
Happy reading jangan lupa kasih vote dan like, biar saya bahagia😁👍🙏
.
.
.
Selesai acara pengajian Ella berniat ingin segera mencari suaminya, dia segera mengganti baju dan meminta izin agar diperbolehkan keluar oleh mertuanya. Namun, saat Ella sampai di ruang keluarga terlihat Yohan tengah berbincang-bincang dengan papa Yusuf, Ella hanya mendengar sekilas tentang polisi, selebihnya dia tidak bisa mendengarkannya, karena setelah dia datang mereka sudah menutup mulutnya rapat-rapat.
Ella segera menghampiri Yohan yang tengah duduk di sofa, dia menanyakan keberadaan suaminya yang kemarin sempat meneleponya itu.
“Jujur padaku Yo, di mana Mas Erik?” tanya Ella pada Yohan, lelaki itu hanya menunduk sambil mencari sesuatu di dalam tasnya untuk diberikan pada Ella.
“Pak Erik ada keperluan mendadak Bu, dan ini ada titipan dari beliau,” tukas Yohan sambil menyerahkan amplop bewarna putih.
“Katakan di mana Mas Erik!” Ella berteriak karena Yohan tidak menjawab pertanyaanya.
“Kamu pasti tau kan Yo!” teriaknya lagi sambil meraih kerah kemeja Yohan.
“Ibu lebih baik tenang dulu, dan bacalah isi amplop ini, bu.”
Ella yang mendengar itu langsung merampas kertas putih yang di pegang Yohan. Hatinya berdebar semoga bukan hal buruk yang akan di bacanya. Dia tidak ingin Erik meninggalkannya, dirinya tidak bisa hidup tanpa lelaki itu.
Ella lalu membuka amplop putih itu, terdapat kertas resep obat yang atasnya tertulis nama suaminya, tapi bagian bawah bukan resep obat melainkan tulisan tangan dari Erik.
*Sayang... Jangan menangis!!Saat membuka surat ini!
Pikirkanlah anak kita,
Aku ingin kalian baik-baik saja saat aku pulang nanti.
Tunggulah aku! Aku janji! Aku akan menemanimu saat persalinan nanti.
Percaya padaku! Aku selalu mencintaimu dan selamanya akan terus begitu.
Dan maafkan Mas,
__ADS_1
yang tidak bisa menemanimu saat masa kehamilanmu.
Sekali lagi percayalah!! Mas akan secepatnya menyelesaikan masalah ini, dan kita akan bagagia selamanya.
Yang mencintaimu,
Erik*.
Setelah selesai membaca surat dari Erik, Ella mengahapus airmatanya yang sejak tadi sudah mengalir. Dia menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi sofa, menatap kosong langit-langit rumah mertuanya memikirkan apa yang sebenarnya terjadi dengan suaminya, airmatanya yang dari tadi keluar justru semakin deras saat mengingat perpisahan tadi siang, mengingat ucapan suaminya yang tidak ingin jauh darinya, bibirnya dari tadi terus memanggil suaminya.
“Pak Yohan tau kan di mana suami saya? Katakan Pak, dia baik-baik saja kan?” tanya Ella sambil menatap Yohan. Namun, Yohan tidak menjawab pertanyaan Ella. Dia hanya menunduk tidak berani menatap mata sedih istri bos nya itu.
“Sabar La... Erik pasti baik-baik saja, dia orang yang pintar! Dia akan segera menyelesaikan masalahnya, jadi tenangkan dirimu, dan tunggulah sampai dia pulang,” ucap papa Yusuf sambil menenangkan Ella.
“Ella ... Ella mau pulang ke apartemen saja Pa, siapa tahu nanti malam Mas Erik akan pulang,” ucap Ella yang sudah berdiri meninggalkan semua orang yang berada di ruang keluarga.
Dia berjalan ke kamar Erik untuk mengambil tas dan ponselnya lalu kembali turun, untuk berpamitan pada kedua mertuanya tersebut.
“La..., tidurlah di sini biar Mama yang menemanimu, Erik malam ini juga tidak akan pulang,” ucap Jihan yang ikut bersedih atas kejadian yang menimpa anaknya.
Saat di jalan Ella melihat lagi surat dari Erik, dia membaca berulang-ulang tulisan tangan itu, baru beberapa jam berpisah saja dia merindukannya, bagaimana Ella bisa menjalani hidup Ella dengan baik.
“Kamu di mana Mas, kenapa seperti ini, apa kamu punya istri baru? Apa kamu mulai bosan dengan sifatku. Please pulanglah! Aku nggak mau kamu tinggalkan seperti inu,” Ucap Ella lirih sambil menatap lampu jalan.
