
Happy reading, jangan lupa untuk like dan vote, yang belum baca Cinderella Gendut, mampir juga ya.😁😇😊
.
.
.
.
Satu minggu kemudian.
Ella dan bayinya kini sudah berada di rumah, sejak baby Kalun lahir Ella tidak bisa tidur dengan baik, jam tidurnya berkurang karena setiap malam harus begadang, dan bayinya selalu rewel setiap pukul 2 dini hari. Erik yang menyandang status sebagai papa baru selalu mendampingi Ella yang setiap malam selalu berada di lantai bawah, perhatiannya lebih ke Ella memastikan perut istrinya itu dalam keadaan kenyang, hingga Asi yang dia berikan ke bayinya semakin lancar.
Seperti saat ini, Erik menyiapkan susu laktasi untuk Ella, menemani begadang sambil menyiapkan biscuit di depan Ella. Jangan tanya para pelayan berada di mana, mereka sudah tidur di kamar mareka masing-masing.
“Kamu, menyusui tapi kok gendutan ya Ma?” tanya Erik yang duduk di samping Ella. Ella yang tengah mengunyah biscuit di tangannya, langsung meletakkan kembali ke toples. Erik beralih menatap Ella dan meletakkan ponselnya.
“Habiskan! Nggak papa gendut, aku suka yang berisi kok,” ucap Erik sambil tersenyum ke arah Ella yang tengah menyusui Kalun. Dia lalu beralih menatap anaknya yang terlihat semakin berisi itu.
“Enak ya jadi Kalun bisa ***** setiap saat, andai aku masih bayi?” ucap Erik sambil memainkan pipi anaknya.
“Mas mau juga?” goda Ella sambil menatap Erik. Erik tersenyum saat melihat tawaran Ella.
“Boleh?” tanya Erik sambil mendekat ke wajah Ella.
“Itu ada dot Kalun kemarin yang nggak dipakai tinggal diisi saja susu Anlene,” ucap Ella sambil menunjuk ke arah dapur. Erik segera menjauhkan wajahnya dari wajah Ella, memdengus kesal saat Ella ternyata hanya menggodanya.
“Tunggu ya, setelah 40 hari kau akan melihat betapa hebatnya diriku,” ucap Erik sambil mengambil anaknya dari pangkuan Ella.
“Kok nggak mau tidur sih kamu Dek,” tanya Erik pada Kalun yang berada di tangannya.
“Mas jagain ya, aku mau tidur dulu, nanti kalau dia haus bangunin saja,” ucap Ella saat beranjak dari tempat duduknya, Erik hanya diam tidak menjawab ucapan istrinya, dia hanya menatap punggung Ella yang semakin menjauh darinya, setelah Ella tidak terlihat lagi, dia lalu menatap ke arah Kalun yang masih terbuka matanya, dia mengajak Kalun ke ruang keluarga, sambil menyalakan siaran tv yang menayangkan acara bola. Erik menghadapkan anaknya ke arah televisi, sambil bersandar di kursi sofa, tapi anaknya masih tetap rewel, tidak ingin diajak untuk duduk.
“Kamu kenapa? Apa kamu mau adik? Tunggu ya, tunggu 40 hari masa nifas Mamamu habis, Papa buatkan adik cantik untukmu,” bisik Erik sambil terkekeh. Dibalik senyumnya itu dia tengah merencanakan sesuatu di otaknya.
__ADS_1
Membayangkan saja sudah sebahagia itu, apalagi jika benar terjadi. Batin Erik sambil menimang-nimang anaknya.
Pagi harinya Ella yang tidak mendapati Kalun di sampingnya segera turun ke bawah, tanpa mencuci muka terlebih dahulu karena panik dengan keberadaan bayinya. Dia terus mencari hingga akhirnya dia menemukan Erik dan bayinya sedang berjemur di taman, keduanya sama-sama menggunakan kaca mata hitam, dengan Erik yang rebahan di samping bayi yang baru berusia 8 hari itu.
Saat membuka kacamata Erik, betapa kagetnya dia karena ternyata suaminya itu tengah tidur di sana.
“Masya Allah Pa..., sudah berapa menit kamu menjemur anakmu,” maki Ella saat melihat Kalun juga terlelap dengan baju yang sudah terbuka semua, kecuali diapers yang dia kenakan. Erik lalu tersadar saat mendengar suara Ella.
“Jam berapa ini?” tanyanya.
“Jam 7,” jawab singkat Ella sambil membawa anaknya masuk ke dalam, lalu segera memakaikan baju anaknya yang tengah tertidur pulas itu.
Erik segera mengikuti langkah Ella yang berjalan ke arah kamar, Ella yang sudah meletakkan anaknya ke dalam box, terkaget saat tiba-tiba Erik memeluknya dari arah belakang.
“Kau merasakannya?” tanya Erik yang merasakan bagian tubuhnya menegang.
“Gila kamu ya!” teriak Ella saat menyadari apa maksud suaminya, dia berusaha melepas pelukkan Erik yang semakin erat.
“Bisakah kau membantuku?” tanya Erik cepat, sambil membalikkan tubuh Ella, “Setidaknya dengan anggota tubuhmu yang lain kamu bisa memuaskan suamimu ini!” bisik Erik di samping telinga Ella.
