
Dua bulan kemudian.
Erik dan Ella, tengah berada di dalam kamar bersama kedua anaknya. Ella tengah membacakan dongeng untuk Riella dan Kalun, sedangkan Erik tengah membaca koran di tangannya. Hari ini adalah weekend jadi semua orang bisa terlihat santai dengan posisi ternyamannya.
“Besok kalau Mama dan Papa pergi jangan ngrepotin Paman Damar ya,” pesan Erik pada kedua anaknya.
Setelah membujuk istrinya, akhirnya Ella mau berangkat untuk bulan madu kesekian kalinya. Erik sangat senang, karena dia juga sudah punya misi khusus untuk acara bulan madunya kali ini.
“Siap Papa, tapi jangan lupa oleh-olehnya buat Kalun,” jawab Kalun sambil memainkan matanya.
“Pasti dong! Pasti Mama belikan untuk kedua anak Mama ini,” sahut Ella sambil mencubit pelan pipi kedua anaknya.
“Dan nanti Papa akan memberikan hadiah special untuk kalian, asal kalian tidak berantem dan tidak nakal lagi,” ucap Erik sambil mengedipkan satu matanya ke arah Ella.
“Pa, emang bulan dan madu itu apa sih?” tanya Riella yang mulai penasaran.
“Kamu tau bulan?” Riella mengangguk sebagai jawaban.
“Papa dan Mama mau pergi ke bulan? Membawa madu begitu ya, kenapa nggak ngajak Riella dan Kakak Kalun?” Erik semakin pusing dengan pertanyaan yang dilontarkan Riella.
Sedangkan Ella hanya tersenyum dalam hati, sambil menatap Erik yang akan menjawab.
“Ya, di sana tidak ada udara, jadi anak-anak tidak boleh ke sana,” jelas Erik yang semakin nglantur.
“Bagaimana kalau Riella bawa udara dari sini saja.”
“Nggak boleh! Nanti di tangkap polisi luar angkasa, Papa janji setelah Papa dan Mama pulang dari bulan madu, kita akan liburan ke tempatnya Om Haikal,” jelas Erik.
“Benarkah? Janji ya Pa! Kan Riella mau main sama adik Kenzo, apalagi dedeknya Kenzo sudah keluar,” ucap Riella sambil menekuk wajahnya.
__ADS_1
“Pa, kapan adeknya Riella keluar? Kakak Kalun punya adik namanya Riella, tapi Riella cuma punya adik moli ( kucing peliharaan Ella ).”
“Bilang Mama dong suruh buatin!” perintah Erik pada anak perempuannya, yang langsung mendapat tatapan tajam dari Ella.
“Memang bikinya bisa ya Ma dari plastesin?” tanya Riella pada Ella yang tengah menatap tajam ke arah Erik.
“Nggak dong Sayang,” jawab Ella singkat.
“Kalau dari tepung bisa Ma?”
“Nggak bisa Adik, bisanya itu, yang bikin cuma Mama dan Papa kita, makanya adik jangan ganggu Papa.” Ucap Kalun yang membuat Erik dan Ella menatap ke anak lelakinya.
“Kalun kok bisa ngomong seperti itu?” tanya Ella.
“Iya kata teman Kalun, kalau lihat bibir Papa dan Mama bersentuhan itu tidak boleh diganggu, katanya biar jadi adik,” jelas Kalun yang membuat Ella menepuk jidatnya. Sedangkan Erik hanya bisa menahan senyumannya, karena dia merasa geli, dia sebagai orangtuanya selalu menyembunyikan ketika sedang bermesraan dengan istrinya tapi para temannya itu, dengan mudahnya membeberkan hal seperti itu pada Kalun.
“Sudah sana! Siapkan barang kalian untuk dibawa ke rumah Paman Damar, habis ini kita ke sana,” perintah Erik pada kedua anaknya. Mereka berdua segera berlari ke kamarnya masing-masing untuk menyiapkan keperluan selama tinggal di rumah Damar.
“Sudah itu, cuma satu koper,” tunjuk Ella dengan dagunya.
“Lingrie yang paling sexy sudah?” Ella tidak menjawab ucapan Erik, dia justru berjalan keluar ke arah kamar anaknya, meninggalkan Erik yang tengah membayangkan Ella memakai lingrie bercorak macan tutul. Bibirnya terangkat ke atas, sepertinya dia benar-benar gila hanya dengan membayangkannya saja.
