Kepincut Cinta Dokter

Kepincut Cinta Dokter
Mendadak


__ADS_3

Happy Reading jangan lupa vote dan likenya๐Ÿ‘๐Ÿ˜Š.


Author pov.


Waktu berjalan begitu cepat, tanpa terasa hari ini tepat satu tahun Kenzie meninggalkan Ella, hari yang seharusnya menjadi hari yang paling indah buat Ella, namun malah menjadi hari duka buat Ella. Ella terbangun saat mendengar suara ponselnya berdering.


" Hallo, " ucap Ella yang belum menyadari siapa yang tengah berbicara dengannya.


" Hallo, assalamu'alaikum, " ucap bunda Kenzie.


" Eh bunda. wa'alaikumsalam bun, " jawab Ella.


" Rere baru bangun? " tanya bunda Kenzie.


" Iya bun, semalam ada pasien cito, " ucap Ella.


" Bagaimana kabarmu Re, " tanya bunda Kenzie.


" Alhamdulillah sehat bun. Bunda bagaimana? apa Keisya jadi menikah bulan depan? " tanya Ella menanyakan adik dari Kenzie.


" Iya, Insya Allah setelah lebaran. kamu harus datang ke sini ya, " peringat bunda.


" Insya Allah Rere akan ambil cuti bun, " ucap Ella.


" Kamu sendiri bagaimana Re, ini sudah satu tahun kamu juga harus segera menikah, mengingat usiamu juga terus bertambah, " ucap bunda Kenzie mengingatkan Ella.


" Bunda lihat nak Erik anak yang baik, kenapa kamu nggak mencoba dengannya, " ucap bunda karena tak mendapat jawaban dari Ella.


" Rere masih bingung bun dengan perasaan Rere, " jawab Ella.


" Re, jangan terlalu lama berfikir, takutnya nak Erik juga akan menyerah, " ucap bunda Kenzie.


" Huft..." ( desahku )


" Iya bun, Rere akan pikirkan nanti, " ucap Ella.


" Apa kamu akan ke makam Kenzie pagi ini? " tanya bunda Kenzie.


" Iya bun, setelah sarapan aku akan berangkat ke sana, " jawab Ella.


" Baiklah bunda nitip salam buat anak kesayangan bunda itu, " canda bunda Kenzie.


" Ih...bunda. Ada- ada saja kalau ngomong, " ucap Ella dengan suara manjanya.


" Hahahah, iya bunda akan berdoa dari sini, ya sudah bunda tutup dulu teleponnya ya, " ucap bunda Kenzie.


" Iya bun, assalamu'alaikum, " ucap Ella.


" Wa'alaikumsalam, " jawab bunda Kenzie lalu Ella segera menutup panggilan telepon itu.

__ADS_1


Tak lama setelah menutup telepon terdengar suara ketukan pintu kamar Ella.


" Non, ada Mas Erik di bawah, " ucap bu Lusi dari luar kamar.


" Iya bu, bilang saja Ella sedang mandi, " ucap Ella.


Semalam, Erik mengabari Ella, bahwa dia akan menemani Ella untuk pergi ke makam Kenzie, dan pagi ini Erik sudah berdiri di depan teras, menunggu Ella yang sedang bersiap.


" Kok nggak masuk? " tanya Ella yang berjalan keluar dari dalam rumah.


" Sudah siap? Mas pengen lihat taman di depan ini saja, dari dulu nggak berubah ya? " tanya Erik.


" Iya dari dulu masih tetap sama, Lala sudah siap, ayo berangkat sekarang saja, " ucap Ella, Erik menarik tangan Ella mendekat ke arah motornya.


" Naik motor? " tanya Ella heran.


" Iya, Mas mau buat kulit kamu hitam, " ucap Erik sambil mengenakan jaket ke Ella.


" Ini pakai, " ucap Erik menyerahkan helm ke Ella. Ella menurut sambil tersenyum karena teringat kenangan masa lalunya.


" Kenapa senyum- senyum, apa kamu juga mengingatnya? " ucap Erik yang menatap Ella dari arah spion depan.


" Apa kamu tidak mau memeluk Mas, " ucap Erik lagi.


" Modus pasti ini, sengajakan pakai motor? " ucap Ella, Erik yang mendengar itu hanya tersenyum tipis menatap mata Ella dari spion.


" Pintar juga kamu sekarang, sudah bisa menebak keinginan Mas, " ucap Erik.


" Ken, izinkan aku menikahi Ella, aku hanya ingin membuatnya bahagia, menggantikan tangisnya dengan tawa kebahagiaan, tolong restuilah kami, " ucap Erik, yang membuat Ella bingung.


" Kenapa? " tanya Erik.


" Kenapa bicara seperti itu Mas, " ucap Ella lalu segera meninggalkan Erik sendiri. Erik yang mengetahui kesalahannya segera mengikuti Ella lalu menarik tangan Ella untuk digenggamnya.


