Kepincut Cinta Dokter

Kepincut Cinta Dokter
S2 Bella


__ADS_3

Lanjut ya... Happy reading, yang silent readers jangan lupa ya kasih likenya, itu loh tanda 👍 di pojok kiri bawah, terima kasih.


.


.


.


Cahaya matahari mulai masuk ke dalam kamar rumah mewah wanita berusia 35 tahun, dia terbangun saat matahari itu mulai menyilaukan matanya. Pelan-pelan dia meregangkan tubuhnya, mengirup nafas dalam dan mengeluarkannya pelan-pelan, saat melirik jam di dinding, dia buru-buru beranjak dari ranjangnya, lalu segera mengikat rambutnya yang panjang. Dia bernyanyi di dalam kamar mandi, hatinya terlihat bahagia, seperti tidak ada beban yang dia pikul.


Dalam waktu 30 menit dia mulai keluar dari rumah yang dia tempati dengan beberapa pelayan, dia melajukan mobilnya ke arah Jl. Tamrin, untuk mendatangi toko rotinya yang baru dia buka sebulan yang lalu.


Ketika dia memasuki toko roti miliknya, dia di sambut ramah oleh para karyawan yang hanya berjumlah 6 orang, dia menerima banyak laporan dari karyawannya, banyak pesanan hari ini dan besok, sepertinya dia akan kerja lembur hingga malam hari.


Setelah selesai mengecek laporan dia segera memulai aktivitasnya pagi ini, dia memulai mencampurkan tepung dengan telur, dan bahan kue lainnya. Dia menghentikan kegiatannya saat Ponsel di kantong apronnya berbunyi, dia terlihat sangat senang, saat membaca siapa yang meneleponnya, dia lalu meminta Dian untuk melanjutkan pekerjaannya.


“Hay...,” ucapnya saat menerima telepon.


“......” ucap lelaki di ujung telepon.


“Aku tidak akan lupa minum obat, aku sudah memasang alarm di ponselku, aku akan selalu ingat pesanmu,” ucapnya sambil terkekeh, pada pria di ujung telepon.


Setelah dia mengucapkan kalimat itu, teleponnya segera ditutup, karena dia ingin melanjutkan adonanya.


Dia masih selalu ingat wajah tunangannya, saat dia meninggalkan dirinya di bandara Sydney, tunangannya masih banyak pekerjaan jadi, dia akan menyusul ke Jakarta ketika semua pekerjanya sudah selesai, tunangannya memang membiarkan dia tinggal di sini sendiri, tapi tentu banyak orang kepercayaannya untuk menemani dirinya.


Dia memang belum lama tinggal di sini, tapi dia cukup banyak kenalan di sekitarnya, karena dia bukan wanita yang pandai menutup diri.


“Kak Bella, ini yang harus diantarkan sore ini, katanya buat acara nanti malam ulang tahun perusahaan, mereka memesan 1000 potong cheeze cake, dan mereka juga sudah melunasi pembayarannya kemarin,” jelas salah satu karyawan toko roti kepada Bella.


“Bisakah kamu nanti yang mengantar ke sana denganku?” tawar Bella.


“Boleh Kak, kebetulan kekasihku tidak mengajakku kencan malam ini,” jelas karyawan toko roti bernama Dian.


“Oke kita berangkat pukul 5 ya, usahakan semua cake sudah siap sebelum jam 4,” jelas Bella. Dia lalu melanjutkan aktivitas dengan adonan cake di depannya, dibantu oleh ketiga karyawannya.

__ADS_1


“Hari ini toko kita tutup lebih awalnya ya, stok roti habis kita langsung tutup saja tokonya,” teriak Bella pada penjaga kasir yang berjaga di tempat paling depan.


“Baik Kak,” sahut penjaga kasir wanita yang duduk di depan meja.


Waktu terus berputar hingga pukul 3 sore Bella sudah siap mengantarkan cake pesanannya, Dia pergi bersama Dian, menuju ke kantor pelanggannya.


“Nanti kita berdua yang menyusun ya Kak, di sana tidak menyediakan pramusaji, untuk kita,” jelas Dian.


“Iya, nggak apa-apa, aku akan berikan bonus ke kamu.” Dian tersenyum saat mendengar akan mendapatkan bonus dari bosnya, tenaganya yang tadi habis mulai bersemangat lagi saat mendengar ucapan Bella.


“Andai kita punya kurir Kak, Kakak nggak akan capek-capek seperti ini,” jelas Dian.


“Di mana alamatnya, kita cari saja lewat Gmaps.” Bella tidak menanggapi ucapan yang Dian katakan. Dian yang tidak mendapat respon langsung menyerahkan alamat yang sudah Dian catat saat menerima pesanan.


