Kepincut Cinta Dokter

Kepincut Cinta Dokter
Kalun Ikut Oma & Opa


__ADS_3

Happy reading... jangan lupa like ya👍.


.


.


.


.


Ella masih sesenggukan di dalam kamar mandi, di temani Erik yang sudah meminjamkan dadanya untuk bersandar. Jihan sudah pergi menemui suaminya dengan membawa Kalun ke lantai bawah.


“Bagaimana dengan Kalun Pa..., dia masih bayi, bahkan Asi ekslusifnya belum terpenuhi, aku Ibu yang buruk untuknya,” ucap Ella yang masih menangis, dan Erik hanya bisa menahan senyumnya. Sambil sesekali mencium rambut Ella.


“Kita nggak akan menelantarkan anak pertama kita, kasih sayangku tidak akan berkurang sedikitpun untuknya.” Ella lalu menatap wajah suaminya yang tidak sama sekali bersedih itu.


“Ini semua salahmu, Pa...!” teriak Ella sambil mendorong tubuh Erik, dia lalu berdiri di depan kaca dan mengusap lembut perut rata miliknya, bahkan berat badannya, belum kembali ke angka sebelum dia hamil.


“Kenapa kamu hadir secepat ini?”


“Itu karena Papanya yang hebat,” dengan percaya diri Erik mengucapkan kalimat itu.


“Diam kamu!” teriak Ella sambil menatap tajam ke arah Erik.


Ella lalu berjalan ke arah bathup tanpa melepaskan baju yang dia kenakan, karena takut jika suami yang berotak ranjang itu akan tiba-tiba menyerangnya. Hatinya masih ingin menyiapkan dan menerima calon anak keduanya, dia berdiam di sana sambil memejamkan matanya.


Erik yang melihat Ella seperti itu, segera mengunci pintu kamar mandi dan menyusul istrinya masuk ke dalam bathup. Ella hanya pasrah, saat melihat Erik menyusulnya masuk ke dalam air. Erik sudah berada di belakangnya mulai memberikan kata-kata pujian untuk istrinya, agar Ella lebih tenang.


“Kamu tau usiaku berapa? 40 tahun Yang,” ucap Erik yang sudah mengganti nama panggilannya. Ella masih diam dan memejamkan matanya.


“Kamu lihat teman Mas rata-rata sudah mempunyai anak lebih dari 1, mumpung masih mampu, Mas akan selalu menghamilimu.”


“Jangan Gila kamu Mas, kamu nggak tau bagaimana nasib anak pertamamu?”


“Kita akan merawatnya bersama, Mas janji tidak akan menelantarkan Kalun.”


“Bagaimana denganku? Cintamu padaku akan semakin berkurang karena kamu sudah membaginya,” ucap Ella sambil membalikkan tubuhnya menghadap Erik.


“Cintaku padamu dan cintaku pada Kalun jelas berbeda, kamu akan tetap dapat posisi terbesar di sini,” jelas Erik sambil menunjuk dadanya.

__ADS_1


Ella sedikit tersenyum saat melihat dada Erik yang sudah tidak berlapis kain, dia sedikit tenang hanya dengan kata-kata gombalan Erik.


“Berarti aku sudah hamil berapa bulan?” tanya Ella yang sudah kembali menyandarkan kepalanya di dada Erik.


“Mungkin 5 minggu,” ucap Erik singkat, sambil melepaskan baju Ella.


“Kamu sebaiknya berhenti menyusui, ini minggu-minggu terpenting untuk perkembangan anak kedua kita, jangan sampai terjadi hal-hal buruk seperti kehamilan pertamamu!” peringat Erik pada Ella yang sudah berpakaian lagi.


Ella lalu berdiri dan membilas tubuhnya di bawah guyuran air shower, Erik hanya mengamati tubuh Ella.


Terlalu kejamkah aku, membiarkan istriku hamil lagi, bahkan stretch mark kemaren saja belum pulih. Ucap Erik dalam hati sambil tersenyum ke arah Ella.


“Ngapain kamu senyum-senyum, menyesal! Karena tubuhku tidak menarik lagi, iya?” tanya Ella saat menyadari pandangan mata Erik ke arah tubuhnya.


“Nggak! Siapa bilang? Bahkan kalau tidak aku tahan bisa saja aku menyerangmu sekarang juga!” jawab Erik sambil berdiri dan memeluk Ella dari belakang, dia sangat menyukai pelukkan seperti ini, karena tangannya bisa berkeliaran ke mana-mana. Ella yang mendapat perlakuan nakal dari suaminya, segera mengambil handuk dan berjalan keluar kamar mandi, menyudahi acara mandi pagi.


Setelah sudah rapi Ella segera turun ke lantai bawah, matanya masih terlihat sembab, dia menghampiri bayi 3 bulan yang tidak lama lagi akan memiliki adik, padahal bayi itu baru mulai mengoceh.


