
Mobil warna putih produksi Eropa berhenti di area parkir salah satu resto ternama di Jakarta. Pria dengan kaus putih tanpa gambar tengah menenangkan pikirannya. Sekaligus mempersiapkan jawaban yang akan ia berikan atas pertanyaan-pertanyaan aneh yang nanti akan dilontarkan padanya.
Setelah siap, ia meraih blazer biru navy dan bergegas mengenakannya. Abhi keluar dari mobil, melangkah malas menuju bangunan khas Belanda yang ada di depannya. Menempa undakan tangga menuju lantai dua. Di mana keluarga besar Damanik tengah menunggunya saat ini.
Benar saja, begitu dia tiba di lantai yang sudah didekorasi romantis, semua orang tertuju ke arahnya. Senyum terpaksa ia tunjukan, menyapa satu persatu dengan anggukan kepala.
"Wah, si bujang sudah tiba! Ayo, Bang, gabung!" teriak seorang pria yang baru saja berhasil melamar kekasihnya. Abhi hanya melambaikan tangan tanda menyetujui ajakan Radit.
Hari ini dia benar-benar melewatkan acara lamaran sepupunya, dan itu semua gara-gara gadis yang tinggal di depan apartemennya. Naura.
"Hallo, Pa!" seorang anak kecil berteriak kencang, kakinya segera berlari mendekat ke arah Abhi, lalu memeluk kedua kaki Abhi dengan erat, seakan takut jika pria itu akan pergi. Sedangkan Abhi, memberikan senyuman manis ke arah gadis tersebut, sementara tangannya mencoba mengangkat tubuh Ara.
"Mama, mana?" tanya Abhi, sambil merapikan rambut gadis yang kini tampak nyaman di gendongannya. Gadis itu menunjuk ke arah wanita anggun yang sibuk menyapa saudaranya. "Papa bawa mainan untuk Ara?" tanyanya penuh makna. Matanya menelisik tangan Abhi. Namun, kecewa karena Abhi tidak membawa apapun untuknya.
"Mmmm ... no." Abhi menggeleng pelan. "Tapi, papa bawa ciuman banyak untuk Ara!" Abhi lalu menciumi pipi tembem Ara tanpa ampun, seolah ingin memiliki pipi menggemaskan itu. Hingga membuat Ara tertawa keras, karena rasa geli yang tak mampu ia redakan.
"Ara turun dulu, ya! Papa takut nanti Ompung Boru marah karena papa nggak segera menyapanya. Oke, Sayang!"
"Ok, Pa!" Ara mengangguk, lalu turun dari gendongan Abhi. Membiarkan Abhi menemui Ompung Boru yang kini tengah berbincang.
Abhi berjalan melewati beberapa saudaranya, ia mendekati sang mama yang tengah bersama seorang wanita di sampingnya. Tiba di sana, hal pertama yang ia lakukan adalah memeluk tubuh wanita setengah baya tersebut. Meluapkan rasa kerinduannya setelah beberapa bulan tidak bertemu.
"Assalamu'alaikum, Ma."
"Wa'alaikumsalam, Bang," balas wanita yang kini berada di pelukan Abhi, tanganya mengusap lembut punggung putranya.
"Bagaimana pekerjaan? Lancar kan?" tanyanya sambil melepas pelukan Abhi.
"Alhamdulillah, beres!" Abhi menjawab singkat.
__ADS_1
"Masih datang sendiri? Nggak ada yang menemanimu?" canda sang Mama, sambil melihat apa ada seseorang yang Abhi sembunyikan seperti saat itu.
"Mama bisa saja. Belum waktunya."
"Abhi ...." wanita itu memanggilnya dengan setengah suara, "adikmu sudah bahagia. Jangan terus berada dalam perasaan bersalah." Abhi melirik ke arah sang adik yang tengah tertawa bahagia.
"Jangan bahas itu!" Abhi menjawab sambil tersenyum simpul ke arah sang mama. Mencoba mengusir kekhawatiran mama akan dirinya.
"Ya sudah, ayo makan. Kamu pasti kangen disuap mama!" canda Widya sambil menarik tangan putranya. Abhi menurut mengikuti langkah Widya yang membawanya ke meja dengan banyak hidangan di atasnya.
"Mama nggak akan lama di Jakarta. Tidak lebih dari satu minggu, mungkin?! Kalau bisa kamu pulang ke rumah Tante dulu ya, mama ingin lebih lama bersamamu."
"Mama sama adik tinggal di apartemen Abhi dulu? Jujur Abhi nggak nyaman kalau tinggal di rumah Tante Anggi. Banyak perempuan di sana, Ma."
"Emm, gitu? Ya sudah, nanti mama bicara dulu sama adikmu."
