Kepincut Cinta Dokter

Kepincut Cinta Dokter
Kontraksi


__ADS_3

...Selamat Membaca...


Perasaan Naura mulai cemas saat prediksi bulan kelahiran calon anaknya tiba. Ada rasa takut tersendiri kalau nanti tidak bisa melahirkan secara normal. Padahal menurut Abhi, mau melahirkan secara caesar pun tidak masalah. Keduanya sama-sama berkorban untuk mempertaruhkan nyawa melahirkan anaknya dan apapun jalannya ia akan tetap menghargai perjuangan Naura.


Semua perlengkapan bayi sudah selesai disiapkan, termasuk kamar bayi. Naura menggunakan warna biru putih untuk mendesign kamar calon anaknya. Setiap hari Naura tak pernah absen untuk masuk ke ruangan tersebut. Ada rasa tak sabar ingin mendengar tangisannya, tapi rasa takut terserang baby blues juga menjadi momok untuknya.


Setelah merampungkan kasus pak Bahtiar, Abhi benar-benar mengambil cuti, perliraan sampai Naura selesai masa nifas. Abhi tidak sepenuhnya menjadi pengangguran. Ia punya pekerjaan online yang harus selalu dikontrol. Semua ia lakukan demi bisa menjaga istri dan calon anaknya.


Saat Abhi benar-benar rindu dengan suasana luar ia akan keluar sebentar untuk mencari angin, dan itu tidak lebih dari satu jam. Apalagi menginjak usia kehamilan 9 bulan. Seperti sore ini, Abhi meminta izin untuk pergi ke rumah Nathan karena ada hal yang ingin disampaikan pada pria itu.


“Janji ya nggak lama!” pesan Naura, ketika mengantar Abhi hingga teras rumah. Pria itu mengangguk lalu mengusap gemas pipi bakpao istrinya. Abhi tidak peduli jika berat badan Naura naik 16 kg yang terpenting ibu dan bayi mereka sehat.


“Jangan melakukan pekerjaan, kalau kamu sampai menyentuhnya aku marah besar sama kamu!” pesan Abhi sebelum mobil putih itu meninggalkan pelataran rumahnya. Tinggallah Naura yang menggelengkan kepala saat mendengar pesan suaminya itu.


Saat tak lagi melihat mobil Abhi, Naura masuk ke rumah, memilih menunggu Abhi di sofa ruang keluarga dari pada nanti di kamar sendirian.


Naura selalu hapal kapan-kapan saja calon anaknya itu mulai aktiv bergerak. Tapi sudah sejak hari kemarin calon anaknya itu lebih pendiam. Saat ia bertanya pada dokter melalui telepon. Lusy menjawab karena posisi kepala bayi sudah berada di tempatnya, jadi ruang geraknya semakin tak leluasa, terlebih lagi saat usg terakhir berat bayi sudah mencapai 2,9 kg. Naura semakin yakin saat mendengar penjelasan dari sang papa, yang sama persis dengan apa yang dikatakan dokter Lusy.


Duduk berlama-lama di sofa membuat kaki Naura mulai terasa kram. Dia ingin berdiri mengambil minyak oles yang ada di kamar. Tapi, saat ia berdiri, ada gerakan kecil, yang membuat intinya terasa ngilu, setelahnya, perutnya terasa keras sampai-sampai paha bagian dalamnya ikut terasa ngilu. Ia melihat ke arah jam menghitung durasinya. Saat menyadari kontraksi itu cukup lama ia buru-buru meraih ponsel yang ada di saku homedress yang ia kenakan. Abhi selalu berpesan untuk meletakan ponselnya di saku, supaya kalau ada apa-apa ia segera ia bisa dengan cepat menolongnya.


“Apa, Sayang? Mau dibeliin apa?” tanya pria di ujung panggilan, saat Naura belum bersuara.


“Bhi … sepertinya aku mau melahirkan deh,” ucap Naura dengan sedikit suara rintihan. Tangannya pun tak henti mengusap perutnya.


“Begitu? Terus aku gimana, kan aku belum jadi ke rumah Nathan?” Ada nada panik saat mendengar ucapannya, tapi Naura kesal karena pria itu lebih mementingkan keperluannya bertemu Nathan.

__ADS_1


“Bhi ….” Naura memanggil nama suaminya dengan lembut, berharap ia akan paham.


“Ow … iya, ya … aku pulang sekarang ya, aku batalin ke rumah Nathan, aku langsung pulang nih! Kamu sabar ya!"


Abhi yang masih berada di perjalanan menuju rumah Nathan, terpaksa memutar balik arah mobilnya. Saat perjalanan pulang ia menelepon berusaha mertuanya, mengabari jika Naura sudah waktunya melahirkan. Dan mereka menjawab akan langsung datang ke rumah sakit sekarang juga.