“Biar Kalun ikut dengan Mama, kamu harus persiapkan dirimu untuk menyambut anak keduamu,” ucap Jihan saat melihat Ella sudah duduk di sofa.


“Tapi Ma, aku nggak akan bisa jauh darinya, aku belum siap untuk membagi cintaku padanya dengan yang lain,” ucap Ella sambil memgambil Kalun dari tangan mama mertuanya.


“Maafkan Mama Sayang..., jangan salahkan Mama ya? Ini hanya sementara demi kebaikkan calon adikmu,” ucapnya sambil memeluk erat bayinya yang tengah tertidur. Kalun yang merasa terganggu mulai menangis karena pelukkan Ella terlalu erat.


“Asyik deh..., bisa berduaan lagi seperti pacaran,” ucap Erik yang baru datang dari arah tangga.


“Awas kamu ya..., sudah tua nakalnya minta ampun!” peringat Jihan saat melihat Erik sudah memeluk Ella.


“Siapkan baju Kalun Pa.., Kalun mau dibawa sementara bersama Omanya, karena kita juga harus memperhatikan anakmu yang ada di perutku,” perintah Ella.


“Tidak perlu, di sana sudah Mama siapkan semuanya, sebenarnya kami hanya berjaga-jaga jika kamu sewaktu-waktu akan menginap di sana, beruntungnya kamu hamil jadi secepatnya terpakai,” ucap Jihan menjelaskan pada Ella dan Erik.


“Ayo Opa kita pulang!” lanjut Jihan mengajak suaminya.


“Nggak bisa ya Ma, tinggal di sini sebentar saja,” ucap Ella saat melihat mertuanya itu hendak pergi.


“Datanglah jika kamu merindukan kalun, dia akan baik-baik saja,” pesan Jihan pada Ella.


Ella yang melihat kalun akan di ambil oleh mertuanya, segera memeluk erat dan menciumi bayi menggemaskan itu, sambil mengucapkan kata ‘maaf’ berulang kali.

__ADS_1


“Kamu jangan rewel ya Sayang, jangan ngrepotin Oma dan Opa,” ucap Ella sambil menyerahkan bayinya ke tangan Jihan.


Ella mendudukkan tubuhnya saat melihat mertuanya sudah pergi dari sana, jiwanya seperti ada yang kurang, dia meremas baju yang dia kenakan menunduk sambil menitihkan airmatanya, dia tidak bisa jika membiarkan anaknya itu tumbuh tanpa kasih sayang darinya. Erik yang melihat Ella menangis hanya diam dan merasa bersalah juga, karena dia tidak memikirkan perasaan istrinya saat merencanakan untuk kembali menghamili Ella.


“Maafkan Mas ya..., Mas pikir kamu akan bahagia saat mengetahui jika akan memiliki anak lagi, ternyata Mas salah, Mas terlalu egois karena tidak memikirkan perasaanmu,” ucap Erik sambil membawa Ella ke dalam pelukkanya. Ella yang mendengar itu hanya bisa menangis kembali, mungkin faktor hormon atau perasaannya yang sedang buruk jadi dia sekarang mudah menangis.


“Aku kangen Kalun,” ucapnya yang baru lima menit berpisah.


“Kangen sama Papanya Kalun saja sini...!” ucap Erik sambil mengecup singkat bibir Ella, “Sarapan dulu yuk..!” ajak Erik.


“Habis itu kita jemput Kalun ya...?” tawar Ella dengan suara manja.


“Lalu bagaimana nanti kalau dia minta Asi?” tanya Erik.


“Ya..., kita beri saja dia!”


“Kamu nggak kasian Ella junior yang baru tumbuh di sini?” ucap Erik sambil memainkan perut Ella membentuk lingkaran. Ella hanya cemberut saat mendengar ucapan Erik, menyadari juga jika dia akan merasa bersalah jika sampai janinnya kenapa-napa.


“Ayo kita makan, itu sudah disiapkan pelayan,” ajak Erik saat Ella tidak kunjung beranjak dari duduknya.


“Mau gendong!” perintah Ella dengan suara manja, dengan tangan yang sudah diletakkan di tengkuk leher Erik. Erik tersenyum saat melihat perlakuan Ella.


“Kamu yang mau atau anak kita yang mau?”


“Nggak tau pokoknya pengennya manja aja sama kamu,” ucap Ella sambil mengecup pelan bibir suaminya.


“Jangan menggodaku!” teriak Erik yang mendapat perlakuan Ella. Ella terkikik saat menyadari reaksi Erik, melupakan kesedihan yang baru 5 menit terlewatkan.


“Mau lagi? Sini cium!” ucap Ella sambil mengecup lekuk leher suaminya. Erik segera mengangkat tubuh Ella, berjalan ke arah kamar melewatkan sarapan yang sudah tersusun rapi di meja makan menunggu tuannya untuk segera menyantap hidangan itu, karena perutnya sudah tidak lagi merasa lapar.


.


.


.


.


Terimakasih buat yang sudah ngelike dan vote.🙏😊

__ADS_1


__ADS_2