
Happy reading jangan lupa untuk tekan like dan votes ya.🙏👍
.
.
.
.
“Aku pikir sianida hanya ada di Indonesia, tapi ternyata kopi ini yang akan kamu pakai untuk membunuhku! Dan sayangnya anak buahmu yang bodoh itu terlalu ember,” Erik menatap lelaki di depannya itu. Dia berjalan meninggalkan ruangan Axel yang masih terdiam di mejanya. Namun, sebelum keluar Erik mengucapkan kata-kata mutiara terakhir pada lelaki licik itu.
“Aku pastikan polisi akan segera menangkapmu, aku tidak mau mengotori tanganku dengan membunuhmu!” Lanjutnya lalu membuka pintu, dan benar-benar pergi meninggalkan Axel.
Setelah kepergian Erik, Axel membanting semua barang termasuk memecahkan secangkir kopi yang sudah diberi serbuk sianida itu. Rencana yang sudah dia susun rapi ternyata bisa dibaca dengan mudah oleh Erik, bahkan dengan bodohnya Axel mengakui jika dia yang sudah melenyapkan Kenzie. Dia bersumpah akan membalas dendam perbuatan Erik jika dia masuk ke dalam penjara.
Di luar ruangan terlihat Erik yang tengah tersenyum senang, karena satu masalahnya sudah selesai, dia mendekat ke arah Yohan sambil membenarkan kacamatanya yang sedikit turun ke bawah, topi hitam yang tadi dia lepas, sudah Erik pakai kembali, menutupi rambutnya yang sedikit panjang itu.
“Serahkan ini ke polisi dan kirim orang untuk menjaga dia, aku tak ingin dia berkeliaran bebas disini ataupun di negara kita,” Yohan yang mengerti segera meraih bukti rekaman itu, dia sudah paham perintah Erik dan akan mencari bukti tentang kecelakaan Kenzie.
“Yo. Atur jadwal kita pulang ke Indonesia, aku sudah tidak bisa lagi, mendengar suara istriku yang tersiksa karena merindukanku!” perintah Erik.
“Baik Pak... Lusa kita akan pulang,” jawab Yohan singkat menatap ke arah bosnya itu.
“Kenapa Lusa? Atur penerbangan besok saja?” tanya Erik.
“Pesawat ke Indonesia baru dalam pengawasan Pak, jadi kita tidak bisa seenaknya pergi, minimal kita harus disini dulu 3 hari,” jelas Yohan. Erik menghela nafas panjang setelah mendengar ucapan Yohan, dia harus menabung rindu lagi untuk istrinya.
“Masalah kecil seperti ini saja! Kenapa kamu tidak bisa mengatasinya Yo?” Tanya Erik saat sudah berada di dalam mobil, topi dan kacamatanya pun sudah dia lepas ketika masuk dalam mobil tadi.
__ADS_1
“Axel hanya ingin bertemu denganmu Pak,” jawab Yohan yang memang benar adanya.
Erik menikmati perjalanan menuju hotel tempatnya menginap, menikmati malam hari di kota Sydney, dia menatap lampu merah di depan mobilnya, membayangkan tersiksanya dia jika harus berpisah 1 hari lagi dengan Ella. Dia merasa bingung apa yang harus dia lakukan disini, karena masalah Axel juga sudah selesai menurutnya, mungkin dia akan mencari oleh-oleh untuk istri tercintanya besok.
Lalu mau ngapain malam ini? Keluar club dengan Yohan juga bukan tipenya sama sekali, mungkin jalan satu-satunya dia akan tidur dibawah selimut sambil menatap wajah istrinya melalui video call.
*****
Di sisi lain Ella tengah menikmati drama korea terbaru di kamar apartemen Erik, di Jakarta jam baru menunjukkan jam 6 sore sedangkan di Sydney mungkin sudah jam 9 malam, tapi sedari tadi dia menunggu telepone Erik, dia masih khawatir dengan keadaan suaminya itu. Saat dia akan berjalan ke dapur terdengar bunyi suara ponselnya berdering, dia pikir itu suaminya yang menelepone, tapi ternyata telepone dari Damar.
“Assalamu’alaikum Kak,” salam Ella saat panggilan terhubung.
“Wa’alaikumsalam La, cepat datang ke rumah sakit Ayah terkena serangan jantung,” ucap panik Damar yang berada di ujung telepone.
“Iya Kak! Aku akan secepatnya kesana,” ucap Ella saat Damar sudah menyebutkan alamat rumah sakit yang tidak jauh dari tempat tinggal ayahnya.
Ella menarik nafas panjang berusaha menenangkan dirinya sendiri, meyakinkan dirinya bahwa ayah pasti akan baik-baik saja. Dia segera mengganti pakaiannya dan mengambil kunci mobil di meja samping tv, dia melupakan ponsel yang wajib dia bawa kemanapun, dia sudah tidak bisa berpikir jernih lagi pikirannya hanya tentang kesehatan ayahnya.
Ella segera berlari saat mobil sudah sampai di rumah sakit, dia melihat Damar yang sudah berdiri di depan pintu ruang IGD berjalan kesana kemari seperti orang bingung. Dia lalu berjalan pelan ke arah kakaknya itu, langkahnya kakinya lunglai bagai tak bertulang.
