Kepincut Cinta Dokter

Kepincut Cinta Dokter
Bidadari Surgaku


__ADS_3

...Selamat Membaca...


Mobil Mini Cooper warna putih milik Abhi tengah melaju pelan, berusaha menyibak kemacetan kota Jakarta siang ini. Di dalam mobil keluaran Eropa tersebut, hanya ada Abhi dan Naura yang duduk di bangku depan. Abhi tengah fokus mengemudi, sedangkan Naura, diam tanpa kata, menikmati teriknya sinar matahari siang dari dalam mobil.


Sesuai ucapan Abhi, kalau hari ini mereka akan pergi jalan-jalan. Ini kejutan kecil untuk Naura. Sedangkan anggapan Naura ini adalah kencan perdana untuknya setelah menikah dengan Abhi. Dia begitu antusias, saat Abhi memintanya untuk bersiap. Rasa penasaran sedang mengusik hati Naura saat ini. Bertanya dalam hati, *ke mana suaminya itu akan membawanya pergi*?


Biasanya kencan pasangan itu ... dilakukan malam hari. Berhubung nanti malam Abhi harus pergi jadilah mereka pergi saat siang bolong.


Suasana berubah manis saat Abhi menyalakan Audio Player dari layar kecil di depannya. Seketika lagu ‘Aisyah Istri Rasulullah’ mengalun lembut, mengiringi beberapa menit perjalanan mereka.


Naura bergeming, menikmati setiap bait dan alunan musik yang dibawakan oleh Sabyan. Ini pertama kali untuknya, mendengar mulai awal sampai akhir lagu tersebut. Sama halnya dengan Abhi, dia pun begitu, tengah tenggelam dalam alunan suara merdu dari Nisa.


“Bunga. Dia suka Sabyan. Kamu tahu kan, kemarin mobil ini dipakai dia?” Abhi menjelaskan, mengerti akan tatapan istrinya yang tertuju ke arahnya seolah menghina.



“Enak kok lagunya, aku suka. Sampai aku terbawa halu, dicintai seorang pria sama seperti Baginda Nabi mencintai Istrinya!” Naura berucap tanpa menatap suaminya.



“Nggak usah halu! Sekali saja ya, aku nggak ingin mengulang lagi untuk ke depannya. Aku mencintai, kamu. Aku butuh, kamu. Aku ingin menghabiskan sisa umurku bersama, kamu. Mengukir cerita bersama, kamu … pokoknya semuanya dengan, kamu! Mandi pun maunya bersama, kamu!”



“Mulai deh. Sudah Jangan dilanjutin!” peringat Naura, meraih mulut Abhi dan menutupnya rapat dengan tangan kanan.



“Oke intinya aku mau, KAMU!” Abhi mengembangkan senyuman, menoleh sebentar ke arah Nuara, yang tersipu malu. “Ih gemes, *deh*!” Abhi mencubit pipi istrinya, sampai Naura merintih kesakitan, berulah Abhi melepaskan tangannya.


Hatimu tempat berlindungku,


Dari kejahatan syahwatku


Tuhanku merestui itu,


Dijadikan engkau istriku.


Engkaulah … Bidadari surgaku ….


“Itu hapal, berarti ini *file* mu! *Ih* ... suka *bo’ong* *idih* ... menyebalkan!” tuduh Naura.



“Siapa *sih*, yang nggak hapal lagu beliau? Kamu nggak tahu siapa penyanyinya?”



“Nggak.”



“Ow, iya … kamu kan sukanya, lagu *mellow*! *Bila kau bilang cinta saja sudah cuku*—



Naura membungkam mulut Abhi saat pria itu menirukan gayanya menyanyikan lagu tersebut, nada suaranya melengking, dan sangat fals, memekakkan gendang telinganya. “itulah perbedaan! Dan kamu harus mengerti apa saja perbedaan kita. Selera kita memang beda, dan kamu harus menoleransinya! Ingat baik-baik, TOLERANSI!” sungut Naura, lalu menurunkan tangannya dari bibir Abhi yang sudah bergerak-gerak, merasai … entah apa. “jadi jangan ngehina gitu!” sarkasnya menyambung ucapan sebelumnya.



“Siap, Bidadari surgaku!”



Naura menahan tawa saat Abhi memanggilnya 'bidadari surgaku'. Ada rasa menggelitik sekaligus bahagia yang menggetarkan jiwanya. Ia kemudian diam mendengarkan audio yang terus memutar lagu dari Opick.


Beberapa menit kemudian.


“Kalau yang nyanyi mas Opick kesannya ditujukan pada Sang Pencipta, tapi kalau Mikhael Once kesannya ditujukan untuk belahan hatinya. Ngerasa nggak, ini ciptaan mas Opick, *hloh*!” Abhi mengoceh saat lagu **Dealova** mengudara memenuhi mobilnya yang mini.



“Udahlah aku nggak mau bahas lagu!” Naura menekan tombol *off* pada layar LED. Tepat saat lagu itu berhenti, Abhi pun ikut mematikan mesin mobilnya.



