
“Hallo, assalamu’alaikum, Ma ....”
...Selamat Membaca...
Abhi tidak mendapat jawaban atas sapaan yang sudah dikeluarkan, dia hanya mendapat desahaan nafas dari ujung telepon entah suara nafas siapa dia juga tidak paham. Atau mungkin papa mertuanya yang saat ini mengangkat panggilan telepon darinya, mengingat hari memang sudah malam.
“Ma, maaf kalau Abhi malam-malam menelepon Mama. Tapi, Abhi hanya ingin tahu kabar kondisi istri Abhi. Apa Nana baik-baik saja?” tanya Abhi.
Namun, sama saja, dia tidak mendapat jawaban dari ujung panggilan, membuat Abhi berpikir jika mertuanya salah menekan tombol terima. “Ow ... maaf ya, Ma. Kalau Abhi ganggu waktu istirahat, Mama!” ujarnya berniat menutup panggilan telepon. Saat ia menjauhkan ponselnya, Abhi justru mendengar suara dari seberang telepon.
“Wa’alaikumsalam, Bhi ... kau rindu padaku?” ujar seseorang dari ujung panggilab telepon. Abhi mendesah kasar setelah itu, lega karena sudah bisa mendengar suara istrinya.
“Abhi, kenapa malam-malam telepon?” tanya Naura.
Kini giliran Abhi yang mengunci bibirnya. Ya, meski dia rindu, ia butuh penjelasan kenapa istrinya tidak bisa dihubungi sejak pagi. Kalau penjelasannya tidak masuk akal, dia akan marah dan mendiamkan Naura.
“Sepertinya kamu senang sekali membuatku khawatir?” ujarnya setelah diam sesaat. “kalau kamu nggak menjawab panggilan dariku sekarang ini, mungkin aku akan langsung terbang ke Jakarta malam ini juga.”
Wanita di ujung telepon tertawa lirih. “Sekarang aku sudah mengangkat jadi kamu tidak perlu terbang ke Jakarta, Sayang.”
“Kok bisa ponsel mama di kamu?” selidik Abhi.
“Mama tidur denganku, Sayang.” suara Naura masih terdengar lemah, tapi Abhi tidak begitu menyadarinya.
“Terus ... apa demam mu sudah turun?”
“Kau sekhawatir itu denganku?”.
“Iyalah, kan aku suamimu ... kalau ada apa-apa saat aku pergi berarti aku gagal menjagamu!” ujarnya, kemudian.
“Aku sudah baik, kok, Bhi. Mudah-mudahan trombositnya cepat naik lagi!” jelas Naura.
“Trombosit? Kau di mana sekarang?” tanya Abhi, nada bicaranya melengking, dia panik.
“Na, jangan begadang!” teguran dari Erik terdengar. Prasangka Abhi semakin nylene. "kamu di mana jawab pertanyaanku?"
“Sebentar saja, Pa!”
__ADS_1
“Sudah kamu tidur! Kalau mau cepat sembuh dan bertemu Abhi!” suara Erik kesal.
“Pa, sebentar saja, aku pamit dulu sama Abhi.” Naura tampak memohon.
“Kamu lupa dokter bilang apa?”
“Nana sakit apa, Pa?” Abhi yang penasaran memotong obrolan mereka.
“Cuma demam, Sayang ....” sahut Naura, membuat Abhi mengepalkan tangannya karena kecewa dengan dirinya. Di saat seperti ini harusnya ia bersama istrinya.
“Iya demam berdarah!” timpal Erik.
Tubuh Abhi membeku saat mendengar ucapan Erik, sekarang ia mendapat jawaban kenapa istrinya tidak bisa dihubungi sejak pagi tadi.
“Sejak kapan, Pa? Sekarang di mana?” tanya Abhi mulai panik.
“Aku sudah baik-baik saja, Bhi. Nggak usah cemas begitu, ah!” sahut Naura cepat. Seakan takut kalau Erik akan memberitahu kondisinya sekarang.
“Aku tidak bertanya padamu! Aku tanya sama papa! Tanya sama kamu percuma, pasti ujungnya kamu akan memberikan jawaban palsu padaku.” Abhi tampak kesal.
“Dia sudah mendingan, meski tadi berada di ambang kematian, beruntung kita segera membawanya ke rumah sakit kalau tidak pasti kamu tidak bisa lagi bertemu dengannya.” Erik menjelaskan, kasihan juga kalau melihat mereka berantem saat LDR seperti ini.
“Ya, kalau Abhi gak nikah, kalau Abhi nikah lagi, bagaimana?” tanya Erik.
