Kepincut Cinta Dokter

Kepincut Cinta Dokter
KCD : Obrolan Lelaki


__ADS_3

Budayakan menekan tanda like untuk mendukung saya. Terima kasih🙏


Waktu terus berlalu, Ella dan para sahabatnya serta Damar sedang asyik bercanda sambil bernyanyi diiringi petikan gitar dari Panji. Selang beberapa menit Bi Nani datang dan berkata pada Damar kalau ada temannya yang baru saja datang.


“Antar ke sini saja Bi,” ucap Damar pada Bi Nani.


“Baik Den.” Bi Nani lalu segera pergi meninggalkan taman, menghampiri sahabat Damar.


Tak lama kemudian datanglah Bi Nani dan Erik dari arah dalam rumah. “Lagi ada acara rupanya?” tanya Erik berjalan mendekati Damar dan yang lainya.


“Iya ayo sini ikut gabung sama abg-abg alay,” canda Damar menatap satu persatu sahabat adiknya.


“Hahaha bisa aja, Lo,” ucap Erik singkat sambil mendudukan tubuhnya di samping Damar. Pandangannya beralih pada gadis yang memakai kaos putih dengan rambut yang di gerai dan memakai bando pita pink di kepalanya.


Kok makin imut gini sih. Batin Erik memuji.


“Hay La,” sapa Erik sambil menatap Ella yang tengah menyantap sosis bakar di tangannya. Ingin sekali ia mengusap saos yang belepotan di bibir Ella dengan jari jempolnya.


“Hay Pak Erik, tumben ke sini?” tanya Ella masih asyik menikmati sosis di tangannya.


“Iya tadi habis dari rumah Papa jadi sekalian mampir,” jawab Erik jujur. “Kalau lagi nggak di kampus jangan panggil pak dong, keliatan tua banget gitu,” sambungnya sambil menyambar satu tusuk sosis bakar.


“Ehemmm, panggil yang gitu dong, La,” canda Damar pada adiknya. Sedangkan Ella yang mendengar itu hanya menunduk malu, menyembunyikan wajahnya dari Erik.


“Panggil Mas saja kalau lagi di luar kampus, kalian juga ya,” ucap Erik mengedarkan pandangannya pada sahabat Ella.


“Oke dech Mas Erik,” ucap Sashi, Anna dan Panji kompak.


“Hehehe kok aneh ya dengarnya,” ucap Ella.


“Ntar juga terbiasa,” ucap Erik sambil tersenyum pada Ella, “lagi ada acara apa sih kok tumben ngumpul-ngumpul gini?” lanjutnya bertanya.


“Ini Mas, kita lagi jadi saksi lamarannya Kak Damar dan Sashi,” ucap Anna.


“Woww benarkah?” kaget Erik karena Damar tidak pernah bercerita. “Tega Lo ya Mar, gak kasih tau gue,” lanjutnya memaki sahabatnya.


“Ini juga dadakan kok, kebetulan Ella yang ngundang mereka datang, jadi ya gue manfaatin deh buat ngelamar Sashi, ya gak Yang,” jelas Damar menatap Sashi. Sashi yang mendengar panggilan sayang dari Damar hanya tersenyum malu, salah tingkah.


“Hmm kalah cepat deh gue dari Lo, Mar.”

__ADS_1


“Kamu sih kelamaan,” kata Damar. Erik yang mendengar itu hanya memandang Ella yang juga sedang menatapnya. Kedua pasang mata itu bertemu, mata yang sebenarnya penuh kerinduan dan cinta, tapi mereka masih enggan untuk mengatakannya.


Waktu terus berlalu jam sudah menunjukkan pukul10 malam Para sahabat Ella sudah pamit pulang, tinggallah Ella, Damar dan Erik yang kini masih asyik mengobrol di taman. Erik yang lebih sering menggoda Ella dengan candaannya, menyambung ke hal privasi Ella.


“Lala sudah punya pacar?” tanya Erik sedikit ragu.


“Lala dari dulu nggak mau pacaran Mas. Menurut Ella hanya buang-buang waktu saja. Belum nanti kalau disakiti, rugi dong!” jawab Ella setelah mendengar pertanyaan Erik, sebenarnya dia sedikit kaget dengan panggilan yang Erik lontarkan.


Biasanya kan dia panggil Ella kok berubah. Batin Ella.


“Kode tu Rik, minta langsung dinikahin,” canda Damar tersenyum ramah.


“Ih, Kak Damar apaan sih, Lala kan masih kecil, belum juga jadi dokter,” jawab Ella malu- malu.


“Sashi juga seumuran kamu, tapi dia mau kakak nikahin,” sambung Damar lagi yang tidak mau kalah.


“Memang Sashi mau? kan belum tentu juga orang tuanya ngizinin,” jawab Ella sinis.


