Kepincut Cinta Dokter

Kepincut Cinta Dokter
She Is My Wife


__ADS_3

Happy reading jangan lupa untuk tekan like dan votes ya.🙏👍


.


.


.


.


“Kenapa dia disini?” tanya Erik saat melihat siapa wanita yang tengah duduk di meja Rendi. Rendi tersenyum ke arah Erik.


“She is my wife,” ucap Rendi yang membuat Erik melotot sempurna karena kaget dan tidak percaya. Rendi yang heran dengan ekpresi Erik, dia merasa tidak enak hati, lantaran Viona dulu pernah menjadi idola Erik waktu SMA.


"Aku memang tidak pernah mau tau dengan siapa karyawanku menikah, tapi ... kenapa harus dengannya, apa kamu kehabisan stok wanita," ucapnya sambil melirik menatap Viona yang sedang berbincang dengan istrinya.


“Kenapa? Aku mencintainya dan dia juga mencintaiku. Aku dan dia tidak membutuhkan restu apapun darimu, jadi cukup doakan kami berdua saja,” ucap Rendi sambil terkekeh, melihat ekpresi Erik yang sangat jarang dia keluarkan itu.


Erik melihat ke arah Ella yang tengah asyik mengobrol dengan Viona, menurutnya ini sangat lucu, kenapa juga? Viona bisa jatuh cinta dengan laki-laki didepannya ini, dia pikir Viona menikahi rivalnya itu, bukannya Erik cemburu, hanya merasa lucu saja, kemaren juga dia tidak bercerita apapun saat bertemu di Bali.


Rendi lalu meninggalkan Erik dan mengajak Ella masuk ke dalam ruangannya, meminta Erik dan Viona untuk meninggalkan mereka berdua.


“Hai Nona, bagaimana? apa keluhanmu? Apa Pak Direktur itu tidak memberimu gaji yang cukup? hingga membuatmu depresi seperti ini?” candanya pada Ella agar dia lebih rileks untuk menerima semua pertanyaan yang akan Rendi ajukan berikutnya. Ella hanya menjawab Rendi dengan senyuman, lalu dia menunduk tidak mau menatap mata Rendi, takutnya Rendi bisa membaca isi otaknya.


Rendi tersenyum menatap Ella bertingkah seperti itu, lalu dengan sengaja dia membrondongi Ella dengan banyak pertanyaan seputar ayahnya, dan kapan terkhir ketemu, juga pesan terakhir ayah kepadanya. Ella sesekali diam tidak menjawab pertanyaan Rendi, karena itu menyangkut privasinya, dia tersenyum ke arah Rendi, berharap lelaki itu menghentikan pertanyaanya.


“Satu yang terakhir dari saya, lepaskan dan ikhlaskan masih ada Erik yang harus kamu perhatikan! Dan masih banyak hal yang harus kamu lakukan, misalnya emm... kasian pak direktur umurnya sudah tua tapi anak juga belum ada,” ucapnya yang mengena di hati Ella. Dia menatap lekat dokter didepannya itu memperkirakan usianya, dengan pandangan matanya.


“Berapa usia dokter?” tanya Ella yang mulai bisa membalas godaan dokter itu.


“Sama dengan Erik,” jawabnya singkat sambil tersenyum.

__ADS_1


“Apa dokter sudah punya anak?” tanya Ella membalas ucapan Rendi tadi.


“Hahaha... Aku dan istriku sama-sama sibuk jadi kita hanya pasrah saja,” terangnya pada Ella.


“Kalau begitu dokter perlu datang pada suamiku, eee... jangan-jangan suamiku, ke dokter lain saja,” lanjutnya. Rendi tertawa geli sambil memegang perutnya saat mendengar ucapan istri temannya itu.


Ternyata keduanya sama-sama possesif, cocok sekali. Batin Rendi.


“Apa saya perlu datang kembali Dok?” Tanya Ella pada lelaki berambut gondrong itu.


“Jika Anda merasa perlu? Datang saja kesini, saya suka mengobrol dengan Anda,” ucapnya, mereka diam sejenak lalu Rendi melanjutkan ucapannya.


“Dan katakan pada suamimu, untuk membayarku dua kali lipat,” lanjutnya yang membuat Ella tertawa, sebenarnya sedekat apa suaminya dengan dokter Rendi ini.