Saat Abhi tiba di rumah, ia berteriak panik menyerukan nama istrinya. Tapi ia terkejut saat melihat istrinya cekikikan sambil menatap layar televisi.


“Katanya mau melahirkan?! Ayo berangkat, kok kamu masih sehat begitu, Sayang!” selidik Abhi, sambil berlari ke kamar bawah mengeluarkan segala sesuatunya, termasuk perlengkapan bayi, yang memang sudah disiapkan jauh-jauh hari.


“Hah ….” Naura meringis, “kan begini kata dokter, sakitnya bertahap mungkin ini masih masuk pembukaan awal,” jelas Naura, tersenyum simpul ke arah suaminya. Abhi mengangguk cepat, tersenyum ragu ke arah Naura.


Abhi menuntun Naura menuju mobil yang ada di depan rumah, langkahnya pelan, seperti menuntun nenek yang memakai tongkat. “Hore, bentar lagi ketemu jagoan, nih!” ujar Abhi sambil mengelus perut Naura. Dia tegang terdengar jelas dari nada suaranya.


"Aku baik-baik saja, Sayang! Wonder women, melahirkan mah kecil!" ujarnya menghibur Abhi.


Tiba di rumah sakit, mereka berdua sudah disambut Erik dan Ella yang berdiri di depan pintu ruangan. Dari wajahnya, kedua orang itu tampak cemas dengan kondisi Naura, takut jika wanita itu akan merasakan kesakitan yang hebat. Jadi, mereka siaga di sana untuk membantu apa saja yang nanti akan di perlukan Naura.


Abhi menuntun Naura ke ruang bersalin. Andai saja Naura mau digendong, ia akan sangat senang. Sedangkan Erik dan Ella, membawakan perlengkapan bayi dan ibunya. Naura mendekat ke arah brankar keramat yang menjadi favorit ibu hamil. Naik sendiri, berpegangan telapak tangan Abhi.


Tidak lama kemudian seorang perawat datang membantu Naura untuk mengecek jalannya pembukaan. “Apa masih merasakan kontraksi, Bu?” perawat itu bertanya.


“Tadi sekali saja, sih.” Naura menjawab, “Tapi sakit, sampai kram kaki kiri ku.” Lanjutnya saat melihat tatapan aneh dari perawat.


“Maaf ya, Bu! Sekarang apa yang ibu rasakan?” tanyanya lagi sambil memeriksa tekanan darah Naura.

__ADS_1


“Nggak ada.”


“Ow gitu, jadi ibu nggak ngrasain apa-apa sekarang?” selidiknya lagi.


Naura menggeleng, “Cuma ngilu saja di bagian sini,” Naura menunjuk ke arah paha bagian dalamnya.


“Ibu … ini namanya kontraksi palsu.” Perawat itu tersenyum ke arah Abhi. “Jadi … belum waktunya melahirkan. Jadi, ibu dan bapak mohon tenang, ya? Ajak ngobrol si adek biar cepet launching. Kontraksi palsu bisa jadi sinyal beberapa hari ke depan bisa jadi dedeknya lahir.”


“Jadi ini kita pulang, Sus?” tanya Abhi, wajahnya yang tadi pucat, perlahan mulai normal.


“Iya, Pak. Ibu dan Bapak boleh pulang dulu! Takutnya justru akan membuat ibu stress saat mendengar suara orang melahirkan,” ucap perawat itu dengan lembut.


“Kalau begitu biarkan saya menitipkan perlengkapan ini dulu, takut besok lupa!” suara Abhi terdengar bingung, seperti bukan Abhi yang biasanya.


"Ow, iya. Iya, Pak. Biar saya simpanan." Perawat itu mengangguk berulang, kali.


Mereka berdua kemudian keluar dari ruang bersalin, Naura menunduk, takut jika Abhi akan memarahinya. Erik dan Ella yang sedari tadi menunggu kabar dari mereka, lekas menghampiri mereka berdua.


“Gimana masih pembukaan awal ya? Masih boleh jalan-jalan dulu, kan?” tanya Erik. Menatap Naura yang saat ini bersandar di lengan Abhi.


“Nana nggak jadi melahirkan, Pa.” Naura menyahut dengan cepat.


“Kita diprank sama Abhi junior!” lirih Abhi.


"Kok bisa?!" desak Ella yang penasaran.

__ADS_1


"Belum waktunya, ternyata kontraksi palsu!" lirih Naura, setelah itu mulutnya menggerutu tanpa suara.


__ADS_2