
...Selamat Membaca...
Ketiga pria yang berada di ruang kerja berjalan beriringan menuju lantai atas kamar Naura. Wajah mereka tampak panik, apalagi Erik, wajahnya panik bercampur emosi, ia khawatir demamnya Naura akibat infeksi dari tindakan pemerkosa*an Abhi. Aluna yang kebetulan berada di sana ikut panik, sampai meninggalkan Gwen dan Leo yang ada di ruang keluarga.
Saat tiba di kamar Naura. Semua menoleh ke arah pintu. Menatap heran ke arah Erik. Padahal, dua perempuan yang berada di dalam kamar, sedari tadi penyebab demamnya Naura.
"Ke rumah sakit, kita lakukan visum! Supaya kita bisa menuntut pria itu!" ucap Erik tegas.
"Nggak! Papa apa-apaan sih? Apanya yang divisum? Ini cuma bengkak." Naura menolak, heran dengan kelakuan Erik.
"Badanmu panas, papa takut ada infeksi di tubuhmu!" Erik tak bisa mengendalikan emosinya. Dia hanya khawatir Abhi sudah melakukan hal buruk pada Naura.
"Apa sih, Pa! kalau infeksi pasti ini juga memerah. Ini cuma bengkak, Dokter Erik!" suara Naura tak kalah lantang, dan semua orang hanya mampu melihat pertengkaran keduanya.
"Kamu yakin? Abhi benar belum menodaimu, kan?" selidik dengan mata tak berkedip mengamati Naura.
"Istighfar, Mas!" sambar Ella.
"Aku hanya takut, Yang." jawabnya lantang.
"Aku sudah mendengar semua penjelasan Naura. Anak kita nggak nglakuin itu." Ella meninggikan suaranya, supaya Erik berhenti berpikiran buruk pada Naura.
"Baiklah, kali ini aku percaya! Apa lebih baik kamu menikah langsung saja, dari papa terus-terusan mengkhawatirkanmu, dan bisa memperpendek usia papa!"
Naura menggeleng keras, menolak tawaran Erik. Sekarang ia semakin malu karena pada akhirnya, ia yang menjadi bulan-bulan anggota keluarganya. "Pergi semua deh!" ucap Naura sambil menutupi wajahnya dengan selimut.
"Urus dia, Yang. Biar besok pagi kita antar Nana ke rumah sakit! Siapa tahu butuh teraphy untuk mempercepat pemulihannya." perintah Erik.
__ADS_1
"Pa, suruh orang papa mengambilkan mobilku." minta Naura saat Erik hendak meninggalkan kamarnya.
"Nggak, tunggu kamu pulih dulu! Papa nggak mau ambil resiko. Pastinya kamu akan begadang menghubungi pria itu. Kalau papa memberimu ponsel."
"Jangan mulai deh, kita hanya teman, Pa!" jelas Naura.
"Dari temen jadi suami apa salahnya? Sebelum ada undang-undang yang melarang, jadi sah sah saja, kok!" Balas Erik membuat ruangan kembali dipenuhi tawa.
"Sudah pada keluar sana, biarkan mama saja yang di sini. Naura mau istirahat!" Naura yang tidak mampu lagi menahan rasa malu mengusir mereka keluar dari kamar.
Malam harinya suhu tubuh Naura semakin tinggi, hampir berada di angka 40° celcius. Ia merancau tak jelas, bibirnya bergetar, tubuhnya menggigil, Ella yang menunggu di kamar Naura tampak panik, ingin membawanya ke dokter tapi Naura menolak. Berniat memanggil dokter datang, tapi hari sudah larut.
Jadilah, Ella yang terus menungguinya, mengganti handuk kompress supaya panas Naura lekas turun. Sampai ke esokan harinya Erik yang kesal langsung membawa Naura ke rumah sakit. Dia tidak bisa melihat istrinya kelelahan karena mengurusi putrinya, meski ia tahu itu wujud dari rasa cinta Ella pada sang putri.
Setelah berpamitan dengan Widya, dan adiknya, Abhi segera keluar dari apartemen. Dia berangkat lebih awal karena Nathan sudah menunggunya di lobby. Sahabatnya itu datang on time sesuai waktu yang sudah dijanjikan semalam.
"Cerah sekali hari ini? Ini ibarat suami, jatahnya berlipat pasti!" Ledek Nathan, saat Abhi berdiri di depannya.
"Aku masih single, jangan omongin jatah!" jawab Abhi tangannya memukul keras lengan Nathan.
Sahabatnya yang seumuran itu tersenyum kecil, "makanya lepas tu statis perjaka! Nggak bosan apa, status di KTP belum kawin, mulu!"
