
Happy reading, jangan lupa berikan dukungan terbaik untuk saya..👍🙏😁
.
.
.
.
.
Erik menarik selimut Ella yang sudah tersingkap di bawah kakinya. Dia menatap lembut wajah istrinya yang kelelahan itu, bibirnya tersenyum saat melihat perubahan pipi Ella yang sedikit menggembung, dia dengan jahilnya memainkan pipi itu sebentar, membuat si pemilik menampik tangan yang tengah menganggunya.
“Katanya mau mandi bareng?” Erik bertanya pada Ella yang masih tertidur nyenyak, dengan masih asyik memainkan pipinya sesekali memainkan bibir istrinya dengan jarinya.
“Sudah jam 2 siang Yang, bangun dong, kita jalan-jalan yuk!” Erik masih mengajak ngobrol istrinya yang masih tidur itu. Sudah 30 menit yang lalu dia menunggu istrinya untuk bangun, tapi yang ada Ella semakin nyenyak karena berada di pelukannya.
Ella yang terganggu karena ulah Erik yang masih jahil, mau tidak mau harus membuka matanya. Dia menatap Erik dengan mata yang belum sepenuhnya terbuka.
“Mas..., aku capek, badanku sakit semua,” lirih Ella dengan suara berat.
“Sini Mas pijitin, mana yang capek! Sini..., sini..., atau sini...,” ucap Erik sambil meraba tubuh Ella, tapi saat ucapan terakhirnya Ella langsung menampik tangan Erik karena berada di area sensitifnya. Dan Erik langsung tertawa saat melihat respon istrinya.
“Pengen tidur sambil tengkurap.” Erik langsung mengambil posisi untuk dipeluk Ella, lalu meletakkan kaki Ella di pahanya.
“Hah!”
“Kenapa??” tanya Erik yang mendengar desahan kasar Ella.
“Coba dengarkan deh Mas, mungkin dari situ kamu bisa mendengarnya.” Erik hanya bisa mengangkat alisnya karena bingung dengan ucapan Ella.
__ADS_1
“Jantungku rasanya mau lepas saat kembali bertemu denganmu.” Erik tertawa keras saat mendengar ucapan Ella, lalu mencubit pipi istrinya itu.
“Belajar dari mana ucapan seperti itu? Mas pengen juga belajar nggombal, biar kamu tambah klepek-klepek.” Ella langsung menjauh dari pelukkan Erik.
“Belajar dari opah Lee Jong Suk, katanya kalau detak jantung kita senada dan berdebar ketika berdekatan, itu tandanya kita berjodoh, coba deh Mas rasakan!” Ella lalu kembali memeluk Erik yang tengah tertawa, karena tidak nyaman, dia lalu menjauh dan mendudukan tubuhnya.
“Ayo...duduk dulu nggak akan terasa jika sambil tiduran,” lanjut Ella sambil menarik tangan Erik agar terbangun dari tidurnya. Erik hanya menurut dan menahan tawanya sambil menggelengkan kepalanya.
“Dua bulan aku tinggal sepertinya kamu jadi hobi nonton drakor ya,” cibir Erik lalu membawa Ella ke dalam pangkuanya, lalu memeluk Ella mencoba membenarkan apa kata opah kebanggaanya itu.
“Ah... Nggak sama ih! Berarti dia bohong! Buktinya kita berjodoh!” ucap Ella saat memperdengarkan detak jantungnya dan detak jantung Erik.
“Mau sama atau nggak, buktinya sudah jelas kamu yang menjadi takdirku.” Erik menatap Ella lalu membawa Ella kembali tiduran di ranjang.
“Mandi yuk!” tawar Erik yang merasa risih karena tubuhnya yang terasa lengket.
“Nanti dulu, kamu duluan saja yang mandi, aku masih ingin seperti ini,” ucap Ella yang masih ingin berada di bawah selimutnya, dengan tubuh yang hanya memakai pakaian tipis.
“Nggak tau. Tapi aku sangat kehilangan saat Mas pergi ke luar negeri untuk sekolah di sana, mungkin sebelum itu rasa itu ada, tapi aku baru menyadari ketika sudah kehilangan,” jelas Ella singkat.
“Oh ya! Benarkah seperti itu? Sepertinya Mas mengambil langkah yang tepat, Mas sudah putuskan jika Mas akan berhenti dari jam praktik di poli kandungan, Mas tidak ingin mengabaikanmu lagi,” ucap Erik yang membuat Ella kaget tidak percaya.
