Kepincut Cinta Dokter

Kepincut Cinta Dokter
S2 Siapa Penolongku?


__ADS_3

Setelah Kalun tertidur, Ella segera turun ke bawah untuk mencari Riella, karena waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam, jadi waktu untuk Riella tidur. Dia menuruni tangga, mata tajamnya menatap ke arah Erik yang masih berada di ruang tamu bersama Nadia. Ella menatap tangan kanan Erik, yang tengah memegang puntung rokok. Dalam hatinya terus bertanya, sejak kapan suaminya itu mengkonsumsi barang haram itu.


“Mas merokok!” Erik tersentak saat mendengar bentakkan dari istrinya yang mengagetkan, Erik langsung mematikan putung rokok di tangannya, dan menoleh ke arah Ella.


“Sayang ..., kamu belum tidur?” tanya Erik demi meredam amarah Ella.


Kalau aku tidur, kenapa? kamu mau bermesraan dengan Nadia, dasar lelaki! mentang-mentang aku nggak bisa dipakai, langsung godain wanita lain. ucap Ella yang berkata dalam hati.


“Jawab pertanyaanku, Mas!” perintah Ella dengan nada emosi karena Erik tidak segera menjawab pertanyaanya. Erik hanya diam sambil melirik ke arah Nadia. Dari dulu dia tahu jika istrinya tidak suka dengan lelaki perokok, tapi sekarang dia justru membuat kesalahan besar di depan istrinya.


“Mama ..., Riella ngantuk, ayo temani Riella bobo.” Riella merengek sambil menarik tangan Ella, dan membawanya ke kamar di mana kakaknya tertidur. Dia meninggalkan Erik dan Nadia yang masih mengobrol di sana, entah apa yang dibicarakan hingga bisa memakan waktu yang lama.


Ella merebahkan tubuhnya di samping Kalun, dia di tengah-tengah kedua anaknya. Sama seperti tadi dia menidurkan Kalun, dia juga menepuk pelan punggung Riella, tidak butuh waktu lama untuk Ella menidurkan gadis kecil yang sangat mirip dengannya itu.


“Selamat malam Sayang, semoga mimpi indah,” lirih Ella, sambil mencium kening Ella.


Ella yang baru selesai mengganti baju, berjalan menuju balkon kamarnya, dia masih ingin mendinginkan hatinya. Dia berdiri di tepi pagar balkon sambil menyandarkan dagunya di kedua tangannya. Sedikit berharap dengan begitu dia bisa mendinginkan pikirannya.


“Di sini dingin, masuklah!” perintah Erik yang sudah kembali ke kamar.


“Tidurlah dulu! Aku masih ingin menikamati malam ini,” jawab Ella yang mencoba meredam rasa cemburunya.

__ADS_1


“Aku akan menemanimu, aku takut kamu kedinginan, dan membutuhkan kehangatan,” jelas Erik, dia lalu berjalan mendekat ke arah Ella, perlahan tangannya terulur melingkar di perut Ella.


“Apa yang membuatmu murung seperti ini?” tanya Erik sambil merapikan rambut Ella.


Ella masih menutup rapat mulutnya, tidak ingin mengatakan kenapa dirinya begitu terbakar api cemburu.


“Mam ..., kamu tau? Saat kamu pergi aku sangat tersiksa, karena terus terbayang-bayang kelakuanmu, ucapanmu, pelukkanmu, semuanya tentangmu.” Erik sudah menyandarkan kepalanya di punggung Ella. Istrinya masih terdiam belum berniat menjawab ucapan suaminya.


“Dan kamu tau siapa penolongku? Saat aku mulai gila?” Erik sengaja bertanya supaya Ella mau berbicara. Namun, yang ada Ella justru berusaha melepaskan pelukkan suaminya. Pikirannya sudah tertuju pada Nadia, yang saat itu selalu mendampinginya, bahkan Nadia lah yang menyembuhkan Erik dari rasa kehilangan atas dirinya.


“Hanya batangan rokok itu yang membuatku sedikit bisa melupakanmu, setiap asap yang keluar seolah bisa membawamu pergi dari pikiranku, kamu tau betapa stresnya suamimu ini. Saat kamu datang ke mimpiku, menawarkan hal-hal manis, tapi yang ada semua itu tidak bisa aku nikmati,” ucap Erik menjelaskan pada Ella. Dia masih bersandar di punggung Ella.


“Nadia hanya teman wanitaku yang kebetulan jadi dokterku, dia tidak ada apa-apanya dibanding denganmu, cuma kadang aku memeluknya ketika aku merasa kesakitan karena merindukanmu.” Ella mengusap air matanya saat mendengar ucapan Erik.