“Kak!” Panggil Ella saat sudah berada di samping kakaknya, Damar yang kaget segera menoleh ke arah Ella. Ella langsung menghambur ke arah Damar, memeluk erat kakaknya, mencari tempat ternyaman di dada kakak kandungnya itu.
“Jangan menangis, kalau kamu menangis siapa yang akan memberikan kekuatan pada Ayah,” ujar Damar menenangkan sambil mengusap punggung adiknya.
“Bagaimana keadaan Ayah Kak, dan bagaimana ini bisa terjadi?” tanya Ella.
“Dokter masih memeriksanya, kita tunggu saja disini,” jawab Damar sambil melepaskan pelukkan adiknya.
“Dan kita hanya bisa berdiri disini? Apa kita tidak boleh masuk?” tanya Ella yang mulai bingung, dia sudah tidak mampu berpikir lagi, dia hanya ingin bertemu dengan ayahnya, memberikan kekuatan untuk ayahnya agar bisa pulih lagi dan bisa menemani hari-harinya, dia merindukan masa kecilnya bersama ayahnya.
__ADS_1
“La! Pertanyaan macam apa itu? Kamu kan seorang dokter harusnya bisa lebih paham, “ ucap Damar pada adik satu-satunya itu. Ella pun menghempaskan tubuhnya di ruang tunggu rumah sakit setelah mendengar ucapan Damar.
Sudah seminggu yang lalu dia berniat ingin pergi menemui ayahnya, tapi dia terus menundanya hingga saat ini dia dipertemukan di rumah sakit dalam kondisi ayahnya yang sedang sakit, Ella terlalu sibuk dengan pekerjaanya, hingga dia tidak bisa meluangkan waktu walau hanya sebentar saja, Ella menyesali itu, tapi percuma karena waktu tidak akan bisa diputar kembali.
Ella dan Damar semakin panik saat melihat perawat dari ruang IGD berlari keluar, mereka berdua hanya menatap perawat itu saat lewat di depannya, dia tidak ingin mengganggu pekerjaan suster itu, maka dari itu Damar dan Ella tidak mencegahnya, Ella terus merapalkan doa-doa untuk ayahnya, berdoa agar sang ayah diberikan kekuatan dan kesembuhan seperti sediakala.
Selang 10 menit ada dokter yang berjalan keluar menghampiri mereka, meminta agar Damar dan Ella masuk ke dalam karena permintaan dari sang ayah, perasaan Ella sudah tidak nyaman, dia pernah mengalami hal seperti ini, dia tidak ingin mengulanginya lagi.
Dengan langkah berat Ella masuk masuk ke dalam ruang IGD megekori Damar yang sudah berada di depannya, Ella menatap lelaki tua yang sedang terbaring lemah di brankar, di dadanya sudah terpasang banyak kabel pendeteksi detak jantung, bunyi suara nyaring dari ECG membuat Ella merasa takut untuk mendekat karena rasa traumanya, Ella sudah tidak sanggup lagi mencegah air matanya untuk keluar, dia tidak sanggup lagi melihat cinta pertamanya seperti ini, dia rapuh dia tidak akan sanggup jika sang ayah meninggalkannya.
“Ayah ...” Panggil Ella dengan lirih, sambil mendekat ke tubuh ayahnya, Danu yang mendengar suara Ella langsung membuka matanya, menoleh pelan ke arah ke dua anaknya yang berdiri di samping brankar.
“Ayah jangan seperti ini, Ella takut Yah,” ucap Ella yang sudah mengeluarkan air matanya, Danu hanya menatapnya dengan berusaha tersenyum menahan sesak didadanya, dia berusaha menghapus air mata Ella, tapi tangannya kembali terjatuh saat sampai di depan leher Ella.
“Mar... Jaga adikmu,” ucap Danu dengan nada lemah.
“Nggak Yah ...” Sahut Ella, karena dia tau pasti ayahnya akan pergi meninggalkannya.
“La kamu tau bunda sudah menunggu kedatangan ayah sejak dulu, kasian bunda disana sendiri, izinkan Ayah menemani bundamu,” ucapnya yang membuat Ella semakin keras menangis.
“Sudah ada Erik yang menemanimu, dia sangat mencintaimu, seperti ayah mencintai bundamu,” sambungnya dengan suara yang semakin melemah.
“ Mar ... Mendekatlah!” perintahnya pada Damar, Damar yang mendengar itu langsung berjalan ke samping brankar sebelah kanan ayahnya mengenggam erat jari kanan sang ayah.
“Sudah waktunya Ayah pergi, tolong jaga adikmu, lindungi dia saat ada orang yang menyakitinya, tugas ayah kuserahkan kepadamu,” ucapnya yang sudah mulai terbata, Ella masih diam, mengeluarkan tangisnya yang semakin menjadi itu, dia meletakkan tangan kiri Danu di wajahnya, tangan kasar yang akan selalu dia rindukan, pelukkan menenangkan saat dia dalam kesulitan, kalau boleh dia meminta jangan biarkan ayahnya pergi meninggalkannya.
.
.
__ADS_1
.
TBC