
...Selamat Membaca...
Naura dan suaminya, kini sedang berada di dalam kamar. Gadis itu, duduk di depan cermin menyisir rambutnya yang panjang, setelah tadi melakukan pengeringan. Sedangkan Abhi, duduk di tepian ranjang sambil mengamatinya, satu tangannya ia gunakan untuk menahan kepala.
“Aneh ya, lihat gadis di depanmu dandan, begini?” tanya Naura tanpa membalikan tubuhnya menghadap Abhi. Dia hanya menatap suaminya dari pantulan kaca.
“Tidak juga. Aku sering melihat adik dan mamaku memoles wajahnya. Tapi, yang bikin aku betah, karena sekarang yang aku lihat adalah kamu.” Abhi beranjak dari duduknya saat ini, mendekati Naura. Ia ikut bercermin sambil kedua tangannya memegang lengan istrinya.
“Kita kencan, yuk!” bisiknya di daun telinga sang istri.
“Kencan?” Naura mengernyit. Selain papanya dan Kalun. Yang mengajak kencan pasti kliennya. Dan sekarang Abhi mengajak kencan untuk pertama kalinya, selain bahagia dia juga bingung apa yang harus ia pakai saat ini. Pakaian gaun-kah, casual-kah, atau model dandanan gotik saja.
Cup.
Satu kecupan mendarat di hidungnya. Dan sontak membuat Naura terkejut.
“Jangan bengong gitu, cepat ganti baju! Masa iya, kita kencan kamunya pakai baju motif Donal Duck?” kata Abhi, awalnya mereka berdua memutuskan untuk tidur lebih awal karena lelah, tapi Abhi mendadak punya ide cemerlang.
“Ok, kamu tunggu dulu! Kita mau ke mana? Biar aku bisa sesuaikan dengan pakaianku!”
“Aku nggak mungkin pakai jas, hanya beberapa baju yang aku bawa. Yang penting kamu pakai jaket saja!” Tanpa menjawab lagi, Naura bergegas masuk ke ruang ganti.
Cukup lama ia berada di sana, mencocokan stok baju yang Abhi bawa. Sampai akhirnya ia memilih mengenakan jeans hitam dan kaus Chanel warna putih, mengambil tas selempang kecil dan jaket parka warna hitam, lalu memakai sepatu putih miliknya.
Saat keluar ruangan, matanya menangkap Abhi yang menatapnya lekat. “aneh!? Aku ganti baju, ya?” tanya Naura.
“Bukan aneh, tapi kamu terlihat 10 tahun lebih muda!” puji Abhi, membuat Naura tersipu malu.
“Benarkah?!” Demi mengurangi rasa malu Naura berlari kecil ke arah kaca, untuk mematutkan penampilannya. Setelah semua merasa bagus, ia kembali menatap Abhi. “ayo, aku siap melakukan kencan pertama kita.”
Abhi yang sudah siap pun mengajak Naura menuruni anak tangga. Menggandeng erat jemari lentik sang istri.
Tiba di bawah, lagi-lagi mereka hanya mendapat bahan olokan keluarga besar Erik. Naura yang malu menarik tangan Abhi untuk segera menuju tempat parkir mobilnya.
“Tante Mama, aku ikut!” rengek Leya, yang ingin mengganggu kencan mereka. Tapi, Erik yang pengertian langsung menggendong cucu nya.
“Besok kita sama-sama ke kebun binatang. Biarkan Tante mama dan Om papa mu pergi dulu! Ok anak manis!” bujuknya lalu meminta Naura segera pergi.
“Beneran Nana tinggal, ya? Nanti kalau Leya nangis papa yang ngurus!” kata Naura yang sebenarnya tidak tega meninggalkan Leya.
__ADS_1
“Beres!” jawab Erik.
Naura pun mengajak Abhi ke garasi untuk mengambil mobil. Tapi, saat Abhi melihat koleksi motor Vespa milik Erik ia mengajak Naura untuk menaiki itu saja.
“Itu barang kesayangannya papa. Kamu mau dicoret dari daftar keluarga?!” ancam Naura. Di rumahnya ini, tidak ada yang berani menggunakan motor itu, karena bagi Erik itu cinta ke duanya setelah keluarga.
“Padahal aku ingin membuat kencan kita tak terlupakan. Naik sepeda saja, gimana?” tawar Abhi.
“Nggak mau, nanti pantatku sakit. Sudahlah naik mobil saja,” ucap Naura yang sudah berjalan menuju mobil putih miliknya. Namun, Abhi menarik tangannya saat mereka tiba di samping motor yang entah milik siapa, di sana sudah ada kunci dan helm kalau mau pakai tinggal tarik gas nya saja.