“Hehehe baiklah aku tidak akan berkunjung lagi kemari, bisa-bisa kekayaan suamiku berpindah ketanganmu,” sahutnya yang ikut bercanda, lalu dia berdiri keluar dari ruangan diikuti Rendi dibelakangnya.


“Terimakasih, semoga saya bisa lebih baik lagi kedepannya, dan doakan saya agar tidak datang untuk pengobatan, tapi datang untuk memberikan Anda ucapan selamat, ntah ucapan selamat apa?” Ucap Ella saat sudah berada di depan pintu ruangan Rendi. Terlihat Erik mendekat ke arahnya yang sedang berbicara dengan Rendi, dan Viona sudah pergi ke dapur, untuk menyiapkan jamuan makan malamnya.


“Kamu yang memasak ini semua?” tanya Ella saat berada di depan meja makan, dengan bebagai menu masakkan rumahan.


“Aku dan suamiku, dia tidak akan membiarkan aku di dapur sendiri, yah! Meskipun setelah itu, dapur seperti kapal pecah tapi kita menikmati itu, menikmati waktu bersama,” jelas Viona pada Ella yang sedang meminum teh chammomille di tangannya.


“Apa kamu menyukai tehnya? Jika kau menyukai aku akan membawakannya untukmu,” Ella mengangguk menyetujui, karena merasa lebih rileks setelah meminum teh tersebut.


Sedangkan para pria yang ditungguinya, sedang asyik bermain Ps bersama, Ella yang melihat itu merasa kesal, karena Erik tak kunjung datang menghampirinya, Ella lalu berdiri mengambil tasnya, dan berpamitan pada Viona.


"Aku pulang dulu ya," pamitnya pada Viona.


“Lhoh... Kok pulang? Kan kita belum makan?” ujarnya berkata pada Ella yang terdiam itu.


“Tiba-tiba badanku meriang, mungkin karena terlalu banyak berpikir tadi,” Erik yang mendengar itu langsung menoleh ke arah Ella yang sudah melenggang ke arah luar.

__ADS_1


“Kemana Yang?” Tanya Erik sambil menatap Ella.


“Pulang! aku lelah,” jawab Ella singkat, tapi dia masih terus berjalan ke arah luar rumah dokter Rendi.


“Nah kan, ngambek! Kamu sih Ren, ngajakin main beginian,” ucap Erik menyalahkan Rendi, lalu segera menyusul istrinya yang sudah menunggunya di depan mobil,” dia lalu mendekat ke arah istrinya dan berbisik di telinga Ella.


“Mau ketempat indah?” tanya Erik pada Ella, Ella hanya diam tak menjawab ucapan Erik.


Erik lalu membuka pintu mobil dan membawa Ella masuk ke dalamnya, Erik meraih ponselnya yang dia letakkan di kantong jaketnya, lalu segera menghubungi Yohan.


“Tiga jam lagi aku akan sampai disana,” ucap Erik ketika telepon sudah terhubung, dengan berkata seperti itu Yohan sudah mengerti apa yang Erik perintahkan.


Erik lalu masuk ke dalam mobil dan melajukan mobilnya menuju tempat yang dia maksud.


“Tidurlah ... Mas akan membangunkanmu jika sudah sampai,” perintah Erik saat melihat Ella sudah mulai menguap, Ella mulai memejamkan matanya karena dia merasa lelah dan agar dia bisa tidur dengan baik.


.


.


Tiga jam berlalu ...


Erik menghentikan mobilnya tepat menghadap pantai, dia tiba tepat pukul 11 malam, dengan Ella yang masih terlelap di samping kursi Erik.


Angin malam masuk di antara celah jendela mobil, membuat Ella merasa kedinginan, Erik yang melihat Ella hanya menggunakan dress yang sangat tipis, dia langsung menyelimutkan jaketnya ke tubuh istrinya, tapi saat Erik menyelimutinya Ella justru membuka matanya, dan dia terbangun dari tidur nyenyaknya, mengingat beberapa hari ini, dia tidak dapat beristirahat dengan baik, sebenarnya Erik tak ingin membangunkannya, Ella baru menyadari jika mobil sudah berhenti.


“Dimana ini Yang?” Tanya Ella yang kebingungan melihat sepinya hamparan pasir itu.


“Pantai ...” Erik menjawab singkat, dia menatap ke arah depan, melihat ombak kecil yang disinari cahaya bulan.


Bersambung ...

__ADS_1


Tunggu nanti malam ya...😁


__ADS_2