Kepincut Cinta Dokter

Kepincut Cinta Dokter
Extra Part


__ADS_3

Happy reading, Mohon maaf jika tidak sesuai dengan pemikiran readers, saya hanya ingin menyuguhkan yang berbeda dari lainnya. Mereka berpisah bukan karena orang ketiga tapi karena takdir mereka sampai di situ saja.


.


.


.


Erik pov.


Cinta... Pegang tanganku ini


Ku tak mampu bertahan lagi


Dalamnya luka hatiku


Cinta... Genggam tanganku ini


Dan yakinkan bahwa diriku


Mampu berjalan meskipun tanpanya.


Aku masih enggan beranjak pergi dari samping jenazah istriku, kutatap lekat-lekat wajah pucat, tapi masih bisa memamerkan senyum jahilnya itu. Kubacakan doa-doa terbaik untuknya, untuk mengiringi kepergiannya, sejenak kumenoleh pada lelaki di sampingku, berulangkali aku meminta maaf padanya, karena tidak bisa menyelamatkan satu-satunya adik yang dia sayangi.

__ADS_1


Dia terus membalasku dengan mengatakan jika ini sudah takdir dari Allah.


Bukan hanya teman atau rekanku tapi para sahabat istriku juga hadir di sana, mengantarkan doa dan turut mengucapkan duka padaku, sejenak aku bisa memamerkan wajah kuatku, tapi apa? di dalam dada ini seperti tertinggal batu besar, rasanya sesak, perih, air mata ini kembali menetes deras, ketika menatap putra pertamaku yang turut menangis, di pelukkan mamaku. Sedangkan putriku, masih aku tinggal di rumah sakit, kutitipkan dia bersama para suster di sana, berharap mereka bisa menjaganya dengan baik, jangan sampai putriku tertukar dengan bayi orang lain, seperti kisah sinetron yang sangat digemari para wanita, karena Riella satu-satunya wanita yang akan terakhir aku cintai setelah istriku.


“Erik pegang Kalun sebentar, Nak. Mungkin dia bisa menatap wajah Mamanya untuk yang terakhir kalinya.” Tangisku pecah saat mamaku mengucapkan itu padaku. Kata terakhir kalinya, membuat hatiku rasanya kembali tergores karena mengingat kepergiannya demi melahirkan darah dagingku.


“Ma... Mamma... Ma...mamamama.” Kudengar anakku memanggil-manggil istriku, dia menyentuh pipi istriku yang sudah dingin, aku tidak bisa menahan air mataku lagi, kuusap dengan lenganku, yang ternyata juga sudah basah.


“Maafkan Papa Sayang...,” ucapku sambil menghiburnya, kucium wajahnya yang mirip denganku itu, kuangkat Kalun lalu kuberikan pada baby sitter yang juga tengah menangisi kepergian istriku, istriku sangat akrab dengannya, meski dia sudah tua tapi dia selalu menghormati istriku sebagai majikannya.


“Kau tahu Sayang banyak orang yang datang ke sini, mereka semua menangisi kepergianmu yang tiba-tiba ini,” lirihku sambil menatap wajahnya.


“Apa kamu lebih memilih bersama Kenzie dari pada di sini bersama kami? Tapi kamu bilang mencintaiku sampai mati,” lirihku lagi. Lalu kutatap dia, aku mengangguk memahami perkataan istriku waktu itu.


Para tamu yang datang untuk takziah semakin banyak, membuat diriku bertambah pusing mendengarkan suara bising itu, aku tau mereka ingin mendoakan istriku, tapi tolong jangan berisik. Aku ingin menikmati waktu terakhir ini bersamanya.


***


Saat ini aku tengah berjalan menuju tempat peristirahatan istriku, langkah kakiku semakin berat, mengingat besok aku tidak bisa menyentuh raganya lagi. Saat istriku di masukkan ke dalam liang lahat, aku mulai menitihkan air mata, aku tidak mampu mengumandangkan suara adzan terakhir kalinya untuknya, kulihat Damar sudah turun ke bawah untuk menggantikanku.