“Sayang, pakai ini saja.”
“Abhi ....”
“Kencan pertama, Sayang. Biar kita selalu mengingatnya,” kata Abhi, mencoba membujuk.
Setelah berpikir cukup lama, akhirnya Naura menyetujui ajakan Abhi. Dia naik ke atas jok motor matic entah keluaran tahun berapa.
Saat Abhi menarik gas, terdengar teriakan dari tukang kebun rumah Erik, dialah pemilik motor tersebut, ia berusaha menghentikan Abhi karena motor itu hendak dipakai pulang.
“Astaga pengantin baru itu!” gerutunya, saat melihat mobil tersebut melaju meninggalkan rumah.
“Abhi, aku baru pertama loh naik motor. Beneran deh!” kata Naura. Meletakan dagunya di pundak Abhi.
“Enak, kan?”
“Enggak, debunya berhamburan. Polusi, juga!”
Abhi hanya tersenyum sambil menatap wajah Naura dari spion kecil di depannya. “Kita mau ke mana, Sayang?” tanya Abhi, setelah puas mengamati wajah Naura.
“Terserah kamu saja, Abhi.”
“Mau makan lobster bakar? Di mana kamu biasa beli?” tanya Abhi.
“Kamu nggak mau makan ramen saja? Kamu kan suka ramen.”
“Iya, tapi kamu kan gak suka, jadi lebih baik tidak!” kata Abhi setengah menoleh ke arah belakang, demi melihat wajah istrinya.
“Aku akan mencoba menyukai apa yang kamu sukai, Abhi.” kata Naura, di ujung kalimatnya suaranya terdengar melembut.
__ADS_1
“Dan aku akan menurunkan egoku, demi kamu! Kita makan lobster saja, ya!”
“Ramen, aku mau coba, senikmat apa makanan kesukaanmu itu!” ucap Naura.
“Baiklah, kalau kamu ngotot, jangan salahkan aku kalau nanti kamu merasa mual di sana!”
Naura tersenyum tipis, sambil memeluk pinggang suaminya. "tidak akan, Sayang ...."
“Kamu kedinginan ya? Mau double pakai jaket aku?” tawar Abhi.
“Nggak, ini sudah cukup hangat, kok,” ucap Naura.
Abhi mengemudikan motornya pelan, menyusuri jalanan kota Jakarta. Sepuluh menit, kondisi cuaca aman tapi setelah lima belas menit berlalu, hujan tiba-tiba mengguyur kota Jakarta.
Abhi segera menepikan motornya untuk berteduh. Ia ingin melihat apa di dalam ruang penyimpanan ada jas hujan atau tidak. Tapi, nihil, ia memutuskan untuk menunggu hingga hujan itu reda.
Hampir sepuluh menit hujan masih turun dengan deras, mereka berdua berteduh di toko besi pinggir jalan yang sudah tidak beroperasi lagi.
“Kita pulang ke apartemen?” tawar Abhi, saat tahu di mana posisi mereka saat ini.
“Tunggu hujan reda dululah, Bhi! Masa iya, mau hujan-hujanan.” Naura menengadahkan tangannya, untuk merasakan seberapa deras hujan malam ini.
Abhi justru tersenyum menikmati wajah Naura, “kencannya batal ya? Enggak papa, Kan?”
“Kalau kamu sengaja yang batalin, aku bakalan marah. Tapi ini semua di luar kuasa mu. Apa boleh buat? Manusia boleh berencana, tapi yang menentukan tetap Yang di Atas.” Naura menyatukan tangannya, mencoba mencari kehangatan, dengan menggosokannya berulang kali. “aku punya rencana kencan bagus untuk kita. Nonton film saja di apartemen, aku punya film The Conjuring terbaru. Mau?”
“Ow, selain horor nggak ada, ya?” Abhi memang tidak menyukai film horor. Tentu dia lebih menyukai film bergenre action seperti John wick, Taken, Mr. Right dan filmnya Jason Statham.
“Kamu maunya film apa?” tanya Naura.
Abhi hanya tersenyum penuh arti, “kita lihat nanti!”
Mereka pun menunggu sampai hujan sedikit reda, kemudian Abhi membawanya pulang ke apartemen yang jaraknya hanya 500 meter dari tempatnya berteduh saat ini.
...----------------...
Aku ragu nih mau lanjut atau nggak.
Jangan lupa follow Ig Ella ya ... Rehuella1
__ADS_1