
Happy reading, tekan 👍 dulu yuk!
Pagi ini Ella menatap dirinya di pantulan cermin, sudah seminggu berlalu setelah kejadian dia kehilangan calon anaknya, dia perlahan melepas tali handuk mandinya memperlihatkan tubuhnya hanya mengenakan pakaian dalam dan handuk kimono yang sudah terlepas ikatannya. Tangannya terulur meraba perut ratanya, dia meneteskan air mata yang sedari tadi di tahan, Erik yang baru keluar dari kamar mandi, berjalan mendekati Ella, memeluk istrinya dari belakang, hingga membuat Ella kaget karena merasakan dinginnya tangan Erik.
“Cepat pakai baju!” Perintah Erik.
“Andai dia masih ada, mungkin kita sudah bisa merasakan gerakannya,” ucap Ella sambil menyandarkan kepalanya di dada Erik. Erik berusaha menenangkan Ella dia menunduk dan menciumi pipi tirus istrinya itu.
“Nggak akan lama, Mas yakin kita akan mendapatkannya kembali, ayo pakai baju, nanti kamu kedinginan,” ucap Erik lagi, yang melihat Ella masih belum mulai melepaskan handuk mandinya.
“Mas jadi ke klinik?” tanya Ella.
“Iya, Mas hari ini mau menemanimu, menjagamu dari tatapan lelaki mesum,” canda Erik, lalu melepaskan pelukkannya mengganti baju yang sudah disiapkan Ella.
“Emangnya Mas nggak ke rumah sakit?” tanya Ella.
“Nanti sore saja Mas kesananya, sekalian pas jadwal praktik,” ucap Erik yang sudah mengenakan kaos bewarna putih dan celana jeans birunya, Erik yang melihat Ella sedang mengancingkan kemejanya, berjalan mendekat ke arah Ella, lalu membantu Ella mengancingkan kemeja yang Ella kenakan.
“Ucapan terima kasih,” ucap Erik memanyunkan bibirnya saat sudah selesai membantu Ella.
“Modus tadi ya? Kirain tulus bantuin,” sindir Ella tapi akhirnya dia memberikan ciuman terima kasihnya pada Erik. Ella lalu berjalan ke depan cermin, mengoles make up diwajahnya, Erik hanya melihat Ella dari pantulan cermin, karena dia tidak bisa membantu istrinya.
“Tunggulah di meja makan, tadi aku sudah membuat roti panggang,” ucap Ella yang melihat Erik masih berdiri menatapnya, Erik hanya diam, dia masih asyik menatap wajah istrinya.
“Mau Mas bantu melepas roll rambut?” tawar Erik.
“Nggak usah ujung-ujungnya pasti ada maunya,” Erik tersenyum lebar ke arah Ella, dia mendekat ke arah Ella, lalu melepaskan roll rambut yang menempel di rambut istrinya itu.
“Upahnya nanti malam saja,” ucap Erik setelah selesai melepas roll rambutnya.
“Nggak!” ucap Ella cepat.
“Kenapa? Emangnya masih berdarah ya?” Ella hanya tersenyum lalu menganggukkan kepalanya, sedangkan Erik justru bersenandung ria.
“Sampai kapan aku kan menantiiii,, Oh Tuhan tolong kuatkan hati ini,” nyanyi Erik sambil berjalan keluar kamar, Ella hanya menggelengkan kepalanya saat mendengar syair lagu yang Erik nyanyikan lalu mengikuti langkah Erik dari belakang.
*****
“Pagi Bu Dokter, Pak Dokter,” sapa perawat klinik yang melihat Erik dan Ella berjalan mesra memasuki klinik.
“Pagi juga,” jawab Ella sedangkan Erik hanya berjalan lurus tanpa mempedulikan sapaan dari para perawat klinik.
Saat Ella akan menarik handle pintu, ada seorang dokter yang memanggil namanya.
“Dokter Ella,” ucap dokter baru itu.
“Ya.” Jawab Ella singkat, lalu menoleh ke sumber suara.
__ADS_1
“Kok Dokter cutinya lama sekali? Ada apa?” tanya dokter lelaki itu, Erik hanya diam menatap lelaki di depannya itu dengan tatapan cemburu.
“ Ow..., itu saya baru tidak enak badan, jadi saya tidak bisa masuk, bagaimana apa ada masalah?” jelas Ella pada dokter yang seumuran dengannya itu.
“Nggak ada Dok, apa Dokter nanti mau makan siang bersama saya?” Ella hanya tersenyum tipis ke arah dokter Dimas, lalu menoleh menatap suaminya yang sudah berwajah masam.
“Maaf. Tapi saya tidak bisa,” ucap Ella sambil melirik ke arah suaminya.
“Kenapa Dok?” tanya Dimas yang ingin tau alasannya.
“Karena saya disini,” ucap Erik dengan nada dingin.
“Iya karena suami saya ada disini,” Dimas hanya kaget tak percaya karena dokter idolanya sudah menikah.
“Dokter bohong ya, masa suami Dokter tua begini sih,” ucap Dimas yang membuat Erik meraih kerah baju yang Dimas kenakan, lalu menyadarkannya ke dinding.
“Apa katamu! Tua? Biar begini gue masih ganteng ya, dan juga masih kuat...,” ucap Erik terhenti saat Ella manarik tangannya.
“Malu Mas,” ucap Ella saat melihat beberapa perawat tengah menatapnya, lalu segera Ella mengajaknya masuk ke dalam ruang kerjanya.
“Siapa sih dia?” tanya Erik dengan emosi saat sudah diruangan Ella.
