
Happy reading jangan lupa like dan vote, komentar, kritik dan saran apapun itu aku terima dengan senang hati.😁😂👍🙏
.
.
.
Jihan masih menatap Bella yang sangat mirip dengan menantunya, dia meminta jawaban pada Erik melalui isyarat tangannya.
“Dia Bella Ma, dia memang mirip dengan Ella tapi dia bukan Lalaku,” jelas Erik sambil melirik ke arah Bella. Jihan yang paham mendekat ke arah Bella, penelisik wajah Bella dari dekat.
“Iya, kamu Bella. Nggak mungkin juga orang yang sudah mati bisa kembali hidup lagi,” ucap Jihan yang membawa Bella duduk di dalam kursi.
Dia lalu memeluk tubuh Bella, membisikkan sesuatu di telinga Bella. Bella merespon dengan tersenyum ke arah Erik, membuat Erik menggelengkan kepalanya karena tidak mengerti.
“Rik. Duduklah!” perintah Jihan, “Mama mengizinkamu menikah dengan Bella, Mama akan menyiapkan pernikahan kalian berdua,” lanjut Jihan sambil menatap ke arah Erik yang sudah duduk di samping Bella.
“Oma ..., mana kado buat Riella,” ucap gadis kecil yang mendekat ke arah Jihan.
“Itu tadi Oma letakkan di sana,” ucap Jihan sambil menunjuk ke arah meja ruang tamu.
“Riella mau nggak nerima kado dari Mama Bella?” Riella mengangguk senang saat mendengar ucapan Bella.
“Mama ambilkan dulu di mobil ya,” ucap Bella lalu beranjak pergi meninggalkan Jihan dan anaknya.
Bella membuka pintu mobil yang sejak tadi pagi terparkir di depan rumah Erik, dia mengambil kotak yang tidak terlalu besar dari kursi samping kemudi, dia yang hendak kembali masuk ke dalam rumah, tiba-tiba tangannya tertahan oleh cekalan Bima.
Bella yang kaget segera menghempaskan tangan Bima.
“Ka- Pak Bima.”
“Hai Bell ...,” sapa Bima yang sudah mendekat ke arah Bella.
“Sebentar lagi Axel akan datang ke Jakarta, jadi persiapkan dirimu untuk acara pernikahan kalian,” ucap Bima, sambil menatap wajah Bella yang mulai khawatir dengan tatapan Bima. Dia menengok ke arah kanan dan kiri, melihat apakah Erik mendengar ucapan Bima atau tidak.
“Aku tidak akan lupa Pak Bima, karena saya tidak akan pernah melupakan tunangan saya,” jelas Bella sambil tersenyum, dia lalu meninggalkan Bima yang masih menatapnya masuk ke dalam rumah.
Bella menghampiri Erik yang sudah berdiri menunggunya di balik pintu.
“Kenapa lama sekali, hum?”
“Itu tadi ada Kak Bima,” jawab Bella sambil melirik ke arah Bima yang masih berdiri di samping mobilnya.
“Ada apa dengannya, apa dia mencelakaimu?”
“Tidak ada yang terluka sedikit pun di tubuhku, ayo masuk!” ajak Bella yang berjalan mendahului Erik.
Erik berlari kecil mengikuti langkah Bella yang sudah 5 meter darinya.
“Kado untukku mana?” tanya Erik yang berbisik di samping telinga Bella. Bella menjawab dengan lirikan dan senyuman tipis.
“Nantilah!” Erik tersenyum senang mendengar jawaban singkat Bella, dia menatap Bella yang berjalan menjauh meninggalkanya, dia berdiri mematung sambil meletakkan tangannya di depan dada.
“Aku tidak akan mengampunimu ...,” lirihnya sambil menggelengkan kepala menatap wajah Bella yang menyerahkan kado untuk Riella.
“Hai Rik.” Damar yang baru saja tiba langsung menepuk pundak Erik.
__ADS_1
“Bagaimana? Apa dia mengingatku?” tanya Damar yang menatap ke arah Bella.
“Sepertinya aku akan kehilangan dirinya, dia benar-benar tidak mengingatku,” ucap Erik saat melihat Bima juga tengah mendengarkan pembicaraannya dengan Damar.
“Hei ...! Cobalah cari dokter terbaik di luar sana!” perintah Damar saat mendengar Erik yang sepertinya mulai putus asa.
