
...Selamat Membaca...
Mata Naura menoleh ke arah sumber suara, saat mendengar hentakan kaki menuruni anak tangga. Terlihat suaminya sudah rapi dengan kemeja warna putih, serta celana kain warna hitam menutupi bulu kakinya. Pria itu sedang fokus mengaitkan *buckle* jam di pergelangan tangannya.
Sedangkan Naura masih terpaku di area dapur, dengan apron warna merah yang menutupi tubuh bagian depan. Rambut yang diikat asal, serta peluh tipis di keningnya akibat uap panas yang keluar dari masakan.
“*Loh, loh, loh*. Kamu ke kantor?” tatapan Naura menyelidik sambil berjalan mendekati suaminya. Padahal ia pikir, Abhi libur karena pagi-pagi tadi mereka beradu cukup lama. Bukan adu bibir tapi beradu kuat di atas ranjang.
“Iya!” jawab Abhi, singkat dan lantang, lalu bibirnya mendarat di pipi gembul istrinya. “Selamat pagi, Istriku yang tercantik, meski bau bawang!” ujarnya.
Usia pernikahan mereka sudah berjalan tiga bulan. Abhi dan Naura juga sudah pindah ke rumah barunya. Rumah mereka tentu masih sepi di saat pagi seperti ini, lantaran Abhi mengizinkan art nya untuk pulang ke rumah. Mereka datang hanya untuk membersihkan rumah dan pakaiannya saja. Sedangkan untuk urusan memasak Naura lah yang menyiapkan semuanya.
Yah, meskipun terkadang Abhi menyerahkan bekal pemberian Naura pada Nathan, lantaran rasa masakan istrinya yang belum konsisten, kadang terlalu asin, kadang hambar, terkadang pula tidak pedas. Padahal Naura tahu, dia pencinta masakan pedas.
Istilah *honeymoon* pun hanya menyisakan angan-angan. Mereka batal pergi, karena jadwal pekerjaan yang terus padat. Apalagi sekarang kasus pak Bahtiar sudah masuk ke proses persidangan, Abhi harus tetap *fokus* pada lawan.
“Ish, nyebelin banget. Aku kira kamu libur!” gerutu Naura kembali berjalan ke arah dapur, melanjutkan memasak orak-arik wortel campur brokoli dan telur.
“Kenapa memangnya?” selidik Abhi ketika melihat wajah Naura tampak kecewa. "Mau jalan-jalan?"
“Aku ngerasa aja … kaya tebu. Abis manis sepah dibuang! Dinikmati dulu manisnya, lalu kamu pergi gitu saja!” sindirnya.
Abhi yang mendengar gerutuan istrinya lekas mendekat ke arah dapur, “kamu selalu manis, kok! Makanya, aku ingin menikmati kamu terus.” Abhi mengambil *spatula* dari tangan Naura. “Sebenarnya aku cuma ngganti’in Nathan, dia tidak bisa mendampingi kliennya. Jadi kamu tenang saja, jangan khawatir seperti itu. Sidang pak Bahtiar masih lusa!” Abhi mencoba menghibur. “Mandi sana! Setelah itu kita sarapan,” perintahnya, kemudian.
Naura menurut, kemudian meninggalkan Abhi di dapur. Tubuhnya masih lengket, akibat keringat yang tadi pagi mengucur deras melewati pori-porinya.
__ADS_1
Setelah Naura menghilang di lantai dua, Abhi lekas mencicipi masakan yang masih berada di atas penggorengan. Ia sedang mencoba memperbaiki cita rasa masakan yang sudah diracik Naura. Berlagak menjadi *master chef*, Abhi menambahkan bumbu ke masakan istrinya. Setelah di rasa cukup nikmat ia memindahkan masakan tersebut ke piring *plate* 12 *inch*.
Satu persatu Abhi membawanya ke meja makan, setelah semua siap, ia duduk seraya menunggu kedatangan istrinya. Hari ini dia lebih santai karena sidang akan dimulai pukul 11 siang. Oleh karena itu, ia masih bisa membantu Naura memasak di dapur.
“Kamu rencana mau pergi ke mana, Sayang?” tanya Abhi saat melihat Naura menuruni anak tangga.
