Kepincut Cinta Dokter

Kepincut Cinta Dokter
Ella Yang Panik


__ADS_3

...Selamat Membaca...


Namun, di usia Erik yang sudah melewati angka tujuh puluh, ia tidak bisa cekatan seperti dulu. Memeriksa kondisi putrinya pun harus berulangkali ia lakukan demi mendapatkan hasil yang akurat.


“Tolong berikan ruangan terbaik di sini!” titahnya memastikan lagi. Jika rumah sakit benar-benar memberikan fasilitas terbaik untuk Naura, tangannya mengalungkan stetoskop itu ke lehernya sendiri, tanpa menoleh ke arah dokter yang tadi memeriksa Naura.


Dokter itu hanya menatap heran ke arah Erik, bertanya dalam hati, kenapa stetoskop hadiah dari suaminya tidak pria itu kembalikan? Pikirannya sibuk mengingat, siapa pria di depannya ini karena ia merasa sudah pernah bertemu dengan pria tua tersebut.


“Dua kamar!” Erik kembali bersuara membuat dokter wanita yang sudah menarik handle pintu, mengurungkan langkahnya untuk keluar dari ruang UGD.


“Ada lagi, Pak?” tanya Dokter tersebut, dengan wajah sedikit tertekuk.


“Dua kamar, yang terbaik!” tegas Erik, kini baru menatap ke arah dokter wanita tersebut. Senyum tipis ia berikan saat menyadari dokter yang lebih muda darinya itu tampak kesal.


Wanita itu kemudian benar-benar keluar dari ruangan UGD, setelah Erik mempersilakannya untuk keluar ruangan.


Di awal pagi, Erik dengan lekat menatap wajah putrinya, yang sedang terlelap. Sudut bibirnya tertarik ke samping, dengan jari telunjuk menoel-noel hidung putrinya, berniat membangunkan. Tapi, tidak akan mungkin wanita itu bangun, Naura berada di bawah kendali obat penenang.


Kaki Naura yang terkena cairan asam sulfat alias air keras sudah mendapatkan perawatan. Menyisakan pergelangan tangan dan kakinya yang masih terlihat merah akibat jeratan tali yang mengikatnya kemarin. Erik menyentuh pergelangan tangan itu. Berucap dalam hati, akan membalas setimpal pada orang yang sudah melakukannya. Sama seperti apa yang sudah Naura alami saat ini.


Tepat saat adzan subuh berkumandang Naura dipindahkan ke ruang perawatan, dan Erik selalu mendampingi putrinya. Sedangkan Abhi masih berada di ruang operasi, dokter masih berusaha mengangkat peluru yang masuk ke tubuh menantunya itu.


Perasaan Erik mulai tak tenang saat suara adzan itu berhenti. Pria itu tengah memikirkan istrinya yang ada di Jakarta. Biasanya, saat Ella bangun, ia selalu berada di sampingnya, memberikan kehangatan dan kenyamanan dari dinginnya udara pagi. Belum juga pikiran itu berhenti, suara panggilan dari ponselnya memenuhi ruangan. Dugaanya benar, istrinya lah yang meneleponnya saat ini.


Setelah menempelkan ponselnya ke samping telinga, Erik hanya diam mendengarkan apa yang ucapkan Ella. Istrinya itu bertanya tentang keberadaanya saat ini. Dari nada bicaranya Erik bisa merasakan jika istrinya tengah cemas.


“Assalamu’alaikum, Oma dari cucuku,” ucapnya pertama kali. “kamu panik sampai melupakan salam,” imbuhnya. Setelah itu terdengar suara dari Ella yang membalas salam darinya.

__ADS_1


“Ambil wudhu dulu gih, biar lebih tenang! Nanti aku jelasin!” perintah Erik.


Ella tidak melakukannya dia hanya menarik napas dalam dan mengeluarkannya perlahan. “Okey aku tenang saat ini. Sekarang katakan kamu sedang di mana?” tanyanya, kemudian.