“Sampai di rumah kita!” teriak Abhi seraya meregangkan tubuhnya, matanya sibuk menatap halaman yang tidak begitu luas. “Aku nggak tahu kamu bakalan suka atau tidak. Tapi aku sudah berusaha untuk menyediakan apa yang seharusnya aku sediakan! Ya, mungkin jauh lebih mewah dari rumah papa Erik! But—


__ADS_1


“*Stop*! Ayo turun! Aku sudah tidak sabar untuk mengukir cerita kita di sini denganmu!” Naura menghentikan ucapan suaminya yang mulai kehilangan kepercayaan diri.



Mendengar itu Abhi lekas melepas *seat belt* yang melingkar di tubuhnya. Ia lega karena Naura tidak mempermasalahkan tentang kondisi keuangannya saat ini.



Tiba di dalam rumah, aroma cat tembok warna abu cerah itu masih begitu menusuk hidung mereka berdua. Belum barang apapun di sana, jadi rumah minim tembok pembatas itu


“Nanti setelah pulang bulan madu, kita akan mengisinya, sekalian nunggu aroma cat nya hilang. Tapi, di atas sudah diisi ranjang. Niatnya, kemarin aku mau membawamu langsung ke sini, jadi aku minta orang untuk mencarikan ranjang. Tapi berhubung ada sesuatu hal, jadi batal. Kalau kamu masih lelah, bisa istirahat dulu di kamar. Aku masih ada pekerjaan di belakang.” Abhi menjelaskan pada istrinya.


“Pekerjaan apa?” selidik Naura.



“Ada sisa lahan di belakang, rencana mau aku jadikan taman.”



Kerutan di dahi Naura sangat dalam. “Aku ikut kamu!” tangannya menahan lengan Abhi yang hendak meninggalkan ruang kosong itu.



“Ayo,” sahut Abhi. Lalu menggandeng tangan istrinya. Kemudian membawa Naura ke arah lahan yang masih tersisa sekitar lima puluh meter persegi.



“Kita nggak punya kolam renang pribadi tidak apa-apa kan, Sayang? Lahannya terlalu sempit kalau kita buat kolam renang, kalau kolam ikan *insya Allah* masih bisa,” ucap Abhi. Belum Naura menjawab, Abhi sudah melontarkan pertanyaan lagi. “Kamu sukanya bunga apa, Sayang? Kita tanam banyak-banyak di taman kita!”



“Bunga daisy, kamu tahu kan, koleksi bajuku banyak bermotif bunga itu.”



“Iya, aku tahu. Waktu ke rumah tante Maria, kamu pakai baju motif bunga daisy, kamu cantik pakai baju itu. Terlihat jelas kalau sedang jatuh cinta, dan aku senang karena jatuh cintanya sama aku!” ucap Abhi penuh percaya diri.



“Belum. Saat itu aku baru merasakan debaran detak jantung yang tidak normal saat melihatmu.” Naura membantu suaminya menyusun pot kosong yang belum diisi bunga. Padahal Abhi sudah memintanya untuk duduk tapi istrinya itu tidak mau menurut. “Kamu tahu nggak, Bhi. Kalau malam itu Olivia mencium bibirmu,” ucap Naura, yang tiba-tiba teringat kelakuan Olivia.




“Kok diam saja?” alis Naura hampir menyatu saat mendengar jawaban Abhi.



“Sengaja. Aku kan ingin tahu bagaimana perasaanmu.” Senyum jahil keluar dari bibir Abhi.



“Kamu tahu aku di sana?” selidik Naura, ia malu kalau ketahuan.



“Tahu, Sayang … kamu hendak memberiku bantal dan selimut, kan? Supaya aku nggak kedinginan. Tapi keduluan sama Olivia. Dan kamu cemburu.” kali ini tawa Abhi meledak saat melihat ekpresi lucu istrinya. "jangan tunjukan wajah cemberut ini ke orang lain. bisa-bisa aku kehilangan kamu!"



Naura mengangguk, “Iya ..., jangan coba-coba mencium wanita selain aku dan mamamu ya, Bhi! Kecuali kamu sengaja membangunkan singa dari pembaringannya!” peringatnya tatapan mengancam.



“Percaya pada suamimu ini, hal itu tidak akan terjadi, untuk kedua kalinya.” Abhi menyodorkan satu kepalan tangannya di depan Naura yang saat ini tengah berjongkok, tak jauh darinya.



“Apa itu?!” selidik Naura, saat melihat kepalan tangan Abhi sudah berada di depan dadanya.



“Buka saja!” perintah Abhi datar. Ia ingin Naura segera membuka, supaya makhluk yang ada di tangannya itu tidak menyembul dan diketahui oleh Naura. “Cepat buka! Ini *special* untuk kamu, anggap saja pemberianku sebelum berangkat ke Siantar.”



