
Happy reading jangan lupa untuk tekan like dan voters ya.🙏👍
POV ELLA
Hari ini aku begitu bersemangat untuk masuk ke tempat praktik, mengingat hari ini adalah hari terakhir aku koas, hari ini aku sudah berpamitan pada teman- temanku dan juga dokter pembimbingku, empat bulan disini membuat aku mempunyai keluarga baru.
Setelah selesai berpamitan aku segera pulang menuju apartemen untuk membereskan barang- barang ku, Ayah, kak Damar dan mas Erik tidak tau kalau aku akan pulang lusa, aku ingin memberikan kejutan untuk keluargaku dan yang penting untuk cintaku, mereka hanya mengetahui kalau koasku akan selesai minggu depan.
***
Dan hari ini aku sudah berada di ruang tunggu bandara Juanda Surabaya, pesawatku akan berangkat pukul sembilan pagi, sebagian barang- barangku sudah aku kirimkan melalui ekpedisi,
panggilan untuk masuk ke pesawat sudah terdengar, aku segera berjalan memasuki pesawat komersil itu.
Setelah satu setengah jam mengudara akhirnya pesawat mendarat dengan baik di bandara Soeta, aku segera mengambil bagasi yang hanya satu koper dan mencari taksi.
Saat di perjalanan aku berpikir untuk makan siang bersama dengan mas Erik, jadi aku mampir dulu ke restoran seafood langganannya, untuk membeli kepiting lada hitam kesukaannya, aku segera masuk ke dalam taksi lagi setelah mendapatkan pesananku dan segera melanjutkan perjalananku menuju rumah sakit, karena aku tau jam segini mas Erik sedang berada di sana, setelah sampai di rumah sakit aku bertanya pada staf yang bertugas tentang keberadaan mas Erik, benar saja mas Erik sedang diruangannya, aku segera memasuki lift menekan tombol lima karena ruang pribadinya berada di lantai lima, saat aku keluar lift aku melihat Dinda, asisten Mas Erik yang mengenaliku,
" Hai Din, Mas Erik ada di dalam? " tanyaku pada Dinda yang sedang bengong melihat kedatanganku.
" A- ada Mbak, " jawabnya yang sedikit gagap.
" Baiklah lanjutkan pekerjaanmu, aku akan menemui tunanganku dulu, " ucapku pada Dinda, aku memang dekat dengannya, tapi tidak tentang hal yang menjurus privasi. Hanya dekat sebagai teman becanda dan mengobrol saat menemani Mas Erik dirumah sakit.
Aku segera melanjutkan jalanku menuju ruangan yang bertuliskan " Direktur Utama " . aku sudah begitu rindu padanya, rindu yang kata orang sudah di ubun-ubun.
__ADS_1
Aku sengaja membuka pintu sepelan mungkin karena aku ingin memberi kejutan padanya, aku ingin mengagetkannya dengan kedatanganku yang tiba - tiba.
Saat aku melangkahkan kakiku masuk ke dalam, aku melotot sempurna melihat Mas Erik dengan seorang wanita yang aku kenali. wanita itu sedang duduk di pangkuan Mas Erik, saling berciuman panas dan aku sadar wanita itu sudah melepaskan pakaian atasnya, Mas Erik mulai meraba p**udaranya, sama seperti apa yang dia lakukan padaku empat bulan yang lalu, aku hanya memejamkan mata menahan sesak di dadaku melihat sepasang adam dan hawa menyalurkan hasratnya.
Sungguh ini seperti mimpi buruk yang tak ingin aku impikan.
Ya Allah, apakah aku terlalu mencintainya, sehingga tak dapat melihat keburukkannya selama ini, kenapa harus dia yang mengkhianatiku? batinku dalam hati
Aku mencoba menahan supaya tangisku tidak pecah, mereka belum menyadari keberadaanku saat ini yang tengah menyaksikan tayangan panas gratis, setelah mas Erik akan membuka pakaian bawah wanita itu aku dengan berat hati terpaksa menghentikkannya.