“Percuma Mar!” ucap Erik lalu meninggalkan Damar yang masih ingin berbicara dengannya.
Damar belum sempat memberitahu istrinya, jika dia mengetahui bahwa Ella ternyata masih hidup dan lupa ingatan, Saat Sashi masuk ke dalam rumah Erik reflek dia langsung memeluk Bella, karena mengira dia adalah Ella sahabat dan juga adik iparnya.
Bella yang sebenarnya, ingin membalas pelukkan Sashi dia justru menjauhkan tubuh Sashi darinya.
“Maaf, anda siapa?” tanya Bella yang pura-pura kaget dengan kehadiran Sashi di depannya. Sashi menatap ke arah Erik meminta penjelasan darinya.
“Biar Damar yang menjelaskan padamu,” ucap Erik menatap ke arah Sashi.
“Riella suka hadiah dari Mama Bella?” tanya Bella memecah suasana yang tiba-tiba hening.
“Suka Ma,” jawab Riella senang saat mengetahui hadiah dari Bella. Kalun hanya menatap hadiah yang diberikan Bella untuk adiknya. Hari ini dia merasa terabaikan, karena perhatian semua orang tertuju pada adiknya yang baru sekali merayakan hari jadinya.
“Sepertinya sudah waktunya saya pamit, karena sudah larut malam,” ucap Bella setelah melihat jam di pergelangan tangannya sudah menunjukkan pukul 7 malam.
“Biar aku yang mengantarmu,” ucap Erik, yang membuat semua orang menatap ke arahnya.
“Nggak perlu, karena aku membawa mobil sendiri,” tolak Bella yang tidak ingin membuat semua orang curiga tentang dirinya.
“Nggak papa ini sudah malam, biar lebih aman Erik biar mengantarmu,” ucap Jihan yang paham dengan keinginan Erik.
Erik lalu menatap ke arah Damar, mengisyaratkan Damar untuk mendekat ke arahnya.
Erik dan Bella pergi meninggalkan rumah miliknya, meninggalkan Riella dan Kalun bersama Damar dan Sashi, dia terus fokus ke arah jalan yang di lewati, dia tidak mengantar Bella pulang ke rumah, melainkan ke arah tempat lain yang dia rindukan selama ini.
“Tidurlah! kamu capekkan, kan?” perintah Erik saat melihat Bella sudah mulai menguap.
“Nanti Mas, ngantuk! Jika nggak ada teman ngobrol? Memang kita mau ke mana sih?” tanya Bella yang penasaran.
“Kita ke villa yang di dekat pantai, kamu nggak lupa kan? Tempat kita membuat Kalun dulu, hahaha.” Bella langsung memukul keras lengan Erik, karena ucapannya yang mengingatkan kejadian setelah kepergian ayahnya, Erik membawanya ke sana demi menyembuhkan kesedihannya.
“Sakit Yang!” ucap Erik yang mengusap-usap cubitan Bella.
“Tidurlah! Biar aku ditemani suara musik,” ucapnya sambil menyalakan musik di mobilnya.
“Oke, bangunkan aku jika sudah sampai,” pesan Bella lalu menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi, mencari posisi ternyaman untuk dia tidur.
“Pasti Sayang ..., karena kamu pemeran utamanya,” Ucap Erik sambil menyunggingkan senyum.
Cukup lama Erik mengemudikan mobil, dia hanya di temani suara musik yang di sukainya, berulangkali dia sudah mulai menguap, tapi saat melihat wajah Bella yang tertidur nyenyak, matanya kembali terbuka lebar.
Terdengar suara ponsel Bella berdering sedari tadi, tapi Erik enggan menjawab panggilan dari ponsel Bella. Bella yang merasa terganggu, perlahan membuka mata dan melihat layar ponselnya.
“Axel,” gumamnya sambil mengecilkan suara musik yang ada di mobil.
“Ya ..., hallo,” sapa Bella saat tidak mendengar suara Axel.
“Sudah tidur?” tanya Axel, yang mebuat Bella pura-pura menguap.
“Iya, sudah, apa ada yang penting?” tanya Bella.
__ADS_1
“Ada, tunanganmu ini akan segera ke Jakarta dua hari lagi, jadi bersiaplah untuk menjemputku,” ucap Axel yang bisa di dengar oleh Erik. Kerena Bella mengeraskan suaranya.
