Kepincut Cinta Dokter

Kepincut Cinta Dokter
S2 Menjemput Sekolah


__ADS_3

“Emmm ... adiknya Riella sedang tumbuh di perut Mama.” Erik berucap sambil mengusap perut Ella.


Ella yang mendengar jelas ucapan Erik, hanya bisa menggelengkan kepalanya. Dia menatap suami di depannya itu yang pura-pura tidak peduli dengan tatapannya.


“Riella ... ayo makan siang dulu! Jangan dengarkan omongan Papa tuamu ini,” ajak Ella supaya anak gadisnya itu mengalihkan pembiacaraan tentang adik.


“Tapi benar kan, Ma? Riella mau punya adik kan?” tanya Riella saat Ella membawanya keluar kamar, bersama Kalun yang berjalan mengekorinya.


“Doain saja, semoga Allah mengabulkan doa kita, ok!” Erik yang membuat gosip palsu, langsung terkekeh saat Ella menatapnya tajam, ketika menutup pintu kamar, dia lalu kembali merebahkan tubuhnya. Melanjutkan tidurnya yang tadi sempat terganggu dengan anaknya.


Bukan Ella nggak mau hamil! Tapi dia hanya khawatir jika dia belum bisa memberikan adik untuk Riella, dan jika dia tidak benar hamil, pasti Riella akan sangat kecewa dengannya, dia selalu mengingat banyak sekali obat yang masuk ke dalam tubuhnya, jadi dia tidak ingin berharap lebih. Jika tidak diberi kepercayaan lagi, dia akan merawat kedua anaknya itu dengan baik.


Ella yang tengan berada di ruang makan dengan anaknya, memperhatikan wajah keduanya, sambil menyuapi Riella.


“Kalian tadi pagi siapa yang mengantar sekolah?”


“Paman Damar, tapi Paman tidak bisa menjemput kami, katanya Mama dan Papa pulang jadi Pak Roni yang menjemput kita,” jawab Riella panjang lebar.


“Kalun makan dulu Sayang ... mainannya nanti lagi!” tegur Ella ketika melihat Kalun belum menyentuh makanannya. Dia justru bermain meniatur tokoh superhero kesukaanya yang tadi Ella bawa untuknya.


“Selesai makan kita bobo siang ya ...” ucap Ella sambil menyuapkan makanan ke dalam mulut Riella.


Setelah acara makan siang selesai, Ella menidurkan anaknya di kamarnya, Erik yang merasa tidurnya terganggu hanya bisa berdecak kesal.


Ella sendiri heran melihat kelakuan suaminya yang menjadi lebih sensitif itu, dia hanya menggelengkan kepalanya menatap Erik yang sudah berpindah di sofa.


“Papa kenapa sih Ma?” tanya anak gadisnya.


“Papa lagi pms, sudah ayo bobo siang, biar nggak marah-marah terus seperti Papa,” sindir Ella sambil melirik ke arah Erik.


Ella merasa senang saat berada di antara kedua anaknya, dia mulai membacakan cerita penghantar tidur. Perlahan dia yang juga lelah ikut terlelap, menghiraukan suaminya yang memanggilnya dengan siulan.


“Sayang ...” panggil Erik yang sudah duduk di sofa, suara seraknya tak mampu membangunkan Ella yang masih terlelap di sana.


Erik lalu beranjak dari kursi menghampiri Ella yang tengah terlelap, dia yang tidak ingin kalah, menyusul di tengah-tengah Ella dan Kalun.


“Pap ... jangan di sini kasian Kalun,” tegur Ella yang masih memejamkan mata.


“Aku kedinginan, aku butuh kehangatan. Sepertinya tubuh sedikit tidak enak.” Ella yang mendengar ucapan Erik langsung menempelkan tangannya di dahi suaminya.


“Nggak papa juga!” ucap Ella setelah duduk dari tidurnya.

__ADS_1


“Aku sudah terbiasa, tidur berpelukan denganmu. Biarkan seperti ini dulu,” jelas Erik sambil memeluk Ella.


“Papa kok aneh begini sih,” ucap Ella yang menelisik tubuh suaminya.


“Nggak tau juga aku pengennya dimanjain terus sama kamu.” Ella bedecih kesal saat Erik mulai memeluk pinggangnya, beruntung kedua anaknya sudah terlelap.


“Sana makan siang dulu!” perintah Ella sambil mencoba melepaskan tangan Erik.


“Maunya di suapin,” sahut Erik.


“Massss ... kamu sudah 46 tahun loh? Nggak malu sama Kalun, hah?”


“Nggak, mereka nggak akan tahu, mereka sedang tidur,” jelas Erik sambil menatap kedua anaknya bergantian.


Ella menuruti permintaan Erik, dia membawa Erik ke meja makan, tanpa mengindahkan tatapan pelayan yang tengah memperhatikan kelakuanya. Bahkan dua orang yang berada di dapur itu menertawakan sikap Erik yang manja dengan Ella.


Satu minggu kemudian.


Erik kini sudah kembali menjalani rutinitasnya, setelah 3 hari kepulangannya dari Paris. Dia sudah siap dengan baju yang Ella siapkan.


