Kepincut Cinta Dokter

Kepincut Cinta Dokter
Extra Part


__ADS_3

...Selamat Membaca...


Acara akad nikah sudah berakhir. Penghulu dan petugas KUA sudah pulang. Keluarga besar Abhi juga sudah meninggalkan rumah Erik. Menyisakan Abhi yang masih mengenakan pakaian pengantin, menunggu baju yang hendak diantar oleh kurir.


Mereka semua tengah berkumpul di ruang keluarga yang luasnya hampir dua kali lipat kamar Naura. Kursi sofa abu itu tampak penuh, keempat anak Erik saat ini berkumpul di sana. Sedangkan cucu-cucunya sedang bermain di karpet, bermain guling-guling, kuda-kudaan layaknya perkumpulan anak paud yang tengah menikmati jam istirahat.


Suara olokan anak-anak pun mendominasi, mengundang tawa bagi siapapun yang mendengarnya saat ini. Leya yang paling besar selalu melerai Baim dan Gwen yang sering bertengkar. Berbeda dengan Leon yang lebih asyik menemani main Shaqueena.


Abhi mulai terhanyut oleh kehangatan keluarga yang sudah mereka ciptakan, rasa nyaman dan juga rindu menyelimuti hatinya saat ini, ia merindukan berkumpul dengan sang papa yang sudah pergi beberapa tahun yang lalu.


Naura yang baru selesai bersih-bersih ikut bergabung dengan mereka. Ia mengambil tempat duduk di samping Abhi, suami barunya. Bersandar sambil menekuk kedua tangannya di depan dada. Mengamati keponakannya yang tengah bermain di bawah. Sesekali melirik ke arah Abhi yang juga mencuri pandang ke arahnya.


"Bhi, kamu gak niat ganti baju?" lirih Naura menarik ujung baju pengantin yang masih dikenakan suaminya.


"Nunggu baju yang dikirim mama datang. Mungkin bentar lagi."


Benar saja, beberapa menit kemudian seorang ART mendatangi Naura, menyerahkan pakaian Abhi yang baru diantar kurir.


"Tahu kan, kamarnya? Jangan sampai salah masuk!" Erik yang melihat Abhi mulai menggoda.


"Iya, Pa. Tahu kok," ucap Abhi ia lalu beranjak menuju ke lantai dua.


"Kamu nggak menyusul suamimu?" tanya Erik pada putrinya yang tengah asyik bermain boneka dengan Shaqueena.


"Biar saja, dia tahu kok."


"Bukan itu. Nggak peka banget. Nggak mau gitu malam pertama sama suamimu?"


"Papa ih, malam pertama itu dilakukannya malam hari bukan siang bolong kaya gini!"


"Setidaknya layani suamimu dulu! Siapa tahu dia butuh bantuanmu?"

__ADS_1


Naura terdiam, benar yang diucapkan papanya, Abhi belum tahu di mana letak sabun handuk, dan perlengkapan lain, bahkan gosok giginya ....


Naura langsung berlari kecil kembali ke kamarnya. Saat ia tiba di dalam kamar. Ia tidak melihat sosok suaminya di sana. Ia lalu berjalan ke arah kamar mandi.


"Abhi ... apa kamu butuh bantuan?" tanya Naura, seraya menempelkan telinganya di daun pintu, mencoba mendengar jawaban dari Abhi. Tapi, nihil ia justru merasakan pergerakan dari dalam pintu. Pintu terbuka lebar, memperlihatkan Abhi yang sudah melepaskan pakaian bagian atas.


Dengan senyuman jahil, ia bersandar ditembok menggunakan sikunya untuk tumpuan. "Mau membantuku?" tanya Abhi dengan seringai licik yang tak meredup, dan itu membuat Naura merasa terancam.


"Kau nggak akan aneh-aneh kan, Bhi?"


Abhi menegakan tubuhnya. Satu tangan pria itu menarik pinggang Naura untuk menempel ke dadanya yang bidang. Ia bisa merasakan jika Naura sengaja memberinya jarak, suara peringatan Naura pun terdengar. Tapi, tidak akan membebaskan istrinya begitu saja, sebelum mendapat keuntungan dari perbuatanya.


"Abhi, ini masih siang. Di bawah masih ada orang. Bisa kamu menahannya sampai nanti malam?!" Naura mencoba bernegosiasi.