“Dia dokter anak baru disini, dia baru 1 bulan kok praktik disini, dia juga yang back up aku Mas, dia yang selalu menggantikan saat aku sedang izin keluar atau saat aku nggak bisa datang,” Jelas Ella.
“Ya sudah kamu nggak usah kesini lagi!” peringat Erik.
“Kenapa? Masih mau jadi Dokter?” tanya Erik.
“Kamu kerja di rumah sakit Mas saja, Mas nggak suka kamu dekat-dekat dengannya,” lanjut Erik serius.
“Tapi ...,”
“Yang, ini perintah suami,” potong Erik yang sudah tidak mau lagi mendengar Ella beralasan.
“Atau kamu lebih memilih di rumah saja nggak usah ambil praktik, dan hanya akan mengurusi kebutuhan Mas,” ucap Erik yang sudah duduk di kursi kerja Ella. Sedangkan Ella duduk di meja tepat di depan Erik, Ella hanya cemberut dia juga berat jika harus memilih.
“Fasilitasnya apa saja?” tanya Ella becanda pada suaminya.
“Mas kasih apa yang kamu inginkan,” ucap Erik yang mengerti maksud istrinya.
“Terus nanti dokter yang praktik disana mau dikemanain?” ucap Ella.
“Mau Mas pindahkan kesini,” jawab Erik singkat, dia sudah sedikit menahan emosinya saat teringat dia dikatai tua oleh dokter baru tadi.
“Lala pikir-pikir dulu,” ucap Ella.
“Nggak boleh mikir ini bukan pilihan, ini perintah Mas sebagai seorang suami,” ucap Erik menekankan kata suami, Ella hanya memanyunkan bibirnya saat Erik menggunakan derajadnya sebagai kepala rumah tangga.
__ADS_1
“Apa kamu mau jadi istri durhaka?” Ella hanya menggelengkan kepalanya.
“Ya sudah, turuti apa kata suami,” ucap Erik lalu mendekat ke arah Ella, duduk didepannya dengan dia masih tetap duduk di kursi kerja Ella. Erik meletakkan kepalanya di paha Ella, mengungkapkan kekhawatirannya yang sedang dia rasakan.
“Mas Cuma nggak mau kamu diambil orang lagi Yang, sudah cukup sekali dulu saja Mas merasakan kehilanganmu,” ucap Erik tulus sambil memeluk pinggang Ella.
“Ih... Mas! Emangnya Lala semudah itu jatuh cinta,” ucap Ella.
“Siapa tau! Allah membolak-balikkan hatimu, hingga membuatmu terpesona padanya,” Ella hanya tersenyum ke arah Erik lalu mengusap pelan rambut suaminya.
“Kalau begitu ngapain kita masih disini Yang, kita ke bioskop saja yuk,” tawar Erik.
“Nggak mau! Lala masih banyak pekerjaan, masih harus cek laporan dulu Mas,” jelas Ella.
“Tapi nanti nonton ya, selama nikah kita belum pernah nonton bareng,” ucap Erik.
“Terserah! Mau bawa Ella kemana, asalkan denganmu aku akan selalu mengikuti,” ucap Ella dengan nada sedikit lebay.
“Belajar gombal dari mana?” selidik Erik.
“Dari Dimas,” goda Ella.
“Yang...” Ella hanya terkekeh mendengar dan melihat ekpresi suaminya itu, dia mengusap lembut pipi Erik dengan jari jempolnya, mengangkat wajah Erik agar menghadap ke arahnya, lalu Ella memejamkan mata, perlahan mendekatkan bibirnya ke arah bibir Erik, berniat ingin mencium lembut bibir suaminya. Erik yang melihat Ella ingin menciumnya merasa gemas, dia langsung meraup bibir Ella dan memberikan ciuman panas disana hingga membuat Ella tidak bisa bernafas. Erik hanya terkekeh saat puas mencium bibir Ella.
“Nggak mau lagi deh aku nglakuin kaya tadi,” ucap Ella saat bibirnya terlepas dari Erik.
“Hahaha, salah sendiri mau nyium suami saja harus menutup mata,” ucap Erik sambil menatap Ella dengan tatapan liciknya.
“Iya kan biar fellnya dapat, kaya di film-film romantis gitu kan juga seperti itu,” jelas Ella yang membuat Erik semakin tertawa keras.
“Terus apa lagi yang kamu lihat saat nonton film romantis,” tanya Erik masih dengan senyuman yang belum reda. Ella hanya diam tak menjawab, tapi geli sendiri mengingat kejadian beberapa detik yang lalu.
“Yang...,”
“Hmmm,” jawab Ella.
“Bulan madu yuk, sebelum Mas ke Australia, nggak usah jauh-jauh yang penting kita fokus produksi saja,” ucap Erik dibumbui candaan.
“Terserah Mas saja, Lala pusing mikirin Mas yang otaknya 100% mesum itu” ucap Ella.
“Kan ngomongin mesum cuma sama kamu, emang mau Mas ngomong begini sama orang lain?” ucap Erik melirik Ella.
“Nggak! Nggak boleh awas saja kalau sampai aku dengar, Lala akan sunat sampai habis barangmu,” ancam Ella yang membuat Erik bergidik ngeri.
“Fix ya! Mas yang milihin tempat kita akan bulan madu kemana” ucap Erik setelah mendengar ancaman mematikan Ella. Dia lalu memeluk Ella menyampaikan kalau di hatinya tidak akan ada yang lain, dia akan menjadikan Ella sebagai satu-satunya yang di cintai setelah Mamanya.
Terimakasih sudah membaca karya saya jangan lupa demi kelancaran update untuk selalu vote, dan like ya.👍🙏😘
__ADS_1