“Tarik napas!” titah Erik saat masih terdengar napas istrinya yang terdengar pendek.


"Cepat katakan kamu di mana?" tanya Ella yang sudah tidak sabar mendengar penjelasan suaminya.


“Aku sedang di rumah sakit, di Bogor. Jadi kamu lebih baik di rumah saja! Jauh aku takut kamu kelelahan,” ucap Erik.


“Siapa yang sakit?” selidik Ella.


“Menantumu.”


“Menantu yang mana, Mas? Menantu kita kan banyak!” tanyanya lagi, meski hanya menantu tapi ia juga khawatir, pasti imbasnya akan berpengaruh pada kondisi putra-putrinya.


“Dia sakit parah? Lalu Nana, bagaimana?” potong Ella.


“Sayang, dengarkan dulu! Kebiasaan kalau aku mau jelasin selalu kamu potong!” tegur Erik.


“Okey, baik aku diam.” Ella menjawab dengan suara lemah, ia kemudian diam mendengarkan suaminya berucap.


“Ada kabar buruk dan kabar bahagia di sini. Kabar buruknya Abhi kena luka tembak, Paham?!”


“Astaghfirullah, terus gimana?”


“Dia baru menjalani operasi, aku akan terus mengabarimu. Dan untuk kabar baiknya ….” Erik menggaruk pelipisnya lalu menatap ke arah ranjang Naura.

__ADS_1


“Kabar apa, cepat katakan!”


Sejak tadi berbicara dengan Ella, Erik bisa mendengar jika wanita itu sedang panik. Jadi, ia memilih meminta sopir pribadinya untuk mengantar Ella ke rumah sakit yang ia tempati saat ini, dari pada dia juga memikirkan kondisi kesehatan Ella yang bisa saja kambuh kapan saja karena memikirkan kondisi Naura.


Erik menoleh ke arah ranjang, tampak Naura sedang menggeliatkan tubuhnya. “Kau sudah bangun?” tanyanya, sambil berjalan mendekat ke arah Naura.


“Papa di sini. Apa Abhi baik-baik saja, Pa?” tanya Naura, hendak menurunkan kakinya, berniat mencari keberadaan Abhi.


“Kembali ke posisimu!” ucap Erik, dengan nada tinggi.


“Pa, Abhi! Aku ingin melihat kondisinya saat ini!” Mata Naura sudah berkaca-kaca, membuat Erik merasa bersalah karena sudah membentaknya.


“Na, dokter sudah menanganinya. Dia berada di ruang operasi, tim dokter sedang berusaha mengangkat peluru yang masuk ke tubuh Abhi jadi kamu tenanglah!” Erik tersenyum tipis, saat melihat Naura mengusap air matanya. Ingatan saat Naura kecil kembali membayanginya, ketika keinginan gadis itu tertunda, Naura akan melakukan hal seperti itu, semakin menjadi saat ia datang ke kamar Naura. Ia kemudian menjelaskan perlahan jika ia sedang banyak pekerjaan di kantor.


“Aku lapar, Pa!” keluh Naura, setelah sekian lama menangis dan Erik hanya menunggunya.


“Menu sarapan belum diantarkan. Tunggulah sebentar lagi!” jawab Erik.


“Papa yakin mau ngasih aku makanan rumah sakit? aku pengen makan mie instan, trus makannya pakai sumpit.”


Erik paham jika putrinya itu tidak pernah mau makan menu makan rumah sakit, tapi ia juga tidak akan membiarkan putrinya makan mie instan lantaran Naura sedang hamil muda. “Tidak boleh!” ucap Erik yang menolak permintaan putrinya. “Kau tidak boleh makan mie instan. Biarkan orang memasakan mie kuah untukmu!”


“Pa, sekali saja! Mie instan rasa ayam bawang!” bujuk Naura dengan tatapan memohon.


“Nggak! Na, kamu lagi hamil jadi menurut lah!”


...-------- BERSAMBUNG --------...

__ADS_1


__ADS_2