" Stop, ! " teriakku memenuhi ruangan hingga membuat pasangan itu menghentikan aktivitasnya, aku berjalan mendekat sambil melepaskan cincin pemberian Erik, lalu melemparkan tepat di wajah Calom suamiku, Mas Erik kaget dengan keberadaanku yang tiba- tiba di depannya, dia mencoba menghentikannku saat aku akan berjalan keluar ruangan.
" Yang, maaf ini tak seperti yang kau lihat, a- aku, " ucapnya ingin menjelaskan namun seketika aku langsung memotongnya.
Aku segera berjalan menuju lift untuk turun kebawah, tanpa terasa air mataku jatuh tak tertahankan,
Ya, Allah kejutan yang menyakitakan, kenapa begitu sakit melihat orang yang aku cintai mengkhianatiku. Ucapku dalam hati.
Saat sampai di lobby, aku segera berlari keluar, tanpa mempedulikan orang-orang yang memanggilku, langkahku terhenti saat aku menabrak lengan kekar seseorang.
" Aduh, " rintihku saat aku jatuh ke lantai.
" Maaf, maaf Nona, maafkan saya, " ucapnya sambil membantuku berdiri.
" Apa Nona tidak apa- apa? " lanjut laki- laki yang memakai jas sneilnya itu.
__ADS_1
" Maafkan saya, saya yang salah, " ujarku tulus meminta maaf dengan air mata yang masih mengalir, lalu segera pergi meninggalkan lelaki itu, aku segera mencari taksi, tangisku pun semakin pecah saat aku berada didalam taksi, aku membayangkan begitu dia menyayangiku selama ini, ternyata semuanya palsu, setelah taksi itu berhenti tepat di depan, aku segera turun dan membayar ongkos taksi, ayah yang keluar dari dalam rumah kaget melihatku sudah berdiri di depannya.
" Sayang, kok pulang nggak kasih kabar? ayah kan bisa jemput lala, " ucap ayahku saat melihat kedatanganku.
" Iya Yah, Lala pengen kasih kejutan ke Ayah saja, " jawabku lalu segera berlari ke kamar, aku pun tidak mempedulikan ponselku yang sejak tadi berdering, aku yakin itu pasti dari pengkhianat itu, aku pun segera masuk ke kamar mandi, menyalakan air dingin di shower tangisku semakin pecah setelah mengingat kejadian tadi, kenangan pahit yang tak akan pernah terlupakan seumur hidupku.
Setelah satu jam berlalu aku segera keluar dari kamar mandi, tak lama terdengar suara ayah mengetuk pintu kamarku.
" Sayang, ada Nak Erik di bawah, " ucap Ayah memberitahuku dari depan pintu. Saat ini aku tidak ingin berbicara padanya apalagi melihat wajahnya hanya akan membuat aku terbayang kelakuannya saat bercumbu tadi.
Aku sengaja tidak menjawab ucapan ayah, tak lama ayah membuka pintu dan aku berpura- pura tidur. Ayah yang melihatku tertidur Segera turun ke bawah, mungkin memberi tahu pengkhianat itu.
tok...tok...tok
( ketukan suara pintu kamarku )
" La, ini Mas Sayang, boleh Mas masuk, " ucap mas Erik yang tiba- tiba berdiri didepan pintu kamarku. Aku pun segera berlari dan mengunci kamar agar dia tidak nylonong masuk, seperti kebiasaannya selama ini.
" La, please dengerin Mas Sayang, " ucapnya lagi setelah mendengar pintu terkunci.
" Mas, aku belum siap bertemu denganmu, tunggu aku siap dan ikhlas menerima semua ini, pergilah! " ucapku, tak lama terdengar suara kaki mas Erik menuruni anak tangga.
Aku berjalan menuju tempat tidur, berharap ingin segera dapat memejamkan mata dan terbangun dari mimpi buruk ini. Mimpi buruk yang tak pernah ada di dalam pikiranku.
Terimakasih sudah membaca jangan lupa like, vote,dan coment, 🙏😊
__ADS_1