum
" Apa Zie sering bercerita tentang saya tant, "
" Kalau bunda telepone selalu cerita tentang kamu, selalu meminta doa dari bunda supaya dia berjodoh denganmu sayank, "
" Benarkah tant, " tanyaku.
__ADS_1
" Iya dia nggak pernah cerita cewek selama ini, dia baru pertama kali jatuh cinta, jadi bunda pikir itu hal yang wajar kalau setiap telepone ceritanya tentang kamu, heheh "
" Sudah bun. " ucap Zie memotong ucapan bundanya. " Jangan buat anakmu malu, " lanjut Zie.
" Hahaha kenapa meski malu sama calon istri, " ucap bunda semakin menggoda Zie.
" Bunda " teriak Zie. dia pun segera mengambil teleponenya yang aku bawa.
" Sudah ya dilanjut nanti saja, assalamu'alaikum, " ucap Zie memutuskan sambungannya.
" Kenapa di matikan, itu namanya tidak sopan, " ucapku pada Zie.
" Bunda nanti cerita macem-macem sama kamu, " jelas Zie.
" Hahaha apa kamu takut kejelekkanmu akan terbongkar? " ucapku
" Aku tak seburuk yang kamu pikirkan ya, " bantah Zie.
" Baiklah ayo makan dulu, " ajakku sambil tertawa.
Aku pun akhirnya makan bersama dengan Zie, merayakan hari ulang tahun Zie pertama kalinya denganku semoga menjadi pembuka kenangan yang indah antara aku dan Zie.
Setelah aku selesai makan aku dan Zie duduk di depan tv, setelah melihat tayangan tv aku jadi teringat jam tangan yang belum aku berikan. aku pun berjalan ke ruang tamu untuk mengambil jam tangan tersebut.
" Semoga kamu menyukainya ya, " ucapku sambil menyerahkan jam tangan kepada Zie.
" Kok repot- repot sih, boleh kubuka? " tanya Zie padaku.
" Buka saja itu kan memang buat kamu, " ucapku.
Tak lama Zie kembali menyerahkan jam tangan itu padaku.
" Kenapa? " tanyaku bingung padanya.
" Ini terlalu mewah Re, nggak pantas buat ku, " ucap Zie.
" Kamu ini, sini tanganmu, " ucapku sambil menarik pergelangan tangannya dan segera memakaikannya.
" Bagus kok, kalau kamu nggak mau menerimanya, siapa lagi yang akan memakainya, aku beli couple kok, ini satunya, " ucapku sambil memakai jam yang model cewek ke tanganku. Sambil tersenyum ke arahnya.
" Ini supaya mengingatkan kamu biar tidak lupa waktu saat sedang bekerja, " Zie pun tersenyum mendengar ucapanku.
" Dan supaya aku selalu mengingat kamu di saat aku sedang sibuk, setelah melihat jam ini. " ucapnya.
" Terserah kamu, " ucapku tersenyum kearahnya.
" Apa kamu sudah mencintaiku Re, " aku pun terdiam karena masih bingung akan menjawab apa dengan pertanyaan yang Zie lontarkan aku sendiri masih belum yakin apakah aku sudah mencintainya atau hanya terbiasa akan kehadirannya.
" Maaf aku belum bisa menjawab sekarang, " ucapku.
" Baiklah aku akan menunggumu, " ucap Zie, yang aku tau dia kecewa dengan jawabanku.
__ADS_1
Tak lama aku pun pamit pulang karena sebentar lagi Zie juga akan bekerja. aku pun masih selalu teringat wajah kecewa Zie ketika aku menjawab pertanyaannya saat di apartemennya tadi. Aku harus segera mendapatkan jawaban itu. Aku harus secepatnya meyakinkan diriku agar tidak membuatnya lebih lama lagi menunggu.
Terimakasih yang sudah membaca jangan lupa likenya ya.🙏👍