
Aroma obat begitu menyengat di indra penciuman Erik saat ini, ditemani detak jarum jam yang sebentar lagi masuk waktu subuh, ia tetap terjaga di samping ranjang sang istri. Matanya sulit terpejam walau hanya sekejap saja. Ia sebenarnya lelah tapi sulit untuk melakukannya.
Obat-obatan yang masuk ke tubuh Ella membuatnya tidur terlalu lama. Istrinya itu belum membuka matanya sejak awal dibawa ke rumah sakit. Padahal dokter bilang kondisi Ella sudah membaik.
Saat ini Erik duduk sendirian di ruang perawatan, anak-anaknya sudah ia minta untuk pulang. Mereka punya keluarga sendiri, jadi tidak sepatutnya, ia menganggu ketenangan keluargan anaknya.
Maura yang ngotot ingin menemaninya pun, ia minta untuk pulang ke rumah. Dia justru becanda, menjawab nanti Alby kedinginan tidak ada yang menghangatkannya. Setelah itu anaknya menurut dan pulang ke rumahnya.
Erik menatap wajah Ella yang masih tampak pucat. Menyusuri setiap jengkal wajah istrinya, yang menurutnya masih sama cantiknya saat masih muda. Sudut bibirnya tertarik ke samping saat mendapati kerutan di wajah Ella yang semakin jelas. “Kamu kapan bangun, Sayang?” bisiknya di samping telinga Ella. Tangannya bergerak membetulkan anak rambut Ella, “dulu aku juga seperti ini,” ucapnya lirih.
“Tapi, rambutmu masih indah, hitam legam, panjang terurai. Terima kasih sudah memberikan kesempatan untukku bisa menikmati tua denganmu.” Erik menjeda lagi ucapannya. Tangannya kini berganti menarik dan merapikan selimut yang sebenarnya sudah sempurna menutupi tubuh Ella.
“Bukannya kamu ingin melihat anak-anak kita bahagia? Itu yang sering kamu ucapkan padaku menjelang tidur. Tapi, kalau kamu melihatnya dari sana … kamu tidak bisa bersama ku, Yang! Jadi, bangunlah dulu! Kita melihatnya sama-sama di sini.” Erik mengusap air matanya yang baru saja menetes, ia tidak mau seperti ini, terlihat lemah, cengeng ia harus bisa melewati ini. Ia yakin istrinya akan bangun lagi untuknya.
Erik meletakan kepalanya di punggung tangan Ella, matanya masih belum lepas dari wajah cantik sang istri. Hampir dua puluh menit di posisi ini, sekarang ia bisa merasakan jemari Ella yang bergerak. Ia mengangkat kepalanya, melihat Ella yang berusaha membuka mata.
Erik tersenyum tipis, bersiap untuk menyapa Ella dengan ekpresi yang menenangkan. “Sayang, jangan banyak gerak dulu!” tegurnya, saat Ella hendak melepas alat bantu pernafasan.
Ella tersenyum tipis ke arahnya, ia tetap nekad melepas alat bantu pernafasan. “Aku sudah membuatmu khawatir, ya … maafkan aku,” ucap Ella, suaranya terdengar serak tak bertenaga. “tidurlah! Kamu pasti juga lelah.” Mintanya pada Erik. Tapi, Erik mengabaikannya, ia masih diam di kursi samping ranjang.
__ADS_1
“Mana yang masih terasa sakit?” tanyanya, meraba bagian dada Ella.
“Aku sudah tidak apa-apa. Pasti karena kamu merawatku dengan baik. Lihatlah! Sekarang wajahmu tampak kelelahan!” Ella mengusap lembut pipi suaminya yang masih menampilkan senyuman.
“Ehm, kamu membuatku hampir mati!” ucap Erik, mengingat kejadian beberapa jam yang lalu.
Ella terdiam. Ia teringat kejadian sebelum ia pinsan dan dilarikan ke rumah sakit. Ada hal yang membuat kondisinya seperti ini. Ia sempat membaca berita melalui ponselnya. Jika, Naura terlibat skandal perselingkuhan dengan kliennya.
Ella sangat shock dengan berita tersebut, ia butuh penjelasan dari siapapun yang mengetahuinya. Apalagi saat ponsel Naura tidak bisa dihubungi, ia semakin khawatir dengan gosip yang beredar.
“Bagaimana dengan Naura, Mas, apa dia baik-baik saja?” Ella semakin mengkhawatirkan kondisi Naura saat mengingat hal itu.
Ella membuang nafas lega. “Aku berharap Naura tidak menjadi perusak rumah tangga orang. Aku akan merasa gagal jika itu benar-benar terjadi.”
Erik menggeleng, "kamu terbaik. Tidurlah lagi! Hari masih gelap!” perintah Erik.
“Baru saja aku bangun? Bukannya ini yang kamu inginkan? Aku terbangun dari tidur panjangku …” ucap Ella. “Kenapa sekarang justru memintaku untuk tidur.”
Erik terkekeh, lalu naik ke tepi ranjang duduk menyamping menghadap Ella. “Aku hanya tidak ingin pikiranmu ke mana-mana. Cukup pikirkan kesehatanmu, supaya kita bisa menyambut kehadiran cucu-cucu kita,” terangnya.
__ADS_1
“Siapa lagi yang hamil? Kenapa kamu memanggilnya cucu-cucu?” Ella justru semakin penasaran, dia tidak akan tidur sebelum mendapatkan jawaban pasti.
“Iya, anak gadis kita. Sebentar lagi akan menjadi ibu.”
“Maura? Dia datang juga?”
Erik mengangguk menjawab pertanyaan Ella. “Alhamdulillah, dia berhak bahagia dengan orang yang ia cintai.”
“Emm … jaga kesehatanmu ya, supaya kita bisa menghitung berapa banyak cucu kita nanti.”
“Mas, jangan lupa. Kita juga tidak akan muda terus. Sekuat apapun cinta kita perpisahan akan tetap terjadi.”
Erik menatap lekat-lekat ke arah Ella, matanya berkaca-kaca. Dia tahu ucapan istrinya itu benar. Cepat atau lambat kematian akan memisahkan mereka. Ia lalu menggeser sedikit tubuh Ella, merebahkan tubuhnya di samping sang istri. Memeluknya erat, seolah benar-benar akan berpisah saat itu juga.
"Aku berharap kita akan segera dipertemukan setelah kematian nanti." Ella berucap lirih di samping telinga suaminya. Lalu tersenyum meneduhkan, yang mampu mengubah wajah Erik kembali berseri.
...----------------...
...Jangan lupa untuk like dan tinggalkan komentar.
__ADS_1
...