Kepincut Cinta Dokter

Kepincut Cinta Dokter
Ruang Bersalin 2


__ADS_3

Happy reading, jangan lupa untuk like dan vote ya.👍🙏😃


.


.


.


Dua jam kemudian...


Ella semakin merintih kesakitan saat kontraksi yang datang jaraknya semakin pendek dan lebih menyakitkan dari sebelumnya. Suara rintihan terdengar jelas di pendengaran Erik, membuat dia tidak tega untuk melihatnya, Erik yang selalu berada di samping Ella hanya bisa menguatkan lewat kata-kata, dan tangannya tidak berhenti untuk mengusap pinggang Ella.


Setelah cek VT lagi, kini Ella sudah memasuki pembukaan 6.


“Sabar ya tinggal 4 lagi kita akan bertemu dengan jagoan kita,” ucap Erik sambil menenangkan Ella.


“Apa kamu sudah menemukan nama yang pas untuk baby boy kita.” Ella hanya diam tidak mampu menjawab pertanyaan suaminya yang tadi terus mengoceh itu, fokusnya cuma satu pada sakit yang kini tengah dia rasakan.


Ella pun mulai meremas lengan Erik saat kontraksi itu datang lagi, dan Erik hanya menyuruh Ella untuk istighfar sambil mengusap pinggangnya.


“Aku mau minum Mashhh...” pinta Ella saat sakitnya sedikit mereda.


Erik segera mengambilkan minuman manis untuk Ella, menempelkan bibir gelas ke mulut istrinya.


“Minumlah yang banyak!” Ella mulai meminum ramuan teh dan sari kurma yang Erik berikan, tapi tidak lama Ella kembali memuntahkan minuman itu hingga mengenai baju Erik.


“Nggak papa nanti Mas bisa ganti baju di ruang atas,” ucapnya saat melihat kepanikkan Ella.


“Mas ganti baju dulu ya, biar nanti Mas minta Bu Lasmi menemanimu,” ucapnya setelah membersihkan cairan di baju yang Ella kenakan. Ella menangguk saat mendengar ucapan Erik, karena merasa jorok juga melihat suaminya itu terkena muntahannya.


Erik lalu berjalan meninggalkan ruang bersalin, dan meminta bu Lasmi untuk menemani Ella. Saat sampai di ruang pribadinya Erik tidak kunjung berganti baju tapi dia meraih ponselnya untuk menelepon sang mama.


“Hallo, ada apa Sayang...” terdengar suara di ujung telepon.


“Ma..., hiks...hiks...”


“Rik..., kamu kenapa? Apa yang terjadi? Kenapa kamu menangis?” tanya Jihan yang mulai panik.

__ADS_1


“Lala Ma, istriku mau melahirkan, huks... Aku nggak tega melihatnya kesakitan, hiks... Aku harus bagaimana Ma? Dia nggak mau untuk ambil caesar.” Jihan yang mendengar itu hanya bisa menenangkan lewat telepon.


“Sayang maaf Mama lagi di Bandung, mungkin nanti malam baru bisa sampai Jakarta, kamu harus kuat Rik, jangan seperti itu bukannya kamu sudah sering melihat orang kesakitan karena melahirkan, harusnya kamu bisa lebih kuat karena tau apa yang akan dilewati istrimu! Siapa yang akan menguatkan Ella jika kamu lemah seperti ini!”


“Ma...hiks..., tapi aku nggak kuat Ma,”


“Bodoh kamu ya..., siapa yang membantunya jika kamu tidak menemaninya, dampingi dia sebagai suami jangan sebagai dokter, dia hanya butuh gelarmu sebagai suami bukan sebagai dokter, kuatkan hatimu, beri kata-kata menguatkan untuk Lala,” ucap Jihan yang mulai emosi dengan ada sulungnya itu.


“Hapus air mata buayamu itu! Jangan sampai kamu tunjukkan di hadapan Lala, berani bikin tapi nemani lahiran saja menangis,” ucap Jihan lagi.


Tidak lama ponsel itu berganti suara menjadi suara laki-laki yang sangat Erik kenali.


“Bagaimana mau dapat gelar Papa siaga jika kamu seperti itu, temani istrimu suruh banyak-banyak doa dan istighfar,” ucap Yusuf yang lebih menenangkan di banding Jihan.


“Ya Pa.”


“Kami akan langsung ke rumah sakit setelah tiba di Jakarta nanti,” jelas Yusuf lalu mematikan ponselnya.


Erik lalu berjalan ke kamar mandi, untuk membersihkan tubuhnya yang tadi terkena muntahan Ella. Tidak menyadari jika sejak tadi ponselnya berdering. Setelah selesai dia segera kembali ke ruang bersalin, langkahnya dia percepat saat melihat panggilan tidak terjawab dari bu Lasmi.


Dengan kasar dia membuka handle pintu, saat sudah tiba di ruang bersalin.


“Tadi Mbak Ella nyariin Bapak,” jawabnya singkat.


