
Abhichandra Damanik, usia 35 tahun, berasal dari Pematangsiantar, Sumatra Utara. Saat ini Abhi dan Nathan bekerja sama mendirikan firma hukum di Jakarta Pusat. Abhi juga pemilik baru apartemen 110, baru pindah 3 hari yang lalu. Selain itu Abhi memeliki beberapa ase—
Tut. Tut. Tut ….
Erik mematikan panggilannya saat melihat bayangan Abhi memasuki apartemen Naura. Anak buahnya memang bisa diandalkan, kurang dari 15 menit ia bisa mendapatkan informasi tentang siapa pria penghuni apartemen 110.
Tangan Erik mempersilahkan Abhi untuk masuk dan duduk di ruang keluarga. Beberapa menit yang lalu, pria itu meminta izin padanya untuk mengenakan baju lebih dulu, baru akan menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
Di sofa terlihat Naura kesulitan menutup mulutnya saat melihat Abhi mengenakan pakaian santai. Kaus putih, dengan celana jeans biru, di lenganya terdapat blazer warna biru navy yang mungkin sengaja pria itu sampirkan. Sampai Abhi duduk, ia baru mampu memutus tatapannya.
“Yang, tolong buatkan teh!” perintah Erik pada sang istri. Tatapannya tak putus menelisik gelagat Abhi, menilai dalam diam. Pria itu terlihat cukup tenang, meski sedari tadi sorot matanya tak bersahabat.
“Saya sudah mendengarkan penjelasan versi putri saya. Jika tidak singkron dengan penjelasanmu, berarti jelas!” Erik menjeda ucapannya. “saya akan memanggil penghulu untuk datang ke sini! Menikahkan kalian!”
Tatapan Abhi bergeser ke wajah Naura yang tampak gelisah. Meminta klue atas penjelasan apa yang sudah ia berikan pada papanya? Merasa sia-sia kini Abhi kembali menatap Erik. Mengambil posisi senyaman mungkin untuk mulai berbicara.
“Baik. Saya akan menjelaskan kronologi yang sebenarnya. Lagian nggak mungkin juga saya menjalin hubungan dengan putri, Bapak!” Abhi tertawa meremehkan, tanpa melihat wajah Naura yang masam.
“Kenapa?” tanya Erik. “Apa putriku kurang menarik? Kurang cantik?” sahut Erik, matanya sampai tak berkedip mengiringi perubahan wajah Abhi yang tampak sungkan setelah suara tawa terhenti.
“Bu—bukan seperti itu, Pak!”
“Pa—
__ADS_1
“Diam, Na! Nggak baik memotong perbincangan orang lain,” peringat Erik tanpa menatap Naura. Dan gadis itu hanya membuang nafas kasar sambil menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa. Seolah pasrah dengan apa yang terjadi detik berikutnya.
“Saya akan menjelaskan, bagaimana bisa saya berada di kondisi tak lazim, saat Bapak dan Ibu tiba di sini.” Abhi menarik nafas dalam, lalu melanjutkan kembali setelah mendapat respon dari Erik. “Jadi begini, air di kamar mandi saya mati. Saya benar-benar nggak tahu, bagaimana bisa apartemen semewah ini, air bisa mati.”
“Tolong catat, Yang! Nanti lapor sama anakmu! Sepertinya ada karyawan yang mulai berbuat licik!” perintah Erik saat melihat sang istri tengah meletakan tiga cangkir teh ke atas meja.
Abhi semakin bingung dengan ucapan Erik, tapi dia tidak mau ambil pusing. Dia ingin segera menjelaskan dan buru-buru melarikan diri dari kesalahpahaman ini.
“Dan tadi itu, saya hanya menumpang mandi. Benar hanya itu. Karena hubungan kami sudah terjalin sebelumnya. Jadi saya berniat untuk me—
“Hubungan? Hubungan yang bagaimana maksud kamu? Pacaran, gebetan atau lagi tahap pendekatan ...." saking tidak sabar Erik langsung memotong ucapan Abhi.
“Bukan, Pa!” potong Naura.
“Papa nggak bertanya padamu!” sentak Erik. Dia emosi atas sikap Naura yang terus menerus memotong pembicaraan yang menurutnya sangat serius.
“Betul! Ya itu betul, Pa! Abhi benar.” sahut Naura kini dia sependapat dengan ucapan Abhi. Erik beralih menatap Naura, padahal dalam hatinya berharap jika Abhi adalah calon menantunya. Tapi pupus sudah, harapan 20 menit lalu yang ia susun. Ternyata keduanya seperti dua kutub magnet yang sejenis ketika didekatkan. (tolak menolak)
“Apa masih ada yang kurang jelas, Pak?” tanya Abhi. Mengalihkan perhatian Erik kembali ke arahnya.
“Silakan diminum dulu!” perintah Erik sambil menyandarkan tubuhnya, ada perasaan lega bercampur kecewa yang menyerangnya saat ini. Tatapannya ke arah Naura yang sedang mengamati Abhi.
Abhi tersenyum tipis, lalu meraih cangkir teh buatan Ella. Baru saja ia menyeruput teh tersebut tenggorokannya seolah terbakar terkena suhu teh yang sedang ia nikmati. Abhi terbatuk keras dan itu menarik perhatian semua orang yang tengah duduk di sana.
__ADS_1
“Nggak bisa pelan-pelan ya … sudah tahu panas masih saja, sok-sok’an!”
“Heh, teh ini tidak ada tulisannya awas panas!” balas Abhi.
Erik yang tengah berada di antara keduanya mulai menasihati. “Nana, jangan terlalu membenci Abhi. Takutnya nanti kamu jatuh cinta padanya. Cinta dan benci itu beda tipis. Slim!” ucap Erik memperingati putrinya. Tapi Naura mengabaikannya, dia mencebikkan bibirnya ke arah Erik. Sedangkan Abhi, seolah ada yang menggelitik perutnya. Mual ketika mendengar ucapan Erik.
Setelah rasa terbakar dalam mulutnya mereda, Abhi buru-buru berpamitan. Dia berkata jujur jika ada pertemuan dengan keluarga besarnya malam ini, dan dia sudah sangat terlambat untuk menghadiri acara lamaran sepupunya.
"Nak Abhi, tolong kalau Nana berbuat salah ditegur ya! Siapa tahu dia membawa pacar masuk ke apartemennya."
"Baik, Pak. Saya permisi dulu," ucap Abhi enggan. Ia lalu memberi salam dan segera pergi dari apartemen Naura.
Setelah pria itu menghilang. Erik dan Naura saling melirik. Enggan berbicara sampai Ella datang memecahkan keheningan di antara mereka berdua.
"Na, tadi orangtuanya Hanif datang. Dan ... besok malam mereka mengundang acara makan malam."
"Nana nggak bisa, Ma! Besok Nana ada janji!"
"Nana! Sampai kapan kamu akan bertahan dengan pendirianmu itu?" tanya Erik dengan nada tinggi.
Naura mengambil nafas dalam, mengeluarkan perlahan melalui bibir. "Nana akan menikah setelah siap," ucapnya lirih tanpa berani menatap mata Erik.
"Kamu jangan menyesal, ya! Kalau nanti yang menjabat tangan calon suamimu bukan papa. Tapi, kakakmu!"
__ADS_1
...----------------...
...Nunggu 300 like baru up 😉...