Erik dan Ella segera mengantarkan kedua anaknya ke rumah Damar, dia akan pergi bulan madu selama dua minggu, itu juga atas perintah Damar yang memintanya untuk menikmati waktu untuk berduaan.
Mereka akan berangkat menggunakan pesawat pribadi milik Erik, mereka berdua sengaja pergi berdua tidak ditemani oleh Yohan. Saat hendak meninggalkan rumah Damar, Erik dan Ella menciumi kedua anaknya sangat lama.
“Dada Papa ..., dada Mama ....” Riella dan Kalun melambaikan tangannya ke arah orang tuanya.
“Daa Sayang, jangan telat makan, jangan nakal, jangan ngrecohin Kakak Ghea dan Gheo, Papa dan Mama akan selalu menelepon kalian,” pesan Ella pada kedua anaknya, dia sedikit berteriak karena Ella sudah berada di dalam mobil.
__ADS_1
Erik melajukan mobilnya meninggalkan rumah Damar, dia langsung mengemudikan menuju bandara karena sebentar lagi jadwal keberangkatannya. Saat di perjalanan Ella hanya terdiam, dia tidak menangis saat meninggalkan anaknya, tapi hatinya perih saat berpisah dengan kedua anaknya.
“Apa kita tidak apa-apa meninggalkan mereka Pap?” tanya Ella yang beralih menatap Erik.
“Nggak Papa Sayang, tenanglah semua akan baik-baik saja, kita akan selalu meneleponnya,” jelas Erik yang fokus mengemudikan mobil.
“Jadikan bulan madu kali ini, menjadi moment kita berdua.” Erik menatap Ella yang masih terlihat bimbang untuk meninggalkan kedua anaknya bersama Damar.
Sampai di bandara Soetta, Ella mencoba memantapkan hatinya, untuk benar-benar pergi meninggalkan kedua anaknya. Tangan kanan Erik merangkul pinggang Ella, sedangkan tangan kirinya menarik koper untuk dia bawa ke kota romantis. Dia masuk bandara dengan pintu khusus, jadi mereka tidak perlu berdesak-desakkan dengan penumpang lainnya.
Mereka berdua memasuki kabin pesawat, Erik memastikan kondisi Ella sebelum meminta pilot untuk take off. Termasuk sabuk pengaman yanh Ella kenakan.
Erik terus menatap ke arah Ella, yang sudah terlelap, padahal baru tiga puluh menit pesawat itu meninggalkan kota Jakarta.
Dulu dia ingin sekali membawa Ella ke kota Paris untuk menikmati bulan madunya, tapi dulu Ella tidak mau karena setelah menikah adalah bulan ramadhan, jadi nggak nyaman jika ibadahnya terganggu.
Mungkin Damar masih ingat dengan ceritanya, kalau dia ingin membawa Ella ke Paris jadi dia sengaja memesankan tiket di sana. Sebenarnya mampu saja Erik membeli tiket penginapan, tapi dia belum sempat berpikir untuk membawa istrinya ke sana saat ini. Dia lalu menatap keluar jendela. Awan putih terlihat sangat jelas saat ini, karena cuaca yang memang sedang baik. Dia lalu meraih camera di dalam tas kecil yang tadi dia bawa. Erik memang tidak punya bakat untuk menjadi photographer, tapi kalau hanya untuk mengambil gambar yang pas menurut engle dia juga bisa. Cemeranya terus diarahkan ke tempat duduk Ella. Erik mengambil gambar Ella dari berbagai posisi terbaiknya, sedangkan Ella masih tertidur nyenyak di sana.
Pesawat yang mereka tumpangi kini sudah landing dengan sempurna di Roissy Airport. Erik segera menggandeng tangan Ella, mengajak Ella turun dari pesawatnya. Mereka tidak langsung masuk ke dalam bandara, mereka menghentikan langkahnya ketika berada di pintu pesawat. Terpaan angin membuat rambut Ella berterbangan, Erik hanya menatap istrinya dari arah samping, meski sudah 36 tahun dia masih tetap cantik.
Semoga kota ini akan menjadi saksi bisu, cinta kita, dan calon adiknya Riella. Batin Erik saat menatap Ella.
Dua minggu, semoga aku bisa jauh dari kalian, Mama akan merindukan kalian Sayang. Batin Ella lalu melangkahkan kakinya untuk menuruni anak tangga, diikuti Erik yang berjalan di belakangnya.
.
.
.
__ADS_1
TBC