“Bunga terakhir kupersembahkan kepada yang terindah..., Sebagai tanda cinta untuknya.” Mungkin lagu itu yang tepat untuk kunyanyikan saat ini.


“Selamat jalan kekasih kaulah cinta dalam hidupku, aku mencitaimu, untuk selama-lamanya,” dan seperti itulah janjiku saat ini aku tidak akan menggantikannnya dengan siapapun, aku ingin menunggunya di sini, di bumi ini, memberikan kasih sayang untuk kedua anakku yang sudan dia titipkan. Semoga aku bisa menunggunya untuk menjemputku, aku ingin bertemu dengannya kembali di dunia berikutnya.

__ADS_1


“Jika kita tidak bisa bersatu di dunia, kita akan selamanya bersama di sana,” ucapku sambil berdiri.


“I Love You My Wife Now... & Forever.” Ucapku saat meninggalkan makam istriku. Berharap besok aku bisa sehat dan bisa menemuinya kembali.


Ella pov.


Sebelum jadwal cessar datang, entah kenapa aku merasa gelisah bahkan aku terserang insomnia, beberapa hari sebelum jadwal cessar. Mungkin karena aku terlalu takut, menyebabkan tekanan darahku sedikit naik. Malam itu entah kenapa aku berniat menulis surat untuk suamiku, surat itu akan aku titipkan ke Yohan, untuk menyerahkan kepada Mas Erik. Karena beberapa hari ini aku bermimpi sering bertemu dengan Ayah dan Bunda yang duduk di kursi taman, mereka menggandeng tangan kanan dan kiriku, seperti aku anak kecil yang baru saja bertemu, karena berpisah sangat lama.


Malam ini suamiku mengajakku makan malam romantis, aku terkejut saat melihatnya membawaku ke dalam kapal pesiar, aku pikir itu miliknya, tapi aku salah karena ternyata itu milik Yohan. Aku bahagia dia masih perhatian denganku, mau melepaskan sepatu yang aku pakai, tidak risih juga dia melihat kakiku yang sudah seperti kaki gajah.


Namun, tiba-tiba aku merasakan sakit yang begitu hebat di bagian perutku, seperti akan ada yang keluar saat itu juga. Kulihat suamiku melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, aku membentaknya dengan suara keras, dalam hatiku sungguh menyesal memperlakukannya seperti itu.


Tidak lama kami pun sampai di rumah sakit, aku segera dibawanya ke ruang bersalin. Kudengar kata-katanya yang selalu menguatkan diriku, agar aku lebih semangat lagi untuk mengeluarkan bayi yang ada diperutku ini. Setelah aku merasa lega ternyata anakku belum juga keluar, kudengar Bu Lasmi mengatakan jika anakku terlilit tali pusar, ntah kenapa rasa khawatirku lebih tinggi dari tadi yang aku rasakan. Aku semakin lemas saat merasakan bagian bawahku seperti ditarik, lalu terdengar suara tangis bayi perempuan yang aku inginkan, aku sempat melihat wajah cantik itu. Wajah yang sama persis denganku, saat aku mendengar Mas erik mengumandangkan Adzan entah kenapa kakiku mulai terasa dingin, seperti ada batu es di atasnya. Rasa itu mulai menjalar hingga ujung kepalaku, hingga aku tidak bisa lagi merasakan kehangatan di sana.


“Ya Allah bila ini waktuku, tolong jaga mereka, jangan biarkan mereka bersedih atas kepergianku,” mohonku pada Sang pencipta.


Aku ingin sekali memeluk suamiku yang sudah terduduk di lantai ingin rasanya aku memeluknya, menenangkannya, memberikan kata-kata menenangkan, supaya dia tidak bersedih dengan perpisahan yang hanya sementara ini. Aku yakin dia bisa bertahan hingga kita bisa bertemu lagi di dunia yang sama.


“Aku mencintaimu suamiku, dulu dan selamanya.”


.


.

__ADS_1


Pokoknya terimakasih ya... yang sudah mendukung karya saya yang receh ini selama 3 bulan 4 hari. Mohon maaf, bila dalam menulis banyak yang tidak sempurna. Sekali lagi saya mohon maaf. Sampai jumpa di season 2.


__ADS_2