“Wow ..., benarkah? Aku akan mnjemputmu di bandara.” Erik langsung menepikan mobilnya saat mendengar ucapan ella. Dia merasa cemburu, saat istrinya menerima panggilan dari lelaki lain.
Bella menutup teleponnya, saat mendengar ucapan Axel yang akan kembali tidur. Dia menatap ke arah wajah Erik yang sudah di tekuk.
“Kenapa?” tanya Bella yang tidak paham.
“Kamu nggak bakal ninggalin aku kan?” tanya Erik yang menarik tangan Bella untuk dia genggam.
“Percayalah, sekalipun aku tidak bersamamu di hatiku tetap penuh dengan namamu,” kelas Bella.
“Nama saja?”
“Ya ...,” jawab Bella tersenyum ke arah Erik.
“Mari kita lanjutkan, lima menit lagi kita akan tiba,” ucap Erik yang sudah melajukan pelan mobilnya.
Setelah sampai Erik membuka pintu untuk Bella. Sudah lama dia tidak berkunjung ke villanya ini, karena setiap dia ke sini, bayangan Ella selalu terlintas di pikirannya.
Bella menatap sebentar bangunan villa di depannya. Namun, dia kaget saat Erik tiba-tiba mengangkat tubuhnya, Erik membuka pintu villa dengan tendangan kakinya. Membuat para pelayan yang berada di dalam kaget dengan tingkahnya.
“Turunin Mas ..., malu ih!” perintah Bella yang tidak dihiraukan Erik. Erik berjalan melewati pelayan yang sudah berada di samping kanannya.
“Kalian semua pergilah! Istriku ini pemalu, jadi pergi sana jauh-jauh dari bangunan utama,” usir Erik pada pelayan yang tengah menatapnya heran, karena baru sekali ini, setelah 5 tahun yang lalu mereka tidak pernah melihat majikan perempuannya. mereka berpikir jika keduanya sudah bercerai, karena tidak pernah mendengar kabar apapun dari Erik.
Erik lalu membawa Bella masuk ke dalam kamar yang dulu menjadi saksi bisu cinta mereka.
“Bebaaasss ...,” teriak Erik sambil melemparkan tubuh Bella di atas kasur empuknya. Bella hanya memejamkan matanya karena dia tahu apa yang akan dilakukan suaminya setelah ini.
“Bagaimana jika kita mandi dulu?” tawar Bella saat melihat Erik mulai membuka kemejanya.
“Ide yang bagus!” sahut Erik yang sudah kembali berdiri di samping ranjang. Kelakuan Erik berbeda dengan ucapannya, saat dia hendak mengangkat kembali tubuh Bella, justru dia memberikan kecupan lembut di bibir Bella, ciuman yang awalnya lembut menjadi ciuman yang menuntut lebih, pada pasangan di depannya.
Bella melemah saat Erik memberikan sentuhan lembut pada tubuhnya. Suara desahan mereka memenuhi kamar berukuran 30 meter itu. Malam ini benar-benar menjadi malam yang indah untuk mereka berdua, karena rasa rindu yang sudah lama mereka pendam, akhirnya terpuaskan malam ini, Erik mengecup singkat dahi ella setelah menuntaskan pelepasan pertamanya.
“Aku memcintaimu,” ucapnya sambil menatap wajah Bella. Bella hanya menjawab dengan kecupan singkat di bibir Erik.
“Ini tanggal berapa?”
“Hari ulang tahun sendiri masak lupa,” ucap Bella.
“Nggak, aku nggak lupa jika ini tanggal 5, aku hanya mengingatkanmu satu hal, kalau kamu nggak ingat berarti itu bagus, untuk pertumbuhan calon adik Riella.” Bella yang baru sadar langsung mendorong tubuh Erik dari atasnya. Namun, Erik enggan berpindah justru semakin menind*h tubuh Bella.
“Mash ... Jangan seperti ini, kamu tadi kan, janji mau merayu Riella dulu!” maki Bella yang berusaha keras mendorong tubuh suaminya.
Erik akhirnya mengalah membiarkan Bella berlari menuju kamar mandi. Dia terkekeh saat melihat kelakuan istrinya yang masih seperti dulu.
“Aw ..., shakkittt!” Erik langsung berlari ke arah kamar mandi saat mendengar teriakkan Bella.
.
.
.
TBC
__ADS_1