Naura mengikis jarak dengan Abhi. Satu persatu menarik jemari Abhi untuk terbuka. Sampai kelimanya terbuka, tubuhnya terjingkat, menjauh dari Abhi, bibirnya menjerit sekuat suara, meluap kan rasa geli saat melihat dua hewan di tangan suaminya.

__ADS_1


Sedangkan sang suami, terbahak melihat ekpresi Naura, yang langsung berlari, menuju pintu masuk ke rumah. Merasa kasihan, saat wajahnya sudah berubah merah kerena takut.


“Buang, nggak!” teriak Naura lantang, setelah jantungnya kembali tenang. “Kau membuat jantungku hampir terlepas, Bhi!” ada cairan bening di sudut mata Naura. Rasa terkejut, geli, jijik bercampur menjadi satu, itulah yang ia rasakan ini.



“Dia baik loh, Sayang! Suka nolongin aku! Menyuburkan tanahku. *King and Queen at my home*. Sama seperti kita dia pasangan!”



Naura kembali menggedikan bahunya, merasa geli. “Buang!” teriaknya dengan mata yang membulat sempurna. “Aku marah nih!” serunya kesal, sudah menghentakan kedua kakinya.



“Iya aku balikin lagi dia ke habitatnya!” Abhi membuang asal makhluk yang ada di tangan. Kemudian menghampiri Naura, mengajaknya masuk ke dalam rumah.


Mereka berdua mencuci tangan bersama di dapur sebelum akhirnya memutuskan untuk naik ke lantai dua yang luasnya tidak seluas lantai satu. Tiba di dalam kamar, Abhi menghempaskan tubuhnya di ranjang yang belum terpasang seprei, Naura yang melihat suaminya ikut merebahkan tubuhnha di sana. Mengamati langit-langit kamar yang masih putih polos, suasananya begitu tenang, entah apa yang tengah mereka berdua pikirkan.


Cukup lama dalam posisi itu, saat mata Naura hampir terpejam Abhi justru memberikan pertanyaan padanya.


“Kamu suka dengan kamarnya?”


“Asal kamu yang menjadi *roommate* ku … aku menyukainya.”



“Aku menyerahkan semua urusan rumah padamu, kamu bisa menyusun sesukamu, Sayang!”



“Kita berdua, bukan hanya aku. Biar nanti bisa jadi pengingat kita! Kalau kita pernah melakukan hal gila.”



“Emm, aku akan memasang pendingin udara!”



“Jangan nanti kamu kedinginan, aku nggak mau kamu sakit!” tatapan Naura tajam ke arah suaminya.



“Kan, ada kamu yang menghangatkan, aku!”



"Boleh, kalau malam saja." Naura menggaruk sudut bibirnya yang gatal. Entahlah, sepertinya tadi digigit nyamuk saat bermain di taman dengan Abhi.



“Gatal, ya? Merah, Sayang,” ucap Abhi menggosok ruam di sudut bibir istrinya. Tidak ada pikiran kotor, hanya ingin membantu Naura. “Nyamuknya lancang, gigit nggak izin dulu sama pemiliknya!” Abhi berucap sambil tetap fokus membantu Naura mengusap sudut bibir merah Naura.



“Mungkin aku terlalu cantik, jadi jatuh cinta sama aku nyamuknya!”



“Biar nanti aku bunuh *rival*-ku! Biar aku tidak ada saingannya lagi!” Naura memukul punggung tangan Abhi. Saat pembicaraan mereka mulai tidak Normal. Ia kemudian menarik tengkuk suaminya supaya mendekat dengan wajahnya, hal yang membuat Abhi tersenyum *smirk*.


“Jangan mancing deh, Sayang!” Abhi memperingati saat bibirnya sudah hampir menyentuh bibir Naura.


“Benar juga sih, kalau sampai kamu kepancing bagaimana mau memuaskannya coba!” Naura menjauhkan wajah suaminya.



Abhi tersenyum jahil, dengan dua jemari bermain di bibir Naura, bergerak lembut meraba lembutnya bibir istrinya. “Lewat ini dong!”


Sedangkan Naura lekas mendorong tubuh Abhi, segera mengalihkan obrolan mereka. “Aku lapar,” ujarnya yang membuat Abhi mencebikkan bibirnya.


“Pintar banget ngalihin pembicaraan!” mengembangkan senyuman ke arah Naura.



“Yang itu saja belum ahli apalagi dengan bibirku!”


Abhi menoleh lagi menghadap istrinya, seolah tertantang untuk berdebat. “bagaimana mau ahli coba, kalau diajarin saja tidak mau?” ujar Abhi.


“Dah yuk makan! Nanti juga ahli dengan sendirinya.” Naura menghentikan obrolan dewasa itu, demi mewaraskan otak Abhi.

__ADS_1


Abhi segera menarik tangan Naura untuk beranjak dari ranjang. Di rumahnya belum ada apapun yang bisa mereka makan. Jadi memilih membawa Naura makan siang di luar, sekalian pulang ke apartemen.


...--------BERSAMBUNG--------...


__ADS_2