" Ayo mas ajak kamu ke suatu tempat yang indah, " ucap Erik sambil memakaikan helm ke kepala Ella. Saat perjalanan Ella hanya terdiam tanpa bicara sepatah kata pun, setelah dua jam perjalanan Erik menghentikan motornya di sebuah taman.


" Apa kamu masih ingat taman ini La? " tanya Erik. Ella hanya diam tanpa menjawab pertanyaan Erik.


" Bagaimana aku bisa lupa mas, ini taman kenangan kita, " batin Ella.


" Mas dulu hampir setiap minggu ke sini, hanya untuk mengenang kenangan kita, " Ella yang mendengar itu mendongak menatap wajah Erik dihadapannya.


" Tapi hari ini kamu di sini La, Mas sudah nggak perlu mengenang kamu lagi, karena Mas ingin membuat kenangan yang baru lagi denganmu, " ucap Erik.


" La, jujur Mas sudah lelah menantimu, usia Mas juga sudah tidak muda lagi. La, mungkin ini akan jadi permintaan Mas yang terakhir untuk memintamu, menikahlah dengan Mas La, Mas janji kita akan melewatinya bersama. " ucap Erik sambil menatap mata Ella yang tengah menatapnya, Ella berbalik dan berjalan ke depan menelusuri taman itu.


" Mas Lala,,, Lala hanya takut kalau nanti kita batal menikah lagi, jujur selama ini Lala memikirkan perasaan Lala ke Mas, dan ternyata rasa itu memang masih ada, hanya saja ketakutan Lala masih besar jika nanti Lala harus kehilangan lagi, " jelas Ella.


" Jadi, apa kamu masih mencintai Ma, La " tanya Erik lalu membalikkan badan Ella ke arahnya dan menatap dalam mata Ella.

__ADS_1


" Iya, Lala sebenarnya masih mencintaimu Mas Erik. " Erik yang mendengar itu tersenyum lebar karena puas dengan jawaban Ella.


" Baiklah, besuk lusa kita akan menikah dan kita akan mengadakan pesta pernikahan setelah lebaran, " ucap Erik.


" Mas, nggak bisa juga kalau mendadak seperti ini, " ucap Ella.


" Niat baik harus disegerakan sayang, Mas juga nggak mau kehilangan kamu lagi, " jelas Erik.


Setelah mengatakan itu tiba- tiba hujan turun yang begitu deras, segera Erik menarik tangan Ella dan membawanya ke gazebo yang jaraknya sepuluh meter darinya.


" Pakailah, biar nanti tetep sehat saat akad nikah kita, " ucap Erik.


" Apa Mas serius dengan ucapan Mas, " tanya Ella yang masih ragu. Erik yang mendengar itu langsung merogoh kantong celananya.


" Hallo Mar, " ucap Erik saat panggilannya terhubung.


" Tolong siapkan surat- surat Lala , karena lusa kita akan menikah, " ucap tegas Erik.


" Apa ini benar Rik, " tanya Damar di ujung telepon.


" Kamu sama saja dengan adikmu! tentunya aku akan menikahi gadis pujaanku, " ucap Erik. Ella yang mendengar itu hanya menggelengkan kepalanya. karena masih belum percaya dengan ucapan Erik.


" Tolong kamu siapkan semuanya, " perintah Erik pada Damar. Ella masih bengong tidak percaya dengan ucapan Erik.


" Kenapa, " tanya Erik.


" Beneran besuk lusa? " tanya Ella


" Iya, katanya kamu takut kehilangan Mas lagi, " jelas Erik yang menggoda Ella.


" Baiklah terserah Mas saja, " ucap Ella lalu memeluk Erik yang duduk di sampingnya.


" Apa kamu bahagia? " tanya Erik.


" Pasti akan bahagia, " ucap Ella lalu menatap Erik. " Asal kamu selalu mencintaiku, dan tak akan ada cinta yang lain, " lanjut Ella.


" Aku akan mencintaimu, dan cintaku akan selalu bertambah setiap harinya, " ucap Erik lalu segera memeluk Ella lebih erat lagi.


Mereka segera pulang kerumah saat hujan sudah reda, ayah Danu kaget saat Erik memberitahu bahwa dia akan menikahi Ella. Begitu juga dengan keluarga Erik, karena saat ini Bima sedang berada di Singapura melakukan perjalanan bisnis.


" Apa nggak mau nunggu kakakmu pulang dulu Rik, " tanya papa Yusuf.


" Nggak, Erik nggak mau. Pokoknya Erik maunya lusa, " jawab Erik.


" Kamu ini minta nikah seperti minta mobil saja, " ledek papa yusuf.


" Ini kan akad nikah pa, kak Bima juga bisa datang saat acara pesta nanti, " jelas Erik yang masih tetap pada pendiriannya.


" Baiklah, terserah kamu, takutnya nanti kamu ngurung diri dan mogok makan lagi kalau nggak dituruti, " ledek papa Yusuf mengingat kejadian saat akan ditinggal Ella menikah.

__ADS_1


Terimakasih sudah membaca jangan lupa Vote, like, dan coment๐Ÿ˜Š๐Ÿ™๐Ÿ‘


__ADS_2