“Mash..., telepon Kak Damar sebelum aku mati,” ucap Ella saat melihat Erik di sampingnya.


“Nggak! Nggak boleh ngomong seperti itu, kamu harus kuat jangan tinggalkan Mas sendiri di sini,” ucap Erik sambil meraih ponsel di kantongnya, lalu mencari nama Damar di daftar phonebooknya.


“Hallo Damar!” teriak Erik lalu menyerahkan ponselnya ke tangan Ella saat terdengar suara Damar.


“Kak..., Maafin Lala yang banyak salah sama Kakak hiks..., kalau Lala nggak selamat nitip anakku ya... aww..., shakkithhh,” ucap Ella saat teleponnya tersambung pada Damar.


“Apa yang terjadi?” tanya Damar yang bingung. Erik lalu meraih ponsel itu dan memberitahu keadaan yang sebenarnya terjadi.


“Lala mau melahirkan, datanglah ke rumah sakit,” jawab Erik lalu mematikan teleponnya tanpa mendengar jawaban Damar.


Dia kembali duduk di samping Ella sambil mengenggam erat tangan Ella.

__ADS_1


“Nggak mau cek lagi?” tanya Ella saat melihat Erik duduk di sampingnya.


Erik hanya menuruti agar Ella sedikit lega. Dia kembali memasukkan jarinya, meraba letak kepala anaknya itu.


“Bu..., tolong periksa lagi denyut jantung bayinya!” perintah Erik yang melihat Bu Lasmi masih berada di sana.


Bu Lasmi segera meletakkan alat doppler ke perut Ella, masih terdengar teratur denyut jantung bayinya, dan Erik mulai lega karena perkiraan tidak akan lama lagi anaknya akan keluar.


“Sudah pembukaan 8, bentar lagi ya,” ucapnya, sambil memeluk dan mengusa perut Ella. Ella membalas pelukkan itu dengan erat menyalurkan rasa sakit yang kembali datang menyerangnya.


“Sabar ya..., sebentar lagi kok... Kita akan bertemu Erik junior,” ucap Erik sambil menenangkan Ella. Dan Ella hanya merintih kesakitan sambil menyandarkan kepalanya di dada Erik, Erik juga sudah mulai berkeringat, karena khawatir dengan kondisi Ella. Erik lalu mengikat rambut Ella yang sedikit basah terkena keringat itu, rambutnya sudah tidak tertata rapi lagi, karena tingkah Ella yang tidak karuan.


Pukul 16.00 Wib.


“Mas janji nggak akan ninggalin kamu, apa lagi menduakanmu, kamu sudah mau berkorban untuk melahirkan anakku saja Mas sudah sangat bahagia,” ucapnya di tengah rintihan kesakitan Ella.


“Hiks...,hiks...,hiks..., shakitt Mashhh..., shakittnya lebih kuat,” ucap Ella sambil merem*s lengan Erik. Erik hanya bisa menguatkan hatinya dan menahan air matanya supaya tidak turun di pipinya. Sudah dari 2 jam yang lalu dia mendengat rintihan istrinya, selama itu pula dia menahan air matanya supaya tidak terjatuh.


Tiba-tiba Ella meraih lengan Erik, menggigit lengan itu dengan kuat agar bisa menyalurkan rasa sakitnya. Erik hanya bisa menahan rasa sakit yang Ella berikan, dia ikhlas meski lengannya setelah ini akan mendapat beberapa jahitan, tapi rasa sakit yang Ella rasakan lebih menyakitkan dari pada gigitan itu.


“Masshhh..., ketubanku peccahhh...,” ucap Ella saat merasakan air yang mengalir dari kemal*annya.


“Iya. Jangan panik ya,” ucap Erik sambil mengecup dahi Ella yang tepat berada di bibirnya.


“Bu..., sepertinya sudah waktunya, tolong Bu Lasmi bantu istri saya, saya akan mendampinginya sebagai suami, bukan sebagai dokter,” perintah Erik saat sudah beranjak dari ranjang bersalin, mengingat Bu Lasmi adalah orang yang selalu membantu saat proses melahirkan pasiennya, jadi dia memilih bu Lasmi juga untuk membimbing istrinya melahirkan.


Bu Lasmi yang mendapat perintah Erik segera mengecek kembali kondisi Ella, termasuk tensi darah Ella dan terakhir kembali melakukan test VT dan menyiapkan baju bayi yang tadi di bawa Erik.


“Pembukaan sudah lengkap Dok! Apa perlu saya penggilkan dokter anak Dok, untuk berjaga-jaga? Sepertinya saya juga butuh satu assistan lagi,” jelas bu Lasmi.


“Terserah apa katamu, yang aku mau mereka berdua selamat,” jawab Erik yang menyerah, bukan saatnya dia egois meminta orang untuk tidak menyentuh istrinya, yang dia pikirkan sekarang hanya keselamatan anak dan istrinya.


.


.


.

__ADS_1


TBC...


Vote kencengin ya...👍😃


__ADS_2