"Dah, deh, ayo, buruan!" Abhi berjalan lebih dulu dari Nathan. Ia tidak mau Nathan semakin menggodanya, dan pria itu akan terus menanyakan apa menjadi rahasianya saat ini. Niatnya mendekati Naura adalah rahasia Erik dan dirinya, ia tidak ingin Nathan tahu rencananya.
Mobil Toyota Rush pun melesat jauh meninggalkan gedung apartemen Abhi. Kedua pria itu terdiam menikmati perjalanan selama 15 menit, barulah akhirnya tiba di rumah Martinus. Abhi meminta Nathan untuk pulang, dan akan menghubunginya jika ia butuh bantuan. Nathan langsung setuju dan meninggalkan Abhi di rumah Martinus.
__ADS_1
Awalnya Abhi menjelaskan jika kedatangannya hanya untuk mengambil mobil Naura, tapi satpam berseragam gelap itu justru menelepon Martinus memberitahu jika ia datang, otomatis Martinus memintanya untuk masuk dan mengajaknya ngobrol.
Cukup lama, Abhi berada di dalam ruang kerja Martinus, dia keluar dengan wajah kesal. Dia tidak suka dikendalikan oleh keluarga ini. Ingin sekali terbebas dari paksaan Martinus, tapi ia belum bisa, dia harus menunjukan dulu siapa Olivia sebenarnya.
Abhi segera keluar dari rumah mewah tersebut, berjalan masuk ke mobil Naura. Aroma apel dari pengharum menyambutnya, pikirannya sedikit rileks, emosi yang tadi keluar perlahan memudar. Pandanganya tertuju pada tas Naura yang ada di bangku samping kemudi, tersenyum tipis saat melihat ponsel Naura di sana. Ia lalu melajukan mobilnya menuju rumah Erik.
Jam digital di mobil Naura sudah menunjukan pukul 10 pagi. Jalanan cukup padat, tapi masih kategori normal, berbeda jika ia keluar pukul 8 pagi biasanya akan macet panjang di jalan yang ia lewati saat ini.
Tiga puluh menit berlalu, mobil yang dikemudikan Abhi akhirnya tiba di rumah Naura. Ia menghentikan mobilnya tepat di belakang mobil Rubicon hitam. Sejenak ia menenangkan debaran jantungnya. Mengambil tarikan nafas berulangkali sambil memejamkan matanya.
Sampai Abhi sudah merasa tenang ia segera keluar dari mobil. Membawa tas coklat gelap milik Naura, ingin menunjukan pada Erik, betapa perhatiannya ia pada Naura. Senyum Abhi terpancar indah, mengiringi langkah kakinya yang bergerak tegas menuju pintu utama. Namun, langkahnya berhenti mendadak saat ia tiba di teras rumah.
Penglihatannya masih normal, ia mengusap matanya berulangkali demi memastikan kebenaranya. Ia melihat Naura tengah melakukan ciuman di ruang tamu. Ciumannya dalam penuh gairah, ia bisa melihat itu sampai suhu tubuhnya ikut memanas.
Abhi hanya melihat dari arah samping kegiatan mereka berdua, dia menggeleng kepala berusaha untuk tidak percaya. Tapi jelas itu Naura, tanganya kini semakin terkepal erat, otot tanganya menonjol sampai memperlihatkan guratan uratnya, ia ingin segera pulang demi melupakan wanita yang hampir 20 jam mengisi pikirannya. Membuang bayangan kelakuan Naura dari otaknya.
"Semua wanita sama saja! Murahan!" gumamnya, sambil meninggalkan rumah Erik. Ia mengembalikan tas Naura ke dalam mobil, lalu segera menghubungi Nathan.
"Tolong jemput aku sekarang! Aku sudah muak berada di sini!" Ujarnya marah. Lalu menutup pintu mobil Naura dengan kasar, ia memilih menunggu Nathan di luar pekarangan rumah Erik, dari pada harus menyaksikan kegiatan mereka yang pasti akan berakhir di ranjang.
Dengan langkah pelan dan tangan yang ingin memukul siapa saja, ia berjalan ke arah gerbang. Baru saja ia tiba penghujung halaman, mobil mewah masuk ke halaman rumah Erik. Abhi hanya menatap dengan cengiran bibir, tetap melanjutkan langkahnya tanpa mempedulikan lagi keluarga Naura.
"Siapa lagi yang datang? Hanif? Kepergok pasti aksi bejatmu!" ujarnya penuh emosi.
...----------------...
...Aku lagi butuh amunisi, ada yang mau ngasih like dan komentar?😂...
__ADS_1