Sampai di apartemen dia langsung merebahkan tubuhnya di sofa depan tv. Seolah sedang menunggu suaminya pulang ke rumah, tapi yang ada dia justru terlelap di sana, karena terlalu lelah menangis.
Selang beberapa waktu pintu apartemen terbuka, terlihat Damar berjalan masuk ke apartemen Ella. Melihat Ella yang tengah meringkuk di depan tv, hatinya ikut berdisir atas kesedihan adiknya itu. Dia lalu mengangkat tubuh Ella dan dipindahkannya Ella ke kamar.
“Mas..., kamu pulang?” tanya Ella saat berada dalam gendongan Damar tapi mata Ella masih terpejam dengan rapatnya, dia mengigau, dia berpikir suaminya pulang dan memindahkannya ke kamar.
Setelah sampai di kamar, Damar segera merebahkan tubuh adiknya itu di ranjang, lalu menyelimuti adiknya dengan selimut yang masih tertinggal aroma parfum dari Erik itu,
“Kasian kamu dik, perasaan hidupmu dari dulu hanya diisi tangisan, semoga setelah ini kamu akan bahagia,” lirih Damar sambil mengusap rambut Ella.
“Mas..., jangan pergi! Jangan tinggalkan aku!” ucap Ella saat Damar melepaskan usapan di kepalanya, tangannya menahan tangan Damar agar tetap berada di sampingnya. Damar menatap Ella yang matanya masih terpejam, tapi bibirnya masih bisa bergumam, bahkan air matanya turun dengan sendirinya. Damar yang melihat itu merasa kasihan dengan Ella, lalu dia kembali duduk di sisi ranjang Ella.
“Kenapa nggak Kakak saja yang ngrasain penderitaanmu La,” ucapnya.
__ADS_1
“Hidup tanpa Bunda, di khianati, ditinggal pergi Kenzie dan calon anakmu, ditinggal ayah, dan sekarang saat kamu baru bahagia, Allah memberi ujian lagi untukmu dan Erik, kamu harus kuat ya La, demi calon anakmu dan Erik,” lanjutnya sambil mengenggam tangan Ella, seolah menyalurkan kekuatan pada adik kandungnya itu.
“Semoga Erik secepatnya bisa menyelesaikan masalahnya,” ucapnya lirih sambil melepaskan tangan Ella.
“Tidurlah Kakak akan menemanimu di sini,” ucap Damar sambil merebahkan tubuhnya di sofa.
***
Keesokan harinya, Ella yang belum sadar jika Erik tidak pulang berteriak memanggil nama suaminya.
“Mas...,Mas... Kamu dimana? Aku pengen makan sayur bayam, tolong buatkan ya!”
“Aku kasih hadiah nanti,” teriak lagi Ella yang baru sadar dari tidurnya, tapi dia kaget saat melihat Damar yang datang ke arahnya.
“Kakak.”
“Pagi La, gimana kamu nggak papa kan?” tanya Damar sambil mendekat ke arah Ella.
“Nggak papa kok Kak. Apa Mas Erik sudah pulang? Biasanya setiap bagun tidur dia selalu muntah, kenapa aku belum mendengarnya,” ucap Ella sambil berjalan ke arah kamar mandi, tapi yang di dapat hanya kekecewan. Dia kembali ke ranjang dengan langkah yang berat, kakinya seperti tidak bertulang.
“Kakak tau di mana Mas Erik, kenapa dia pergi? Bagaimana dia tega meninggalkanku, saat aku sedang mengandung anaknya!” ucap Ella pada Damar.
Damar yang sebenarnya tau keberadaan Erik, hanya bisa menyembunyikannya dari Ella sesuai pesan Erik yang tidak ingin Ella mengkhawatirkan keberadaannya.
“La..., Erik baik-baik saja dia hanya perlu pergi sebentar, untuk menyelesaikan semuanya, percayalah dia akan segera kembali, jadi jagalah diri dan calon anakmu, dia hanya tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk pada kalian,” jelas Damar.
“Bagaimana aku bisa menjaga anakku Kak, jika menjaga diriku saja aku tidak bisa.”
Damar menghapus airmata Ella, mencoba menenangkan adik satu-satunya itu.
“Tenanglah Kakak akan selalu di sampingmu, Kakak akan ikut menjaga kalian,” ucap Damar sambil memeluk Ella, mencoba memberikan perlindungan padanya.
“Mas Erik nggak akan lama kan Kak perginya? Ella akan menunggu dan berdoa supaya masalahnya cepat selesai,” ucapnya sambil melepaskan pelukan Damar dan menatap wajah kakaknya itu.
Ella hanya bisa menguatkan hatinya saat ini, meyakinkan bahwa suaminya baik-baik saja dan akan segera pulang.
Jangan lupa votenya yang banyak biar saya juga semangat ngetiknya.😁👍👍👍💪
__ADS_1