Abhi mulai menikmati makanan yang diambilkan Widya. Dia membiarkan mamanya terus memperhatikan gerakannya yang sedang menyantap makan malam. Abhi paham betul kekhawatiran sang mama, tapi ia juga tidak bisa berbuat banyak. Hatinya belum bisa.
Dan kejadian menyakitkan itu mengubah sosok Abhi yang hangat menjadi Abhi yang berbeda. Ia selalu menghindari pertemuannya dengan mantan calon istrinya tersebut.
Saat itu Abhi yang baru saja menyelesaikan prakteknya, tidak mengira jika kasus pertama yang ia tangani justru perceraian adiknya. Segala upaya ia keluarkan untuk mempertahankan hak asuh Ara. Dan akhirnya ia berhasil.
"Hai, Bang!" Pria yang hari ini tengah bahagia mendekat ke arahnya. Abhi hanya menjawab dengan anggukan kepala. Lalu menatap lekat ke arah wajah Radit. "Jaga baik-baik calon istrimu!" peringatnya serius.
"Hahaha ... pasti Bang. Tidak semua cewek seperti dia." Radit menepuk pundak Abhi. "Abang kapan? Keburu tidak bisa terbang nanti tu burung!"
Dugh!
Abhi yang kesal sengaja menendang kaki Radit. Membuat si empunya merintih kesakitan.
__ADS_1
"Jam terbangnya sudah tinggi, mana mungkin bisa begitu!" jawab Abhi yang langsung mendapat hadiah timpukan kepala dari sang mama.
"Becanda mama, Sayang."
"Bantu carikan kakakmu ini, siapa tahu ada teman Zaskia yang bisa dipersunting." Widya yang mendengar obrolan keduanya ikut menimpali.
"Beres, pokoknya beres! Radit akan mencoba mencarikan jodoh untuk Bang Abhi! Atau Abang mau aku daftarin ke acara biro jodoh! Take Him Out, mungkin?" ledek Radit diiringi tawa kecil.
"Nggak perlu!"
"Makanya move on, Bang! Adikmu sudah bahagia!" kata Radit menunjuk ke arah Winda yang datang bersama sang kekasih.
"Lo pikir, Abang mu ini tidak bahagia?"
"Nggak! Gimana bahagia coba? Kalau yang diurus itu masalah orang lain melulu!" Radit berhenti sejenak. "Coba Abang nikah, pasti bisa memberikan wejangan lebih dalam lagi!"
"Dasar lo, ya!"
"Tapi ada benarnya juga ucapan Radit, Bhi! Mama juga sudah gatel pengen gendong cucu dari kamu! Atau mau mama cari'in? Mau satu marga atau orang Jakarta saja?" Wanita yang menyandang status janda itu mulai menggoda putranya.
"Heh, gak niat, Ma! Yang penting mama dan adik bahagia itu sudah cukup!" kata Abhi, lalu beranjak dari tempat duduknya.
Abhi menemui satu persatu keluarga besarnya, dan lagi-lagi ia selalu kalah jika ditanya perkara jodoh. Sampai acara itu selesai, ia pamit pada sang mama untuk tidur di tempat Nathan. Karena ada hak penting dengan rekannya tersebut. Widya pun menyetujui permintaan putranya. Berpesan pada Abhi supaya tidak jatuh cinta pada Nathan.
Padahal Abhi tahu, jika saat ini Nathan tengah berada di Bandung, mengunjungi keluarganya. Dia hanya ingin meminta waktu untuk menyendiri, menikmati apa yang saat ini ia rasakan.
Tiba di rumah Nathan waktu sudah menunjukan pukul 11 malam. Abhi segera masuk ke rumah, berjalan ke arah dapur yang ada di samping ruang keluarga, tanganya membuka lemari pendingin mengambil 2 kaleng bir yang biasa di simpan Nathan di sana. Lalu membawanya ke kamar yang ada di lantai dua. Ia keluar ke arah balkon, duduk bersandar di sana sambil mengamati langit hitam yang begitu banyak ditemani bintang. Berharap ada bintang jatuh yang bisa ia abadikan seperti kala itu. Saat waktu masih berpihak padanya, membiarkan ia menikmati rasa bahagia bersama Olivia.
Tegukan demi tegukan berhasil masuk ke dalam perutnya, namun rasanya masih sama. Abhi pikir, dengan menghabiskan dua kaleng itu, ia bisa melupakan semua hal tentang Oliv. Tapi, tidak. Dadanya masih saja terasa sesak saat mengingat nama perempuan itu. Perempuan yang sudah memberinya cinta sekaligus luka yang teramat dalam, sampai ia lupa bagaimana cara untuk mencintai lagi.
__ADS_1
...----------------...