Mendengar perdebatan Naura dan Erik membuat Abhi sedikit kesal, dia hanya butuh penjelasan tentang kondisi Naura saat ini. Bukan mendengar perdebatan mereka.
“Sayang ... kau masih di sana?” tanya Naura. “Aku sudah baik- baik saja. Dokter bilang kalau trombositku sudah normal aku sudah boleh pulang.” Naura menjelaskan.
Bibir Abhi masih terkunci, dia hanya mendengar penjelasan dari istrinya.
“Maaf ya, Sayang ... sepertinya kita akan batal pergi ke Korea.” terdengar lagi suara Naura. Suaranya terdengar penuh penyesalan karena batal untuk pergi honeymoon.
“Pikirkan kondisimu, dulu!” Suara Abhi lebih tegas.
“Kamu istirahat, sekarang! Benar kata papa, jangan begadang! Biar cepat pulih lagi! Baik-baik ya, kita akan segera bertemu. Maaf ... aku gak bisa menemanimu melewati hari ini!” kata Abhi, kini suaranya terdengar lembut.
“Galau banget kamu, Bhi! Bilang saja kalau kangen!” tegur Naura.
__ADS_1
“Apa yang mau dikangenin dari kamu coba! Galak saja yang dibesarkan!” sambar Erik yang masih mencuri dengar perbincangan mereka berdua.
“Siapa lagi yang mau dikangenin, selain kamu? Tidak ada aku rindu senyuman mu,” sahut Abhi berusaha mematahkan maksud ucapan Erik. “Kau sudah baik-baik saja?”
“Belum, sisa penyakit rindu saja yang belum terobati!”
Bibir Abhi melengkung, tersenyum lebar tanpa suara, saat mendengar ucapan Naura. “bisa saja deh kamu godain aku dengan kata-kata rindu. Nanti kalau aku semakin tak berdaya, gimana? Rindu itu berat, lebih berat dari 1 ton karung beras!” kata Abhi, dia jujur, rindu itu berat, makan nggak doyan, kalau ingat wajah dan senyumnya dada terasa sesak karena mau ketemu terhalang oleh jarak.
“Mulai, deh!” tegur Naura. “Kapan sih, kamu pulang? Tiga hari lagi, kan?” tebak Naura.
“Kalau bisa malam ini! Rencana aku mau nyewa karpetnya Aladin buat mendarat di atap yang kamu tempati!” jawab Abhi. Membuat tawa Naura pecah, dan itu mampu membuatnya ikut tersenyum lebar, tapi masih terlihat sopan. Rindu itu bukan terobati tapi justru semakin menggunung.
“Bhi ....”
“Yah,” sahut Abhi.
“Sudah ya, aku takut dipelototi papa! Di suruh tidur!” ujar Naura, mengadu.
“Ya sudah, kamu istirahat ya. Kamu harus sudah sembuh saat aku sudah tiba di Jakarta.” pesan Abhi. “Nggak mau ngasih kecupan dulu?” tanya Abhi, saat Naura diam menanti kata pamit darinya.
Tidak lama setelah itu terdengar suara bibir Naura yang mengecup berulangkali pipi Abhi.
“Nggak kamu makan sekalian tu hp!” ledek Erik yang sedari tadi masih berada di sana.
“Kamu bikin aku nggak sabar untuk bertemu! Dah ya assalamu’alaikum, Sayang! Buruan istirahat, aku juga mau tidur, biar bisa bertemu kamu lewat mimpi.”
“Oke, wa’alaikumsalam.” balas Naura. Panggilan itu pun terputus. Menyisakan Abhi yang kini mendudukan tubuhnya di kursi teras.
"Kenapa Naura, Bang?" Widya yang mengerti raut Abhi berubah sendu, segera mencari tahu.
"Nana ... sakit."
"Kau nggak pulang?" selidik Widya.
"Urusanku belum selesai, Ma." Abhi memejamkan matanya, saat kepalanya berdenyut memikirkan sang istri.
"Dia kewajiban mu! Masalah pekerjaan itu bisa lain waktu." Widya mencoba membujuk Abhi. Bagaimana pun seorang pria tidak akan bisa bekerja dengan baik saat otaknya diisi oleh nama orang yang ia rindukan.
__ADS_1
"Entahlah, Ma. Lihat besok. Sudah, Abhi mau tidur, mama juga tidur saja." Abhi lalu beranjak dari tempat duduknya meninggalkan Widya yang masih berdiri di ambang pintu.
...---------BERSAMBUNG-------...