Abhi sedikit menjauhkan wajahnya untuk melihat ekpresi dari wajah sang istri. Semakin lekat ia mengawasi, semakin jelas ia melihat perubahan wajah Naura.


"Astaga kenapa kamu berubah bisu seperti ini!" keluh Naura saat tidak mendapat jawaban dari Abhi. Pria itu justru kembali mengikis jarak yang ada, sedikit mengangkat Pant*at Naura, dan menahannya dengan punggung tangan. Kini wajah mereka sejajar.


"Ab-


Abhi kembali, meraup bibir merah di depannya, membuat Naura tidak bisa protes. Telapak tangan kekar itu mendarat di belakang kepala Naura, memaksa istrinya itu untuk membuka bibirnya yang tipis. Perlahan Naura memejamkan mata, saat merasakan bibir tebal itu betah bermain-main dengan bibirnya .


Kedua tangan Naura yang sedari tadi berada di depan dada Abhi untuk memberi jarak, kini perlahan mulai turun, memposisikan nya di pinggang Abhi, ikut merangkulnya erat.


Mata Naura berulangkali mengerjap saat Abhi sudah membebaskan bibirnya. Nafasnya menderu cepat, ia menatap ke arah mata Abhi.


"Apa selemah itu kamu, Sayang?" tanya Abhi menggoda.


"Dah sana, aku tidak mau membantumu! Aku datang hanya untuk memberitahu tempat handuk, dan sikat gigimu! Semua ada di laci," jelas Naura.


"Yah, terima kasih, Sayang." balas Abhi mendaratkan kecupan di kening Naura.

__ADS_1


"Hm."


"Kamu nggak marah, kan?" selidik Abhi saat Naura hendak meninggalkan kamar mandi. Gadis itu tersenyum ke arah Abhi. Cerah, dan menenangkan.


"Aku milikmu."


"Wow!" Abhi terkejut, ia pikir Naura akan menolak kemauannya. Tapi, seolah mendapat lampu hijau ia ingin segera melancarkan aksinya. "Nanti malam, ya?" Pertanyaan Abhi tidak mendapat jawaban dari Naura karena gadis itu sudah meninggalkan kamar mandi.


Naura menghempaskan tubuhnya di ranjang, masih mengontrol nafasnya yang memburu. Bayangan liar tentang benda kenyal nan dingin itu menghiasi otak liarnya. Merasa tidak percaya, jika ia sudah melakukan ciuman pertamanya. Tapi, bersyukur karena setidaknya ia melakukan itu dengan pria yang sudah sah menjadi suami nya.


Setelah nafasnya kembali normal, Naura berniat ke lantai bawah untuk berkumpul dengan saudaranya.


"Kok cepet?" selidik Maura, pertanyaannya ambigu dan membuat bingung Naura.


"Apanya?"


"Anunya kok cepet banget."


"Ra, jangan buat Nana malu!" Peringat Erik, meski ia sebenarnya gatal ingin melontarkan candaan untuk Naura.


"Dia kan baru menikmati appertizer nya dulu," celetuk Erik yang gatal ingin melontarkan candaan. "Main course nya nanti malam," imbuhnya yang membuat Naura tak mengerti, sedangkan Maura dan yang lainnya hanya tertawa.


"Hidangan pembuka, itu masih di meja. Mau Nana ambilkan, Pa?" tawar Naura.


Erik memang sengaja menggunakan kata itu karena di depannya masih banyak anak di bawah umur yang ikut mendengarnya. "Ya, ya, ambilkan untukmu sendiri. Sama itu lap bibirmu masih ada bekas Abhi di sana!"


Reflek Naura menyentuh bibirnya, matanya membulat sempurna saat menyadari ia tengah dibohongi pria tersebut.


"Ketahuan anakmu, Yang!" Ledek Erik tapi tatapanya justru menatap istrinya.


"Kaya nggak pernah ngalami aja kamu, Mas!" Balas Ella.

__ADS_1


"Perlu kamar hotel, nggak, Na? Banyak keponakanmu di sini. Jangan sampai gagal karena mendengar ketukan pintu dari mereka!" tawar Erik. Naura akhirnya paham ke mana arah pembicaraan mereka. Dia mengangkat tangan untuk tidak membahas perihal tabu tersebut.


__ADS_2