“Mas sudah sering mengatakan ini, bahkan kamu mungkin bosan mendengar kata-kata ini, bahwa kamu akan jadi yang pertama dan yang terakhir di hidupku, kita akan bersama sampai waktu kita datang,” jelas Erik, menatap mata cantik Ella yang masih tertempel bulu mata palsu.


Ella memeluk erat tubuh Erik. Bukan hanya dia yang selama ini tersiksa, suaminya juga mengalami siksaan yang lebih sakit darinya. Bahkan suaminya harus menjadi single parent selama 5 tahun.


“Kamu istimewa, meski nyebelin tapi aku tetap mencintaimu,” ucap Erik sambil mencubit hidung Ella.


“Pergilah mandi! Aku tidak ingin mencium aroma rokok ketika kamu masuk rumah.”

__ADS_1


“Heheheh baiklah. Karena kamu sudah kembali aku akan meninggalkan soulmateku satu itu.”


“O ya, besok kita diundang acara syukuran kehamilan Nadia. Dia akhirnya mau kembali kepada Nugie, dia tidak sanggup untuk menjadi orangtua tunggal untuk anaknya.


“Baiklah, kamu saja yang hadir, sepertinya aku tidak akan terima melihat kemesraan kalian,” ucap Ella sambil berlalu menuju tempat tidurnya.


“Terus aku harus membawa pasangan dari pinggir jalan, lalu kubawa dia ke salon dan kuajak dia ke acara Nadia, begitu?”


“Boleh saja!”


“Sayang ..., jangan seperti ini! Kamu pasanganku dan sekarang aku bukan lagi seorang duda yang ditinggal mati istrinya,” jelas Erik yang dihiraukan oleh Ella.


“Besok harus datang ya, Mas akan menyiapkan semuanya.” Erik lalu berjalan ke arah kamar mandi untuk membersihkan aroma rokok yang menempel di tubuhnya.


Setelah menyelesaikan mandinya, Erik berjalan mendekati anak dan istrinya yang sudah berbaring di kasur, dia sengaja membuat desain ranjang dengan ukuran besar, dia bahkan memesannya khusus supaya mereka semua bisa tidur dengan nyaman, Erik menggeser tubuh Riella ke samping Kalun, supaya dia bisa lebih dekat dengan istrinya. Dia membawa Ella ke dalam pelukkannya, Ella yang belum terlelap sepenuhnya, membalas dengan erat pelukan Erik.


“Jagan godain aku ya!” peringat Erik saat pelukkan Ella semakin erat. Ella terkekeh dengan mata terpejam, tapi pendengarannya masih bisa mendengar sempurna ucapan Erik.


“Iya, tidurlah. Aku hanya tidak ingin jauh lagi darimu, aku merasa aman saat berada di pelukkanmu,” ucap Ella sambil mencari posisi ternyaman untuknya tidur. Erik mematikan lampu utama, ruangan itu dengan remot, lalu menggantinya dengan lampu tidur.


“Aku pastikan kamu akan tidur dengan nyenyak malam ini, selamat malam, semoga di mimpimu ada aku di sana,” ucap Erik sambil mengecup pelan bibir Ella. Dia mulai memejamkan matanya, sambil lirih menyanyikan lagu untuk Ella, hingga istrinya itu tertidur nyenyak. Ntah kenapa? Meski Erik sudah tua, dia masih suka melakukan hal-hal romantis seperti itu. Dia memang tidak bisa merangkai kata-kata manis, tapi setiap apa yang dia nyanyikan, akan selalu mewakili isi hatinya saat dulu, saat ini, dan saat yang akan datang.

__ADS_1


Erik membuka matanya, menatap ketiga orang yang dicintainya itu bergantian, bibirnya terangkat ke atas, saat melihat tingkah Riella yang posisi tidurnya seperti istrinya, Riella saat tidur memang lebih banyak bergerak dari pada Kalun, yang tidurnya lebih tenang tapi dia sering menutup wajahnya dengan selimut ketika tidur.


“Kalian adalah harta paling berharga di hidupku, aku janji akan membahagiakan kalian, sekarang dan sampai nafas terakhirku.” Erik lalu kembali memeluk Ella, mencium aroma parfum di tubuh istrinya, yang dari dulu menjadi aroma terapi tersendiri untuknya. Sudah 5 tahun dia tidak bisa tertidur dengan nyenyak, tapi saat Ella kembali tidur dengannya, tidurnya sudah bisa kembali nyenyak lagi. Dia bisa kembali merasakan kehangatan istrinya saat dingin mulai datang menghampirinya saat pagi menjelang.


__ADS_2