“Oke, kalau begitu kita pelukkan saja, tidur sambil pelukkan aku janji nggak akan macam-macam,” ucap Erik sambil mengangkat tubuh Ella ke ranjang, lalu merebahkan istrinya itu di sana, dia memeluk Ella dari belakang karena Ella tidak mau menghadap ke arahnya.
“Mam..., dia nggak mau tidur,” ucap Erik saat sejenak mereka terdiam.
“Kalun sudah nyenyak cepatlah tidur sebelum dia terbangun,” jelas Ella sambil menatap box anaknya.
“Maksudku bukan Kalun Yang,” teriak Erik sambil mendudukkan dirinya.
“Diam Pa... Jangan berteriak! Nanti Kalun bisa bangun,” ucap Ella yang sudah menghadap ke arah Erik. Erik yang pasrah segera beranjak dari ranjangnya, istrinya yang lemot itu terpaksa mengharuskan dirinya untuk mandi dengan air dingin demi meredam kembali hasrat bercintanya.
***
Dua bulan kemudian.
Baby Kalun kini sudah berusia 2 bulan 1 minggu, tubuhnya semakin berisi dengan berat badan yang hampir 6 kg membuat siapapun ingin mencubit pipinya yang gembul itu.
__ADS_1
Erik masih setia, menemani Ella begadang setiap malam hingga matahari terbit, Kalun baru bisa tertidur. Setelah masa nifas selesai, ternyata datang bulan Ella kembali datang tepat sebelum 40 hari, jadi kesuburan Ella kembali normal, Erik yang awalnya bersiap-siap ingin segera menyerang Ella, terpaksa harus menelan kembali perasaan kecewanya.
Malam ini baby Kalun tidur lebih awal dari biasanya, karena tadi siang dia lebih banyak bermain dari pada tidur. Erik dan Ella yang baru saja keluar dari kamar mandi segera merebahkan tubuhnya di ranjang, mereka berbincang sebentar mengenai kapan Ella akan kembali praktik ke rumah sakit. Dan Erik bisa mengizinkan setelah Kalun terlepas dari Asi eklusifnya, dan Ella juga bisa menerima itu, karena anaknya juga lebih penting dari apapun.
“Ma..., sudah lebih dari 40 hari loh? Katanya mau memberi hadiah jika aku kuat puasa?” ucap Erik mengingatkan pada istrinya. Ella diam sejenak sambil mengingat ucapannya.
“Aku belum siap Pa..., belum ada pil penunda kehamilan juga,” jawab Ella sambil menutupi tubuhnya.
“Katanya kalau Asi eklusif bisa buat kb alami jadi tidak perlu pil penunda kehamilan, lagian nggak ada yang perlu kamu siapkan, tidak usah pakai lingrie juga nggak papa, aku tau kamu kerepotan mengurusi anak kita,” ucap Erik sambil mengecup punggung Ella yang berada di dekatnya.
Erik yang mengetahui titik lemah Ella segera memberikan Ella dengan sentuhan lembut, berusaha secepatnya menyentuh bagian yang sudah dia rindukan, sebelum terdengar suara tangis dari bayinya. Ella yang hanya bisa pasrah menerima perlakuan Erik dengan sedih, karena merasakan kembali seperti saat Erik melakukan untuk pertama kalinya.
“Bagaimana rasanya?” tanya Ella di tengah kegiatan panas mereka.
“Masih sempit, makin nikmat, dan ...” Erik tidak bisa melanjutkan ucapannya karena bibir Ella sudah mendarat di bibirnya.
“Mau di luar apa di dalam?” tanya Erik saat hendak pelepasan.
“Di luar!” jawab Ella cepat dan singkat.
“Di dalam saja deh lebih enak,” ucap Erik sambil memeluk Ella lebih erat saat pelepasan pertamanya, dia lalu tersenyum ke arah istrinya.
“Ini masa suburmu, aku sengaja menanamkan benihku lagi di sini,” ucap Erik sambil tersenyum di wajah Ella.
“Gila kamu Pa!” pekik Ella sambil mendorong tubuh Erik hingga terlepas penyatuan mereka, Ella segera beranjak dan berlari ke kamar mandi, membersihkan cair*n cinta yang masuk ke dalam tubuhnya.
“Please ... Keluarlah! Jangan jadi dulu.” Erik yang mendengar ucapan Ella dari kamar mandi hanya bisa tertawa licik.
“Anak kedua segera launching,” teriak Erik saat Ella sudah kembali dari kamar mandi. Ella hanya menatap tajam ke arah Erik.
“Awas kalau jadi beneran!” maki Ella sambil berjalan mengambil bajunya.
“Itu namanya rezeki Ma..., sini!” ucap Erik sambil menepuk sisi ranjangnya yang kosong. Ella lalu mendekat dan merebahkan tubuhnya di sana, tapi enggan mendekat ke arah Erik dia justru memberikan pembatas agar suaminya itu tidak terlalu dekat dengannya.
Terimakasih, jangan lupa untuk like dan vote ya..😂👍
__ADS_1