“Ke kantor, tapi masih nanti siang. Aku sedikit malas menemui klien baru,” jawab Naura, lalu menarik salah satu kursi di meja makan, duduk berhadapan dengan suaminya. Meja makan itu hanya terdiri dari empat kursi, mengapit meja persegi yang tidak terlalu lebar, tak jauh dari meja makan tersebut, ada pintu kaca yang terbuka lebar, menampilkan kondisi taman sebagai penyejuk mata di pagi ini. Suara gemericik air dari kolam ikan menjadi pengisi suara, mengiringi obrolan mereka pagi ini.
“Ya, sudah, tidak usah diambil. Kamu di rumah saja, nanti kalau bisa ... saat jam makan siang aku akan pulang,” ucap Abhi, dia tidak mau istrinya setengah-setengah dalam melakukan pekerjaan. Apalagi ini tentang penjualan jasa yang mereka tekuni.
“Nggak perlu, aku datang saja ke kantor pengadilan untuk menyemangati kamu!” ujar Naura penuh semangat.
“Kurang kerjaan banget, kalau kaya gitu,” cibir Abhi, sambil memasukan sesuap makanan ke mulutnya, matanya tak lepas mengamati lekat wajah Naura yang tengah cemberut.
“Jangan bicara masalah kaya gitu di depan umum! Malu Abhi,” peringat Naura, dengan tatapan mengancam.
“Siapa yang bicara di depan umum? Kita lagi berduaan, *Bib-Beh*!” balas Abhi.
“Dah, sana. Buruan habiskan, telingaku mendadak ngilu mendengarkan panggilan mu!” Naura menggosok telinganya berulangkali dengan tangan.
“Yang harusnya ngerasain ngilu itu kan aku! Kok bisa kamu?”
__ADS_1
“Ngilu kenapa?” tanyanya yang tidak paham.
Abhi tersenyum jahil, “Melihatmu. Melihat tubuhmu lama-lama membuat bagian bawahku ngilu!”
Menyadari ucapan suaminya yang terus-terusan mengarah ke olahraga ranjangnya tadi pagi, membuat Naura kesal dan meninggalkan meja makan, tanpa kata.
“Nggak takut dosa, nggak *nemani* suami makan?” cibir Abhi.
“Yang dosa itu kamu! bicara kaya gitu di depan umum!” balas Naura.
Abhi tidak membalas, ia lekas menyelesaikan sarapannya, khawatir jika berlanjut akan berakhir panjang. Ia tahu istrinya itu masih malu dan menganggap tabu saat ia mengatakan hal itu di depannya. Padahal dia tidak perlu malu, karena bagaimanapun ia sudah hapal lekuk tubuh Naura saat ini.
Isian di piring Abhi sudah tandas, ia meletakan gelas kosong ke atas meja. Kemudian berjalan ke arah Naura yang sedang duduk di depan layar televisi.
“Aku berangkat, ya!” pamit Abhi, mencuri kecupan di bibir istrinya. Naura tidak memprotes, dia hanya berdehem, sebagai jawaban.
Usai memberikan kecupan lagi di kening, Abhi menjauh sambil melambaikan tangannya ke arah Naura. “Yakin nggak mau ngantar ke depan?” ucapnya sambil berjalan mundur menjauh dari Naura.
“Nggak mau, kamu berangkat sendiri saja!” ucap Naura, hanya menatap suaminya.
Abhi memberikan senyuman cerah ke arahnya, kemudian berlalu meninggalkan rumah. Saat mendengar deru mobil Abhi. Naura lekas berlari ke arah depan, hatinya tidak tenang jika tidak melihat mobil Abhi, pergi meninggalkan rumah. Meski Abhi tidak melihat dia berdiri di bibir pintu, tapi ia lega bisa melihat mobil suaminya meninggalkan rumah.
“Sampai jumpa lagi, Sayang,” gumamnya, saat mobil itu menghilang dari pekarangan rumahnya. Naura menutup pintu tersebut, ia ingin bersiap ke kantor karena merasa tidak nyaman berada di rumah sendirian. Belum juga pintu itu tertutup rapat, seseorang menahannya dari arah luar.
“Kok balik lagi, Bhi?” tanya Naura seraya menarik kembali handle pintu. Pintu kayu warna coklat itu terbuka lebar, tapi yang datang bukanlah suaminya.
__ADS_1
...-------- BERSAMBUNG --------...