“Jangan bilang kamu ingin menumpang hidup denganku, dengan kamu tidak bekerja jadi dokter berarti pendapatan kita menurun, hahaha,” canda Ella saat mendengar ucapan Erik, “Tapi aku setuju kok, bahkan sangat senang, karena waktu kita sekarang lebih banyak, bukan begitu Dokter Erik?” Erik hanya mengangguk membenarkan ucapan istrinya.
“Iya. Aku akan bisa mengantarmu belanja, ke salon, beli perlengkapan bayi, menemanimu memasak, pokoknya kamu yang utama, soal pekerjaan biarkan Yohan yang mengurusnya.” Ella langsung mencium pipi Erik.
“Kamu terbaik! Terimakasih,” ucap Ella sambil berjalan ke kamar mandi, meninggalkan Erik yang ingin membalas ciumannya tapi hanya kehampaan yang di dapatkan. Ella menoleh ke arah Erik dan tersenyum menggoda ke arah suaminya, berjalan mundur ke arah kamar mandi, dan mengilang karena Ella sudah menutup pintunya.
“Hati-hati lihat jalanmu! Kamar mandinya licin Yang!” ucap Erik berteriak karena pintu kamar mandi sudah di tutup. Karena merasa tergoda akhirnya Erik menyusul istrinya yang tengah berendam di bathup.
****
__ADS_1
Setelah menyelesaikan mandinya Erik meminta Ella untuk bersiap karena dia akan mengajak jalan-jalan. Erik ingin menikmati hari kebebasannya ini hanya dengan istrinya, bahkan dia belum memberi kabar keluarganya yang di Jakarta bahwa dia sudah terbebas.
Ella yang sudah siap dangan bajunya segera keluar kamar menghampiri suaminya yang sudah menunggu di meja makan, mengingat penginapannya itu hanya ada ruang tv dan ruang makan serta dua kursi teras yang sengaja di letakkan di ruang tamu.
Erik menggelengkan kepalanya saat melihat baju yang Ella kenakan, dia tidak suka Ella memakai baju yang memperlihatkan lekuk tubuhnya, apalagi dengan kehamilannya yang kini sudah hampir 5 bulan, menurutnya baju yang dia belikan dulu sudah tidak layak untuk dipakai.
“Ganti bajumu yang sedikit longgar, kasihan anak kita nggak bisa bernafas,” ujar Erik yang di bumbui candaan.
“Begini saja Mas! Malas harus ganti baju lagi!”
“Ganti atau nggak jadi pergi atau mau aku yang nggantiin bajumu.” Ella yang mendengar itu langsung berbalik ke arah kamar dan secepatnya mengganti baju yang lebih longgar.
“Bagaimana?” tanya Ella sambil berjalan keluar dari kamar.
“Lebih baik dari yang tadi. Ayo kita jalan-jalan! Kamu pengen kemana?” tanya Erik sambil berjalan keluar penginapannya.
“Terserah! Tapi anakmu ingin makan ayam betutu.”
Erik menghentikan langkahnya menatap ke arah Ella.
“Aku yakin bukan anakku, tapi kamu yang minta,” ucap Erik sambil mencubit hidung Ella.
Mereka keluar dari tempat penginapan dengan berjalan kaki karena niatnya hanya berjalan-jalan sebentar untuk mencari makan, mengingat Ella yang tengah hamil muda jadi dia tidak bisa berjalan-jalan terlalu lama.
“Yang kamu tunggu di sini dulu ya, Mas mau beli es cream di seberang sana.” Ella hanya mengangguk lalu dia duduk di kursi, yang berada di pinggir jalan sambil menatap toko perlengkapan bayi yang ada di depannya. Dia berencana ingin mengajak Erik untuk masuk ke dalam toko itu setelah dia kembali dari kedai es cream, dia hanya ingin melihat-lihat saja tidak ingin membeli sebenarnya, karena katanya pamali, dia masih menatap toko di depannya itu, membayangkan suaminya memilihkan baju bayi untuk calon anaknya pasti akan sangat rempong, sampai dia kaget karena mendengar suara jeritan dan suara mobil bertabrakan dari arah jalan yang di lewati suaminya tadi, Ella segera berlari ke arah jalan, memastikan jika yang tertabrak bukanlah suaminya.
Matanya membulat saat melihat darah dan tubuh terlentang seseorang yang sangat dia kenali, tiba-tiba tubuhnya lemas karena mencium aroma darah yang menyeruak di hidungnya, dia memegang kepalanya karena terasa sedikit pusing sambil memejamkan matanya karena tidak kuat melihag banyaknya darah yang keluar.
Bersambung ...
Vote yang banyak ya... biar nanti malam punya tenaga buat ngetik.😜😜😜😜
__ADS_1