“Udah- udah kok malah pada berantem,” ucap Erik tertawa saat mendengar kakak-adik di depannya ini adu mulut.


“Sudah malam Ella naik dulu ya Kak, ngantuk nih,” pamit Ella, sebenarnya dia malu pada Erik karena kelakuannya yang masih kekanakkan itu.


“Iya, tidur yang nyenyak ya, jangan lupa mimpiin Mas,” pesan Erik. Ella pun berlalu meninggalkan para bujangan di taman.


“Kok bisa Lo sama Sashi sih, Mar?” tanya Erik.


“Bisa dong, namanya juga jodoh kan yang ngatur Allah,” jawab Damar santai.


“Gue bikinin kopi dulu ya,” sambung Damar, lalu berjalan meninggalkan Erik di taman sendirian.


Tidak butuh waktu lama Damar muncul dengan dua gelas cangkir kopi di tangannya, lalu Damar melanjutkan ceritanya.


“Gue tau dia sejak dia SMP sih, dia sering main ke rumah, dia juga sahabat Ella jadi sering ketemu, dari situlah gue mulai suka Sashi, tapi gue simpan, gue takut Rik dia akan nolak gue, secara usia kita beda jauh,” jelas Damar pada Erik. “Loe sendiri gimana, udah nyerah deketin Lala?” Imbuhnya bertanya balik pada Erik.


“Emmm nunggu waktu yang tepat saja, gue sih pengennya besuk aja langsung nikah, tapi Papa bilang nunggu Ella selesai semester dua dulu,” canda Erik.


“Tapi Lo dengar sendiri kan, Ella itu pengen jadi dokter dulu, emang Lo bisa nungguin?” tanya Damar.


“Gue bakalan nungguin kok Mar, kalau pun gak bisa nunggu, akan gue nikahin saat itu juga, dan gue akan tetep mendukung Ella untuk jadi dokter,” ucap Erik penuh percaya diri. “Gue hanya takut aja nanti Ella keburu diambil orang, dan akan lebih sakit ketika melihat ada orang yang lebih mencintai Ella dari pada gue,” lanjutnya.

__ADS_1


“ Hah,” desah Damar, “makanya Lo cepetan ngomong ke Ella, biar dia tau kalau Lo nungguin dia,” nasihat Damar pada sahabatnya. “Pokoknya gue akan selalu dukung Lo dech.”


“Terus Lo sama Sashi gimana, kapan nikahnya?” tanya Erik.


“Belum tau juga, baru nanti mau diomongin sama keluarganya, kalau gue pengenya dua bulan lagi pas ntar liburan semester, kan bisa bulan madu lama tu,” ucap Damar diselingi candaan.


“Hah Lo itu ya! Butuh tips buat bikin kuat gak,” bisik Erik pada telinga Damar.


“Lo itu ya, kayak pernah nglakuin aja dasar mesum!” ucap Damar sambil mendorong pelan Erik.


“Hahahah gini-gini gue kan spesialis men, mau anak laki atau perempuan, mau gaya apa, ntar gue kasih tau caranya,” ucap Erik mengingatkan Damar.


“Hah Lo ya dasar, udah stop jangan diteruskan,” ucap Damar.


“Hahahah kenapa?” goda Erik sambil tertawa terbahak- bahak. “Eh hari senin Lo antar Ella ya, biar pulangnya ntar gue antar!” perintah Erik.


“Oke pak dokter,” jawab Damar.


Erik lalu melirik jam ditangannya sudah menunjukkan puluk dua belas malam, lalu beranjak dari duduknya.


“Sudah malam gue cabut dulu ya?” pamit Erik.


“Lo gak nginap sini saja, sudah malam hlo, takutnya ada apa-apa sama Lo?” ucap Damar.


“Nggak lah, lagian cuma dekat kok gue pulang ke apartemen gue,” tolak Erik menjawab tawaran damar.


“Oke baiklah, hati -hati ya,” ucap Damar sambil berjalan mengantarkan Erik ke depan rumah.


Erik lalu meninggalkan rumah Damar dan melajukan mobilnya ke arah apartemen miliknya. Sampai di apartemen Erik lalu membersihkan badannya, setelah selesai dia langsung merebahkan tubuhnya seraya memainkan ponselnya.


“Sudah jam satu masih juga online,” lirih Erik setelah melihat story Ella, lalu dia mengirimkan pesan ke Ella.


To Ella : Belum tidur?


From Ella : Belum Mas.


To Ella : Hari senin pulang kampus, bareng sama Mas ya?


From Ella : Insya Allah ya Mas.

__ADS_1


To Ella : Ok selamat tidur, have a nice dream.


Setelah tidak mendapatkan jawaban dari Ella, dia mulai memejamkan matanya, berharap hari segera melompat pada hari Senin.


__ADS_2