“Sepertinya cukup jauh,” ucap Bella saat mengetik alamat kantor yang akan dia tujuh. Dia lalu mulai melajukan mobilnya ke gedung kantor pelanggannya.


Hingga satu jam kemudian, mereka tiba di gedung kantor pelangannya, Bella dan Dian berpakaian lengkap dengan apron dan topi ala koki, setelah masuk dan diberi petunjuk di mana tempat cakenya, Bella segera menyusun cake yang tadi mereka bawa, hingga sebagian para tamu sudah berdatangan.


Bella yang sudah menyelesaikan susunan cakenya, meminta izin untuk ke toilet pada Dian.


Bella hanya menggelengkan kepala ketika mendengar ucapan yang keluar dari mulut para wanita yang melewatinya.


“Katanya nanti ada Pak Erik juga yang datang.”


“Duda 2 anak itu?”


“Iya, katanya lagi dia akan segera menikah, tapi sayang dapatnya janda.”


“Ya cocoklah janda dapat duda.”


“Tapi gue nggak rela secara hot daddy itu dapat janda. Beneran gue nggak terima.”


Ucapan itu bisa di dengar jelas oleh Bella, karena dia tepat berada di belakang Bella berdiri, pintu terbuka membuat Bella segera meninggalkan dua manusia yang sedang bergosip. Dia hanya tersenyum tipis ketika masuk ke dalam toilet, dia lalu melepas apron dan topi yang dia kenakan, berlanjut merapikan penampilannya. Cukup lama dia menatap dirinya di depan cermin. Hingga suara dering ponsel yang kembali menyala, membuatnya sadar jika hari sudah semakin larut, saat kembali ke meja saji dia kaget karena cake yang tadi dia susun hanya tinggal seperempatnya saja, lainnya sudah di ambil para pecinta cheeze cake buatanya. Dia tersenyum senang karena cakenya banyak di gemari di kalangan atas, meski baru sebulan dia merintis tapi dia cukup puas dengan hasilnya.


“Kak Bella ayo, sepertinya pekerjaan kita sudah selesai,” ajak Dian. Bella hanya mengangguk, karena jam sudah menunjukkan pukul 7 malam.

__ADS_1


“Kak sepertinya, saya butuh ke toilet juga, perutku tiba-tiba mules,” pamit Dian dijawab usiran tangan oleh Bella.


Di saat yang bersamaan, Erik yang baru tiba di acara pesta Damar, berjalan masuk sambil menggandeng kedua anaknya, dia tampak tampan dengan balutan jas hitam yang sangat pas di tubuhnya, Riella dan Kalun juga tidak jauh pesonanya dengan Erik, hanya satu yang kurang, jika saja istrinya masih ada akan banyak keluarga yang iri dengannya.


Mereka masuk memghampiri Damar yang sudah menunggunya sedari tadi, saat Erik hendak duduk, jas mahalnya tiba-tiba tersiram air cooctail oleh pramusaji yang ceroboh, membuatnya kesal dan ingin memakinya, karena tidak bisa menikmati acara Damar dengan baik. Tapi beruntungnya Erik masih bisa menahan emosinya, mengingat ini adalah acara penting sahabatnya.


“Bersihkan di toilet sana!” perintah Damar saat melihat Erik masih menghapusnya dengan tisu.


Karena tidak kunjung bersih dia memutuskan untuk segera beranjak dan menitipkan kedua anaknya pada Damar.


Dia terus berjalan sambil menghapus noda di jasnya.


Bruukkk ...


“Aw...” Pekik wanita yang baru saja keluar dari dalam toilet.


“Sial banget sih hari ini,” umpat Erik saat tubuhnya terhuyung ke samping. Dia lalu menatap wanita yang terjatuh di lantai.


“Di mana matamu! Apa kamu tidak melihat aku yang sedang berjalan,” maki Erik yang tidak ingin menolong wanita di depannya.


“Maaf Pak..., Maaf kan saya,” ucap Dian sambil berusaha berdiri. Erik yang tidak peduli langsung masuk ke dalam toilet pria. Membersihkan jas mahalnya yang sudah tidak bisa lagi bersih, karena nodanya sudah mengering. Dia lalu melepaskan jasnya dan hanya mengenakan kemeja warna merah, dia lalu meraih ponsel di kantong dan menelepon Nadia, bertanya tentang keberadaan rekannya.


“Kamu sudah sampai?” tanya Erik saat panggilannya terhubung.


“Sudah, aku melihat Kalun dan Riella tapi aku tidak melihatmu,” ucap Nadia di seberang telepon.


“Tunggulah di sana, aku sedang berada di toilet,” jelas Erik lalu segera menutup ponselnya. Dia berjalan meninggalkan toilet untuk menghampiri Nadia, karena rencana malam ini dia akan mengenalkan Nadia pada Damar.


.


.


.


.

__ADS_1


TBC


__ADS_2