“Nanti aku ada rapat penting dengan klien, mungkin akan pulang sedikit terlambat,” ucap Erik saat Ella mengikat dasi untuknya.


“Termasuk jika membutuhkan ...” sahut Erik sambil menatap Ella dengan tatapan nafsunya.


“Pak tua jangan ganjen ya! apalagi sama wanita yang duduk di depan ruanganmu itu,” peringat Ella setelah mendengar ucapan Erik.


“Nggak aku nakalnya sama kamu saja.” Erik sudah mendaratkan ciumannya di dahi Ella.


“Sudah sana berangkat!” perintah Ella saat Erik menurunkan ciumannya. Fellingnya berkata jika dia membiarkan suaminya seperti itu, Erik akan merusak lagi tatanan dasinya. Bahkan bisa saja dia akan mandi dua kali pagi ini.


“Bye ...” ucap Erik saat meninggalkan Ella.


“Kamu mau ke mana?”


“Ngantarin kamu sampai depan rumah,” jawab Ella yang berjalan di belakang Erik.


“Nggak usah nanti kamu capek,” ucap Erik yang sudah berbalik menghadap Ella.


“Lebih capek melayanimu di ranjang, dari pada mengantarmu ke depan.”


“Jangan ucapkan kata ranjang, bayanganku sudah ke mana-mana,” canda Erik yang masih tersenyum.

__ADS_1


“Dasar lelaki mesum ...” cibir Ella yang sudah berjalan ke arah pintu.


“Hari ini aku mau ke toko roti sebentar, setelah itu aku akan menjemput anak-anak.” Erik menoleh sebentar ke arah Ella. Dia berpikir kenapa istrinya itu tidak membicarakannya semalam.


“Oke, Mas mengizinkanmu, asal jangan terlalu lelah,” pesan Erik saat membuka pintu mobilnya. Dia lalu melambaikan tangannya ke arah Ella, sambil meninggalkan senyuman manis ke arah Ella.


Ella segera masuk ke dalam rumah dan bersiap menuju toko rotinya, dia pergi dengan Pak Roni sopir yang disediakan Erik.


Butuh waktu 30 menit untuk Ella tiba di toko roti, dia hanya ingin mengecek keuangan yang ada di sana. Karena selama dia pergi dia hanya menyerahkan pada karyawan kepercayaannya. Saat dia masuk semua karyawan menyapa ramah kedatangannya, dia membalasnya dengan sapaan ramah juga.


“Pak Roni nunggu di dalam saja di luar panas,” ucap Ella saat dia memasuki ruko toko rotinya.


Cukup lama Ella berada di sana, dia juga mengontrol bahan pembuatan kue, memastikan jika karyawannya tidak mengganti dengan bahan yang berkualitas rendah, karena itu pasti akan mempengaruhi rasa cake yang di hasilkan.


Ella keluar ruko ketika sudah waktunya untuk menjemput kedua anaknya. Dia berangkat lebih awal karena takut ke dua anaknya itu menunggunya terlalu lama.


Saat tiba di sekolah anaknya, Ella segera turun dan menunggunya di depan pintu gerbang sekolah.


“Ibu tunggu di dalam mobil saja, biar anak-anak saya yang menunggu,” ucap Roni yang langsung di jawab Ella dengan gelengan keapala.


Cukup lama Ella berdiri di sana, hingga Riella dan Kalun berlari menghampirinya.


“Ma ... kita beli ice cream dulu ya!” ajak Riella yang sudah menggandeng tangan Ella.


“Em ... boleh.” Ella menjawab singkat ucapan Riella. Namun, seketika matanya buram, dia mengerjap mencoba supaya matanya itu tidak tertutup. Tubuh Ella kehilangan keseimbangan hingga membuatnya jatuh bersandar di pagar sekolah anaknya.


Roni yang melihat Ella pinsan langsung mendekat dan mengangkat tubuh Ella. Kalun mengikuti langkah Roni sambil menenangkan adiknya yang ketakutan.


Saat berada di dalam mobil, ponsel Ella berdering Kalun yang sudah bisa memainkan ponsel segera menggeser tombol warna hijau. Suara tangisan Riella menyambut sapaan dari ujung telepon.


“Papaa ... Mama jatuh, sekarang Mama pinsan, hwaaa ....” Erik seketika langsung panik saat mendengar Ella terjatuh.


“Berikan ponsel sama Kakak Kalun!” perintah Erik yang langsung dituruti Riella.


“Pa ... Mama pinsan,” ucap singkat Kalun, dia memang lebih tenang cara menyampaikan kabar pada papanya.


“Bilang sama Pak Roni, minta bawa Mama ke rumah sakit Papa! Kalun jagain Mama oke! Papa akan langsung ke rumah sakit.” Erik langsung mematikan ponselnya lalu melihat jam yang tertempel di dinding ruangannya.


“Batalkan rapatnya!” perintah Erik pada Yohan. Dia lalu berjalan meninggalkan kantornya menuju rumah sakit miliknya.


TBC

__ADS_1


__ADS_2